Mengulik Dapur Editor Fiksi Bareng Kania Nabila F

Profesi boleh saja sama--sama-sama editor, tapi ketika ngomongin soal industri spesifik, "dapurnya" bisa beda-beda. Ada editor akuisisi, editor aplikasi kesehatan, dan yang saat ini kita bahas adalah editor fiksi, bersama Kania Nabila F. Tentunya mengedit tulisan fiksi dengan nonfiksi punya aturan yang berbeda. Seperti apa tips dan proses kerjanya sampai akhirnya naskah fiksi sampai ke tangan pembaca? Oh, ya ternyata Kania punya latar belakang pendidikan yang berbeda dengan profesinya. Pastinya bisa jadi insight yang menarik buat Anda yang tertarik bekerja di dunia penerbitan novel fiksi. Langsung simak obrolan kami ya!
Bisa ceritakan perjalanan karier Anda hingga menjadi editor fiksi?
Perjalanannya mendaki gunung lewati lembah (kalau diceritakan lengkap bisa sampai jadi novel). Kurang lebih sinopsisnya seperti ini.
Semua bermula dari kegemaran saya dalam membaca sejak dini. Buku pertama yang saya miliki adalah komik Doraemon. Setelahnya, saya menjadi pembaca komik (karena lebih murah dibandingkan dengan novel). Selama masa sekolah, saya anak IPA garis keras. Membaca dan menulis selalu menjadi hobi walaupun pernah tebersit dalam benak: suatu hari nanti saya ingin menjadi penulis, yang namanya ada di dalam buku, yang karyanya terpajang di toko-toko buku, yang bisa membuat pembaca merasakan apa yang saya rasakan saat itu sebagai pembaca.
Pada masa SMA, saya memantapkan diri untuk terus menulis, membuat nama pena: KoniginDerRosen. Saya “patenkan” dengan membuat blog (www.KoniginDerRosen.me), akun di media sosial, dan platform (semua menggunakan satu nama pena yang sama). Bahkan, di halaman persembahan karya tulis sekolah, saya mencantumkan nama tersebut. Buku pertama saya, antologi puisi bersama komunitas penyair, terbit saat usia saya belum mencapai 17 tahun.
Sampai kuliah pun saya masih di jalan yang lurus alias Saintek. Selama masa kuliah, kegiatan saya di organisasi adalah menjadi penulis konten blog. Sembari kuliah inilah saya makin rajin mengikuti lomba menulis dan belajar otodidak mengenai dunia penerbitan dan penyuntingan (Ivan Lanin sudah seperti guru daring bagi saya, beberapa kali saya bertanya melalui cuitan kepada beliau). Buku
pertama saya, "Rintik Pertama", diambil dari salah satu judul puisi yang ditulis di kampus, terbit beberapa bulan sebelum saya mengerjakan skripsi.
Karier saya sebagai editor dimulai ketika saya menemukan sebuah lowongan editor lepas di penerbit independen, saya memberanikan diri melamar (dengan modal nekat karena lulus kuliah pun belum, tidak punya pengalaman). Ternyata saya lulus tes dan naskah pertama yang saya kerjakan saat itu tenggatnya hanya selisih beberapa hari dengan pengumpulan skripsi di kampus.
Lulus kuliah, berbekal ijazah yang bukan di bidang sastra maupun ilmu komunikasi, melamar ke penerbit mana pun, saya ditolak (ya iyalah). Namun, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk istikamah di jalan literasi ini. Sembari tetap bekerja sebagai editor lepas dan menulis karya-karya lain, saya tetap melamar ke sana kemari dengan hasil yang tidak jauh berbeda: saya selalu lulus dalam tes tulis, untuk kemudian gagal di tahap wawancara, setelah HRD mengetahui latar belakang pendidikan saya (saya tidak pernah mencantumkan gelar di CV karena tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang dituju).
Penerbit mayor maupun independen saya jajaki. Singkat cerita, untuk berada di perusahaan tempat saya bekerja sekarang, perlu 12 kali kegagalan. Benar. Saya melamar ke perusahaan ini sebanyak 12 kali sepanjang 2018—2023. Pada percobaan ke- 13-lah saya lolos (bukan, 13 bukan angka sial bagi saya, justru sebaliknya). Segelintir orang mengatakan bahwa saya terlalu idealis dan hanya mau bekerja sesuai renjana, bahwa mungkin saya justru jadi terobsesi, bahwa saya seharusnya memilih karier di bidang yang searah dengan jurusan
saya kuliah.
Saya hampir menyerah, terpikir untuk berhenti dari bidang ini, cukuplah menjadi pembaca, tanpa perlu lagi menulis dan berjuang menjadi editor. Namun, selama ini saya sudah membangun jenama KoniginDerRosen lebih dari sepuluh tahun, saya sudah memberikan segalanya
untuk bidang ini, saya tidak pernah setengah-setengah. Penjenamaan pribadi (personal branding) pada akhirnya menuntun saya pada kesimpulan: seperti apa kita ingin dikenang setelah mati? Bagi saya, itu adalah: seseorang yang menepati janji pada sendiri.
Buku-buku yang saya tulis memang tidak terpajang di toko buku. Akan tetapi, sekarang, di antara buku-buku yang dipajang, ada nama saya di dalamnya sebagai editor. Cek kolofonnya, ya, sampai bertemu di buku!

Apa yang mendorong Anda untuk memilih spesialisasi di bidang fiksi dibandingkan dengan genre lainnya?
Sebenarnya bukan saya yang memilih, melainkan takdir yang memilihkan. Sejauh ini, saya memiliki pengalaman di bidang fiksi maupun nonfiksi dan berkali-kali melamar kedua posisi tersebut, tetapi sepertinya jalan ninja saya menunjukkan ke ranah fiksi.
Apa saja tugas utama Anda sebagai editor fiksi?
- Menyeleksi naskah yang masuk ke redaksi: membaca keseluruhan naskah dan menilainya dari berbagai aspek seperti karakter, alur, latar, gaya bahasa, dan sebagainya.
- Mengedit naskah hingga menjadikannya lebih nyaman dibaca, baik secara struktur maupun tata bahasa. Pada bagian ini, prosesnya biasanya memakan waktu yang lama karena bisa saja ada revisi berkali-kali dari segi konten (isi cerita) sampai akhirnya naskah sudah sesuai harapan penulis dan editor.
- Membuat sinopsis singkat yang menarik untuk dicantumkan di bagian belakang buku.
- Membuat konsep desain sampul untuk kemudian digambarkan ilustrasinya oleh ilustrator/desainer.
- Mengumpulkan bagian-bagian penting atau keunggulan dari naskah sebagai bahan promosi.
- Berkomunikasi dengan penulis, menjadi jembatan antara penulis dan perusahaan.
- Mengikuti tren perbukuan dan riset pasar untuk menentukan kira-kira naskah seperti apa saja yang sedang digemari pembaca.
Dalam setiap proyek, sejauh mana Anda terlibat dalam pengembangan cerita dan karakter?
Dalam proyek penjurian naskah lomba novel dan cerita pendek, keterlibatan saya sebagai editor tidak sampai mengubah banyak karakter maupun alur cerita karena sudah ada poin-poin yang ditetapkan, seperti kesesuaian naskah dengan tema. Jadi, naskah yang saya pilih tentunya yang sudah sesuai tema serta memiliki kualitas cerita dan penulisan yang baik (bahasa singkatnya: yang cukup dipoles sedikit). Lalu, dalam penjurian naskah puisi, selain berdasarkan kesesuaian tema, saya memperhatikan tiap pilihan kata (diksi) serta majas-majas yang digunakan.
Apa yang menurut Anda paling menarik dalam mengedit karya fiksi?
Terhanyut dalam semesta cerita yang diciptakan. Pada dasarnya saya adalah pembaca sehingga ketika mengedit naskah, saya memosisikan diri sebagai pembaca sekaligus editor. Jika naskah tersebut secara keseluruhan dapat menggugah perasaan saya sebagai pembaca, tugas selanjutnya adalah membedah naskah secara struktur agar lebih menarik dan rapi untuk dibaca. Terkadang dalam proses mengedit, saya ikut sedih jika ceritanya sedih, juga ikut senang jika ceritanya berakhir bahagia. Pengalaman tersebut hanya didapatkan ketika naskah yang diedit adalah karya fiksi.
Bagaimana rasanya membantu penulis mewujudkan dunia, karakter, atau cerita yang awalnya hanya ada dalam imajinasi mereka?
Mengharukan. Karena saya sendiri awalnya bercita-cita menjadi penulis, sebelum menjadi editor, saya tahu betul bagaimana perjuangan menulis, bagaimana tertatih-tatihnya menyelesaikan sebuah karya—yang kemudian ditolak di mana-mana—bagaimana hampir menyerah dan ingin berhenti menulis saja karena menciptakan pasar itu tidak mudah, sementara mengikuti pasar pun sama sukarnya. Bagi penulis pemula yang belum memiliki nama, yang baru kali pertama membubuhkan kata “tamat” di akhir manuskrip, mengirimkannya ke penerbit adalah hal yang membutuhkan keberanian—untuk menunggu, untuk digantung seperti jemuran tanpa ada kabar, untuk ditolak.
Ketika saya menjadi editor dan bertanggung jawab menyeleksi naskah yang masuk ke redaksi, biasanya saya melakukan blind review (membaca dan menilai naskah tanpa mengetahui penulisnya siapa). Dengan demikian, saya benar-benar melihat kualitas naskah sehingga semua yang mengirimkan naskah memiliki kesempatan yang sama. Lalu, saat ternyata naskah yang lolos seleksi adalah milik para penulis pemula, mereka menuliskan kalimat yang kurang lebih sama: “Terima kasih banyak sudah mewujudkan mimpiku. Akhirnya naskahku bisa menemukan rumahnya dan dibaca oleh orang-orang. Terima kasih sudah menjadi perantara tercapainya cita-citaku selama ini.”
Sebagai editor, saya terharu mendapatkan pesan tersebut; saya telah membuat seseorang di luar sana meraih mimpi. Sebagai penulis, saya tahu benar rasanya ketika karya kita lolos seleksi untuk diterbitkan; senang bukan kepalang. Maka dari itu, dalam setiap proses pengerjaannya, baik penyuntingan, pembuatan konsep kover, hingga promosi, saya selalu berdiskusi dengan penulis dan mengusahakan yang terbaik karena bagi penulis, karya yang ditulisnya sudah seperti anak sendiri. Dalam hal ini, editor sebagai bidan yang membantu penulis melahirkan karya tersebut, menjembatani keinginan penulis dan pandangan dari perusahaan.
Apakah ada genre fiksi tertentu yang menjadi favorit Anda untuk diedit? Mengapa?
Ada beberapa: romansa, fiksi sains, fiksi sejarah (kerajaan). Ketiganya merupakan genre favorit juga dari buku-buku yang saya baca, jadi ketika mengedit naskah dengan genre tersebut, saya begitu menikmatinya; bekerja seperti terasa sedang bersenang-senang.
Apa kesulitan terbesar yang pernah Anda hadapi di dunia penerbitan, dan bagaimana Anda mengatasinya?
Kesulitannya terjadi sebelum memasuki dunia penerbitan. Saya rasa segala kesulitan yang saya alami di dunia penerbitan tidak lebih sulit dibandingkan dengan perjalanan saya untuk bisa memiliki posisi di ranah literasi. Namun, jika ada yang paling saya ingat sepanjang bekerja di bidang ini, ialah berhadapan dengan penulis. Ada beberapa penulis yang mengharapkan editor membalas pesan mereka secepat kilat. Mereka bahkan menghubungi editor di luar jam kerja. Saya pernah ditelepon sekitar pukul sebelas malam. Cara mengatasinya: saya mematikan ponsel selepas jam kerja.
Apa pengalaman paling berkesan dalam bekerja dengan penulis atau tim penerbitan?
Tidak lain dan tidak bukan, bertemu dan menjadi editor dari penulis yang buku-bukunya saya baca sejak kecil. Saya masih ingat, novel pertama yang saya baca adalah karya Asma Nadia, tentang Aisyah Putri (terbit 2008). Karena bekerja di perusahaan konten dan penerbitan, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk datang ke acara Indonesia International Book Fair 2019 dan bertemu Asma Nadia, mengobrol langsung (sayangnya waktu itu saya tidak membawa novel beliau untuk meminta tanda tangan karena tidak pernah menyangka akan bisa datang ke acara besar seperti itu).
Untuk kali pertama dalam hidup, saya dipertemukan dengan Mbak Donna Widjajanto pada 2018, penulis yang membuat saya terkagum-kagum dengan cerita perjalanan dua hari yang bisa sampai jadi novel (Sott’er Celo de Roma, 2013) dan menjadi editor beliau pada tahun berikutnya. The Vanilla Heart (terbit 2013) adalah novel pertama Indah Hanaco yang membawa saya ke novel-novel lain karya beliau. Sederet novel karyanya berdiri di rak buku saya, hingga kemudian saya menjadi editor beliau pada 2021 sampai sekarang. Masih banyak penulis lain yang bukunya bertengger di rak buku saya, karya-karyanya menemani perjalanan hidup saya, sampai pada titik ketika saya menjadi editor mereka. Tidak terbayangkan.
Oh ya, selain penulis, saya juga tidak pernah menduga akan bertemu (bahkan duduk berhadapan dan bersebelahan) dengan desainer grafis yang membuat sampul komik-komik koleksi saya sejak 2007! Sekarang saya bisa tukar kuponnya kapan pun saya mau.

Keterampilan apa yang paling penting dimiliki seorang editor fiksi dibandingkan editor lainnya?
Daya imajinasi. Menurut saya, keterampilan ini perlu dimiliki karena akan menjadi jembatan dengan penulis. Jika daya imajinasi penulis dan editor ada di rentang yang sama, katakanlah masalah naskah selesai setengah; setengahnya lagi urusan teknis. Sebagai editor, kita akan menerima berbagai naskah dengan dunia ciptaan penulis yang berbeda-beda (sejauh ini saya tidak spesifik mengedit naskah dengan genre, tema, atau latar tempat tertentu). Sebelum naskah sampai ke pembaca, tentu editor menjadi “gerbang pertama” dari dunia khayal penulis serta karakter-karakter yang ada di dalamnya. Editor perlu “masuk” ke cerita tersebut dan membedah habis setiap permukaan lapisan cerita.
Bagaimana pandangan Anda mengenai perkembangan novel fiksi di Indonesia saat ini?
Ada aja gebrakannya, begitu kalau bisa saya rangkum. Tanpa disadari, novel-novel yang saya baca kini didominasi oleh novel luar negeri (baik terjemahan maupun bahasa Inggris). Sebelum Negara Api menyerang (baca: media sosial), preferensi bacaan saya hanyalah yang ada di sekitar saya. Saya banyak membaca buku di perpustakaan yang cukup dekat dengan tempat tinggal (terima kasih banyak, Batoe Api!). Di luar itu, ketika ada kesempatan, saya membeli buku saat ada acara bazar/diskon, pokoknya buku apa saja yang menurut saya menarik (dan murah), saya beli (kebanyakan sudah pasti buku lokal).
Namun, setelah ada media sosial, ketika ramai book blogger, booktwit, bookstagram, booktok, booktuber, serta bertebarannya klub baca, khazanah bacaan saya pun meluas. Di Indonesia saat ini, ada istilah khusus novel-novel terjemahan negara-negara Asia seperti Jepang, Korea, Cina: “Asian Literature”. Terdapat juga istilah khusus novel-novel yang hanya ada di Jepang, novel-novel yang biasanya diadaptasi menjadi anime: “Light Novel”. Genre perpaduan pun naik daun, contohnya penggabungan romansa dan fantasi pada novel-novel luar negeri (yang juga diterjemahkan ke Indonesia), dinamai “Romantasy”. Lalu, yang sedang ramai-ramainya sekarang adalah fiksi penggemar yang dibukukan (menurut saya, bentuknya seperti epistolari, hanya saja bentuk surat-menyuratnya berupa tangkapan layar obrolan antartokoh), cerita ini banyak ditulis di X maupun TikTok dan disebut dengan “Alternate Universe”.
Bagaimana pendapat Anda tentang meningkatnya popularitas platform digital untuk membaca dan menerbitkan fiksi, seperti Wattpad atau Kindle?
Saya pernah bekerja sebagai editor di platform. Jadi, bisa dibilang saya punya pengalaman dan pendapat tersendiri perihal keduanya. Platform digital menawarkan kemudahan akses membaca, sangat berguna untuk pembaca yang tidak punya banyak waktu luang, senang membaca berbagai buku sekaligus, dan tidak menetap di suatu tempat (nomaden). Bentuk buku digital ini menjadi solusi bagi pembaca; hanya dalam satu perangkat, semua buku dapat diangkat. Baca kapan saja di mana saja. Dari sisi pembaca yang sudah mengalami merantau sampai season 3, platform digital adalah anugerah. Saya tidak perlu repot-repot mengangkut buku setiap pindahan. Kelemahannya adalah saat tinggal di tempat yang tidak ada sinyal, bacaan digital pun terlupakan (pada saat itu saya sedang KKN di suatu daerah yang tidak ada sinyal, tetapi sudah mempersiapkan diri dengan membawa buku fisik walaupun jadi menambah bobot barang bawaan).
Selama saya menggeluti dunia menulis, setiap ada perkembangan baru, saya mencobanya, begitu pula dengan berbagai platform digital yang bejibun, saya coba satu per satu sampai bisa membandingkan dan mengetahui ciri tiap-tiap platform. Ketika menjadi editor di penerbit buku fisik maupun digital, saya yang masih senang membaca maupun menulis cerita di platform pun merasa punya jaringan yang lebih luas untuk menemukan naskah berkualitas maupun penulis yang konsisten menerbitkan karya di platform.
Saya pernah menjadi pengurus maupun anggota beberapa komunitas yang berasal dari sesama penulis dan pembaca platform. Dari situlah saya berjejaring dengan penulis platform. Selama menjadi editor akuisisi, saya beberapa kali mengakuisisi naskah-naskah dari platform. Kehadiran platform menjadi jalan pembuka untuk para penulis yang belum berani mengirimkan karyanya secara langsung ke penerbit, sebagai wadah untuk penjenamaan pribadi (personal branding) dan interaksi dengan pembaca bagi penulis, juga menjadi “jalan tikus” saya untuk mencari naskah-naskah berpotensi (selain menyeleksi dari naskah yang masuk ke redaksi).
Jika Anda bisa mengedit buku dari penulis mana pun, siapa yang ingin Anda ajak bekerja sama dan mengapa?
Sejak dahulu, saya ingin mengedit karya Sapardi Djoko Damono—betapa tidak tahu dirinya—dan Dee Lestari karena, tentu saja, saya ingin membaca karya keduanya lebih duluan dibandingkan dengan siapa pun di muka bumi ini. Oleh karena itu, saya pernah melamar posisi editor sastra dan editor fiksi di tempat keduanya menerbitkan karya, tetapi tidak lolos. Angan-angan masa remaja itu kini sudah mencapai batas; selama belasan tahun saya membaca karya keduanya hingga tersadar jika saya benar menjadi editor kedua penulis favorit tersebut, mungkin saya akan bias.
Namun, cerita tidak sampai di situ. Apa yang selama ini terbayang dalam benak adalah menjadi editor—bertukar naskah awal dan hasil revisi, berdiskusi melalui surel; semuanya daring, tanpa terpikir tatap muka karena saya jauh dari (mantan) Ibu Kota, tempat perusahaan penerbitan dan acara-acara literasi banyak diselenggarakan—tetapi rupanya jalan mempertemukan saya dengan keduanya secara langsung. Kami bersua. Saya menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana Eyang menceritakan pengalaman menulisnya. Saya mengajukan pertanyaan kepada Ibu Suri seputar tulisan-tulisannya. Saya akhirnya memiliki kesempatan untuk berterima kasih pada keduanya karena telah menciptakan karya-karya luar biasa. Semua itu lebih dari cukup.
Apa tips Anda bagi mereka yang ingin meniti karier sebagai editor fiksi?
Iqra, alias baca. Membacalah sebanyak-banyaknya, kritisi apa pun yang dibaca, puja para karakter fiksi, kagumi penulis yang menciptakan semesta cerita, cintailah kata-kata. Semua berawal dari sana. Dengan terus membaca, kita akan terus belajar. Editor adalah pembelajar, yang harus terus berkembang (karena ejaan kerap berganti walaupun sebelumnya sudah hafal edisi anu lalu ganti jadi edisi inu). Berdasarkan KBBI, baca (kata kerja): eja (huruf, tulisan, dan sebagainya). Saya rasa satu kata itu cukup menggambarkan—“dan sebagainya” menurut tafsir saya adalah benar-benar “sebagainya” dalam arti membaca, mengeja, memperhatikan (watch and learn, kalau bahasa kerennya) tidak hanya huruf dan tulisan, tetapi juga bahasa tubuh, nada bicara, semua yang diperlukan dalam komunikasi. Bahkan, membaca situasi; kondisi pasar, keadaan mental penulis, dan masih banyak lagi. Kalau bisa, sekalian juga membaca pertanda alam; kira-kira buku yang kita edit akan laku tidak, ya? Terakhir, jangan berhenti bermimpi dan berharap (risiko ditanggung masing-masing).
Perjalanan karier dan tips expert lainnya bisa Anda baca di Rubrik Profil Loker ID!