Ngomongin Pentingnya Riset dan Peluang Karier di Industri Kreatif Perfilman Bareng Novasari Widyaningsih

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 14 November 2024
Rubrik Profil

suka-duka-novasari-menjadi-periset-film-tahun-2024

Film yang baik bukan hanya soal pemain dan tema dan jalan ceritanya. Apalah artinya semua itu bila tidak didahului riset mendalam yang menjadi bingkai dan pendukung cerita. Terutama ketika kita ngomoin film dokumenter yang memang based on peristiwa real, risetnya memang harus benar-benar serius. Beruntung banget Loker ID bisa ngobrol banyak soal riset dalam dunia perfilman bareng Novasari Widyaningsih, yang menjadi tim riset film dokumenter "Suzanna: The Queen of Black Magic" yang baru tayang dan sedang diputar di festival film nasional dan internasional.

"Proses riset untuk dokumenter ini melibatkan berbagai sumber, mulai dari arsip pribadi keluarga Suzzana, koleksi pribadi para penggemarnya, hingga arsip-arsip media massa dari media cetak dan tentu film-film yang ia bintangi. Sumber-sumber ini sangat penting untuk membangun gambaran yang lebih utuh mengenai perjalanan hidup dan kariernya," kata Novasari.

Selain ngobrolin soal film dokumenter Suzanna, kami juga membahas seputar perkembangan perfilman di Indonesia. Menurut dosen Communication and Media Studies di Universitas Bakrier ini, setelah reformasi, perfilman Indonesia mengalami banyak kemajuan, baik dalam hal kualitas teknis maupun keberagaman tema yang diangkat. "Banyak film Indonesia kini mengeksplorasi isu-isu sosial, politik, dan budaya dengan lebih berani," paparnya.  Selain itu, perkembangan teknologi juga membuka peluang bagi para pembuat film untuk bereksperimen dengan gaya dan teknik baru, yang membuat perfilman Indonesia semakin dinamis dan menarik.

Tak hanya berhenti di eksperimen, "angin baru" ini juga membawa peluang akan profesi-profesi menarik dan menantang. Penasaran seperti apa lanjutan obrolan kami? Langsung baca sampai tuntas ya!

Apa yang mendorong Anda memilih bidang studi media dan film?

Sejak kecil, saya sudah memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap media audio-visual, terutama film dan televisi. Minat tersebut semakin berkembang ketika saya menyadari bagaimana media bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dan menciptakan pengalaman emosional yang kuat bagi audiens. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di bidang televisi dan film, yang memungkinkan saya mengeksplorasi dunia kreatif sekaligus teknis yang ada di balik layar.

Bagaimana perjalanan karier Anda dari awal hingga sekarang?

Saya memulai karier saya di bidang pendidikan, khususnya di SMK dengan mengajar jurusan Broadcasting. Pada saat yang sama, saya juga terlibat dalam proyek penelitian yang bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Perfilman Indonesia, melalui hibah penelitian. Setelah itu, saya memperluas pengalaman dengan terjun ke industri produksi televisi, animasi, dan film, baik di tingkat nasional maupun internasional, di mana saya berperan dalam berbagai proyek mayoritas sebagai produser. Pada tahun 2022, saya melanjutkan studi magister di University of Leeds, Inggris, dengan fokus pada Film Studies. Setelah menyelesaikan studi, saya kembali ke Indonesia untuk bekerja sebagai dosen sekaligus praktisi di bidang produksi dan distribusi film.

pengalaman-inspiratif-novasari-sebagai-periste-fim-suzzana-tahun-2024

Apa yang menjadi tantangan terbesar dalam mengajar mata kuliah terkait media dan film?

Tantangan terbesar dalam mengajar mata kuliah media dan film adalah menggabungkan teori dan praktik secara seimbang. Mahasiswa sering kali terpesona dengan aspek kreatif dan teknis dalam produksi film, namun mereka perlu diajarkan pentingnya analisis kritis dan pemahaman mendalam tentang media. Selain itu, dunia perfilman terus berkembang, baik dari segi teknologi maupun tren naratif, sehingga saya harus terus memperbarui materi ajar agar tetap relevan dan memberi gambaran yang akurat tentang kondisi industri yang sebenarnya.

Bagaimana Anda menginspirasi mahasiswa untuk lebih kritis dalam menganalisis media dan film?

Untuk menginspirasi mahasiswa agar lebih kritis, saya selalu mendorong mereka untuk melihat film bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai produk budaya yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh konteks sosial, politik, dan sejarah. Saya mengajak mereka untuk menggali lebih dalam dalam setiap aspek film, mulai dari teknik pembuatan, tema yang diangkat, hingga kemungkinan adanya pesan-pesan khusus yang terkandung. Diskusi kelas yang melibatkan analisis mendalam terhadap film-film klasik maupun kontemporer juga menjadi salah satu metode yang efektif untuk melatih kemampuan berpikir kritis mereka serta memperkaya memori kolektif mereka yang diharapkan dapat menjadi inspirasi.

Menurut Anda, apa yang paling penting untuk diajarkan kepada mahasiswa tentang produksi film?

Yang paling penting untuk diajarkan kepada mahasiswa adalah pemahaman tentang proses produksi hingga distribusi film secara holistik. Ini mencakup keterampilan teknis seperti pengoperasian kamera, pencahayaan, dan penyuntingan, tetapi juga aspek kreatif seperti penulisan naskah, penyutradaraan, dan kolaborasi tim. Selain itu, penting bagi mereka untuk memahami pentingnya manajemen proyek, anggaran, serta distribusi dan pemasaran film, karena produksi film tidak hanya soal seni, tetapi juga tentang bagaimana menghasilkan karya yang dapat dinikmati oleh audiens yang lebih luas dengan perkembangan jendela jendela distribusi dan eksibisi yang semakin luas dan beragam.

Bisa ceritakan sedikit tentang pengalaman Anda sebagai peneliti dalam film dokumenter Suzanna: The Queen of Black Magic? Apa yang menarik dari proyek ini?

Saya terlibat dalam proyek dokumenter ini sebagai peneliti dan pengelola arsip. Film ini diproduksi oleh tim yang terdiri dari produser dan sutradara asal Amerika Serikat, yang tertarik untuk mengangkat sosok Suzzana sebagai ikon horor Indonesia. Menariknya, proses risetnya melibatkan pencarian data yang sangat mendalam, mulai dari biografi Suzzana, perjalanan kariernya, perjalanan kehidupan probadi real-nya dibalik layar, hingga pengaruhnya terhadap genre horor di Indonesia. Saya mengumpulkan berbagai arsip, seperti foto-foto, film, artikel, dan wawancara dengan orang-orang terdekatnya untuk memperkaya narasi dokumenter ini.

ngobrol-dengan-novasari-periset-dokumenter-suzanna-tahun-2024

Apa yang menjadi alasan pemilihan sosok Suzanna sebagai subjek film dokumenter?

Suzzana adalah sosok yang sangat legendaris dalam dunia perfilman Indonesia, khususnya dalam genre horor. Ia telah menjadi ikon yang tidak hanya dikenal oleh penggemar setianya, tetapi juga oleh generasi baru yang mungkin belum pernah menonton film-filmnya. Karakter dan penampilannya yang khas, serta kontribusinya yang besar terhadap perkembangan genre horor Indonesia, menjadikannya subjek yang sangat menarik untuk diangkat dalam sebuah dokumenter biografi.

Bagaimana Anda melihat sosok Suzanna dalam konteks sejarah perfilman Indonesia?

Suzzana adalah simbol dari era kejayaan film horor Indonesia di tahun 70-an hingga 80-an. Ia memainkan peran penting dalam mempopulerkan genre ini di Indonesia dan menjadi panutan bagi banyak aktris yang terjun ke dunia film horor. Dalam konteks sejarah perfilman Indonesia, Suzzana adalah salah satu ikon yang berjasa dalam membentuk identitas sinema horor lokal yang hingga kini masih tetap relevan. Bahkan dalam sejarah perfilman Indonesia, sosok ikonik dan personanya yang khas  tak tergantikan.

Seberapa penting riset dalam pembuatan film dokumenter, menurut Anda?

Riset merupakan elemen yang sangat krusial dalam pembuatan film dokumenter. Tanpa riset yang mendalam, sebuah dokumenter tidak akan memiliki bobot dan kredibilitas. Riset membantu kita untuk mengumpulkan fakta-fakta yang akurat dan relevan, serta membangun narasi yang kuat. Karena film ini adalah biografi, sehingga perlu perhatian khusus dalam detail timeline kehidupan Suzzana dari beliau lahir, masa kecil, perjalanan karir, kehidupan dibalik layar perak, hingga beliau wafat.  Dalam film dokumenter, setiap detail harus dapat dipertanggungjawabkan, karena film ini berfungsi untuk memberi wawasan kepada penonton.

Apa harapan Anda dengan adanya film dokumenter ini terhadap apresiasi publik terhadap film Indonesia, khususnya film bergenre horor?

Saya berharap film dokumenter ini dapat memperkenalkan Suzzana sebagai tokoh ikonik dalam perfilman Indonesia kepada audiens global. Melalui dokumenter ini, diharapkan ada apresiasi lebih terhadap film horor Indonesia, dan dapat membuka peluang bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan mengeksplorasi genre ini dengan cara yang lebih kritis dan kreatif.

Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap film dokumenter ini?

Dokumenter "Suzanna: The Queen of Black Magic" mendapatkan sambutan yang sangat positif, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Setelah diputar perdana di Festival Film SITGES di Spanyol, film ini juga mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi di berbagai festival internasional, seperti di United Kingdom (Cine-Excess), Polandia (Splat!FilFest), Jerman (Weird Weekender), dan Afrika Selatan (Horror Fest). Film dokumenter ini juga mendapatkan berbagai penghargaan, seperti Best Documentary di Festival Film Halucinea di Prancis dan Jury Special Mention di Jakarta Film Week Indonesia.

Proyek apa yang ingin Anda garap selanjutnya?

Saat ini, saya fokus pada pengembangan proyek-proyek baru dalam industri film, baik di ranah industri film dan kajian film. Kedepannya, saya tentunya  ingin mengeksplorasi lebih luas.

novasari-periset-film-bersama-kru-film-tahun-2024

Apa saja tantangan dan peluang yang dihadapi oleh perfilman Indonesia saat ini, terutama dengan adanya platform streaming?

Platform streaming telah membuka peluang besar bagi film Indonesia untuk dikenal lebih luas, baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Namun, hal ini juga membawa tantangan baru, yaitu persaingan yang semakin ketat dengan film-film internasional yang tersedia dengan mudah. Untuk tetap bersaing, film Indonesia harus menawarkan kualitas yang lebih baik dan narasi yang lebih inovatif. Tantangan lainnya adalah bagaimana memanfaatkan platform-platform ini untuk distribusi dan promosi yang efektif, sehingga film Indonesia bisa lebih dikenal dan dihargai di dunia internasional.

Menurut Anda, apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas perfilman Indonesia?

Untuk meningkatkan kualitas perfilman Indonesia, ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan. Pertama, pendidikan dan pelatihan bagi para pembuat film muda harus terus ditingkatkan. Ini mencakup pelatihan teknis dalam produksi film serta pengembangan kemampuan kreativitas dalam penceritaan. Menyiapkan generasi baru pembuat film yang memiliki pemahaman mendalam tentang seni sinema dan teknologi terkini akan memberikan dampak positif dalam menciptakan karya-karya yang lebih berkualitas.

Selain itu, kolaborasi antara pembuat film Indonesia dengan pembuat film internasional sangat penting untuk memperkaya perspektif dan kualitas karya yang dihasilkan. Kolaborasi semacam ini akan membuka peluang untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia luar sekaligus memperoleh masukan dan pengalaman berharga yang bisa memperbaiki kualitas produksi film kita.

Saya juga percaya bahwa kekuatan film Indonesia terletak pada kemampuannya untuk mengangkat cerita-cerita lokal yang kaya akan kearifan budaya, keberagaman sosial, serta kekayaan alam. Indonesia memiliki beragam budaya, bahasa, dan tradisi yang sangat unik, yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi cerita-cerita yang autentik dan menarik. Selain itu, keanekaragaman alam dan geografi Indonesia—dari pegunungan, pantai, hingga hutan tropis—merupakan latar yang sangat menarik untuk dieksplorasi dalam film. Keindahan alam dan keunikan lanskap Indonesia dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi audiens baik di dalam maupun luar negeri.

Sinergi dan dukungan dari pemerintah dan sektor swasta juga sangat krusial dalam meningkatkan kualitas perfilman Indonesia. Pemerintah perlu menyediakan fasilitas produksi yang lebih baik, seperti studio dan peralatan yang memadai, serta memberikan insentif bagi pembuat film. Selain itu, penting juga untuk membuka lebih banyak peluang bagi distribusi film Indonesia di pasar internasional. Ini dapat dilakukan melalui kemitraan dengan platform digital, festival film internasional, atau bahkan melalui kebijakan yang mendukung distribusi film lokal di luar negeri.

Secara keseluruhan, peningkatan kualitas perfilman Indonesia memerlukan kerjasama antara berbagai pihak, mulai dari pembuat film, pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat luas. Dengan terus berinovasi, mendalami potensi lokal, serta membuka diri terhadap kerjasama internasional, saya yakin perfilman Indonesia akan semakin berkembang dan bisa lebih diterima di pasar global.

Bagaimana karier dan profesi di bidang perfilman menurut Anda, seberapa menjanjikan? Adakah profesi-profesi lain yang berpotensi menarik untuk diulik oleh anak muda?

Industri perfilman Indonesia saat ini menawarkan banyak peluang karier yang menarik, terutama dengan semakin berkembangnya ekosistem digital dan media sosial. Anak muda dapat mengeksplorasi berbagai profesi dalam perfilman, mulai dari sutradara, penulis naskah, hingga posisi di bidang distribusi, pemasaran, dan eksibisi. Profesi-profesi yang sebelumnya kurang dikenal, seperti distribusi digital atau pemasaran film internasional, juga semakin banyak dicari. Dengan kreativitas dan pengetahuan yang terus berkembang, anak muda memiliki kesempatan yang menarik  dalam industri ini.

Baca pengalaman profesional lainnya yang bekerja di industri kreatif lewat cerita perjalanan Haris Yulianto: Tentang Perjalanan Menjadi Filmmaker yang Sangat Personal.