Lebih Dekat dengan Siska Nurohmah, Penerjemah Novel Babel Karya RF Kuang

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 30 September 2024
Rubrik Profil

penerjemah-buku-babel-siska-nurohmah-tahun-2024

Pernah enggak Anda membaca buku terjemahan dan hasilnya bagus banget sampai-sampai Anda bertanya-tanya, bagaimana proses penerjemahannya?  Di momen berbeda, Anda membaca buku terjemahan yang lain dan menemukan ketidaksinkronan sehinggga memutuskan untuk berhenti membacanya. Proses penerjemahan suatu karya pada dasarnya tidak sekadar memindahkan kata per kata, kalimat per kalimat, sebagai penerjemah perlu memahami konteks situasi, momen, dan budaya tempat peristiwa dalam tulisan tersebut terjadi. Ini yang membuat pekerjaan sebagai penerjemah itu menantang sekaligus menarik.

Kali ini Loker ID beruntung sekali bisa mengobrol dengan Siska Nurohmah, penerjemah novel "Babel" karya RF. Kuang yang lagi ramai dibicarakan itu lho! Bukan seperti yang dibayangkan pada umumnya--biasanya kan dalam bayangan kita penerjemah itu identik dengan pendidikan linguistik--latar belakang pendidikan Siska ternyata Kedokteran baru belakangan dia mengambil kuliah S1 di bidang penerjemahan untuk memantapkan skill dan keilmuan translasinya.

Seperti apa pengalaman Siska berkutat di dunia penerjemahan dan bagaimana pendidikan kedokteran yang ditekuninya di awal justru membantunya bersikap kritis saat mengerjakan penerjemahan? Simak ceritanya di sini!

Bagaimana awalnya Siska bisa terjun ke dunia penerjamahan? Boleh diceritakan?

Awal ketertarikannya kurang lebih saat awal kuliah. Saat itu aku menemukan buku yang pernah kubaca sewaktu berumur tujuh tahun, dan sudah kucari-cari sejak lama. Dulu, aku tinggal di kampung kecil, akses terhadap buku terbatas sekali. Orang tuaku juga tidak mengerti tentang sastra dunia. Tapi, syukurnya aku ditakdirkan berteman dan bertetangga dengan anak Pak Kepala Sekolah. Di rumahnya tersedia buku-buku yang, walau tidak banyak, ternyata bagus-bagus! Dua yang paling berkesan adalah cerbung berbahasa Sunda tentang seorang anak sebatangkara, serta sebuah buku yang sampulnya sudah copot sehingga aku tidak tahu judulnya.

Kisaran tahun 2004 aku ke toko buku dan menemukan buku yang kedua. Aku tahu pasti itu bukunya, karena gambar-gambar di dalamnya masih sama. Tapi saat kubaca lagi, bahasa dan “rasa”- nya berbeda. Karena penasaran aku mencari-cari informasi, dan akhirnya menyadari bahwa buku itu diterjemahkan ulang oleh penerjemah yang berbeda: yang kubaca saat kecil adalah terjemahan Bapak Wing Kardjo, judulnya "Pangeran Kecil", karya Antoine de Saint-Exupery. Di saat yang sama, aku juga baru tahu bahwa cerbung berbahasa Sunda yang kubaca, ternyata terjemahan dari novel Hector Malot, seorang penulis Perancis.

Bayangkan, dua karya yang tidak dibaca dalam bahasa aslinya, dapat meninggalkan kesan sedemikian dalam hingga bertahun-tahun kemudian! Dari situlah aku mengagumi profesi penerjemah buku, dan diam-diam bercita-cita untuk menerjemahkan buku suatu hari nanti. Kalau menemukan buku yang bagus dalam bahasa Inggris, kadang aku suka mencoba-coba menerjemahkan beberapa penggalan yang menarik.

Aku juga bergabung dengan milis Bahtera walau hanya menyimak karena malu-malu, masih anak ingusan. Tahun 2014, setelah lulus dan praktek beberapa tahun, barulah aku memberanikan diri bergabung dengan HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia), walau yang kuterjemahkan sampai saat itu baru teks-teks medis dan jurnal kedokteran sebagai sambilan saat kuliah dulu. Dari Bahtera dan HPI- lah aku mendapatkan banyak ilmu dan informasi seputar penerjemahan. Dari situ juga aku mulai serius mengerjakan proyek penerjemahan medis dari klien-klien di luar negeri. Setelah melewati jalan yang cukup berliku, akhirnya pada tahun 2017 aku kesampaian menerjemahkan buku untuk pertama kalinya.

Apakah pada akhirnya Siska mengambil sertifikasi penerjemahan atau bagaimana ya?

Aku kuliah lagi, di bidang penerjemahan. Sebelumnya sempat beberapa kali ambil training dari LBI FIB UI, juga ikut webinar-webinar HPI yang biasanya diisi penerjemah senior yang mumpuni.

Apakah latar belakang pendidikan Siska di bidang kedokteran membantu menyokong profesi Siska sebagai penerjemah? Entah itu memperkaya inspirasi atau proses kreatif?

Sebetulnya, iya. Ini karena bidang yang kutekuni saat ini adalah penerjemahan medis. Jadi, sebagian besar teks yang kuterjemahkan adalah hak paten untuk obat-obatan, alat kesehatan, atau riset kedokteran molekuler. Kalau untuk penerjemahan buku non-medis, barangkali kontribusi dari pendidikanku di kedokteran adalah membentuk pola pikir "investigatif". Seperti dokter yang menggunakan berbagai modalitas untuk menegakkan diagnosis, menggali informasi dan riset dari berbagai sumber untuk menemukan simpulan yang tepat, begitu pula yang berusaha kulakukan saat menerjemahkan.

Ketika kemudian akhirnya menerjemahkan "Babel" itu gimana ceritanya ya? Seperti apa prosesnya? Apakah sebelumnya Siska sudah pernah membaca "Babel" versi bahasa Inggris?

Awalnya ditawari Mbak Puput Alvia, editor Shira Media. Sebelum menerjemahkan, aku sudah sempat baca bukunya sampai selesai. Jujur aku cukup antusias, pertama karena temanya tentang penerjemahan itu sendiri, dan yang kedua karena menyinggung soal diskriminasi, rasisme, dan kolonialisme. Aku, yang saat ini berstatus sebagai imigran, sedikit banyak bisa berempati dengan pengalaman tokoh-tokoh dalam buku ini. Apalagi, Indonesia sendiri pernah mengalami masa kolonialisme yang cukup panjang.

Tapi, aku juga sadar materinya cukup berat, baik dari segi tema maupun volumenya. Jadi aku sempat ragu-ragu. Takut tidak sanggup menyelesaikan, terutama karena aku baru saja menyandang status baru sebagai ibu. Untungnya Mbak Puput memberi semangat. Kami juga sudah pernah bekerja sama beberapa kali sebelumnya, dan beliau sangat pengertian dengan situasi pribadiku. Jadilah aku ambil tawaran itu walaupun dengan hati yang lumayan ketar-ketir.

Boleh diceritakan seperti apa kendala, kesulitan dalam menerjemahkan "Babel"? Butuh waktu berapa lama?

Kendala yang paling terasa adalah banyaknya kutipan dari buku lain yang dimasukkan oleh penulis--R.F. Kuang. Banyak di antara kutipan itu berupa puisi. Dan menerjemahkan puisi butuh keterampilan tersendiri yang menurutku sangat berbeda dengan menerjemahkan novel. Kutipan puisi limerick karya Edward Lear contohnya. Pendek, tapi mustahil bagiku untuk menerjemahkannya tanpa mengetahui bahwa Lear menulisnya saat mengunjungi India, di masa-masa penjajahan Inggris, dengan banyak rujukan budaya yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja.

Ada pula penggalan-penggalan karya klasik, yang lagi-lagi harus kupelajari dulu konteksnya. Jadi, walau yang dikutip hanya satu paragraf atau beberapa baris, terkadang butuh berhari-hari sampai aku merasa cukup yakin. Di sini, aku juga sempat berkonsultasi dengan seorang rekan senior yang lebih berpengalaman dalam penerjemahan sastra. Total waktu dari naskah diterima hingga diserahkan, sekitar 10 bulan, tetapi aku mengerjakannya on-off, karena terjeda kesibukan lain. Setelah diserahkan, aku masih mengajukan revisi beberapa kali

karena belum puas.

Apakah ada istilah atau konsep tertentu yang sulit diterjemahkan dan bagaimana Anda mengatasinya?

Ada, pastinya. Silver-work, misalnya, yang menjadi konsep inti cerita ini, secara harfiah mungkin bisa diterjemahkan sebagai kerajinan perak, tetapi dalam novel ini konteksnya berbeda. Pengertiannya bukan sekadar mengolah perak secara fisik, melainkan mencakup perumusan pasangan kata yang memerlukan kreativitas atau daya cipta. Ada elemen magis dan imajinatif dalam proses “pengolahan

perak” ini. Jadi, aku berusaha mencari padanan yang bisa menampung konteks tersebut. Biasanya dengan mencari di kamus, tesaurus, atau kadang mencari tahu bagaimana istilah itu diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

novel-babel-karya-rf-kuang-tahun-2024

Buku ini menyajikan latar belakang budaya yang berbeda. Bagaimana Anda menjaga agar terjemahan tetap akurat dan tidak menghilangkan nuansa budaya aslinya?

Di beberapa bagian aku mempertahankan istilah-istilah dalam bahasa sumber, contohnya beberapa kata sapaan atau makanan-makanan setempat. Panggilan “Birdie”, misalnya, kupertahankan karena kemungkinan besar di situ ada rujukan terhadap nama Robin, si tokoh utama, yang juga merupakan nama burung yang populer di Inggris. Tapi, di bagian lain, aku harus melakukan adaptasi yang justru mengubah kalimat asli supaya penjelasan etimologis istilah itu bisa tetap koheren dan menunjukkan asal-usul katanya dengan jelas.

Bagaimana Anda menjaga konsistensi gaya bahasa dan terjemahan sepanjang buku, terutama untuk buku setebal Babel?

Proses swasunting berkali-kali. Baca ulang dan baca ulang lagi. Terutama bagian percakapan. Kadang ada terjemahan dialog di awal buku yang baru ketahuan kurang mencerminkan karakter tokohnya setelah sampai di halaman-halaman belakang. Kadang ada istilah yang baru ketemu konteksnya setelah cerita maju beberapa bab. Kadang ada istilah yang terlihat lugas artinya, tetapi setelah beberapa bab perlu dicarikan padanan lain karena khawatir bertumpang tindih dengan kata lain yang bermakna mirip. Jadi bolak-balik baca ulang.

Apakah ini adalah buku pertama yang Siska terjemahkan? Kalau tidak, boleh diceritakankah buku-buku apa saja yang sebelumnya sudah Siska terjemahkan serta bagaimana tingkat kesulitannya bila dibandingkan dengan "Babel"?

Bukan, bukan yang pertama. Buku-buku sebelumnya rata-rata bertema medis atau psikologi. Ada juga fiksi dan memoar. Tiap buku sepertinya punya kesulitan yang unik dalam caranya sendiri-sendiri. Pernah menerjemahkan buku psikiatri yang struktur kalimatnya panjang bertingkat-tingkat dengan banyak sekali istilah baru yang sulit dicari padanannya. Ada juga buku psikologi yang membahas konsep yang sangat abstrak, atau ada pula fiksi yang ditulis tahun 1800-an dengan gaya bahasa yang berbunga-bunga. Babel menantang karena membahas tentang penerjemahan itu sendiri.

siska-nurohmah-penerjemah-novel-babel-tahun-2024

Bagaimana Siska memandang industri penerjemahan di Indonesia serta tantangannya seperti apa?

Industri penerjemahan sepertinya masih akan relevan, penerjemah dibutuhkan di berbagai bidang. Di luar penerjemahan buku, banyak niche lain yang bisa dipilih oleh penerjemah. Di antaranya penerjemah teks hukum, medis, laporan keuangan, bahkan penerjemah takarir (subtitle--red) di film-film dan video yang kita tonton. Meski penggunaan AI semakin banyak, penerjemah akan tetap dibutuhkan.  Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan kualitas kita supaya lebih unggul dari AI. Khusus tentang penerjemahan buku, tantangan lainnya adalah bagaimana menciptakan ekosistem perbukuan yang dapat memberikan tarif yang layak pada para penerjemah buku. Karena, penerjemahan buku itu butuh kemahiran yang tidak mudah dicapai, prosesnya pun menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Sementara, tarifnya masih belum bisa dibandingkan dengan penerjemahan dokumen. Salut untuk semua penerjemah buku di Indonesia.

Bagaimana Anda melihat penerjemahan? Apakah Anda menganggapnya sebagai suatu seni atau lebih sebagai sebuah keterampilan?

Dua-duanya. Ada pakem-pakem yang yang harus dipelajari dan diterapkan dalam menerjemahkan. Tapi, pada prakteknya tetap perlu kelenturan. Karena sifat bahasa itu sendiri cair, tidak terlepas dari konteks, dan penggunaannya bisa berubah seiring waktu, situasi, atau audiensnya. Bahkan ketika menerjemahkan teks medis, yang mengutamakan akurasi dan cenderung setia pada bahasa sumber,

tetap ada seninya supaya komunikatif.

Punya tips untuk profesional muda yang ingin berkarier sebagai penerjemah buku?

1. Banyak membaca, baik buku berbahasa Indonesia, berbahasa asing, maupun terjemahan. Aku pribadi senang membaca ulang buku-buku favoritku dalam bahasa lain, menarik melihat bagaimana penerjemah meramu kalimat pada bagian-bagian yang kusukai. Aku menemukan teknik-teknik penerjemahan yang menarik ketika membaca terjemahannya "Bumi Manusia" karya Pram dalam bahasa Belanda, misalnya.

2. Mempelajari teori-teori/teknik penerjemahan. Aku pribadi merasa terbantu dengan mengambil pendidikan formal di bidang ini. Tapi sekarang ada banyak juga training dan webinar yang menawarkan kelas-kelas singkat.

3. Berjejaring. Bisa dimulai dengan bergabung dengan HPI atau Bahtera. Aku banyak menimba ilmu dari menyimak diskusi para senior di sana.

Oh ya boleh kasih bocoran engga, dalam waktu dekat ini mau menggarap buku apa untuk diterjemahkan?

Kalau fiksi, belum ada. Sekarang sedang menerjemahkan materi tentang skrining genetik di masa kehamilan. Semacam buku saku untuk kepentingan edukasi bagi pasien.

Cari tahu lebih lanjut mengenai profesi penerjemah di artikel profesi Translator Bahasa Inggris ini. Cerita inspiratif lainnya terkait profesi penerjemah bisa Anda baca di artikel Lucia Aryani: Terinspirasi dari Ibu Akhirnya Berprofesi sebagai Penerjemah.