Andrewinata Sonda: Perekrutan Bukan Hanya tentang Kecocokan Skill Melainkan Kesesuaian dengan Budaya Kantor

Mungkin sudah saatnya kita--sebagai kandidat--ketika menerima penolakan email kerja yang seolah klise mengatakan "kesalahan bukan di kandidat melainkan mereka mencari profil yang lebih sesuai" sebagai sesuatu yang memang benar apa adanya. Makanya, dalam dunia kerja tak jarang kita dengar kerja itu bukan hanya soal gaji, melainkan cocok-cocokkan. Seperti jodoh juga. Walaupun skill-nya match ada saja hal yang bisa menjadi penyebab relasi tidak bisa dilanjut, sesederhana Anda tim bubur diaduk sedangkan gebetan bubur tak diaduk.
Mengobrol mengenai dinamika perekrutan bersama Andrewinata Sonda, seorang Head of Talent & Business Development di PT Pratama Sinergi Dinamis--sebuah perusahaan yang bergerak di bidang HR management consulting, sedikit banyak membuka perspektif kita mengenai perekrutan bukan hanya persoalan skill. Yang dicari juga kecocokan dengan budaya perusahaan. Karena kelak kandidat akan bekerja bersama tim dan menjadi penentu keberlangsungan visi misi perusahaan.
Terkadang, keterampilan teknis dapat dipelajari, namun kesesuaian dengan nilai-nilai, norma, dan gaya kerja yang sudah tertanam di perusahaan sulit diubah. Seorang karyawan yang memiliki skill mumpuni namun tidak cocok dengan budaya perusahaan cenderung kurang produktif, sulit beradaptasi, dan bahkan dapat merusak suasana kerja. Oleh karena itu, perusahaan berusaha mencari kandidat yang tidak hanya kompeten dalam pekerjaannya, tetapi juga dapat menjadi bagian integral dari tim dan berkontribusi pada keberhasilan jangka panjang perusahaan. Itu satu hal yang menjadi pokok bahasan Loker ID bersama Andrewinata.
Selain itu, kami juga mengobrolkan mengenai passion bekerja sebagai HR. Seorang HR perlu memiliki passion dalam berinteraksi dengan manusia karena peran HR sangat erat kaitannya dengan pengelolaan sumber daya manusia. Dalam menjalankan tugasnya, seorang HR akan berinteraksi dengan berbagai macam orang, mulai dari calon karyawan, karyawan yang sudah bekerja, hingga manajemen. Passion untuk berinteraksi memungkinkan HR membangun hubungan yang baik dengan semua pihak, memahami kebutuhan mereka, serta menciptakan lingkungan kerja yang positif. Selain itu, passion ini juga akan mendorong HR untuk terus mengembangkan kemampuan komunikasinya, empati, dan problem-solving, yang sangat penting dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang terkait dengan karyawan.
Tanpa berlama-lama lagi, langsung simak obrolan inspiratif seputar perekrutan dan HR sebagai profesi di sini!
Bagaimana Anda memulai karier di bidang perekrutan? Apa yang membuat Anda tertarik di bidang ini?
Saya memulai karier di bidang HR dengan ketertarikan besar pada interaksi manusia dan bagaimana individu yang tepat dapat membuat dampak signifikan dalam organisasi. Awalnya, saya tertarik pada pengembangan karyawan, tetapi seiring waktu, saya melihat bagaimana menemukan talenta yang tepat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan. Melalui perekrutan, saya merasakan kesempatan untuk memengaruhi kesuksesan bisnis sekaligus membantu individu menemukan jalan karier yang sesuai dengan potensi mereka.
Apa yang memotivasi Anda untuk terus bekerja di bidang perekrutan? Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda saat ini?
Saya termotivasi oleh kesempatan untuk membangun tim yang solid dan beragam yang dapat membawa perusahaan mencapai target bisnisnya. Yang saya sukai dari pekerjaan ini adalah dinamika hubungan manusia; setiap hari saya berinteraksi dengan berbagai talenta dengan latar belakang unik yang menambah kekayaan budaya dalam perusahaan.
Bisa Anda ceritakan pengalaman paling berkesan selama berkarier di bidang perekrutan? Apa pelajaran berharga yang Anda dapatkan?
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika berhasil merekrut seorang kandidat yang pada awalnya ragu-ragu, tetapi kami terus berkomunikasi untuk memastikan bahwa peran dan perusahaan ini benar-benar cocok dengannya. Kini, ia menjadi salah satu karyawan yang memberikan kontribusi besar. Pelajaran utamanya adalah selalu menggali lebih dalam tentang kebutuhan dan motivasi kandidat—memahami apa yang penting bagi mereka dapat membuat perekrutan lebih bermakna dan berdampak jangka panjang.
Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam pekerjaan sehari-hari sebagai seorang Recruitment & Business Development Manager? Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?
Tantangan terbesar adalah menyeimbangkan kebutuhan bisnis yang berubah cepat dengan ketersediaan talenta yang tepat di pasar. Untuk mengatasi ini, saya fokus membangun hubungan jangka panjang dengan talenta potensial serta mengembangkan strategi perekrutan yang lebih proaktif, seperti menyiapkan pipeline kandidat yang siap untuk bergabung ketika posisi terbuka.

Bagaimana menurut Anda dinamika dunia kerja saat ini, terutama dalam hal perekrutan? Apa saja tren terbaru yang Anda amati?
Dunia kerja kini bergerak cepat ke arah fleksibilitas dan digitalisasi. Banyak perusahaan mulai beralih ke remote work atau hybrid, yang menciptakan tren perekrutan yang lebih luas secara geografis. Selain itu, ada peningkatan fokus pada employee experience dan kesejahteraan, sehingga banyak kandidat kini memilih perusahaan yang menawarkan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan.
Bagaimana Anda melihat fenomena "speak up" mengenai kondisi kerja di media sosial? Apa dampaknya terhadap dunia kerja dan proses perekrutan?
Fenomena speak up memberikan dampak positif dengan mendorong transparansi dan akuntabilitas. Kandidat kini memiliki akses informasi yang lebih banyak mengenai budaya perusahaan dan kualitas manajemen. Hal ini menjadi tantangan bagi HR untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki budaya yang inklusif dan terbuka terhadap masukan. Dengan cara ini, perusahaan bisa lebih baik dalam menarik talenta yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.

Menurut Anda tantangan apa yang paling mendasar dalam dunia perekrutan saat ini untuk job seeker dan untuk HR?
Bagi job seeker, tantangannya adalah menemukan perusahaan yang benar-benar sejalan dengan nilai dan tujuan karier mereka. Sementara bagi HR, tantangannya adalah menarik talenta berkualitas di tengah persaingan ketat dan memastikan mereka tetap betah. Solusinya adalah perusahaan harus bisa menawarkan employee value proposition yang kuat dan autentik.
Boleh share tips wawancara pertama, sebenarnya di wawancara pertama itu, hal apa yang paling dinilai oleh HR?
Di wawancara pertama, hal yang paling dinilai adalah kesesuaian karakter kandidat dengan budaya perusahaan serta bagaimana ia berkomunikasi dan mengekspresikan motivasinya. Tips saya, persiapkan diri dengan baik untuk bisa menjelaskan pengalaman, keterampilan, serta alasan Anda tertarik pada posisi tersebut secara singkat dan meyakinkan.
Menurut Anda, apa yang perlu dilakukan perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif dan apakah "speak up" itu perlu didukung atau tidak?
Lingkungan kerja yang positif tercipta ketika ada budaya saling menghargai dan kesempatan untuk pertumbuhan. Speak up harus didukung, karena memungkinkan karyawan untuk menyampaikan ide atau kekhawatiran mereka tanpa takut dihakimi, sehingga perusahaan dapat terus berkembang dan beradaptasi sesuai kebutuhan karyawan.
Apa yang dapat dilakukan perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif?
Perusahaan bisa mulai dengan mengedukasi seluruh karyawan tentang pentingnya inklusivitas, membuat kebijakan yang mendukung keberagaman, dan membangun sistem perekrutan yang terbebas dari bias. Selain itu, memberikan ruang bagi semua karyawan untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan juga sangat penting untuk meningkatkan rasa memiliki dan kebersamaan.
Cerita suka duka tantangan profesi HR bisa Anda baca di tulisan Retno Pratiwi: Pentingnya Berjeraring sebagai HR dan Update Teknologi Informasi serta Anis Dewinta: Berstrategi dan Berinovasi dalam Menghadapi Badai PHK.