
Mengaku menyenangi bahasa sejak kecil membuat Fransiskus Pascaries atau biasa disapa Aries ini menerjunkan diri ke dunia penerjemahan. Bahasa Inggris dan Spanyol adalah dua bahasa yang dikuasainya fasih, yang membawa dirinya pada penerjemah profesional kedua bahasa tersebut. Sebenarnya, selain Inggris dan Spanyol, translator yang saat ini menetap di Madrid ini juga menguasai bahasa Tetun. Penguasaan bahasa Tetun diperolehnya selama tinggal di Timor Timur (sekarang Timor Leste--red), saat ikut ayahnya bertugas di sana.
Terkhusus Spanyol, awal ketertarikan Aries karena mengikuti perkembangan politik beberapa negara di Amerika Latin dan penyanyi Shakira. Belakangan, menerjemahkan menjadi sesuatu yang lebih dari kesenangan, melainkan berbagi informasi penting, pengalaman hidup, yang bisa jadi terendapkan karena terkendala perkara bahasa.
Beberapa judul yang diterjemahkannya adalah Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya--novel fiksi karya penulis Nikaragua Gioconda Belli (terjemahan dari bahasa Spanyol, Penerbit Marjin Kiri, 2019), Bisnis Perbudakan Seksual: Menelusuri Perdagangan Perempuan dan Anak-Anak Internasional--buku nonfiksi karya Lydia Cacho (terjemahan dari bahasa Spanyol, Penerbit Marjin Kiri, 2021), dan Ruth First: Sepilihan Tulisan--buku nonfiksi karya Ruth First (terjemahan dari bahasa Inggris, Penerbit Marjin Kiri, 2023). Untuk karya nonfiksi yang ditulisnya berjudul Enggan Jadi Keluarga Fasis: Kumpulan Surat untuk Anak (Penerbit EA Books, 2022).
Ingin tahu lebih jauh cerita Aries dan proses penerjemahan yang dilakukannya? Baca di sini!
Boleh diceritakan gimana awalnya bisa terjun ke dunia penerjemahan?
Saya senang dengan pelajaran bahasa Inggris sejak SMP. Mungkin sebagai pelampiasan atas kelemahan saya dalam ilmu-ilmu pasti, hehehe. Kesenangan itu berlanjut terus sampai SMA, waktu ada penjurusan di kelas tiga. Ada kelas bahasa, meski kemudian hanya bertahan sebentar karena peminatnya sedikit, tak memenuhi batas minimal yang dipersyaratkan. Saya terpaksa masuk jurusan IPA. Karena berbagai alasan, saya tidak bisa menolak ketika orang tua menyodorkan pilihan untuk studi Manajemen Informatika. Tapi, kesenangan belajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris saat itu, tetap ada.
Sekitar tahun 2008, saya belajar bahasa Spanyol di Jakarta. Sekitar tahun 2010, saya sempat bekerja sebagai juru bahasa Spanyol di sebuah perusahaan asing produsen minuman kemasan. Saya dulu bertugas menemani direktur atau para manajer di bawahnya dalam acara rapat, survei pasar, bicara dengan para teknisi dan mitra dagang, dsb. Tapi saya tak bertahan lama di sana.
Sempat bergonta-ganti pekerjaan, awal tahun 2015 saya diterima bekerja sebagai staf lokal di Kedutaan Besar Kolombia di Jakarta. Sampai mengakhiri karier di kedutaan itu pada 2019, saya belajar banyak soal kekonsuleran, diplomasi antar negara, dan tentu saja bahasa yang dipakai. Setiap hari dan jam kerja, saya seolah-olah tidak berada di Indonesia, karena selalu menggunakan bahasa Spanyol dengan para atasan. Saya menerjemahkan surat keluar-masuk, berita, membuat ringkasan profil pejabat Indonesia yang akan menggelar pertemuan dengan Duta Besar dan jajarannya. Beberapa kali saya juga ditugasi untuk menjadi juru bahasa antara pertemuan para pengusaha Kolombia yang bertandang dan menemui mitranya di Indonesia.
Selain di Kedubes Kolombia, mulai tahun 2017 hingga saat ini saya juga bekerja paruh waktu di Human Rights Watch sebagai editor penerjemah bahasa Inggris.
Tahun 2019, 2021, dan 2023 tiga buku terjemahan saya diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Dua buku pertama saya terjemahkan dari bahasa Spanyol, sementara yang ketiga dari bahasa Inggris. Begitulah lebih kurang.
Bahasa apa yang Anda kuasai pertama kali dan bagaimana Anda mempelajari bahasa-bahasa lainnya, terutama Tetun?
Tetun dan Inggris adalah dua bahasa asing pertama yang saya pelajari dalam praktik keseharian. Saya mulai belajar bahasa Tetun pada tahun 1988. Jadi, ceritanya waktu itu saya mengikuti kepindahan almarhum bapak saya selaku pegawai negeri sipil ke Timor Timur, sekarang Timor-Leste. Waktu itu saya kelas tiga SD, dan mempelajari bahasa itu di jalanan atau di mana saja. Di sekolah kami berbahasa Indonesia. Meski awalnya hanya terbengong-bengong, keluarga kami lebih sering memilih menghadiri misa bahasa Tetun. Tapi, hanya saya anggota keluarga yang menekuni belajar bahasa-bahasa asing. Sekitar satu-dua tahun setelah tiba di sana, saya sudah mulai jadi juru bahasa amatir untuk orang tua saya setiap kali mereka berbicara dengan pemilik rumah kontrakan, para pedagang di pasar, dsb. Namanya juga juru bahasa amatir, saya lebih sering bingung daripada paham dengan apa yang dikatakan warga asli Timor Timur waktu itu. Meski begitu, pelan tapi pasti saya belajar.
Setelah lulus SD tahun 1992, saya melanjutkan belajar ke seminari kecil di satu ibu kota kecamatan di Kabupaten (sekarang distrik) Baucau. Saya lupa, apakah sebelum saya ada warga pendatang yang masuk di seminari itu. Yang jelas, saya jadi satu-satunya pendatang di angkatan itu. Ada segelintir pendatang lain yang masuk kemudian. Di asrama seminari, proses belajar mengajar di kelas berlangsung dalam bahasa Indonesia. Tapi di luar kelas kami biasa bercakap-cakap dalam bahasa Tetun, sambil belajar bahasa Inggris. Bercanda, bertengkar, mengeluh, beribadah, bermain basket dan sepak bola, dan sebagainya, semua kami lakukan dalam bahasa Tetun. Pelan tapi pasti saya belajar, karena "dipaksa" oleh keadaan.
Selama tiga tahun di asrama, saya juga sempat belajar bahasa Latin level dasar dalam tiga semester. Soal kenapa hanya tiga semester, saya tak tahu persis. Ada satu bahasa lagi, sebenarnya, yaitu Portugis. Tapi saya hanya bersentuhan dengan bahasa itu, saat melafalkan atau menyanyikannya dalam ibadah misa atau doa rosario waktu itu. Itu pun tidak setiap saat, karena lebih banyak dalam bahasa Tetun. Selain doa-doa dasar dalam agama Katolik, saya tak paham apa arti lirik-lirik lagu berbahasa Portugis yang saya nyanyikan waktu itu. Hehehe
Selama tiga tahun di sana, saya pun semakin meningkatkan kemampuan saya berbahasa Tetun. Untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris, saya dan kawan-kawan di seminari biasa ngobrol dengan beberapa pastor atau calon pastor asal Filipina di asrama. Sesekali saya juga berkorespondensi dalam bahasa Inggris dengan pastor atau calon pastor yang sedang menempuh studi lanjut ke beberapa negara di dunia. Banyak salahnya? Jelasss hehehe...
Secara keseluruhan, saya mempelajari bahasa Tetun dalam praktik keseharian di SD hingga menyelesaikan SMA, sejak tahun 1988 sampai tahun 1998, sebelum hijrah ke Pulau Jawa untuk melanjutkan studi.
Untuk bahasa Spanyol, apa yang membuat Anda tertarik?
Dulu awalnya, sekitar tahun 2008, saya dan beberapa kawan senang mengikuti perkembangan politik di beberapa negara di Amerika Latin, juga karena ada penyanyi berbahasa Spanyol seperti Shakira yang asal Kolombia itu. Karena mereka menggunakan bahasa itu, seorang kawan baik mengajak saya mengambil kursus bahasa Spanyol. Jadilah 'keterusan' sampai sekarang.
Dalam perjalanan, saya senang belajar bahasa Spanyol, karena di Indonesia relatif belum banyak peminatnya saat itu, bahkan mungkin sampai sekarang. Kita bisa bandingkan dengan bahasa Inggris, Jerman, Prancis, misalnya.
Anda sempat mengambil Jurusan Sosiologi di Universitas Terbuka, apakah latar belakang pendidikan ini menjadi salah satu trigger untuk mempelajari bahasa Spanyol?
Kalau ini, jujur saja, nggak ada hubungan antara belajar Sosiologi dengan pembelajaran bahasa Spanyol. Hehehe...
Bagaimana dengan pendidikan manajemen informatika dan komputer? Apakah Mas menggunakan keilmuan yang diperoleh dari pendidikan ini dalam karier atau?
Itu mungkin bisa saya sebut "kecelakaan", hehehe. Singkat kata, itu bukan bidang yang saya minati sebenarnya. Kalau boleh diistilahkan: cinta yang dipaksakan. Cinta sejati saya sebenarnya ya kebahasaan dan kepenulisan yang menopang kesukaan saya pada ilmu-ilmu sosial. Tapi, seiring perjalanan waktu, ternyata cinta sejati itu datang, tumbuh dan berkembang. Dan, jadilah saya yang sekarang ini.
Di antara penerjemahan Indonesia - Inggris - Spanyol - Tetun mana yang paling sulit?
Semua bahasa, termasuk di luar empat bahasa itu punya jenis kesulitannya sendiri. Saya nggak bisa jawab mana yang paling sulit.
Khusus bahasa Spanyol seperti apa tantangannya?
Untuk konteks Indonesia, tantangannya adalah bahwa bahasa ini tidak terlalu populer seperti beberapa bahasa asing lain, meski di beberapa tahun terakhir trennya terus meningkat, dan kita bisa temukan beberapa akun Instagram yang mengajak orang Indonesia untuk mempelajari bahasa ini. Di sisi lain, ini juga berarti masih adanya banyak peluang pekerjaan yang relatif belum banyak disentuh orang Indonesia. Semakin banyak penerjemah sebuah bahasa, akan memudahkan pertukaran informasi dan pengalaman di antara sesamanya.
Proyek penerjemahan apa yang paling berkesan dan mengapa?
Semua proyek ada kesannya masing-masing. Tapi, kalau harus menyebut satu, itu adalah penerjemahan buku yang versi Indonesia-nya berjudul Bisnis Perbudakan Seksual: Menelusuri Perdagangan Perempuan dan Anak-Anak Internasional. Buku ini ditulis jurnalis perempuan asal Meksiko Lydia Cacho, yang tahun 2023 lalu saya temui di stan salah satu penerbit di Pesta Buku Madrid, selain di Ubud tahun 2013. Saya senang bisa bertemu dengan Cacho, juga novelis dan aktivis Gioconda Belli asal Nikaragua, yang kaget bisa ketemu dengan penerjemah bukunya di pameran itu.
Bisa ceritakan sedikit tentang buku yang pernah Mas terjemahkan ("Bisnis Perbudakan Seksual") dan mengapa dianggap kontroversial?
Buku itu berisi investigasi jurnalistik Lydia Cacho selama lebih kurang lima tahun ke sejumlah negara: Turki, Israel-Palestina, Jepang, Kamboja, Burma, Argentina, dan Meksiko. Di bagian pendahuluan, Cacho cerita bagaimana dia menelusuri berbagai operasi dari mafia-mafia kecil dan besar berskala internasional melalui kesaksian para korban eksploitasi seksual komersial. Dia mewawancara banyak orang: polisi, pensiunan tentara, pemakai jasa pekerja seks, pembela hak perempuan, macam-macam. Dia juga ketemu dengan banyak laki-laki, perempuan dan bayi korban perdagangan buruh dan kawin paksa.
Tapi, dalam bukunya ini Cacho berfokus untuk menelusuri jejak konkret dari fenomena kejahatan perdagangan seks perempuan dan anak perempuan. Sebelum memulai investigasinya, Cacho ini bertemu dengan salah satu jenderal purnawirawan Meksiko. Si jenderal itu cerita, kalau mau selundupkan senjata jenis AK-47 yang ilegal misalnya, kita hanya butuh paket yang tepat, seorang pembeli, seorang perantara korup di pemerintahan, dan seorang penjual. Sementara seorang budak manusia perlu diyakinkan bahwa hidupnya tidak berharga bagi penjual dan pembeli. Kekuasaan para pedagang manusia ini ditopang dengan menghilangkan segala kemungkinan bahwa para bakal korban memiliki pilihan hidup yang layak dan bebas. Kemiskinan tak cuma jadi ladang subur, melainkan mesin untuk menabur budak lelaki dan perempuan di dunia. Keterlibatan pemerintah tak dapat disangkal. Entah apa kata kontroversial cukup tepat untuk menggambarkan, tapi yang jelas temuan dan cara Cacho menarasikannya sungguh mencengangkan dan mengiris hati.
Tantangan apa yang Anda hadapi saat menerjemahkan buku tersebut? Butuh waktu berapa lama untuk menerjemahkannya?
Saya menerjemahkan buku itu selama kurang lebih 4,5 bulan. Meski kendala teknis kebahasaannya tentu saja ada, seperti mencari padanan kata dalam bahasa Spanyol. Tapi tantangannya lebih terasa di aspek psikologis.
Beberapa kali saya harus berhenti, meninggalkan laptop beberapa menit, jam, atau bahkan beberapa hari. Karena apa? Karena kebiadaban yang dialami para korban itu sungguh luar biasa. Kalau sudah begitu, saya biasa beralih ke kegiatan lain untuk sementara waktu. Lalu kembali lagi, sewaktu sudah lebih segar.
Bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi pandangan Anda tentang peran seorang penerjemah?
Selain pengalaman menerjemahkan kekerasan seksual dan perdagangan manusia dalam buku Bisnis Perbudakan Seksual, pengalaman saya menerjemahkan naskah-naskah soal pelanggaran hak asasi manusia semakin menyadarkan saya, bahwa sebagai penerjemah kita juga harus memahami pesan sekaligus emosi yang dihadirkan penulis karya itu. Kalau kisah yang dihadirkan sedih, ya si penerjemah harus bisa mengalihkan kesedihan itu ke benak para pembaca hasil terjemahannya setepat mungkin, dengan pilihan kata yang cocok, tidak berlebihan, dan tidak multitafsir.
Bagaimana Anda memastikan akurasi terjemahan, terutama untuk istilah-istilah atau konsep yang sensitif?
Saya biasa mengecek di berbagai sumber, entah buku, jurnal, berbagai situs web, atau bahan bacaan apa pun yang relevan dengan materi terjemahan itu. Saya juga sesekali bertanya ini dan itu ke kawan penutur asli, atau orang Indonesia yang saya yakini paham akan tema itu.
Soal sensitif tidak sensitif, itu kan relatif, kadang juga bergantung pada konteks kebudayaan publik pembacanya. Tapi, akurasi tetap harus jadi sesuatu yang diusahakan sekuat tenaga oleh si penerjemah. Untuk menyebut alat kelamin laki-laki atau perempuan, misalnya, ya kita terjemahkan saja apa adanya. Perbedaan tafsir antara dua pembaca dengan dua bahasa berbeda sudah sepantasnya dihindari semaksimal mungkin.
Dan untuk Tetun sendiri, sepertinya Anda mempelajari secara otodidak, bagaimana sampai akhirnya Anda bisa menjadi penerjemah (mendapatkan pekerjaan sebagai penerjemah bahasa Tetun)? Soalnya kan lama menetap sepertinya tidak bisa menjadi alasan seseorang menguasai suatu bahasa, kira-kira apa gitu yang Anda lakukan selama tinggal di Timor Leste hehehe. Ada keinginan tidak untuk memperdalam penguasaan bahasa Tetun?
Saya rasa, cara paling efektif untuk belajar bahasa, adalah belajar dengan penutur aslinya. Apa pun bahasanya. Buanglah rasa malu, gengsi, dan takut salah. Selama tinggal di Timor-Leste selama sepuluh tahun dulu, saya punya banyak sekali teman warga lokal. Rasa-rasanya, saya lebih banyak bergaul dengan warga lokal ketimbang warga pendatang. Sejak 2023 tinggal di Madrid saya dan keluarga pun sehari-hari berkomunikasi dalam bahasa Spanyol dengan warga setempat.
Saya baru dua kali menerima pekerjaan menerjemahkan teks bahasa Tetun dari satu perusahaan di Jakarta. Jadi ceritanya, ada satu kenalan di grup WhatsApp Bahtera, yang juga anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) yang menyodorkan nama saya ke perusahaan itu.
Untuk memastikan akurasi terjemahan, saya waktu itu dibantu seorang kawan baik yang bekerja sebagai jurnalis di Dili, Timor-Leste. Dia perbaiki segelintir salah kata dalam hasil terjemahan Inggris - Tetun saya.
Saya nggak ada target untuk sedalam apa mempelajari bahasa Tetun. Tapi, sesekali saya bikin posting-an beberapa paragraf sepenuhnya dalam bahasa itu. Saya juga senang kalau ada kawan di Timor-Leste yang mengisahkan ini dan itu di akun sosmednya, karena saya jadi belajar lagi bukan? Saya juga cukup sering membaca media lokal Timor-Leste yang bisa diakses secara daring. Ini sekadar upaya kecil-kecilan supaya saya tidak kehilangan sentuhan. Karena, kalau kita lama tak menggunakan sebuah bahasa, kata orang, penguasaan kita terhadap sebuah bahasa itu akan menurun.
Beberapa kali kalau ada kawan-kawan asli Timor-Leste yang berkunjung ke Indonesia, saya juga berbincang pakai bahasa itu. Enaknya, setiap kali ngobrol di restoran, jalanan, transportasi publik, kami tidak perlu berbisik-bisik saat membahas hal-hal sensitif seperti politik di ruang publik. Karena, sepertinya tidak banyak orang (di) Indonesia yang paham bahasa Tetun. Bayangkan kalau saya ngobrol dalam bahasa Inggris, misalnya. Hehehe.
Selain itu, ada satu lembaga bahasa di Jakarta yang meminta izin untuk mencantumkan nama saya dalam proses lelang yang mereka ikuti. Sayangnya, lembaga itu belum berhasil untuk menjadi pemenang lelang.
Dalam menerjemahkan apakah Anda menggunakan bantuan alat dan teknologi?
Saya pakai aplikasi gratisan di internet saja. Yang penting, cek kiri-kanan. Jangan "menelan mentah-mentah" hasil terjemahan aplikasi gratisan itu.
Bagaimana Anda melihat perkembangan teknologi penerjemahan (misalnya, mesin penerjemah) terhadap pekerjaan?
Menurut saya, teknologi, apa pun peruntukannya, sudah layak dan sepantasnya dipergunakan semaksimal mungkin untuk membantu kehidupan manusia. Kita lah pemegang kendali atas teknologi, bukan dan jangan sampai sebaliknya. Teknologi takkan pernah tampil sebagai pengganti manusia sepenuhnya. Teknologi juga tak punya unsur emosi yang dimiliki oleh manusia. Boleh saja kita waspada, tapi nggak ada alasan untuk dihantui rasa khawatir yang berlebihan.
Apakah ada perbedaan mendasar dalam menerjemahkan teks sastra, teks ilmiah, atau teks hukum?
Tentu saja. Karakter tiap teks-teks yang disebut itu jelas berbeda, penikmat atau penggunanya juga tak sama. Penguasaan dan minat tiap penerjemah tentu berbeda-beda. Saya, kalau diminta menerjemahkan teks bidang kedokteran atau hukum, misalnya, pasti nggak akan sanggup.
Proyek penerjemahan seperti apa yang ingin Anda kerjakan di masa depan?
Saya ingin sekali bisa bekerja sama dengan penerbit asing berbahasa Spanyol, entah di negeri Matador ini maupun negara-negara di Amerika Latin, untuk menerjemahkan karya fiksi dan atau nonfiksi Indonesia ke bahasa tersebut. Saya juga sedang pelan-pelan membuka relasi baru dengan beberapa pihak di bidang sastra dan kewartawanan di Spanyol. Semoga saja berbuah manis.
Menurut Anda, apa yang dapat dilakukan oleh seorang penerjemah untuk meningkatkan kualitas penerjemahan di Indonesia?
Setidaknya ada dua hal. Pertama, membuka jaringan pertemanan dan profesional seluas mungkin. Kedua, terus meningkatkan kapasitas diri termasuk dengan memperbanyak bahan bacaan. Ini mutlak diperlukan, supaya referensi penyusunan dan perbendaharaan kata kita sebagai penerjemah bisa semakin kaya.
Kedua hal itu dimungkinkan kalau kita bersikap rendah hati. Kerendahan hati diperlukan untuk terus belajar di manapun, pada siapa pun, dalam hal apa pun. Tanpa itu, siapa pun akan merasa seperti botol yang penuh terisi. Tak akan ada air segar yang bisa masuk. Kerendahan hati akan membuat orang, apa pun profesinya, haus akan pengetahuan, jaringan pertemanan, dan pengalaman baru. Dengan kerendahan hati itu pula, orang akan merancang standar kemajuannya langkah demi langkah. Begitu bisa meraih capaian tertentu, dia akan merancang capaian-capaian lain untuk dikejar kemudian. Begitu seterusnya. Apa yang membatasi? Menurut saya, pembatasnya adalah kematian. Artinya, pembelajaran itu ya berjalan sampai akhir hidup. Akhir hidup itu artinya ujung proses pembelajaran seorang manusia.
Cerita tentang perjalanan proses penerjemahan lainnya bisa Anda baca di artikel Lucy Aryani: Terinspirasi dari Ibu Akhirnya Berprofesi sebagai Penerjemah dan Lebih Dekat dengan Siska Nurohmah, Penerjemah Novel Babel Karya RF Kuang.