Nurul Nur Azizah: Bukan Mengejar Page Views, tapi Bagaimana Konten Tulisan Menggerakkan Kebijakan Pro Masyarakat Marginal dan Menjadi Narasi Tanding Media Mainstream

Salah satu keindahan--kalau bisa disebut keindahan-dari perkembangan digitalisasi saat ini adalah kemunculan media-media alternatif yang menjadi warna baru di tengah gempuran media mainstream. Dan justru, keberadaaan media alternatif menjadi lebih ditunggu, lebih didengar karena bebas unsur kepentingan apalagi bukan cuma riding in the wave.
Page views bukan segalanya, tulisan memang harus "berisi", mengedukasi, dan menginspirasi masyarakat umum terutama pemangku kebijakan untuk melakukan perubahan yang pro kaum marginal. Konde, adalah salah satu media alternatif berperspektif feminis yang berani tampil beda di antara media mainstream yang haus engagement receh dan kapitalis.
Meski punya misi yang berbeda, Konde tetap menjaga irama dengan ritme digital saat ini. Salah satunya adalah dengan menggunakan kreativitas dan alternatif media digital saat ini untuk menyuarakan konten-kontennya. Nurul Nur Azizah adalah salah satu pekerja kreatif di Konde yang saat ini memiliki peran sebagai Redaktur Pelaksana.
Sebelum bergabung di Konde, Nurul bekerja di media mainstream. Pengalaman tersebut pada akhirnya memberikan kesadaran betapa pentingnya meliput dan menulis mengenai kelompok marginal dengan berimbang dan perspektif yang benar. Unsur kepentingan dan keberpihakan pada kelompok penguasa terkadang mengaburkan pemberitaan, sehingga pesan yang sebenarnya tidak sampai kepada pembaca. Pun, ketimpangan pemberitaan ini tentu saja merugikan kelompok-kelompok yang terpinggirkan.
Obrolan kali ini penting banget dibaca. Bukan hanya mengenai perjalanan karier, tetapi mengintip dapur proses kerja dan berdinamika di media alternatif berperspektif feminis. Kreatif itu penting, keterbacaan itu penting, tapi pastikan konten yang kita buat bukan hanya mendulang massa tapi juga secara masif menggerakkan untuk perubahan yang lebih baik. Gas baca gaes!
Apa yang mendorong Anda untuk fokus pada isu-isu feminis dan kesetaraan gender dalam karir jurnalistik Anda?
Menekuni jurnalisme dengan perspektif feminis dan kesetaraan gender itu, didapat dari refleksi hidup. Saya memulai karier tahun 2017 sebagai jurnalis media mainstream yang pada masa itu, seringnya meliput dengan kacamata hegemonik, yang minim perspektif perempuan dan kelompok marginal. Merasa ada yang “kurang”, saya saat itu bergabung di serikat buruh media di Jakarta. Saya kemudian secara kolektif banyak terlibat melakukan kerja-kerja advokasi media di bidang gender, anak dan kelompok marginal.
Pada 2021, saya berkesempatan untuk bergabung media alternatif yang berfokus pada isu perempuan dan marginal secara interseksional. Saya banyak belajar untuk berjejaring dan ber-jurnalisme perspektif feminis dan kesetaraan gender. Sampai saat ini, saya masih terus berproses dalam perjuangan untuk isu ini.
Bagaimana Anda melihat perkembangan isu feminis dan kesetaraan gender di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir?
Menurut saya, isu kesetaraan gender di Indonesia masih buruk. Kalau mau tahu contohnya, lihatlah pernyataan pejabat publik kita hari ini, hehe. Konde.co pernah bikin riset soal 100 hari Pemerintahan Prabowo-Gibran dari perspektif gender dan keadilan sosial. Data yang ditemukan: minim pernyataan para pejabat untuk isu perempuan, ada pernyataan yang bias kelas, dan bergaya otoriter.
Coba lihat juga, data Indeks Gender SDG (pembangunan berkelanjutan) 2024, Indonesia mempunyai skor 67,9 menempati posisi 66 dari 139 negara. Dengan skor itu, Indonesia termasuk pada golongan negara dengan kesetaraan gender buruk. Salah satu faktor penting yang menyumbang buruknya kesetaraan gender ini adalah melemahnya demokrasi. Itu terjadi seiring ketimpangan ekonomi yang memusatkan kekuasaan politik di tangan elit kaya, polarisasi sosial dan politik, serta menyempitnya ruang sipil.
Dalam laporan Democracy Index 2023: Age of Conflict yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia berada di peringkat 56 dengan skor 6,53. Dibandingkan tahun sebelumnya, turun 2 peringkat. Pengukuran indeks ini meliputi lima dimensi yaitu proses pemilu dan pluralisme, keberfungsian pemerintahan, partisipasi politik, dan kebebasan sipil. Dengan skor itu, demokrasi Indonesia termasuk dalam kategori cacat (flawed democracy).
Selama lima tahun terakhir, Freedom House, juga menyoroti demokrasi di Indonesia yang mengalami pelemahan. Indeks demokrasi Indonesia turun dari 62 pada tahun 2019 menjadi 57 pada 2024. Satu isu kuncinya soal politik dinasti yang dilancarkan dengan berbagai “siasat” di pemilu 2024.
Freedom House juga menggarisbawahi melemahnya demokrasi di Indonesia ditandai oleh diskriminasi yang sering dialami kelompok minoritas dan penganut kepercayaan. Di samping, kebebasan berpendapat dan berekspresi yang terus dibatasi dan dikekang misalnya pada isu konflik Papua. Kriminalisasi terhadap aktivis dan demonstran yang menentang kebijakan pemerintah juga dinormalisasi.
Pada saat bersamaan, tubuh perempuan semakin dimanfaatkan dan dipolitisasi dengan membatasi otonomi tubuh mereka. Menguatnya konservatisme juga membangkitkan kembali patriarki dan peran gender tradisional. Dimana ‘feminisme’, istilah ‘gender’, identitas ekspansif gender, serta hak kesehatan seksual dan reproduksi diartikan sebagai ancaman unit keluarga, masyarakat bahkan negara.

Menurut Anda, apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh gerakan feminis dan upaya mencapai kesetaraan gender saat ini?
Rezim yang maskulin dan otoriter, yang tidak pro keberagaman dan inklusivitas. Juga oligarki dan kapitalisme yang sewenang-wenang merampas hak utamanya perempuan dan kelompok minoritas.
Sebagai seorang redaktur pelaksana, bagaimana Anda memastikan bahwa isu-isu feminis dan kesetaraan gender tercermin dengan baik dalam setiap konten yang diterbitkan oleh media Anda?
Kami memiliki panduan penulisan feminisme di internal media kami. Kami juga ada Ombudsman dan penasihat redaksi yang mengawasi kerja jurnalisme kami. Di samping kami juga ada evaluasi rutin tiap pekan dan rapat redaksi publik yang mengevaluasi kerja-kerja kami.
Setelah bekerja sebagai jurnalis di media umum, apa perbedaan paling signifikan yang Anda rasakan saat bekerja di media yang secara khusus berfokus pada isu feminis dan kesetaraan gender?
Perbedaan paling signifikan pada adanya perspektif feminisme dalam ber-jurnalisme. Kami juga memiliki sistem keredaksian small newsroom yang lebih egaliter.

Apakah ada perbedaan dalam proses kerja, dinamika tim, atau target antara kedua jenis media tersebut?
Ada, proses kerja di media alternatif isu perempuan dan marginal lebih berfokus pada perspektif dan kualitas jurnalistik. Bukan page views, kami lebih menekankan dampak dari kerja-kerja kami. Baik sebagai “narasi tanding” yang menyuarakan feminisme dan mendorong kebijakan yang berpihak pada perempuan dan kelompok marginal.
Apa misi utama yang ingin Anda bawa sebagai seorang redaktur pelaksana di media berperspektif feminis dan kesetaraan gender?
Menguatkan narasi publik yang berperspektif perempuan dan marginal. Termasuk kaitannya dalam perubahan kebijakan yang berdampak pada perempuan dan marginal.
Bagaimana Anda menjaga keberlanjutan dan kualitas konten media Anda di tengah tantangan saat ini?
Menjaga kualitas jurnalistik berperspektif feminis dan tetap menjadi relevan di era kini. Misalnya, diversifikasi produk jurnalistik tidak hanya liputan mendalam yang tayang di website, tapi juga merambah ke berbagai format yang relevan bagi pengguna media sosial.
Apa hal yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda?
Pekerjaan saya sebagai jurnalis bisa berdampak terhadap perjuangan hak perempuan dan marginal. Selama ini misalnya, produk jurnalistik berperspektif perempuan dan marginal yang kami hasilkan, jadi perbincangan publik, tindak lanjut riset, sampai menggerakkan advokasi perubahan kebijakan yang lebih adil gender.
Pengalaman karier feminis lainnya bisa Anda baca di tulisan Ester Lianawati: Dari Serigala Betina sampai Rahim yang Berbicara.
Courtesy of photos: Nurul Nur Azizah.