Alfons Yoshio Hartanto: Menjadi Periset Media, Bergelut dengan Data Mencari Fakta dan Mengenyahkan Hoaks

Apa yang menjadi motivasi utama Anda untuk beralih dari peran kreatif/jurnalis/editor menjadi peneliti di media?
Sebagai informasi, saat ini aku bekerja di Tirto.id sebagai Periset di Tim Redaksi. Lingkup kerjaku sebenarnya masih berkaitan dengan jurnalistik. Produk yang aku hasilkan masih berupa artikel jurnalistik, tetapi dengan pendekatan data (data-driven). Jadi sebenarnya kalau dibilang beralih peran sebenarnya juga tidak terlalu signifikan. Hanya saja memang dalam sehari-hari saya lebih banyak "berinteraksi dengan data" dibanding dengan narasumber seperti pewarta media pada umumnya.
Motivasinya sendiri karena setelah menjalani pekerjaan sebagai jurnalis lapangan dan reporter kurang lebih tiga tahun, merasa lebih menikmati saat mengerjakan laporan-laporan yang dekat kaitannya dengan data. Menganalisis dan menemukan 'petunjuk' dari sajian data itu lebih seru bagi saya. Dari situ kemudian banyak mencari tahu dan belajar soal jurnalisme data dan menemukan ketertarikan di situ. Awalnya hanya soal analisis, lama-lama jadi punya ketertarikan juga soal visualisasi data.
Bagaimana Anda melihat perbedaan yang signifikan antara peran-peran tersebut dengan peran sebagai peneliti?
Perbedaannya sebenarnya tidak terlalu signifikan, karena toh produk akhirnya tetap karya jurnalistik. Namun pendekatannya memang sedikit berbeda, kalau dulu dapat 'petunjuk' dari narasumber dan kadang menggunakan data sebagai penguat, kalau sekarang lebih sering menemukan informasi dan petunjuk dari data yang baru diperiksa ulang dengan keterangan dari narasumber. Perbedaan utamanya lebih ke penegasan lebih berebasis data atau keterangan narasumber saja.
Dapatkah Anda menjelaskan secara singkat apa saja tugas dan tanggung jawab Anda sebagai peneliti di Tirto.id?
Sebagai Periset di Tirto.id, ada dua output produk yang saya buat. Pertama adalah artikel berbasis data (dalam kanal Decode). Umumnya produk ini memuat satu temuan data yang dirangkai dengan pengalaman masyarakat terkait temuan datanya dan pendapat ahli dan/atau lembaga terkait hal tersebut.
Produk lainnya adalah artikel periksa fakta (dalam kanal periksa fakta). Ini adalah artikel yang membedah informasi yang beredar di media sosial dan mengidentifikasinya apakah hal itu fakta atau hoaks. Produk ini serupa dengan program Cek Fakta yang diproduksi Asosiasi Jurnalis Indepenen Indonesia (AJI).
Tantangan apa yang paling sering Anda hadapi sebagai peneliti di media, terutama dalam konteks menghasilkan penelitian yang relevan dan berdampak?
Tantangannya kebanyakan terkait dengan keberadaan data. Ada beberapa data yang tidak dikumpulkan atau didokumentasikan dengan baik, hal ini menyebabkan kesulitan dalam penyajian ataupun analisisnya. Ada juga kasus, ketika ada isu besar yang menarik, tapi tidak ada data pendukung yang cukup.
Bagaimana Anda mengatasi tekanan untuk menghasilkan konten yang cepat dan akurat, sementara juga harus memastikan kualitas penelitian?
Mengatasi tekanan deadline, biasanya saya dan tim sebisa mungkin melakukan perencanaan yang matang dan alokasi waktu khusus untuk mencari dan menganalisis data. Dalam beberapa kasus, yang mengharuskan kami mengolah atau mencari data lebih banyak, kami melibatkan dan berkolaborasi dengan tim lain untuk mendapatkan temuan dari lapangan ataupun tanggapan pengamat/narasumber lainnya.
Bagaimana Anda menjaga objektivitas dalam penelitian, terutama ketika topik yang diteliti sangat sensitif atau kontroversial?
Di Tirto, setidaknya di konten yang saya dan tim buat, biasanya kami selalu menggunakan prespektif masyarakat/orang yang terdampak untuk membuka topik bahasan. Biasanya juga komentar pengamat/ahli, yang biasanya jumlahnya lebih dari satu kami gunakan untuk menutup artikel. Harapannya kami bisa mendapat prespektif dari sebanyak-banyaknya pihak.

Boleh diceritakan salah satu pengalaman paling berkesan selama menjadi peneliti di Tirto.id. Apa yang membuat pengalaman tersebut begitu berharga?
Salah satu pengalaman yang paling berharga mungkin tahun 2024 ini, mendapat nominasi untuk konten artikel yang dibuat dari Indonesia Data Journalism Award (IDJA) dan Penghargaan Jurnalistik Komdigi menjadi sebuah pengalaman yang berharga. Setidaknya hal ini menunjukkan apa yang saya dan tim kerjakan mendapat apresiasi dan dirasakan manfaatnya oleh komunitas dan pihak lain.
Apakah ada momen di mana Anda merasa paling tertantang sebagai peneliti? Bagaimana Anda menghadapinya?
Salah satu yang paling menantang sebagai Periset adalah ketika harus mengelaborasi temuan data yang kompleks. Ada beberapa temuan data yang punya beberapa variabel yang perlu sekali-dua dibaca ulang untuk dapat benar-benar memahami maknanya. Biasanya untuk mendeskripsikan hal seperti ini saya berusaha menjelaskan, seperti saya menjelaskan ke adik saya yang masih SD/Sekolah menengah. Penjelasan dibuat runut satu tahap ke tahap berikutnya dan menggunakan contoh agar mudah dimengerti.

Menurut Anda, apa saja keterampilan yang paling penting bagi seorang peneliti, terutama di bidang media?
Ketimbang keterampilan mungkin lebih ke kemauan dan keuletan untuk mengulik data dan visualisasi datanya yang lebih penting. Karena akan sangat mudah untuk berpuas diri jika menemukan temuan data awal dan membuat sajian data sederhana. Padahal mungkin data tersebut kurang lengkap atau ada informasi "tersembunyi" dari data tersebut.
Saran apa yang ingin Anda berikan kepada orang-orang yang ingin beralih dari peran kreatif/jurnalis/editor menjadi peneliti?
Bagaimana Anda melihat masa depan penelitian di media?
Terkait ini juga mungkin kaitannya dengan data journalism. Menurut saya jurnalisme data punya sangat banyak potensi untuk berkembang, karena masih sangat sedikit orang yang punya keahlian dalam mengolah dan mengulik data terjun ke dunia jurnalistik.
Menurut Anda, apa saja tren terbaru dalam penelitian media yang perlu diperhatikan? Bagaimana peran teknologi dalam mengubah lanskap penelitian media?
Bagaimana Anda mengukur dampak penelitian yang Anda lakukan terhadap pembaca dan masyarakat luas?
Sebenarnya tidak ada metrik khusus untuk mengukur dampak ini. Biasanya karena saya mendapat isu dan menjadikan beberapa teman sebagai narasumber terkait sudut pandang terkait isu tersebut, mereka yang kemudian memberi tanggapan dari artikel yang dibuat. Misalnya bagaimana setelah artikel itu tayang, beberapa rekan mereka memberi pendapat lain lagi atau justru bersepakat dengan hal tersebut.
Itu tadi cerita Alfons, jangan lupa untuk membaca Rubrik Profil di Loker ID untuk mendapatkan perspektif lain mengenai karier dari para expert lainnya, termasuk cerita Rachmadin Ismail: Tentang Menjadikan Jurnalisme sebagai Gaya Hidup.