Ester Lianawati: Dari Serigala Betina sampai Rahim yang Berbicara

Mungkin buat Anda yang sudah pernah membaca buku-buku psikologi feminis pasti sudah mengenal Ester Lianawati penulis buku "Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan". Buat yang belum mengenal sosok Ester dan tertarik dengan isu psikologi atau pernah mendengar psikologi feminis, nah profil kali ini akan sangat tepat untuk Anda baca. Bersama Loker ID, Alumni Psikologi Unika Atma Jaya yang sempat menjadi dosen Fakultas Psikologi UKRIDA ini berbagi pengalaman kepenulisan, perspektifnya mengenai psikologi feminis, yang bisa jadi belum ada di bukunya beliau hehehe...
Sejak 2012 Ester menetap di Prancis dan menjadi pendamping dan edukator terkait isu perempuan dan kekerasan pada perempuan dan anak. Seperti apa pengalaman Ester hidup dan menghidupi isu feminisme dan apa yang membuatnya jatuh hati pada profesi ini serta tentu saja kepenulisan? Yuk langsung disimak di sini!
Halo Kak Ester boleh diceritakan sedang sibuk nih?
Aku sedang mempersiapkan promo untuk buku kumpulan puisiku dalam bahasa Prancis. Selain itu seperti biasa, kegiatan sehari-hari, sesekali pendampingan, sesekali memberi penyuluhan, sesekali wawancara orang untuk pengumpulan data, sesekali menulis juga.
Oia, apa yang membuat Anda tertarik di bidang psikologi? Kemudian ketika mengambil magister Kajian Wanita dan Gender, bagaimana kedua bidang ini selling melengkapi menurut Anda?
Awalnya terinspirasi dari ayahku, beliau sering menerima tamu, tamu-tamunya ini ya sering curhat, ayahku itu jadi memainkan peran semacam konselor padahal beliau bukan konselor. Kupikir-pikir pengin banget deh jadi seperti konselor. Lalu akhirnya mencari informasi kuliah apa nanti yang bisa memungkinkan jadi konselor, ada fakultas bimbingan dan konseling, tapi juga ada psikologi. Aku memilih psikologi. Sambil tetap pengin jadi pengajar ya, karena dari kecil aku pengin jadi guru hehe.
Mengambil Kajian Wanita dan Gender karena terinspirasi oleh buku Asma Barlas berjudul "Cara Quran Membebaskan Perempuan". Dari situ, jadi pengin belajar feminisme, dan ternyata ada lho yaitu di Kajian Wanita dan Gender. Kuliah S2 ini sangat membuka mataku bahwa psikologi itu perlu kritis dan perlu berinteraksi dengan disiplin lain.
Apa yang melatarbelakangi Anda pindah dan menetap ke Prancis di tahun 2012, dan bagaimana awal-awal adaptasinya?
Sebagai dosen, aku harus studi lanjut S3 tahun itu, jadi aku apply beasiswa. Adaptasi awal tidak terlalu sulit karena terasa seperti liburan saja, yang ada malah kebanyakan jalan-jalan, ikut konferensi, dll. Setelah aku berkeluarga, karena betul-betul masuk ke sistem budaya Prancis secara langsung, baru menyadari bahwa ada perbedaan kultural yang memang cukup signifikan.
[caption id="attachment_14480731" align="alignleft" width="800"]
Courtesy of: @bbbbookclub[/caption]
Seperti apa isu-isu gender yang ada di Prancis? Bagaimana perbedaannya dengan yang ada di Indonesia?
Saat ini sejak #MeToo, Prancis banyak membahas tubuh dan seksualitas. Tapi juga dengan isu rasisme yang merebak belakangan ini, feminisme interseksional mulai banyak dibahas. dengan persoalan ekologi, ekofeminisme juga banyak dibicarakan. Perbedaan secara praktik di lapangan sebetulnya minim. Tetapi isinya yang dibahas sedikit banyak berbeda. Misalnya kalau kita membahas konsen, bukan sekedar setuju atau tidak, mau atau tidak melakukan perilaku seksual ini atau itu, tetapi melihat lebih jauh lagi ke persoalan gairah perempuan, sebab bisa saja konsen tapi tidak ada desire-nya.
Lebih secara intelektual berbeda. Karena Prancis cenderung mengkritik dasar pemikiran dari setiap gerakan. Misalnya saja ekofeminisme sebetulnya sudah digagas sejak lama tetapi karena dikhawatirkan mengembalikan perempuan pada “kodrat”, ekofeminisme ditinggalkan selama puluhan tahun, dan kini dengan perubahan kondisi masyarakat baru kembali dibicarakan.
Bagaimana Anda melihat perkembangan gerakan #MeToo dan dampaknya terhadap bidang psikologi feminis?
Pengaruh #MeToo di Prancis ini seperti menghentakkan perempuan dan masyarakat secara umum bahwa ada persoalan yang belum selesai terkait patriarki dan dominasi maskulin, persoalan yang sebetulnya paling mendasar yaitu persoalan tubuh perempuan, yang sejak awal merupakan “tempat” didirikannya patriarki ini, maksudnya di atas tubuh perempuanlah kerajaan patriarki ini telah dibangun.
Dampak #MeToo itu pada akhirnya secara khusus di Prancis membangkitkan kesadaran akan pentingnya persaudaraan antar perempuan sebab ternyata perempuan berbagi pengalaman tubuh yang sama (sama-sama ditindas), kemudian juga kesadaran laki-laki--ini juga menarik--bahwa memang ada kekerasan berbasis gender.
Lebih lanjut, perempuan mulai berani bersuara, khususnya para korban. Dan ini sangat mengejutkan bagi masyarakat Prancis karena tiba-tiba banyak kasus terungkap, dengan pelakunya adalah orang-orang terkenal, termasuk pastor, politikus, dll. Dari sini seperti muncul kesadaran baru akan pentingnya feminisme. Lantas sejumlah psikolog terutama yang generasi muda mulai mengeskplorasi psikologi feminis.
Generasi sebelumnya cenderung tidak ingin menambahkan kata “feminis” di bidang psikologi, sebab istilah feminis mengandung makna politik, terdengar tidak akademis, dan “seolah-olah” menyiratkan keberpihakan. Sebetulnya aku kira istilah ideologi kejantanan lebih tepat dibandingkan patriarki mengikuti penjelasan Olivia Gazalé seperti yang kusampaikan dalam buku "Akhir Penjantanan Dunia".
Mengenai #MeToo dan dampaknya ini banyak kutulis di pengantar buku "Dari Rahim Ini Aku Bicara".
Kemudian Anda bergabung dengan Hypatia, itu sejak berapa lama dan jabatan Anda adalah konselor, seperti apa pengalaman Anda memberikan edukasi dan dampingan di sana?
Tahun 2020 bergabung dengan Hypatia, tapi sebetulnya untuk edukasi dan pendampingan sudah dari sebelum tahun itu, tapi tidak bersama Hypatia. Pengalamannya untuk edukasi sebetulnya menyenangkan, karena edukasi untuk anak-anak, di antara mereka kan banyak yang lucu dan menggemaskan. Tapi juga sedih dan marah ketika menemukan ada anak yang menjadi korban pelecehan/kekerasan seksual.
Bagaimana cara Anda membangun coping sistem untuk diri sendiri?
Syukurlah aku sudah melewati masalah ini. Dulu aku sempat mengalami kecemasan terutama yang terkait anak-anakku. Tapi akhirnya memang menterapi diriku sendiri ya dengan terapi kognitif. Dengan menentang pemikiran-pemikiran negatifku sendiri. Seperti misalnya khawatir boleh, tapi lalu bagaimana caranya membekali anak-anakku sendiri, mengajarkan mereka tentang tubuh dan konsen (sesuai level usia mereka), itu tentunya jauh lebih penting, ketimbang ketakutan dan akhirnya melarang mereka bermain ke rumah teman hanya karena khawatir mereka mengalami pelecehan seksual.
Apa pendapat Anda tentang representasi perempuan dalam media dan bagaimana hal itu memengaruhi konsep diri dan kesejahteraan perempuan?
Aku sudah sampaikan hal ini dalam tiga bukuku. Yang paling pertama kita merasa terus-terusan ada yang kurang dengan diri kita, ada yang tidak sempurna. Ada pembelahan (splitting) dalam diri perempuan antara image yang real dan image yang ideal seperti yang digambarkan dalam media, dan perempuan terus dicekoki dengan ini.
Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai seorang psikolog feminis dalam masyarakat saat ini?
Tantangannya masih sama. Kata feminis identik dengan perempuan pembela perempuan, aku pribadi sebagai psikolog feminis sering dicurigai bahwa aku memihak perempuan, menginginkan perempuan jadi makhluk superior, membenci laki-laki. Padahal kan psikologi feminis tidak demikian.
Tujuan saya pribadi justru ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya perempuan dan laki-laki perlu dan dapat bekerja sama untuk menciptakan relasi yang harmonis. Laki-laki memang kelompok privilese tapi yang kita abaikan adalah bahwa mereka bukan yang menciptakan patriarki. Kita bukan lagi hidup di zaman awal patriarki terbangun. Maksud saya, sudah sejak lama sesungguhnya, sejak patriarki sudah established, perempuan dan laki-laki sesungguhnya sama-sama menjadi korban dan pelaku.
Hanya saja ada posisi yang tidak berubah: laki-laki tetap kaum privilese dan perempuan nomor dua. Ini yang akhirnya membawa kebingungan dalam masyarakat. Laki-laki merasa kok enak-enak aja mereka dituduh-tuduh, toh tidak semua lelaki begini dan begitu.
Sementara itu perempuan sendiri terpecah-pecah, tidak semua mau jadi feminis, bahkan banyak yang menolak feminisme sebab tidak menemukan diri di dalam gerakan ini, dan kiita perempuan cenderung menjadi polisi patriarki bagi sesama perempuan. Harapanku sebetulnya banyak yang membaca buku "Akhir Penjantanan Dunia" karena dalam buku ini sebetulnya aku coba menjelaskan bagaimana perempuan dan laki-laki menjadi pelaku sekaligus korban, bagaimana semua dari kita sebetulnya yang telah melanggengkan patriarki ini dengan masing-masing mengambil keuntungan dari sistem ini sekaligus pada saat yang sama sebetulnya kita masing-masing telah dirugikan, dan tidak hanya dirugikan secara individual atau secara kelompok sebagai perempuan atau laki-laki, tapi kita dirugikan dalam kesatuan kita sebagai manusia.

Bagaimana kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi perempuan dan kelompok minoritas lainnya dari sudut pandang psikologis?
Pertama-tama, dengan bersikap kritis dan terbuka. Belajar perspektif lain, tidak melihat abnormalitas dan psikopatologi dari segi normatif dan kaku seperti yang tertera dalam manual penyakit mental (DSM).
Apa harapan Anda untuk masa depan psikologi feminis?
Supaya berkembang tentunya . Supaya psikologi feminis bisa berkontribusi untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat. Supaya psikolog, dosen, pelajar, dan semua yang menekuni psikologi bisa menggunakan perspektif feminis dalam pengajaran mereka, penelitian mereka, dalam terapi/konseling/pendampingan mereka, meskipun tidak harus menggunakan label “feminis”.
Ngomongin soal kepenulisan, apa yang mendorong Anda pertama kali menulis dan menuangkan pemikiran feminis? Dan bagaimana Anda memandang kerja editor dalam membantu proses pengkaryaan seorang penulis?
Yang mendorong pertama kali itu keinginan untuk berbagi, dan secara khusus mengenai pemikiran feminis itu karena sepertinya banyak kebingungan dan kesalahpahaman, aku terdorong untuk menyampaikan gambaran yang komprehensif, mencoba untuk bersikap objektif melihat persoalan ini.
Editor untuk tulisan-tulisanku yang berperspektif feminis itu kebanyakan Rifai Asyhari ya. Rifai juga yang menemukan kumpulan esai yang dijadikan buku "Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan". Mungkin buat Rifai, itu sekedar bagian dari pelaksanaan tugasnya sebagai penyunting dan juga pencari naskah. Tetapi bagi saya, tanpa Rifai sebetulnya belum tentu saya menulis buku-buku yang lain. Menulis artikel mungkin, untuk ditaruh di blog saya. Tapi berapa banyak sih pembaca blog hari ini. Jadi memang pemaknaan saya terhadap kerja editor ini menjadi sangat subjektif jika terkait dengan Rifai hehe.
Tapi secara umum, dari para editor yang pernah mengedit tulisan-tulisanku dari waktu mulai menulis untuk Intisari dan Suara Pembaruan (Mas Mayong, Mas Icul, Mas Argo), sampai bapak Muhammad Aswar (editor "Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan"), Balqisnab (editor buku "Dari Rahim Ini Aku Bicara"), dan dari Rifai sendiri, aku banyak belajar penggunaan kata dan penulisan kalimat yang lebih efisien tentunya. Secara khusus, Balqisnab itu juga sangat perhatian untuk mengecek sumber dan makna kata, ini sangat aku apresiasi.

Boleh cerita mengenai buku kumpulan puisi pertama Anda, judulnya "Des Amour Une Vie" kalau enggak salah artinya Love One Life ya? Apa yang mendorong Anda untuk membuat puisi dan akhirnya diterbitkan? Boleh share satu paragraf dari salah satu puisi mungkin? Apa pesan yang ingin Anda sampaikan dalam puisi-puisi di buku tersebut?
Iya puisi tentang cinta, Des Amours itu untuk menunjukkan ada beberapa cinta, lebih dari satu, dalam satu kehidupan (Une Vie). Sebetulnya masih dalam perspektif feminis, sebab jika memang cinta heteroseksual itu adalah sarang patriarki, aku ingin kita membongkar sarang itu, dan bukan menghancurkan cinta atau menolak cinta. Tapi aku justru ingin menekankan bahwa laki-laki dan perempuan bisa kok bertemu dalam cinta, dan cinta bisa jadi jalan pembebasan bagi perempuan dan laki-laki.
Hmm bingung milih satu paragraf yang mana karena puisinya memang banyak, ada puluhan. Aku taruh di sini satu kalimat saja ya, ini kalimat inti yang menjadi pembuka, dan sebetulnya sudah pernah kujadikan epigraf di buku "Beauvoir Melintas Abad" :
Dans notre puérilité, on apprend à s’aimer en toute maturité.
Bisa diartikan sebagai :
Dalam kekanak-kanakan kita, kita belajar untuk saling mencintai dalam sepenuh kematangan
(atau bisa pula kematangan dituliskan sebagai kedewasaan).
Apa harapan Anda ke depannya? Sebagai konselor/psikolog feminis dan juga penulis? Menulis dalam bahasa Prancis mungkin? Untuk tulisan panjang?
Penginnya memang menulis esai dalam bahasa Prancis, namun masih tertunda penulisan ini. Beberapa tahun ini akhirnya aku memprioritaskan menulis untuk pembaca Indonesia, supaya masyarakat Indonesia punya akses langsung kepada pemikiran-pemikiran Prancis. Selama ini kan kita akses pemikiran Prancis dari terjemahan bahasa Inggris. Ada pemaknaan yang kurang tepat kadang-kadang, karena penerjemahannya dua kali. Selain itu kadang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris juga tidak utuh, ada bagian yang memang sudah dihilangkan. Salah satunya buku Michel Foucault. Buku-buku yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris juga biasanya yang isinya lebih cocok dengan mereka, tidak selalu yang betul-betul mencirikan Prancis sesungguhnya. Seperti misalnya French theory itu istilah yang diciptakan negara-negara berbahasa Inggris tapi di Prancis sendiri teori-teori yang termasuk dalam French theory ini sebetulnya bukan teori utama/dominan, ataupun tidak dimaknai secara sama di Prancis.
Itu tadi cerita inspiratif Ester Lianawati. Jangan lupa untuk membaca profil expert lainnya di Rubrik Profil Loker ID!