Pratiwi Eka Puspita: Tips dan Tantangan Menjadi Data Analyst

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 24 Februari 2025
Rubrik Profil

data-analyst-pratiwi-tahun-2025

Profesi Data Analyst di Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat pesat seiring dengan era digitalisasi dan ledakan data. Kebutuhan akan profesional data yang mampu mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan data menjadi informasi berharga bagi perusahaan semakin meningkat. Hal ini didorong oleh semakin banyaknya bisnis yang menyadari pentingnya data dalam pengambilan keputusan, pengembangan strategi, dan peningkatan daya saing. Akibatnya, permintaan terhadap Data Analyst dengan keterampilan mumpuni terus melonjak, menciptakan peluang karir yang menjanjikan dengan prospek gaji yang menarik.

Saat ini, hampir semua industri membutuhkan tenaga profesional Data Analyst karena data telah menjadi aset penting dalam pengambilan keputusan dan pengembangan strategi bisnis. Beberapa industri yang sangat membutuhkan Data Analyst antara lain:

  • Industri Teknologi dan Informasi: Perusahaan teknologi menghasilkan data dalam jumlah besar setiap harinya, seperti data pengguna, data transaksi, dan data aktivitas online. Data Analyst dibutuhkan untuk menganalisis data ini guna meningkatkan pengalaman pengguna, mengoptimalkan kinerja produk, dan mengembangkan strategi pemasaran yang efektif.
  • Industri Keuangan: Bank, lembaga keuangan, dan perusahaan investasi membutuhkan Data Analyst untuk menganalisis data keuangan, mengidentifikasi risiko, dan membuat prediksi pasar. Analisis data ini membantu mereka dalam mengambil keputusan investasi yang tepat dan mengelola risiko keuangan dengan lebih baik.
  • Industri E-commerce dan Ritel: Perusahaan e-commerce dan ritel mengumpulkan data pelanggan, data penjualan, dan data perilaku pembelian. Data Analyst berperan dalam menganalisis data ini untuk memahami preferensi pelanggan, meningkatkan penjualan, dan mengoptimalkan rantai pasokan.
  • Industri Kesehatan: Rumah sakit, klinik, dan lembaga kesehatan lainnya membutuhkan Data Analyst untuk menganalisis data pasien, data rekam medis, dan data operasional. Analisis data ini membantu mereka dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, mengidentifikasi tren penyakit, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya.
  • Industri Manufaktur: Perusahaan manufaktur menggunakan Data Analyst untuk menganalisis data produksi, data kualitas produk, dan data pemeliharaan mesin. Analisis data ini membantu mereka dalam meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi biaya produksi, dan memastikan kualitas produk.

Selain industri-industri di atas, Data Analyst juga dibutuhkan di berbagai sektor lain seperti pendidikan, transportasi, logistik, energi, dan pemerintahan. Kebutuhan akan Data Analyst yang semakin meningkat menunjukkan bahwa profesi ini memiliki prospek karir yang sangat cerah di era digital saat ini.

Belum lama ini kami mengobrol dengan Pratiwi Eka Puspita, seorang Data Analyst yang sudah menekuni profesi ini di lintas industri. Menariknya, Pratiwi memulai perjalanannya sebagai Data Analyst ketika profesi ini belum populer seperti sekarang. Bagaimana perjalanan, tantangan, dan inspirasi yang ia dapatkan selama menjalani perannya sebagai Data Analyst? Baca ceritanya di sini!

pengalaman-sebagai-data-analyst-pratiwi-tahun-2025

Apa yang membuat Anda tertarik berkarir sebagai Data Analyst ?

Pekerjaan Data Analyst (DA) adalah pekerjaan yang mungkin sebelum pandemi belum begitu populer. Saya mengenal profesi ini ketika sedang melanjutkan studi Magister Teknik Industri. Saat itu, tema thesis yang diambil berkaitan dengan Machine Learning. Kebetulan, di kampus juga banyak majalah Harvard Review Business, yang kebetulan salah satu artikelnya membahas tentang prospek pekerjaan di bidang data di masa depan. Berbekal ketertarikan terhadap promising future yang saya baca di artikel itulah, saya mantap untuk mendalami profesi DA.

Anda beberapa kali bekerja sebagai Data Analyst di industri yang berbeda, seperti apa tantangannya dan apa yang membedakannya satu industri dengan yang lain?

Masalahnya, di zaman itu Indonesia belum begitu populer dengan profesi ini. Kebanyakan DA dianggap sebagai data entry. Kalaupun ada, biasanya dari jurusan Statistik / Math. Oleh karenanya, saya sempat join bootcamp sebagai stepping stone untuk memvalidasi kemampuan bekerja sebagai DA.

Hal lainnya yang juga menjadi alasan ikut bootcamp kala itu, agar bisa menyamarkan usia. Waktu itu, switch karir di usia 30-an sungguh tidak mudah. Berbekal semangat, keyakinan, usaha, terus apply pekerjaan, ikut berbagai unpaid internship, finally diterima juga di pekerjaan yang akhirnya jadi turning point.

Bekerja di DTO (Digital Transformation Office) jadi langkah awal bisa gabung dengan Development Agency. Akhirnya saya tahu, ada status pegawai selain bekerja sebagai PNS, Swasta, BUMN. Ternyata ada juga Development Agency. Bekerja di Dev Agency tentu polanya project based. Karena itulah terlihat seperti bekerja di industri yg berbeda.

Menariknya, semuanya masuk dalam kategori goverment, hanya beda topik saja. Kadang kesehatan, kadang juga keuangan.

Cukup mudah bagi saya mengikuti ritme bekerja sama dengan government. Justru yang agak challenge adalah kita harus juga belajar topik-topik yang sedang dikerjakan. Seperti tax, health, climate finance, dan lainnya.

Jenis data apa saja yang paling sering Anda tangani dalam pekerjaan sehari-hari?

Data yang digunakan beragam tentunya. Mulai dari data manual, data excel, sampai data yang terstruktur di database. Data-data tersebut sangat beragam dan banyak. Tentu butuh peran konsultan untuk membantu merapikannya di sebuah database terstruktur sehingga lebih mudah di analisis. Terkadang, government hanya butuh masukan yang secara basic teori cukup simple, tapi insight-nya powerful.

Bagaimana Anda melihat perkembangan peran Data Analyst di era digital saat ini, khususnya di sektor pemerintahan?

Suatu instansi tentu membutuhkan data untuk dapat mengkonfirmasi apakah asumsi terhadap permasalahan sudah betul. Kerap terjadi, government sudah menyiapkan rekayasa solusi yang cukup rumit, padahal masalahnya sebetulnya cukup sederhana. Sehingga solusinya pun cukup mudah. Semestinya tawaran solusi dimulai dari masalah yang paling memiliki dampak secara materi, meskipun kuantitas case nya tidak banyak.

Hal-hal seperti ini selalu menarik untuk dikulik, mencari akar masalah dari banyaknya problem yang terlihat dari luar. Sayangnya, ketika overload, ingin rasanya bekerja dari cafe dengan cheese cake dan orange juice. Padahal ini sulit karena bekerja di pemerintah, artinya siap bekerja WFO. Huhuhu.

suka-duka-menjadi-data-analyst-tahun-2025

Software atau tools apa yang paling sering Anda gunakan dalam pekerjaan sehari-hari?

Saya umumnya menggunakan BI Tools seperti Tableau, Looker untuk visualisasi. Juga oracle, Big Query untuk pengelolaan data.

Apa suka duka yang Anda rasakan selama berprofesi sebagai Data Analyst di lembaga pendapatan daerah?

Bekerja di government sebagai DA perlu keteguhan hati untuk percaya diri menyampaikan masalah utama. Komunikasi juga penting untuk meyakinkan user bahwa ide kita cukup layak diterima.

Adakah saran atau tips yang ingin Anda berikan kepada seseorang yang tertarik berkarir sebagai Data Analyst ?

Bekerja sebagai DA berbeda dengan data reporting. Jika ingin berkarir di DA, itu artinya kita harus punya curiousity untuk mengulik akar masalah dan communication skill untuk menyampaikan insight.

Itu tadi cerita Pratiwi, jangan lupa untuk terus membaca Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan cerita inspiratif dari para expert lintas profesi dan industri ya. Salah satu profil menarik yang bisa memperkaya perspektif Anda bisa dibaca di tulisan N. Firmansyah: "Kerja Remote Tidak Untuk Semua Orang, Jangan Asal Latah."