Soni Triantoro : Executive Producer yang "Agak Laen" dari Narasi

Soni Triantoro sendiri yang mengaku kalau dia memang "agak laen". Tidak seperti executive producer pada umumnya yang tahu teknis syuting dan pembuatan konten audio visual, ketika pertama kali bergabung sebagai executive producer di Narasi, Soni buta sama sekali. Kekuatannya adalah pada penguasaan teks dan riset. Dan ternyata memang itulah yang dicari dan dibutuhkan di Narasi. Yang bisa jadi membuatnya berbeda dari media kebanyakan. Belakangan malah salah satu tugas tidak langsung Soni adalah manajemen konflik ketika Narasi diserang buzzer.
Seperti kisah pengalaman lainnya, selalu ada awal penentu. Bagaimaan Soni mengawali perjalanan jurnalismenya? Baca obrolan kami di sini!
Bisakah Anda ceritakan perjalanan karir Anda hingga akhirnya menjadi executive producer di Narasi TV? Apa saja langkah-langkah krusial yang Anda lalui?
Semasa SMP, saya memasang cita-cita yang spesifik: jurnalis musik. Ternyata mimpi itu lunas terlalu cepat, saya mengenyam pengalaman jadi reporter Rolling Stone Indonesia sejak kuliah. Lantas, pikiran berkata, ‘’hidup masih panjang, mau ngapain lagi ya?’’
Di waktu bersamaan, sebagai mahasiswa, ketertarikan saya ke isu-isu politik beranjak tumbuh. Jadi, seiring waktu, proporsi musik-musikan saya kurangi, perhatian pada isu-isu publik saya seriusi.
Pada tahun 2016, sehabis lulus, saya bekerja di media online anak muda bernama Hipwee. Dua tahun berselang, saya dipromosikan sebagai pemimpin redaksi, sembari satu-satunya yang menulis politik di media berbasis produk artikel tersebut.
Syahdan, lewat satu perjumpaan di tahun 2018, saya diajak Najwa Shihab untuk kerja bareng, membantunya merumuskan gagasan dan materi di tiap kehadiran-kehadirannya di publik. Namun, karena saya masih kuliah S2 di UGM (artinya masih tinggal di Jogja), dan atas beberapa pertimbangan, butuh dua tahun kemudian hingga akhirnya saya mantap memutuskan pindah ke Narasi (sekarang sudah tidak pakai TV).
Sebelum di Narasi, Anda memiliki pengalaman di media anak muda dan majalah musik. Bagaimana pengalaman ini membentuk Anda sebagai seorang executive producer?
Narasi sejak awal memang berniat menyasar segmen anak muda. Jadi wawasan saya terkait budaya pop menjadi salah satu modal peremajaan konten-konten Mata Najwa (program Narasi yang saya pegang) yang sebelumnya—untuk beberapa kalangan—dikenal sebagai talkshow politik yang berat dan serius. Peremajaan itu diejawantahkan dalam berbagai unsur: pilihan topik, konsep, pilihan narsum, angle, gaya tutur, dll.

Apa yang membuat Anda tertarik untuk bergabung dengan Narasi, dan apa yang membuat Anda bertahan di sini?
Mula-mula, ya karena sosok Najwa Shihab. Saya sepaham dengan nilai-nilai dan cara pandangnya. Dan bersamanya, apa yang saya kerjakan jelas akan lebih banyak tersebar dan tersuarakan, dibanding artikel-artikel yang saya tulis sendiri.
Kenapa masih bertahan? Saya masih butuh altruisme, atau perasaan melakukan sesuatu yang benar dan berdampak untuk orang lain. Saya mendapatkan itu di Narasi, dan belum menemukan ada media lain di Indonesia yang rasanya bisa menyediakan dua indikator itu di tingkatan yang setaraf.
Sebagai executive producer di Narasi, apa saja tanggung jawab dan peran Anda sehari-hari?
Yang terjadi pada saya agak lain, ya. Barangkali, saya satu-satunya executive producer di Jakarta yang tidak tahu caranya syuting (wkwkwk). Salah satu alasan kenapa saya butuh banyak pertimbangan untuk gabung ke Narasi adalah karena pengalaman saya lebih banyak di bidang kepenulisan, sementara Narasi merupakan media digital yang menitikberatkan konten audio visual. Bisa dibilang saya buta teknis penyiaran, pengambilan gambar, dll.
Di sisi lain, dengan merekrut executive producer yang lebih berkapasitas pada teks dibanding audio visual, menunjukkan Mata Najwa percaya bahwa produk tayangan yang baik (meski berbentuk show) harus berangkat dari naskah, riset, data, dan kerja teks yang baik. Itu semangatnya.
Jadi, selain kerja supervisi umum, seperti memimpin meeting, mengatur penugasan produser dan para kru, mengambil keputusan-keputusan krusial terkait konten (Apa yang harus direvisi? Apakah layak naik atau tidak? Adegan apa yang harus dipotong?), saya lebih fokus ‘’turun’’ ke urusan naskah, sesekali sampai level caption media sosial.
Ini lain dengan jabatan executive producer kebanyakan, yang biasanya mengawal aspek lebih luas, termasuk persiapan alat syuting, set dan properti, teknis penyiaran dll. Sementara proporsi saya lebih banyak berkutat pada kerja teks dan substansi. Oiya, satu lagi, manajemen konflik kalau diserang buzzer, hahaha.
Narasi dikenal sebagai media yang vokal. Bagaimana Anda menjaga keberimbangan berita dan memastikan semua perspektif terwakili dalam konten yang Anda produksi?
Mari sepakati dulu, jurnalisme tidak harus netral. Narasi tidak netral, melainkan berpihak pada publik. Caranya? Kami menyampaikan kebenaran. Kita tak perlu berdebat filosofis menyoal apa itu kebenaran. Dalam jurnalisme, kebenaran ya tentang metodenya, harus sesuai prosedur jurnalistik. Ketika prosedurnya sesuai, maka fakta yang diperoleh dari sanalah yang dikatakan sebagai kebenaran versi jurnalistik. Kami tidak menutup-nutupi, memanipulasi justru demi netralitas itu sendiri—karena takut dianggap berpihak.
Jadi, ya setia saja dengan metodenya. Proporsi narsum misalnya, bila konteksnya talkshow, tetap dipertimbangkan, tapi yang lebih utama adalah riset yang komprehensif, lalu verifikasi berlapis. Dari sana keputusan-keputusan lain terkait show bisa diambil. Lalu, pondasi dari segalanya: independensi. Metode apapun tak berarti jikalau sejak awal media tak independen.

Tantangan apa yang paling sering Anda hadapi dalam memproduksi konten di Narasi? Bagaimana Anda mengatasinya?
Tak ada yang tidak menantang di industri konten/media. Nyaris segala aspek hari ini lebih terjal dibanding dahulu. Tren berlangsung begitu cepat, sehingga adaptasi menuntut dipenuhi tidak lagi dalam hitungan tahunan, melainkan harian, bahkan jam. Apa yang relevan hari ini, bisa basi esok hari. Adaptasi ini ada di level konten sampai strategi manajemen makro.
Tapi isu besar kami sekarang: meyakinkan orang untuk mau kembali ke konten yang diproduksi melalui metode jurnalistik, di antara banjir konten dari content creator atau media yang mengejar viralitas dengan produksi instan. Saya tidak sedang menghardik para influencer, atau membodoh-bodohkan netizen, ini justru pekerjaan rumah bagi kami selaku jurnalis. Kami harus temukan caranya.
Bagaimana pandangan Anda mengenai digitalisasi konten dan dampaknya terhadap industri media?
Hari ini, digitalisasi konten ya industri media itu sendiri. Jadi, kurang relevan menurut saya kita berdebat panjang lagi perihal dampak digitalisasi. Para pegiat dan penggiat media mesti menyadari roda zaman mustahil bergerak mundur.
Untungnya, Narasi adalah salah satu media di Indonesia paling dini yang memahami dan merespons situasi dengan tepat. Narasi lahir dari rahim kesadaran penuh akan digital, sehingga langsung fokus pada konten audio visual, terutama Youtube—sementara media berita lain biasanya mulai dari artikel, baru ekspansi ke Youtube.
Namun, curi start di awal bukan jaminan Narasi akan abadi. Ini trek yang panjang, dengan perubahan teknologi yang menuntut adaptasi tak berkesudahan. Di luar negeri misalnya, percakapan tentang konsekuensi dan integrasi AI ke jurnalisme sedang hangat-hangatnya, kita harusnya sudah bicara itu.
Tantangan apa yang dihadapi oleh pekerja kreatif yang idealis di era sekarang? Bagaimana mereka dapat bertahan dan sukses?
Ini bukan industri yang tepat untuk kepala batu. Kita harus terus mendengar, menggali, dan belajar. Mencari cara tetap relevan.
Kuncinya: Idealisme itu pada nilai, jangan bentuk.
Beberapa nilai pada jurnalisme itu tak bisa ditawar, harga mati, misalnya kebutuhan verifikasi. Sebagian lainnya, seperti format, platform, gaya bahasa, itu sangat bisa dirundingkan, diutak-atik.
Buat saya, kenikmatannya bukan lagi pada pertarungan melindungi idealisme, tapi kecerdikan mencari titik temu antara idealisme dan peluang.

Apa yang menjadi passion Anda dalam hidup ini? Apakah ada hal lain yang ingin Anda eksplorasi di luar pekerjaan?
Menulis fiksi. Saya sedang merencanakan sebuah buku. Novel tipis bertema politik, semoga tidak mangkrak seperti ibu kota.
Apa pesan Anda bagi generasi muda yang tertarik untuk berkarir di industri media?
Jika kamu mendambakan ketenangan hidup, ritme kerja yang lembut, tuntutan yang stagnan, dan dunia yang jauh dari kabar buruk negeri ini, cari industri yang lain :).
Itu tadi cerita Soni Triantoro, pengalaman jurnalis lainnya bisa Anda temukan di Rubrik Profil Loker ID. Baca juga pengalaman jurnalis lainnya di tulisan: