Ilham Bachtiar: Pengalaman Membangun Gerakan Positif di Ekosistem Digital

Berawal dari bekerja sebagai content writer yang kemudian dari situ merasakan bagaimana konten tulisan bisa memberikan dampak kepada khalayak luas, membuat Ilham Bachtiar tertarik untuk mendalami perkontenan secara serius dengan manfaat yang lebih masif. Ternyata kesempatan itu datang setelah alumni Universitas Sebelas Maret ini bekerja di media alternatif Remotivi.
"Awalnya, saya mendapat peran sebagai penulis naskah video untuk konten edukasi Remotivi di Youtube. Tak lama berselang, saya mendapatkan tawaran untuk memegang tanggungjawab lain, yaitu mengelola akun media sosial Remotivi. Pada posisi inilah saya punya akses untuk bertemu orang-orang hebat dan belajar banyak hal dari mereka. Singkat cerita, saya mendapatkan promosi dari tahun ke tahun hingga sekarang saya memimpin sebuah divisi untuk mengelola semua proyek kampanye digital di Remotivi," demikian penjelasan Ilham.
Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karier Anda hingga akhirnya menjadi Head of Digital Campaign di Remotivi? Bagaimana transisi dari content writer freelance menjadi peran yang lebih strategis ini?
Perjalanan karier saya berawal dari peran sebagai content writer freelance di startup Mamikos. Di situ saya belajar tentang bagaimana menyampaikan informasi secara efektif sekaligus kreatif melalui tulisan. Sambil bekerja, saya juga memanfaatkan waktu saya untuk nge-blog dan berkomunitas.
Seiring waktu, saya mulai tertarik untuk memberi dampak yang lebih besar bagi sekitar. Salah satunya yaitu bagaimana pekerjaan saya bisa menggerakkan perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Dari situlah kemudian kesempatan untuk mewujudkannya datang melalui lowongan kerja di Remotivi yang saya dapatkan dari laman Facebook.
Obrolan lebih lengkap mengenai pengalaman dan passion Ilham mengampanyekan isu marjinal dengan perspektif kritis bisa langsung dibaca di sini!
Apa yang menarik Anda untuk bekerja di media alternatif seperti Remotivi? Apa yang membedakannya dengan media mainstream yang pernah Anda amati?
Media alternatif seperti Remotivi memberikan perspektif yang kritis dan sering kali menantang arus utama. Di Remotivi, saya melihat kesempatan untuk mengangkat isu-isu yang mungkin tidak mendapat tempat di media mainstream, dengan sudut pandang yang lebih berpihak pada publik.
Media alternatif umumnya lebih bebas dari pengaruh komersial dan politik, yang memungkinkan pendekatan jujur pada setiap penelitian maupun konten yang kami buat. Ini sangat menarik bagi saya karena memungkinkan kami untuk fokus pada isu-isu penting tanpa kompromi.
Sebagai Head of Digital Campaign, apa saja tugas dan tanggung jawab utama Anda sehari-hari? Bagaimana Anda mengukur keberhasilan kampanye yang telah dilakukan?
Tugas utama saya meliputi merancang dan mengarahkan strategi kampanye digital yang relevan dengan audiens Remotivi, mengelola konten di berbagai platform, dan memantau keterlibatan audiens. Kami mengukur keberhasilan kampanye melalui berbagai metrik, seperti jangkauan, interaksi, dan konversi dari online ke offline (misalnya partisipasi dalam event atau kelas). Selain itu, feedback audiens dan dampak jangka panjang pada isu yang kami kampanyekan juga menjadi indikator keberhasilan yang penting.
Apa yang Anda lihat sebagai perbedaan mendasar antara visi dan misi media alternatif seperti Remotivi dengan media mainstream? Bagaimana hal ini mempengaruhi strategi kampanye digital yang Anda jalankan?
Media alternatif seperti Remotivi umumnya memiliki visi untuk mendorong kesadaran kritis dan advokasi publik, sementara media mainstream cenderung lebih fokus pada berita aktual dan sensasional. Perbedaan visi ini membuat strategi kampanye kami lebih mementingkan edukasi audiens, meningkatkan kesadaran, dan mengajak audiens berpikir kritis daripada sekadar mengonsumsi informasi. Kami juga mengedepankan diskusi terbuka dan konten yang mengajak audiens terlibat dalam isu-isu yang mungkin sering kali terpinggirkan.
Apakah ada tantangan unik yang Anda hadapi dalam menjalankan kampanye digital di media alternatif dibandingkan di media mainstream?
Tantangan utama adalah sumber daya yang terbatas, baik dari sisi anggaran maupun pekerjanya. Kami harus kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada, seperti bekerja sama dengan stakeholder dan memaksimalkan strategi organik. Selain itu, membangun kepercayaan audiens yang cenderung skeptis juga menjadi tantangan tersendiri, karena mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap kualitas dan objektivitas. Jadi kami selalu mengupayakan agar setiap program kami bisa dikomunikasikan dengan baik, agar tidak blunder.

Bagaimana Anda mendefinisikan audiens target Remotivi? Apakah ada perbedaan signifikan dalam menjangkau audiens ini dibandingkan dengan audiens media mainstream?
Audiens Remotivi pada umumnya adalah kalangan anak muda yang kritis, akademisi, pekerja muda, dan aktivis yang peduli pada isu sosial dan kebijakan publik. Dibandingkan dengan audiens media mainstream, audiens kami lebih aktif terlibat dalam diskusi mendalam dan menuntut informasi yang lebih spesifik. Jadi kami biasanya menggunakan pendekatan yang lebih interaktif, misalnya dengan diskusi luring maupun daring.
Strategi apa yang Anda gunakan untuk memperluas jangkauan Remotivi dan meningkatkan engagement dengan audiens?
Kami sering menggunakan strategi kolaborasi dengan komunitas dan organisasi lain, seperti mengadakan diskusi online, webinar, atau acara tatap muka yang relevan. Selain itu, konten yang memicu diskusi atau call-to-action yang konkret juga efektif meningkatkan engagement, seperti waktu kami membuat petisi Tolak RUU Penyiaran. Kami juga aktif di platform yang populer di kalangan audiens target kami, seperti Twitter dan Instagram. Bahkan baru-baru ini kami sedang merancang komunitas untuk audiens Remotivi.
Apakah menurut Anda seseorang yang bekerja di media alternatif harus memiliki idealisme yang kuat? Mengapa?
Idealisme yang kuat membantu menjaga visi dan misi media alternatif tetap pada jalurnya. Ini penting karena media alternatif sering kali beroperasi dengan sumber daya yang terbatas dan menghadapi tantangan dari pihak luar. Tanpa idealisme, mudah tergoda untuk mengikuti arus demi popularitas atau keuntungan finansial, yang bisa mengorbankan nilai dan integritas.
Bagaimana Anda menyeimbangkan antara idealisme dan realitas dalam menjalankan kampanye digital?
Saya berusaha menyeimbangkan keduanya dengan tetap realistis terhadap target dan keterbatasan sumber daya. Dalam hal ini, saya memilih fokus pada isu yang paling relevan dan menyusun strategi kampanye yang efisien tanpa mengorbankan pesan utama. Hal yang tidak kalah penting adalah dengan melakukan kajian yang mendalam tentang kondisi sosial hari ini, sehingga strategi kampanye akan berjalan dengan efektif. Kami juga menerima masukan dari tim, stakeholder, dan audiens untuk memastikan bahwa kampanye kami tetap relevan dan berdampak nyata.

Apa tren terbaru di dunia digital campaign yang menurut Anda paling menarik? Bagaimana Anda melihat tren ini akan mempengaruhi industri media di masa depan?
Salah satu tren yang menarik adalah penggunaan konten berbasis data dan storytelling interaktif untuk menciptakan pengalaman mengkonsumsi informasi yang lebih dekat bagi audiens. Saya ambil contoh konten podcast Bocor Alus yang sangat sentral membicarakan isu politik. Tren ini memungkinkan media untuk tidak hanya menginformasikan, tapi juga melibatkan audiens pada level yang lebih dalam. Sebab dengan berangkat dari konten percakapan tersebut, sejumlah warganet terpicu untuk membicarakannya juga dan jadi efek bola salju ke depan. Saya percaya tren ini akan memperkaya industri media untuk menggerakkan audiens dengan cara yang lebih relevan.
Bagaimana Anda melihat isu etika dalam menjalankan kampanye digital? Apakah ada prinsip-prinsip tertentu yang selalu Anda pegang?
Menurut saya etika selalu menjadi dasar penting dalam setiap aktivitas digital, termasuk kampanye. Kami selalu memastikan bahwa kampanye yang kami rancang tidak menyesatkan, tidak memanipulasi emosi yang bersifat destruktif, dan tidak mengorbankan privasi audiens yang terlibat. Dalam hal komunikasi publik, kami juga selalu menuturkan pesan dengan bahasa yang sopan dan profesional sehingga sejauh ini belum pernah ada tuduhan ujaran kebencian pada kami. Etika ini tentu penting agar kami bisa membangun kepercayaan jangka panjang dengan audiens.
Apa yang menjadi motivasi terbesar Anda dalam berkarir di bidang ini? Apakah ada tujuan jangka panjang yang ingin Anda capai?
Motivasi terbesar saya adalah memberikan dampak positif kepada masyarakat dan menciptakan ruang bagi isu-isu yang penting untuk didiskusikan. Dalam jangka panjang, saya ingin memperkuat peran media alternatif dalam mengedukasi publik dan meningkatkan literasi media di Indonesia. Saya juga ingin membantu lebih banyak organisasi untuk mengelola kampanye digital yang efektif. Sehingga gerakan-gerakan keren mereka dapat diimplementasikan dengan baik.
Bagaimana Anda melihat perkembangan karier Anda di masa depan? Apakah ada bidang lain yang ingin Anda eksplorasi?
Ke depan, saya ingin memperluas pengalaman saya dalam strategi komunikasi, mungkin dalam ruang lingkup kebijakan publik. Saya juga tertarik untuk mendalami analisis data lebih dalam sebagai alat untuk merancang kampanye yang lebih terukur dan berbasis bukti. Lebih jauh lagi, saya harap bisa memberikan jasa konsultasi strategi kampanye maupun komunikasi kepada organisasi, komunitas, hingga individu yang ingin membuat gerakan positif di dalam ekosistem digital kita.
Pengalaman inspiratif lainnya dari profesional yang bekerja di bidang kampanye sosial bisa dibaca di artikel Hudzaifah Haris Humami: Hidup Tak Hanya Sekadar Bekerja Melainkan Berkarya.