Lucia Aryani: Terinspirasi dari Ibu Akhirnya Berprofesi sebagai Penerjemah

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 19 Juni 2024
Rubrik Profil

Lucia Aryani

Berawal dari ibu yang berprofesi sebagai penerjemah, Lucia Aryani akhirnya menjadi penerjemah profesional sejak 2009. Menariknya, latar belakang pendidikannya malah bukan bahasa atau sastra, melainkan ekonomi. Tapi, sejak kecil Lucy--demikian dia biasa dipanggil, sering ikut sang ibu berkegiatan sehingga dunia penerjemahan tidak asing lagi buatnya. Seperti apa profesi penerjemah di mata Lucy dan bagaimana tantangannya di era digital? Kita simak selengkapnya obrolan dengan Lucy!

Selama ini orang awam mengenal profesi Translator hanya sebatas menerjemahkan tulisan saja, boleh diceritakan bagaimana sebenarnya profesi ini dan apa yang masih jarang orang ketahui?

Profesi linguis secara umum ini sangat luas. Penerjemah alias translator mengolah materi tertulis, termasuk takarir alias subtitle untuk materi audio visual, sementara juru bahasa alias interpreter mengolah secara lisan, antara simultan (langsung) atau konsekutif.

Mengapa Anda memilih translator English - Indonesia - English, mana yang lebih susah menerjemahkan Inggris ke Indonesia atau Indonesia ke Inggris? Seperti apa tantangannya?

Untuk proses menerjemahkan, tentu idealnya lebih mudah menerjemahkan dari bahasa asing ke bahasa ibu/bahasa jati, dalam hal ini dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, tapi karena dibesarkan di lingkungan global yang bilingual, saya juga cukup terbiasa menerjemahkan ke bahasa Inggris untuk beberapa materi.

Apa yang memotivasi Anda untuk menjadi seorang penerjemah profesional?

Saya memulai karier sebagai penerjemah profesional mulai dari latihan dengan ibu saya, kemudian mengambil proyek pertama dengan menerjemahkan sebuah novel. Saya pernah membuat artikel mengenai pengalaman awal saya menjadi penerjemah di tautan ini.

Secara spesifik, seperti apa tantangan dan suka duka menjadi translator?

Tantangannya bagi saya sendiri adalah terus belajar tanpa henti mengikuti perkembangan industri dan teknologi agar tetap relevan sebagai seorang linguis yang tidak dapat digantikan mesin. Kepekaan penggunaan bahasa sumber dan target juga tentu harus terus diasah agar tetap lebih canggih daripada mesin. Satu hal yang kerap dilupakan rekan-rekan penerjemah adalah di balik semua mesin itu, tetap ada manusia. Kalau kita bisa jadi salah satu sosok manusia di balik mesin, tentu jasa kita akan terus dibutuhkan.

Dukanya antara lain kelelahan saat menangani proyek tertentu yang membutuhkan fokus dan waktu kerja lebih. Manajemen waktu sebaik apa pun belum tentu bisa mengatasi saat-saat seperti ini. Tapi, dengan tantangan dan duka tersebut, tentu sisi sukanya tidak kalah banyak. Dengan menjadi penerjemah, saya merasa jadi pembaca dan penonton awal semua materi yang saya kerjakan. Melalui berbagai materi tersebut, saya merasa bisa berjalan-jalan ke banyak sisi dunia dan mempelajari bidang-bidang yang mungkin tidak saya lirik kalau saya tidak menerima materi penerjemahan tersebut.

Pendidikan informal apa yang Anda tempuh untuk menunjang karier sebagai penerjemah?

Saya tidak mengenyam pendidikan formal untuk menunjang karier sebagai penerjemah, tapi secara informal, saya kerap mengikuti berbagai sesi pelatihan dan sesi berbagi dari rekan sesama linguis di Himpunan Penerjemah Indonesia. Dengan bergabung dan bergaul dengan rekan-rekan di komunitas sesama linguis, saya juga mendapat banyak ilmu dari pengalaman rekan-rekan seprofesi.

Spesialisasi bidang apa yang Anda tekuni dalam dunia penerjemahan?

Dalam penerjemahan, bidang yang paling banyak saya tekuni adalah bidang kuliner, kesehatan, film, musik, cerita rakyat, mitos, dan legenda. Tautan profil saya dapat dilihat di https://sihapei.hpi.or.id/anggota/HPI-01-07-0146 dan https://www.linkedin.com/in/lucykokikata/.

Bagaimana Anda mengatasi perbedaan budaya dan konteks dalam proses penerjemahan?

Menjembatani perbedaan budaya dan konteks adalah sebagian tugas terpenting seorang linguis. Tanpa dua keterampilan ini, seorang linguis tidak akan bisa mengantarkan pesan di materi yang diolah ke penikmat akhir, baik pembaca atau penonton hasil penerjemahan tersebut. Maka, tidak semua orang yang bisa memahami pasangan bahasa kerja (bahasa sumber dan sasaran) dapat menjadi penerjemah.

Apa tips Anda untuk menjaga kualitas dan konsistensi terjemahan?

Semua linguis harus menjaga kestabilan diri dengan mengatur manajemen waktu, tenaga, dan suasana hati (mood) untuk dapat fokus dan menghasilkan hasil kerja dengan mutu yang konsisten.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri penerjemahan di Indonesia saat ini?

Saat ini makin banyak peminat profesi penerjemahan, tapi banyak yang perlu membenahi diri, bukan hanya dari sisi keterampilan, tapi juga sikap dan perilaku dalam bekerja dan bersosialisasi, baik dengan sesama rekan seprofesi dan pengguna jasa, baik klien langsung maupun agensi.

Apa saja peluang dan tantangan yang dihadapi penerjemah di era digital?

Di era digital ini, linguis tentu sangat terbantu dengan banyaknya alat bantuan berbasis teknologi, namun jika tidak waspada dan terus meningkatkan keterampilan, ada ancaman linguis dapat digantikan alat dan teknologi. Semua linguis harus terus mempercanggih dan mengasah diri untuk terus lebih peka dan tetap relevan dibandingkan dengan mesin.

Bagaimana Anda memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pekerjaan Anda?

Teknologi harus tetap kita perlakukan sebagai alat bantu, bukan pengganti. Perhatikan brief dari klien, apa yang dibutuhkan, siapa target pengguna atau penikmat hasil karya tersebut, dan sesuaikan. Hal ini sisi unggul kita sebagai manusia.

Apa saran Anda bagi generasi muda yang ingin berkarir sebagai penerjemah?

Teman-teman generasi muda, generasi Z, terutama yang mampu berbahasa asing dan berbahasa daerah (peluang ini juga ada, berbanggalah kalau masih bisa fasih berbahasa daerah), cari terus informasi, bergaul dengan komunitas penerjemah, dan asah terus keterampilan baik dalam bahasa, penerjemahan, dan semua hal pendukungnya.

Menurut Anda, apa yang diperlukan untuk menjadi penerjemah yang sukses?

Sukses ini relatif. Yang pasti, jangan cepat puas. Belajar terus, bergaul terus, ulik terus segala hal mengenai penerjemahan dan bidang profesi linguis lainnya. Saat sudah cukup berpengalaman, katakanlah di atas lima tahun berkarier, perlahan cari bidang fokus dan perdalam di bidang-bidang itu. Be a master of some, not a jack-of-all-trades. Jangan cepat puas, tapi juga pahami batasan diri.

Apa saran Anda untuk menjaga etika dan profesionalisme dalam dunia penerjemahan?

Sebagai linguis profesional, terutama yang sudah bergabung dalam asosiasi profesi (https://www.hpi.or.id/ atau di LinkedIn https://www.linkedin.com/company/himpunan-penerjemah-indonesia/), ada kode etik yang mengatur dan menjaga anggotanya, para pelaku profesi ini tetap berkarya dengan etis, dan bisa dibaca di tautan https://www.hpi.or.id/kode-etik.