Prihandini Nur Rahmah: Pentingnya Memastikan Suara dan Pesan Penulis Tersampaikan dengan Baik

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 30 Oktober 2024
Rubrik Profil

editor-prihandini-nur-rahmah-tahun-2024

Mungkin selama ini kita berpikir, "Apa sih kerjanya editor buku? Toh, tulisannya sudah jadi?" Nah...pemikiran seperti ini salah gaes! Justru tanpa editor, buku favoritmu enggak akan jadi semulus dan se-clear itu dibaca. Editor-lah yang membantu mencerahkan ide penulis sehingga menjadi bacaan yang legit dan tentunya tanpa "mengganggu" suara dan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Adalah Prihandini Nur Rahmah, editor buku yang saat ini bekerja di Penerbit Marjin Kiri, sebuah penerbit yang menerbitkan karya-karya kelompok marjinal dengan isu-isu sensitif. Loker ID beruntung bisa mengobrol dengan Andin--demikian ia biasa dipanggil, sehingga jadi tahu lebih banyak bagaimana seluk-beluk bekerja di dunia penerbitan.

Ada banyak proses yang dilalui sebelum akhirnya buku sampai ke pembaca, dan tentunya itu tak lepas dari tangan dingin editor. Pengalaman dan latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan pemikiran seorang editor akan membantu memuluskan proses eksekusi ide dan penulisan kreatif seorang penulis.

Buat Anda pembaca buku atau malah penyuka buku-buku terbitan Marjin Kiri, yuk intip profil editor penerbitnya di sini!

Bagaimana Anda pertama kali mengenal dunia penerbitan dan memutuskan untuk menjadi editor buku?

Aku mulai mengenal dunia penerbitan saat kuliah. Awalnya aku bergabung dengan unit penerbitan tingkat kampus. Aku menjadi editor di sana selama dua tahun dan menjadi pemimpin umum pada tahun ketiga. Saat menjadi editor, aku bertugas mengedit tulisan teman-teman yang hendak dibukukan.

Selain menerbitkan buku, aktivitas utama unit penerbitan tersebut adalah diskusi buku. Dari sana aku terpapar bacaan-bacaan alternatif dan kritis, baik sastra maupun buku-buku nonsastra bertema sosial, politik, dan budaya. Dari sana juga aku mengenal penerbit-penerbit independen seperti Marjin Kiri yang banyak menerbitkan buku dengan tema marjinal.

Selain menjadi editor di unit penerbitan kampus, sejak semester 3 aku mulai bekerja paruh waktu sebagai editor di sebuah media online. Itu adalah pekerjaan pertamaku sebagai editor. Kemudian saat semester 7 aku juga magang di salah satu penerbit mayor untuk memenuhi

SKS kuliah. Kurasa sejak itulah kecintaanku terhadap dunia perbukuan semakin dalam dan memengaruhi keputusanku menjadi editor.

Apa yang menjadi motivasi terbesar Anda dalam bekerja di penerbitan yang fokus pada tema-tema marjinal?

Sepertinya motivasi terbesarku adalah kecintaanku pada literasi dan aktivisme. Sejujurnya ini alasan yang sangat personal. Selama kuliah, selain aktif di penerbitan kampus, di luar kampus aku bergabung dengan kolekif perempuan bernama Perempuan Mahardhika. Waktu itu teman- teman mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil sedang mendorong pengesahan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Sebagai bentuk dukungan, unit penerbitan kampusku menjadikan isu kekerasan seksual sebagai tema buletin dan buku tahunan, tujuan

utamanya menyebarkan awareness untuk mengakhiri kekerasan seksual yang marak terjadi di kampus. Setelah UU TPKS disahkan, aku masih aktif terlibat di kolektif Perempuan Mahardhika.

Dari sana aku semakin banyak belajar tentang hak asasi manusia, feminisme, isu-isu LGBTQ+, dan isu-isu lingkungan lewat analisis interseksionalitas. Aku senang sekali, dengan menjadi editor buku yang berfokus pada tema marjinal, aku bisa berkontribusi di berbagai bidang yang aku cintai sekaligus.

Bagaimana pengalaman-pengalaman di pekerjaan sebelumnya membentuk Anda sebagai seorang editor?

Sebelumnya aku bekerja sebagai editor di salah satu media online yang banyak menerbitkan artikel opini yang membahas kelompok marjinal. Tulisan di media online tersebut sifatnya user generated, siapa pun bisa mengirim tulisan lewat website. Jadi penulis berasal dari berbagai latar belakang dan mereka menulis berbagai tema. Dari sini aku belajar banyak soal kurasi tulisan dan cara menilai apakah argumen opini sudah cukup kuat dan kritis sehingga layak untuk diterbitkan. Ini sangat membantuku untuk belajar mengasah kejelian sebagai editor, bahwa tugas editor tidak berhenti pada memeriksa tata bahasa, tetapi memastikan substansi tulisan kuat, utuh, tidak lompat-lompat dan akhirnya layak untuk dibaca.

penerbit-marjin-kiri-tempat-andin-bekerja-tahun-2024

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi selama bekerja sebagai editor buku dengan tema-tema marginal? Bagaimana Anda mengatasinya?

Karena banyak memuat isu sensitif, ketika mengedit aku merasa perlu berada dalam keadaan emosional yang stabil. Buku dengan tema marjinal sering kali memuat konten kekerasan dan diskriminasi yang dapat memicu trauma. Aku perlu memastikan bahwa naskah ditangani

dengan hati-hati agar tidak memicu respons emosional yang tidak diinginkan dari pembaca.

Untuk itu aku perlu memastikan diriku siap secara emosional saat mengedit. Aku akan berhenti mengedit ketika merasa kewalahan secara emosional dengan naskah. Dan kembali mengedit ketika suasana hati sudah lebih membaik.

Bagaimana proses editing buku yang Anda lakukan, terutama untuk buku-buku dengan tema sensitif?

Terkait hal-hal sensitif dalam buku, dalam proses edit aku akan konsultasi dengan penulis serta ahli atau kawan yang menjadi bagian dari komunitas yang bersangkutan.

Apa yang menurut Anda paling penting dalam mengedit buku dengan tema-tema tersebut? Apakah ada aspek khusus yang perlu diperhatikan?

Aspek penting dalam mengedit buku dengan tema marjinal adalah sensitivitas terhadap tema. Editor harus punya kesadaran sosial atas isu yang dihadapi kelompok marginal. Dalam proses menyunting, editor harus peka terhadap teks maupun konteks sosial serta harus senantiasa

rendah hati.

Bagaimana Anda memastikan bahwa suara dan perspektif penulis serta kaum terpinggirkan tetap terwakili dengan baik dalam buku yang Anda edit?

Sebagai editor, tugasku adalah memastikan perspektif penulis dan keaslian narasi tersampaikan dengan baik, bukan mengubahnya. Untuk memastikan suara tersebut terwakilkan, aku melakukan berbagai cara seperti riset, berkomunikasi dengan penulis, serta meminta masukan dari anggota komunitas yang terlibat untuk memastikan adanya representasi yang tepat.

Menurut Anda, apa peran paling penting seorang editor dalam proses penerbitan buku?

Peran paling penting editor menurutku adalah memastikan suara dan pesan yang ingin disampaikan penulis lewat bukunya tersampaikan dalam bentuk terbaiknya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan penerbitan buku dengan tema-tema marjinal di Indonesia?

Aku melihat perkembangan penerbit dengan tema-tema marjinal menunjukkan tren yang positif. Aku rasa ini banyak dipengaruhi oleh semakin tingginya kesadaran pembaca terhadap pentingnya representasi. Penulis perempuan, penulis queer, penulis dari kelompok disabilitas juga semakin diberi panggung.

Beberapa tahun belakangan, komunitas literasi yang inklusif juga mulai bermunculan. Acara sastra dan festival buku juga sudah banyak membuka ruang diskusi bagi isu-isu ini. Tentu ini menjadi motivasi bagi para penerbit untuk lebih banyak dan berani menerbitkan buku-buku dengan tema marjinal.

proses-mengedit-tulisan-editor-prihandini-tahun-2024

Apa kendala yang sering dihadapi oleh penerbitan yang fokus pada tema-tema marjinal?

Ada beberapa kendala yang dihadapi penerbitan yang fokus pada tema-tema marjinal, misalnya segmentasi pasar yang terbatas. Selain itu, penerbitan juga harus menghadapi kekhawatiran pembaca yang kadang menilai bahwa buku-buku dengan tema marjinal terlalu berat dan sulit dibaca, dan bahwa buku-buku dengan tema ini dikhawatirkan bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka anut.

Apa keseharian Anda sebagai editor buku? Boleh diceritakan?

Sebagai editor, aktivitasku sehari-hari adalah membaca, mengedit naskah, serta berkomunikasi dengan penulis. Di samping itu, aku juga perlu membaca dan membuat review naskah yang akan diputuskan layak atau tidak untuk diterbitkan. Dalam beberapa kesempatan, aku juga menghadiri acara promosi buku dan festival sastra.

Bagaimana Anda menemukan penulis-penulis baru yang memiliki potensi untuk menerbitkan buku dengan tema-tema marjinal?

Naskah-naskah dengan tema marjinal dapat ditemukan dengan beberapa cara. Naskah nonfiksi dengan tema ini bisa ditemukan pada naskah akademik. Jadi, sebagai editor, aku perlu up to date mengecek jurnal ilmiah untuk mencari naskah yang menarik. Untuk naskah fiksi, penulis baru yang potensial bisa ditemukan pada pemenang atau peserta sayembara sastra, meski tidak menutup kemungkinan untuk menemukan mereka dengan cara lainnya.

Bagaimana Anda bekerja sama dengan penulis untuk menyempurnakan naskah mereka?

Selain mengedit tata bahasa, sebagai editor aku memberikan catatan detail dan rekomendasi perubahan, seperti bagian atau bab yang perlu ditambahkan atau dihapus, serta jika ada perubahan struktur.

keberpihakan-pada-kelompok-marjinal-editor-prihandini-tahun-2024

Bagaimana pekerjaan Anda sebagai editor buku dengan tema-tema marjinal telah memengaruhi pandangan Anda tentang dunia dan masyarakat?

Aku jadi menyadari betapa pentingnya memberikan ruang bersuara bagi orang-orang yang selama ini terpinggirkan. Dengan membaca secara dalam selama proses mengedit, aku merasa terhubung dengan pengalaman bahkan penderitaan orang-orang dalam buku yang kubaca. Menjadi editor buku dengan tema-tema marjinal memberiku kesempatan untuk learn, unlearn, dan relearn banyak hal.

Menurut Anda, apa kontribusi terbesar yang dapat diberikan oleh literatur dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial?

Literatur menjadi media penyadaran masyarakat mengenai perjuangan kesetaraan dan keadilan sosial. Lewat literatur, ruang-ruang dialog sosial terbuka lebar sehingga memancing diskusi yang menghasilkan pengetahuan dan kesadaran baru.

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada calon penulis atau editor yang tertarik dengan tema-tema marginal?

Aku ingin menyampaikan pesan kepada calon penulis yang tertarik dengan tema marjinal: Setiap tulisan berpotensi menjadi alat perlawanan dan perubahan. Turun ke jalan dan menulis sama berartinya. Mulailah menulis dan teruslah membaca.

Mau tahu lebih banyak cerita karier di industri penerbitan, baca artikel Mengikuti Perjalanan Penerjemahan Fransiskus Pascaries.