Reza Mardian: Jalan Terjal Namun Mengasyikkan Sang Kritikus Film

Berawal dari hobi menonton berkembang menjadi keinginan untuk merespons film yang ditonton melalui tulisan. Itulah yang dilakukan oleh Reza Mardian, seorang kritikus film yang memenangkan penghargaan Karya Kritik Film Terbaik FFI 2024 lewat kontennya yang berjudul "Jagat yang Sempit dan Determinasi Diri Dalam Film Yuni (2021)".
Mengikuti platform yang saat ini sedang hype dan diminati, dari konten tulisan, Reza mengembangkan konten kritik filmnya lewat medium TikTok dengan akun @kelitikfilm. Seperti apa jalan profesi kritikus film, bagaimana perkembangannya di Indonesia, dan bagaimana seorang kritikus film membedah dan merespons film? Yuk, baca penuturan Reza bersama Loker ID di sini!
Apa yang memotivasi Anda untuk terjun ke dunia kritik film dan apa yang membuat Anda terus berkarya?
Aku mulai nulis kritik film sejak 2017 di The Jakarta Post. Awalnya, karena aku nggak bisa diam kalau nonton film bagus. Pasti ada aja yang aku mau omongin. Aku ngerasa karena aku suka banget film, motivasi itu selalu ada. Dan karena aku nggak sekolah film dan waktu kuliah nggak ikut komunitas film, aku cuma bisa nulis. Awalnya bener-bener cuma opini ringan, tapi makin lama jadi ngerasa makin punya pressure untuk nulis lebih akuntabel karena sering baca tulisan temen-temen di cinemapoetica, tirto, bahkan rogerebert.com.
Sekitar 2018, aku pertama kali ikut workshop kritik film yang digagas Mbak Intan Paramaditha dan Almarmumah Mbak Lily Yulianti dengan pengajar Mbak Lisabona Rahman–beliau salah satu kritikus film The Jakarta Post pascareformasi. Terus tahun 2019, aku terpilih ikut lokakarya kritik film selama Festival Film Dokumenter dan diajarin langsung oleh temen-temen Cinemapoetica, termasuk Bang Adrian Jonathan Pasaribu, founder Cinemapoetica yang pernah ikutan Berlinale Talent Campus sebagai kritikus film di tahun 2013.
Waktu Pandemi, aku sempet mogok nulis karena movie slump banget dan sedih nggak bisa ke bioskop. Tapi di awal 2021, aku iseng coba bikin review dalam format video di Tiktok dan keterusan sampai sekarang.
Bagaimana proses Anda dalam menulis kritik film? Dari tahap menonton film hingga merangkum pikiran menjadi tulisan yang koheren.
Aku beruntung banget waktu kuliah aku ikut komunitas debat bahasa Inggris, English Debating Society UI (EDS UI). Dari sana aku bener-bener belajar untuk mendengarkan, mengkomprehensifkan apa yang aku dengar, menganalisis, dan merespons. Sebenernya, kritik film prosesnya mirip banget seperti berdebat. Apa yang kita tulis adalah respons dari apa yang kita tonton. Sama seperti debat, ada banyak sekali yang bisa kita respons kalau mau menyanggah lawan. Tapi, respons yang tepat sangat diperlukan,
Jadi, biasanya, habis nonton, saya akan menanyakan diri saya, dari semua respons yang ada di kepala saya, mana yang menurut saya paling menggelisahkan? Setelah saya bisa elaborasi, biasanya saya akan fokus mengembangkan tulisan dari angle tersebut. Misalnya, hal paling menarik dari film “Athirah” bagi saya adalah tidak adanya wajah “other woman” di film poligami Indonesia. Saya jadi bisa fokus mengembangkan kritik dari angle tersebut. Kenapa pilihan visual itu bagus/jelek dan bagaimana pilihan visual itu memberikan dampak pada filmnya dan lanskap film-film poligami Indonesia lainnya.

Tantangan apa yang paling sering Anda hadapi sebagai kritikus film, terutama di era digital seperti sekarang?
Harus punya angle yang menarik dan harus relevan dengan media dan behavior audiens menyerap informasi. Banyak sekali reviewer film dan biasanya semua orang bisa menyebutkan kenapa film bagus dan mendetailkan elemen-elemen filmnya saja. Misalnya, bagus aktingnya atau bagus naskahnya. Penting untuk kita memberikan kontribusi dengan memberikan angle yang berbeda.
Satu lagi, berubahnya kemauan orang membaca teks panjang membuat saya berhipotesis bahwa jenis kritik film yang sekarang lebih efektif adalah: a) thread twitter; b) video vertikal Tiktok, dan c) podcast agar konten kita tetap relevan.
Siapa saja kritikus film yang menginspirasi Anda dan bagaimana karya mereka memengaruhi gaya penulisan Anda?
Saya suka baca Rogerebert.com karena rating mereka ada di skala 1-4, jadi selalu menarik melihat justifikasi skor mereka. Saya juga suka baca artikel dan dengan podcast Anne Thompson dari Indiewire, dan meskipun tidak selalu setuju, saya juga suka baca David Ehrlich di Indiewire dan Clayton Davis di Variety.
Kritik Indonesia biasanya lebih berat karena cenderung bersifat akademis. Tapi saya selalu baca shortlist FFI dan pemenang sayembara kritik DKJ. Saya juga membaca karya Bang Adrian Jonathan Pasaribu (AJP) dan nonton kuliah sinemanya Mbak Intan Paramaditha di Youtube tentang media dan feminisme.
Saya merasa tidak ada kritikus yang mempengaruhi cara saya menulis secara langsung karena biasanya keresahan yang saya pilih untuk jadi angle akan sangat personal. Tapi, karya-karya Bang AJP dan Mbak Intan selalu mencabuk saya untuk lebih akuntabel dalam menulis kritik. Anne Thompson juga menginspirasi saya untuk tidak hanya menulis tentang film, tapi juga industri dan festivalnya. Sejak tahun 2021-2023, saya sangat terbuka mengkritik FFI baik di Tiktok maupun di Magdalene.
Apa arti kemenangan FFI bagi Anda? Bagaimana kemenangan ini memengaruhi karier Anda sebagai kritikus film?
Aku merasa aku nggak pantes sebenernya. Karena meskipun aku suka kritik, aku nggak kerja di media. Jadi kesempatan buat aku selalu menonton film dan mengkritik nggak selalu ada. Sebagai Tiktoker pun, aku belum punya banyak follower sampai-sampai kemaren aku diomongin sama Tiktoker famous kenapa aku yang menang (ha-ha-ha).
Tapi aku juga bukan dosen atau akademisi yang tiap tahun harus meneliti dan buat kajian fim yang komprefensif. Namun, sejak aku ganti karir ke industri film, aku merasa kritik film justru adalah skill set andalan yang nggak semua orang di industri punya. Aku bisa bantuin salah satu program kampus jadi programmer dan mengkurasi film, aku bahkan bisa jadi publisis dengan merencanakan strategi promonya, dan ketika aku jadi Partnership Head Assistant Jakarta Film Week, aku juga bisa lebih banyak bantu partner jadi moderator pemutaran dan menyusun pertanyaan interview yang menarik dan memantik diskusi dengan audiens.

Mengapa Anda memilih TikTok sebagai platform untuk berbagi pendapat tentang film? Apa yang membuat TikTok menarik bagi Anda?
Audiens Tiktok banyak dan cara amplifikasinya banyak. Kita bisa eksperimen dengan algoritma, cara buat konten yang menarik perhatian, bahkan kalau mau mengiklankan konten kita juga sangat gampang. Menurut saya, percuma kritik film dibuat jika tidak ada yang baca dan impresssion-nya rendah. Dari semua media yang saya coba, justru Tiktok lah yang paling potensial memberikan impression paling tinggi.
Bagaimana Anda merancang konten TikTok yang menarik dan informatif tentang film?
Hahaha, ini jujur sampai sekarang juga saya masih eksperimen. Tapi tiap kreator punya niche-nya masing-masing. Kalau saya, biasanya konten-konten saya yang bisa besar views-nya adalah konten yang:
- Cenderung panjang dan bisa lebih dari 3 menit, pertama saya dapat 100K views organik, ya karena konten saya panjang.
- Kontennya insightful–nggak banyak yang ngomongin dan baru saya yang ngomongin itu. Itu kenapa penting sekali punya angle yang menarik karena kalau dari 10 detik yang mau kita omongin sama dengan kreator lain, orang mungkin akan skip konten kita.
- Dimulai dari pertanyaan, seperti “Kenapa” atau “apakah”.
Tapi tiga hal itu juga nggak menjamin views konten saya banyak, ya.
Tantangan apa yang Anda hadapi dalam membuat konten film di TikTok, terutama dalam hal durasi dan format yang singkat?
Algoritma dan reaksi teman-teman/follower kita. Sekarang Tiktok nggak sepenuhnya menggunakan algoritma. Semakin banyak follower kita me-repost konten kita, semakin mungkin algoritmanya lebih bagus. Tapi teman-teman atau follower kita juga pasti jarang buka section “friends” di Tiktok. Mereka pasti lebih sering buka section “fyp”. Dan rasanya tidak mungkin selalu meminta temen-temen kita untuk me-repost.
Hal kedua yang saya rasa cukup sulit adalah konsistensi. Kadang karena terfokus motivasi eksternal, kita jadi malas bikin konten dan tidak termotivasi.
Bagaimana interaksi Anda dengan audiens di TikTok? Apa yang paling Anda sukai dari berinteraksi dengan komunitas film di platform ini?
Algoritma memang bener-bener ajaib. Jadi orang yang biasanya menemukan konten saya adalah orang-orang yang memang market saya. Sering kali jadi diskusi panjang lebar di kolom kmentar atau bahkan salah satu komentar malah menginspirasi saya untuk membuat konten yang lain.

Bagaimana Anda melihat perkembangan perfilman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir? Apa saja tren yang menarik menurut Anda?
Kalau menurut saya, ada dua kubu besar di perfilman Indonesia. PH-PH yang memang bisa memproduksi film mainstream (MD, Starvision, Sinemaku, Imajinari) dan PH-PH yang kecenderungan memproduksi film art yang didistribusi secara internasional melalui festival (Forka, KawanKawan).
Film-film yang selalu bisa dijajaki justru kategori yang kedua. Film-film di bawah Mbak Yulia EB, Mas Ifa Isfansyah, selalu menarik untuk dipelajari. Tidak selalu, tapi beberapa film PH besar juga makin akuntabel membuat film-film yang jadi sangat meanrik dikaji. Misalnya, Imajinari memproduksi “Ngeri-ngeri Sedap” dan “Jesedef”, atau Visinema memproduksi “Home Sweet Loan” dan “Wanita Ahli Neraka”. Itu kenapa, keberadaan award show, seperti Piala Citra atau Piala Maya semakin penting mengkurasi film-film mana yang jadi benchmark of excellence dan layak untuk lebih tajam dikaji lebih lanjut.
Film apa yang paling berkesan bagi Anda dan mengapa?
Ada sangat banyak dan bisa berbeda-beda. Tapi untuk tahun 2024 lalu, ada beberapa film yang sangat berkesan bagi saya dan patut dikaji lebih dalam, di antaranya:
- "Home Sweet Loan"–potret pekerja kelas menengah yang masih menangkap romantisnya kota Jakarta.
- "How to Make Millions Before Grandma Dies"–sebuah penginat nilai keluarga Asia yang jarang sekali terpotret di film Asia.
- "Will and Harper"–sebuah dokumenter penting yang menyenangkan tentang menjadi diri sendiri dan transphobia di bagian selatan Amerika.
Bagaimana peran kritikus film dalam mendukung perkembangan industri film?
Untuk sebuah industri yang sehat, kritikus harus berada di posisi netral yang profesional. Jika kita melihat Hollywood, kebanyakan kritikus adalah jurnalis dan blogger. Mereka dapat pula mempengaruhi industri karena ada sistem agregator, seperti Rotten Tomatoes dan Goldderby.
Di Indonesia, posisi kritikus belum ada di tahap demikian. Semua orang antara bisa menjadi kritikus atau justru terlalu takut menulis krtik yang akuntabel.
Pada akhirnya, posisi kritikus di Indonesia, saya lihat ada di:
1. Posisi promosi–mereka yang punya follower banyak, tentu bisa menghasilkan pemasukan dari content placement – posisi mereka jadi sangat dekat dengan industri, tapi mungkin jadi terkompromi.
2. Posisi kajian sinema–para dosen, peneliti, dan peserta sayembara DKJ dan kritik FFI ada di titik ini. Posisi mereka mungkin bisa sangat netral karena kritiknya merupakan kajian ilmiah, tapi jadi sangat jauh dari industri. Mereka bukan orang-orang yang selalu diberi kesempatan untuk interview di press junket atau media day–padahal mungkin mereka punya insights yang menarik.
3. Posisi netral–jurnalis, penulis sinopsis. Jurnalis di Indonesia tidak terspesialisasi seperti jurnalis entertainment di Hollywood. Load mereka banyak dan mungkin tidak sebanding dengan kompensasi mereka. Oleh karena itu, sering kali narasi berita yang mereka naikkan sangat mirip dengan press release dan tidak ada angle bagitu tajam.
Selain kritik film, apakah Anda tertarik untuk menulis tema lain?
Tentu. Saya menulis fiksi dan naskah film, menulis press release dan talent brief untuk promo film, dan masih bermimpi menulis buku tentang refleksi diri saya dan film :).
Dalam industri perfilman, ada banyak tangan kreatif yang terlibat, mulai dari sutradara dan periset. Ikuti terus Rubrik Profil di Loker ID untuk mendapatkan perspektif menarik langsung dari expert-nya!