Keshia Sawitri: Dari Psikolog Klinis Menjadi Learning Designer

Saat ini learning designer adalah salah satu profesi yang diincar buat mereka yang ingin melakukan switch career. Salah satu profesional yang juga tertarik menekuni profesi ini adalah Keshia Sawitri yang dulunya berprofesi sebagai psikolog klinis. "Learning designer saat ini menjadi salah satu peran yang penting dalam industri karena edtech biasanya menyasar hal-hal yang tidak diajarkan di bangku perkuliahan, dengan memberikan skills yang lebih applicable di dunia kerja," cerita Keshia.
Menurutnya saat ini peran seorang learning designer (LD) sangat penting dan evolving, terutama karena banyaknya ed-tech yang menawarkan banyak workshop, bootcamp dan sertifikasi. E-learning yang semakin marak menjadi salah satu wadah para learning designer untuk berkarya.
Sekarang ini bisa dibilang learning designer menjadi salah satu kunci dalam pengembangan kurikulum, materi, hingga hubungan dengan stakeholder (misalnya berhubungan dengan SME/subject matter experts yang akan membawakan materi, hingga menjadi salah satu jembatan ke customer (jika B2C) dan ke klien (company, jika B2B)). LD juga sering dilibatkan dalam project management dalam pengadaan training.
Yuk ngobrolin lebih jauh mengenai profesi learning designer dan perkembangannya di industri pembelajaran bersama Keshia, di sini!
Apa yang membuat Anda tertarik untuk berkarir sebagai seorang learning designer?
Latar belakang saya adalah psikologi klinis. Saya sempat praktik sebagai psikolog klinis selama beberapa saat setelah lulus hingga bekerja sebagai Employee Assistance Program (EAP) counselor di sebuah perusahaan multinasional. Karena satu dan lain hal, saya kemudian melakukan refleksi mengenai pilihan karir waktu itu dan melihat bahwa sepertinya ini bukan pilihan karir yang tepat untuk saya. Selain itu, jujur saja, saya sebenarnya berminat jadi dosen, tetapi sudah mencoba beberapa kali dan belum berjodoh, hahaha.
Saya kembali melihat mengenai minat dan skills apa yang masih bisa saya transfer jika akan switch career, dan suatu saat saya melihat ada “AHA moment”.
Jadi, selain bekerja sebagai psikolog klinis, saya (masih, hingga sekarang) bekerja freelance di ed-tech yang memberikan konseling kepada siswa SMA/SMP yang kebanyakan ingin kuliah di luar negeri. Sebagai konselor kuliah dan karir, kami (konselor) sempat diminta untuk melakukan review alur pembelajaran siswa oleh tim Learning. Dari situlah saya merasa bahwa sepertinya bidang ini sangat menarik. Selain memfasilitasi minat saya dalam bidang pendidikan, ranah ini merupakan hal yang relevan dengan kebutuhan saat ini. Bidangnya cukup baru, tetapi ranahnya familiar.
Kebetulan secara gaya kerja, saya juga lebih nyaman merancang pembelajaran dan melakukan alignment dibandingkan konseling klinis yang cukup menguras pikiran dan bisa melibatkan perasaan, serta outcome-nya tidak selalu terduga. Setelah resign, saya memutuskan mengambil course di bidang Learning Design dan mulai apply sebagai LD.
Menurut Anda, apa saja tantangan terbesar yang dihadapi oleh seorang learning designer saat ini?
Ini bukan hanya LD saja, lebih ke segi bisnis juga ya, saya rasa saat ini sedang terjadi tech winter dan banyak ketidakpastian ekonomi lainnya. Ketersediaan LD (dan ed-tech) dengan peminatnya serta kompetisi antar ed-tech atau lembaga penyedia training bisa menjadi tantangan tersendiri untuk menyediakan pembelajaran yang optimal dan relevan, unik dan menarik peminat, baik B2C maupun B2B. Lapangan kerja di bidang tertentu saat ini sedang oversaturated, jadi ini perlu dipertimbangkan. Layoff di mana-mana. Saya juga pernah kena efisiensi macam ini, hahaha.
Selain itu, LD harus juga up to date dengan alat-alat pembelajaran yang semakin bervariasi dan perlu siap untuk fleksibel dengan segala perubahan yang ada.

Bagaimana Anda melihat evolusi profesi learning designer di era digital dan pasca-pandemi?
LD di era digital menjadi profesi yang mulai marak diminati, dan penting karena kebutuhan-kebutuhan skills di industri yang membutuhkan transformasi digital. Misalnya pun seorang LD tidak serta merta ahli dalam suatu bidang (misalnya saya, yang berlatar belakang psikologi, tidak memiliki keilmuan dalam bidang UI/UX design), LD tetap dibutuhkan untuk membangun trajectory atau alur pembelajaran dan kurikulum yang komprehensif dan menjadi penyambung lidah (antara edukasi dan industri) melalui bekerja sama dengan para expert yang nantinya menjadi pemateri. LD juga harus siap dengan perubahan yang cepat, seperti adanya AI. Selama ini bisa membantu kinerja LD, hal ini dapat digunakan sebagai tools yang berguna.
Pasca pandemi dan kembalinya offline training, LD juga perlu berevolusi dalam penyusunan training offline, membuat situasi yang lebih hidup dan menyenangkan di dalam kelas. Selain itu ya dia juga perlu menyesuaikan dengan kondisi di lapangan ya, karena kadang apa yang dirancang tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya untuk training offline. Pemahaman mengenai project management atau event organizing juga perlu dilakukan, apalagi kalau LD harus turun tangan sendiri sebagai PIC/project manager.
Apa saja keterampilan atau kompetensi yang paling penting bagi seorang learning designer?
Riset dan training need analysis; memahami user persona calon trainee/students (jika B2C) dan kebutuhan klien company (jika B2B); curriculum development (termasuk metode dan pendekatannya); jenis metode pembelajaran (misalnya apakah menggunakan project based learning, experiential learning, atau lainnya); tools pembelajaran dan pembuatan materi; tools terkini seperti teknologi, LMS, dan AI atau gamification dengan tools interaktif; tools dasar project management (setidaknya Gantt Chart) dan cara mengorganisasikan event; komunikasi yang baik ke SME, internal, dan eksternal; serta memahami bagaimana monitoring dan evaluasi program termasuk follow up feedback.
Untuk soft skills dan mental, saya rasa keterbukaan untuk terus belajar dan mau untuk diberikan feedback sangat penting untuk learning designer. LD itu, seperti juga designer-designer lain, ya tempatnya salah dan revisi, hahaha. Harus siap iterasi setiap saat. Be humble, turunkan ego. Kadang kita mikir, “Wah ini harusnya begini ini, idealnya student dikasih ini itu begini begitu.”, tapi sekali lagi: ini training buat siapa, sih? Student-centered-kah? Client centered-kah? Perlu terbuka terhadap feedback dan perubahan. Be flexible. Bukan berarti tidak punya values atau metode yang dibawa, ya, tetapi perlu melihat kondisi juga.
Be humble ini bukan berarti mengalah terus, ya. Be confident juga. Kadang-kadang ada saat LD punya pendapat berbeda dengan SME dan klien, atau dengan tim internal, misalnya tentang situasi yang kurang dipahami oleh mereka. Dengan mengemukakan alasan yang tepat, jika Anda merasa bahwa ini masih bisa dinego, cobalah berdiskusi. You are also an expert.
Bagaimana Anda menjaga diri tetap termotivasi dan kreatif dalam pekerjaan Anda?
Cari informasi, brainstorming. Utak atik sendiri. Oh, kadang saya juga suka lihat training dari kompetitor lain, biasanya saya suka bawa-bawa dalam rapat buat manas-manasin, hahaha. Siapa tahu ada ide baru keluar dari situ.
Tapi kalau lagi creative block biasanya saya suka kerjakan hal-hal yang clerical dan berulang dulu, misalnya ganti-ganti font atau iterasi deck. It helps.

Apa prinsip-prinsip desain pembelajaran yang Anda pegang teguh?
Sejujurnya tidak ada. Tergantung saya bekerja di mana, kebutuhannya apa, targetnya siapa; itu yang saya ikuti. Justru fleksibilitas desain pembelajaran itulah yang saya pegang teguh. Semacam pembelajaran terdiferensiasi dan personalized, ya.
Satu hal yang saya percaya adalah: kalau mau memberikan training, yang dikasih training harus punya aksesnya atau fasilitasnya dulu. Dipermudah dulu kebutuhan dasarnya. Sebagai contoh: kalau guru dan anak sekolah diminta akses LMS ya kebutuhan internet dan listrik, kuota, dan biayanya perlu ada dulu. Kalau karyawan diberi training produktivitas dan development segala macam, well-being mereka perlu diperhatikan juga. Jangan cuma menuntut tetapi mereka saja dapat akses susah. Mau secanggih apapun juga pembelajarannya, kalau targetnya nggak punya akses, nggak punya uang, nggak bahagia, nggak sehat mental, bahkan kelaparan atau susah listrik; kan ya nggak nyampe ke mereka.
Saya baru-baru ini belajar COM-B. Intinya kalau mau mengubah behavior (B) dari sebuah komunitas ya kita nggak bisa cuma minta mereka meningkatkan motivasinya (M), tapi harus diperhatikan juga apakah mereka capable ( C ) dan apakah mereka punya opportunity (O) yang bisa mendukung.
Bagaimana Anda mengukur keberhasilan sebuah program pembelajaran yang Anda rancang?
Monitoring, evaluasi (evaluasi kepuasan, pembelajaran (bisa pre-post test, wawancara, riset, project, tugas akhir, case study, dll), dan kadang sampai ke ranah perilaku). Tidak lupa melihat juga faktor X seperti di atas.
Menurut Anda, bagaimana seorang learning designer dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia?
1. Memberikan input terhadap kebutuhan pendidikan yang relevan dengan industri saat ini
2. Jadi jembatan mengenai apa yang diajarkan di ranah formal dan non-formal
3. Bisa juga membantu dalam mendalami realita di lapangan: misalnya soal akses tadi. Karena LD juga harus riset (walau dibantu tim riset juga, hehehe), jadi LD sebaiknya tidak berada di menara gading. Hal ini mungkin bisa membantu pendidikan supaya lebih menyentuh akar ya.
Apa saran Anda bagi seseorang yang ingin berkarir sebagai learning designer?
Kalau memang latar belakangnya dari pendidikan yang linear, ditekuni saja. Jika bukan, ya tidak apa-apa. Bidang ini sangat luas, kok. Ambil course dan terus belajar dengan hal-hal yang up-to-date. Tidak perlu takut dengan teknologi dan AI; kalau utak atik terus nanti akan asyik dan terbiasa sendiri. AI juga sejauh ini belum bisa menggantikan kita berpikir sepenuhnya, jadi anggap saja rekan kerja yang bisa diajak kerja cepat.
Paling perlu aware dengan sustainability industri saja: kalau memang sulit untuk bertahan lama di suatu tempat karena kondisi ekonomi sekarang, perkuat skills dan jejaring; bangun portfolio. Cari remote work di luar negeri pun ada.
Oh ya, dan perlu siap untuk palugada ya, hahaha. Anda juga perlu mempertimbangkan career path apa yang bisa Anda capai.

Apa visi Anda untuk karir Anda sebagai seorang learning designer?
Menjadi learning designer yang terbuka dengan segala macam model pembelajaran dan terus belajar.
Apa tujuan jangka panjang yang ingin Anda capai dalam profesi ini?
Sejujurnya, belum ada. Masih rencana jangka pendek. Ada rencana ambil course khusus lagi untuk mendalami bidang ini, ada rencana untuk apply ke luar negeri atau ke bidang learning di korporasi, atau menyeriusi project management untuk mendukung kinerja sebagai LD. Mungkin kalau mentok, saya apply PhD saja, deh. Hahaha. I have to be realistic about the career path, jadi sejujurnya saya masih mengincar bekerja di ranah akademik yang career path-nya jelas.
Kalau di bidang LD sendiri ingin jadi academic manager/supervisor atau learning experience designer (senior instructional designer), tapi saya juga terbuka untuk profesi lain.
Apakah ada area spesifik dalam desain pembelajaran yang ingin Anda eksplorasi lebih dalam?
Dibandingkan desain pembelajaran, saya masih mencari-cari kesempatan untuk bisa belajar lebih jauh tentang adult learning/andragogy dan hubungannya dengan industrial/organizational psychology, misalnya dengan people development. We’ll see.
Baca terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan insight lainnya dari expert!