Budi Pamungkas: Bukan Sekadar Bacaan, Buku Sebagai Media Transmisi Identitas Masyarakat

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 30 Oktober 2024
Rubrik Profil

editor-ipank-dan-pengalamannya-bekerja-di-shira-tahun-2024

Setiap profesi punya sisi menarik yang membuat seseorang yang menggeluti profesi tersebut menjadi nyaman, betah, dan menghasrati pekerjaannya. Setelah beberapa waktu lalu, mengobrol dengan Prihandini Nur Rahmah, editor buku dari Penerbit Marjin Kiri, kali ini Loker ID berhasil mengulik cerita industri perbukuan dari perspektif yang lain, bersama Budi Pamungkas, editor dari Penerbit Shira Media.

Ipank--demikian ia biasa dipanggil--bercerita menjadi editor tidak bisa hanya modal senang membaca, melainkan harus update dengan perkembangan dunia perbukuan serta cekatan membaca kebutuhan zaman. Setiap zaman punya masanya sendiri. Dan disadari atau tidak, buku mencatat relevansi isu di masyarakat sesuai dengan yang terjadi di eranya.

Yuk, simak pandangan Ipank seputar industri penerbitan, hal apa yang paling ia senangi dari pekerjaannya, kriteria naskah yang lolos untuk diterbitkan, seluk-beluk dunia penerbitan, bisa dibaca selengkapnya di sini!

Bagaimana Anda memulai karier di dunia penerbitan, terutama di Yogyakarta?

Sejak kuliah saya memang tertarik untuk berkarier di dunia penerbitan atau media karena latar belakang pendidikan saya di jurusan sastra Indonesia. Saya mulai berkarier di dunia penerbitan secara profesional sejak 2017. Awalnya saya direkomendasikan oleh seorang teman kuliah saya untuk bekerja di sebuah penerbit sebagai editor yang kebetulan saat itu membutuhkan editor baru, dan setelah melakukan interview saya diterima di perusahaan tersebut. Sebelumnya saya bekerja di perusahaan monitoring media dan beberapa kali pernah mengambil proyek pengerjaan buku secara freelance. Selain itu saat kuliah saya juga berusaha aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus yang ternyata hal tersebut berguna bagi saya pasca selesai kuliah.

 Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat memulai karier sebagai editor?

Secara teknis mungkin tidak menemukan hambatan yang begitu besar. Mungkin tantangannya lebih ke bagaimana cara berinovasi agar selalu berkembang dari tahun ke tahun, mengingat semakin banyak penerbit baru yang bermunculan sehingga otomatis sebagai editor dituntut memiliki inovasi  dan kreativitas yang lebih agar mampu berkompetisi dengan editor penerbit lain dalam hal meng-create naskah.

 Apakah ada pengalaman yang paling berkesan selama berkarier sebagai editor buku?

Tentu ada. Salah satu pengalaman saya yang berkesan adalah bagaimana saya bisa menyunting buku-buku karya penulis favorit saya dulu yang sebelumnya tidak terbayangkan kalau bisa menyunting salah satu karyanya.

 Apa yang paling Anda sukai dari menjadi seorang editor buku?

Saya bisa membaca lebih dulu karya-karya yang belum terbit di pasaran. Selain itu karena membaca merupakan salah satu hobi saya, jadi ya merasa senang saja ketika hobi itu akhirnya bisa mendatangkan uang. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal buku,  genre buku apa yang paling Anda sukai dan mengapa?

Kalau ditanya genre buku apa yang saya sukai sebenarnya saya membaca semua buku yang saya pikir cocok untuk saya. Namun, saya paling sering membaca buku-buku fiksi, baik cerpen atau novel. Mengapa demikian karena hal tersebut sekarang menyangkut dengan pekerjaan saya yang banyak menyunting naskah-naskah fiksi.

Apa yang membedakan seorang editor buku dengan editor di media atau bidang lainnya?

Ehmmm, mungkin setahu saya kalau editor buku secara proses memakan waktu lebih lama dan juga memerlukan komunikasi dengan penulisnya. Selain itu kontennya juga lebih mendalam dan terstruktur dengan ruang pengembangan topik yang lebih komprehensif. Jadi, mungkin kalau editor buku lebih fokus pada karya panjang dengan pengembangan mendalam dan proses pengeditan yang lebih lama serta kompleks sih ya. Sementara editor media lain lebih fokus pada kecepatan, akurasi, dan daya tarik konten yang lebih singkat, serta beradaptasi dengan ritme produksi yang lebih cepat begitu ya kayaknya. Koreksi kalau salah ya soal media lain, soalnya belum pernah punya pengalaman jadi editor di media lain. Hehehe.

perjalanan-ipank-menjadi-editor-buku-tahun-2024

Keterampilan khusus apa yang harus dimiliki oleh seorang editor buku?

Mungkin selain menguasai aturan-aturan dasar penulisan, juga dibutuhkan komunikasi yang bagus. Karena kedua hal tersebut menurut saya penting dan mendasar untuk menentukan proses selanjutnya ketika menyunting naskah. Jika komunikasi kita dengan penulis bagus, tidak menutup kemungkinan di tengah-tengah proses penyuntingan nanti ada pengembangan topik yang tak terduga hasil dari komunikasi dari kedua belah pihak. Selain itu, komunikasi menjadi salah satu hal penting mengingat karakter penulis juga berbeda-beda. Jadi, sebagai editor juga harus punya skill atau keterampilan berkomunikasi yang baik dan fleksibel menyesuaikan penulis agar tidak terjadi miskom.

Bisa jelaskan secara singkat proses editing sebuah buku, dari tahap awal hingga buku siap terbit?

Pertama tentu kita harus mencari naskah terlebih dahulu sesuai kebutuhan penerbit. Setelah naskah tersedia kita harus membaca ulang naskahnya dan memberikan catatan-catatan sekiranya ada yang perlu ditambahkan atau pun koreksi dari editor. Selesai membaca dan memberikan masukan/koreksi, editor mengembalikan naskah ke penulis dan menunggu feedback dari penulis. Jika dalam proses penyuntingan sudah selesai editor menyerahkan naskahnya kepada layouter untuk disusun, sembari menyiapkan sampul, ajuan ISBN, dan kelengkapan lainnya. Setelah itu dilakukan proses dummy dan proofing sebelum pada akhirnya semuanya sudah beres dan siap naik cetak.

Apa kriteria utama yang Anda pertimbangkan saat melakukan editing sebuah naskah?

Kualitas naskah selalu yang utama, baik itu dari segi tema atau pun cara penulisan. Selanjutnya baru pertimbangan tentang potensi naskah apakah sedang tren atau pun banyak dibutuhkan pembaca.

Apa pentingnya komunikasi yang baik antara editor dan penulis dalam proses penerbitan?

Ini sangat penting, karena jika editor dan penulis tidak terjalin komunikasi yang baik maka potensi maksimal naskah tidak akan pernah terwujud. Karena hubungan mereka ketika akan menerbitkan sebuah buku kan menjadi rekanan ya dan saling memberikan masukan satu sama lain hingga pada akhirnya tercipta pola yang paling pas untuk bukunya dan meminimalisir kekurangan atau pun kesalahan yang ada. Jadi, komunikasi ini juga menghindarkan miskomunikasi antar keduanya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri perbukuan di Indonesia, terutama di era digital saat ini?

Sejauh ini tampaknya baik-baik saja sih ya. Karena penerbit juga berinovasi menyesuaikan zaman. Mungkin yang tadinya hanya menerbitkan buku secara konvensional, banyak penerbit yang juga menerbitkan bukunya secara digital. Jadi, bagi pembaca malah makin banyak pilihan. Mau yang fisik atau digital.

Apa dampak dari kehadiran e-book dan platform baca online terhadap industri perbukuan konvensional?

Untuk penerbit-penerbit yang sudah mapan sepertinya tidak begitu masalah, karena pasti penerbit juga melakukan inovasi dan menyesuaikan zaman seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Bagaimana Anda menilai kualitas karya penulis Indonesia saat ini?

Untuk kualitas karya penulis mungkin belum sepenuhnya merata ya. Saat ini memang banyak buku yang bagus, tapi buku yang kurang bagus pun juga tak kalah banyak. Masih banyak penulis yang asal menulis saja, tanpa adanya riset yang lebih mendalam. Jadi, bagaimana ya, tidak merata lah intinya kalau dari pandangan saya pribadi.

suka-duka-menjadi-editor-buku-ipank-tahun-2024

Apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing karya penulis Indonesia di kancah internasional?

Mungkin perlu riset yang lebih mendalam dan kepekaan terhadap budaya serta lingkungan sosial sekitar di samping memahami aturan dasar penulisan. Intinya sih apa ya, jangan menulis buku secara asal. Apa pun temanya ya ini maksudnya, karena saya masih banyak menemui buku-buku yang ditulis secara kurang bertanggung jawab secara konten, tanpa melalui riset yang mendalam dan hanya bersumber dari internet. Mungkin tahu ya buku seperti apa yang saya maksud. Hehehe ....

Apa yang dapat dilakukan penerbit untuk tetap relevan di tengah persaingan yang semakin ketat?

Selalu berinovasi sih dan memahami kebutuhan pembaca sepertinya yang paling penting.

Bagaimana peran penerbit dalam melestarikan dan mengembangkan budaya melalui buku?

Ini sepertinya bisa dijawab panjang, mengingat posisi penerbit ini sangat strategis sebagai corong dalam melestarikan dan mengembangkan budaya melalui buku. Dengan mendokumentasikan tradisi, menghidupkan bahasa lokal, mendukung karya sastra dan ilmiah, serta memberi ruang bagi suara-suara yang terpinggirkan, penerbit dapat menjadi salah satu pilar utama dalam memastikan bahwa kekayaan budaya tetap terpelihara dan berkembang sesuai dengan zaman. Buku bukan hanya medium untuk menyimpan pengetahuan, tetapi juga alat untuk mentransmisikan identitas dan nilai-nilai budaya yang penting bagi keberlanjutan suatu masyarakat. Mungkin kira-kira seperti itu ya. Ya seperti pepatah Buku Adalah Jendela Dunia lah. Hehehe.

Tren penerbitan apa yang sedang populer saat ini? Bagaimana Anda melihat tren tersebut mempengaruhi pilihan buku yang diterbitkan?

Tampaknya buku-buku fiksi dan pengembangan diri masih mendominasi ya sepertinya tahun ini. Selaku penerbit tentu juga akan selalu mempertimbangkan tren karena ini juga menentukan pasar pada akhirnya. Semakin tema tertentu banyak dicari, maka semakin terbuka juga peluang suatu buku dengan tema tersebut diterima oleh pembacanya. Intinya pembaca membutuhkan narasi yang relevan dengan kondisinya saat ini.

Pernah kepikiran enggak untuk berganti karier? 

Kalau ditanya pernah sih, pernah ya. Ini lebih ke masalah keterjaminan di hari tua saja sih. Hahahaha. Untuk urusan kerjaan masih nyaman-nyaman saja sejauh ini.

Selain editor, dalam industri penerbitan, ada profesi penerjemah. Baca cerita Siska Nurohmah Penerjemah Novel Babel Karya RF Kuang di sini!