Hudzaifah Faris Humami: Hidup Tak Sekadar Bekerja Melainkan Berkarya

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 25 Oktober 2024
Rubrik Profil

pengalaman-double-job-faris-tahun-2024

Bekerja freelance di era sekarang bukan hanya soal cuan dan cuan, melainkan kepuasan batin dan berkarya. Topik freelance vs pekerjaan utama menjadi salah satu obrolan Loker ID bersama Hudzaifah Faris Humami. Saat ini Faris bekerja full time sebagai Brand Campaign Manager di platform donasi sosial dan freelance Creative Lead di sebuah label produksi film dan hiburan. Tidak bisa dibandingkan, dua pekerjaan dengan brand berbeda ini ibarat playground yang menyenangkan buat Faris.

Nah, bener juga sih kata Faris. Sebaik-baiknya pekerjaan, adalah pekerjaan yang membuat kita berasa enggak kerja. Betul atau betul?  Yuk, simak cerita lengkap Faris, pengalaman double job-nya, dan bagaimana ia memaknai fleksibilitas bekerja yang diberikan dunia digital saat ini! Check this out!

Apa yang paling menarik buat Anda dari pekerjaan sebagai Brand Campaign Manager di platform donasi sosial, dan apa yang menjadi tantangan terbesarnya?

Yang paling menarik dalam pekerjaan saya sekarang adalah "gimana caranya kita jualan" atau bagaimana memasarkan brand dan produknya dengan keren, out of the box, dan lain dari yang lain. Tantangan terbesarnya adalah kompetisi antar brand yang sama maupun beda, yang juga pastinya enggak mau kalah saing juga di era yang terus berubah cepat seperti sekarang.

Sebagai creative team lead freelance, bagaimana Anda mengelola proyek-proyek kreatif sambil menjalankan pekerjaan tetap?

Freelance bagi saya adalah playground lain, brand-nya beda, objective-nya beda, challenge-nya beda, tapi tingkat keseruannya bisa jadi sama. Saya menjalankan peran sebagai freelance seperti rekreasi after office atau akhir pekan. Sehingga secara waktu, kurang lebih masih bisa diatur dengan baik asal disiplin.

Bagaimana Anda menyeimbangkan antara kebutuhan kreatif pribadi dengan tuntutan pekerjaan?

Keduanya bisa seimbang asal disiplin. Bukan cuma soal waktu, tapi juga attitude. Sehingga pekerjaan yang dilakukan bisa tetap jadi menyenangkan dan enggak membosankan.

Bisa Anda ceritakan bagaimana pengalaman Anda sebagai staff kreatif, asisten dosen, copywriter, content writer, dan social media officer membentuk Anda menjadi seorang Brand Campaign Manager yang kreatif dan strategis?

Dari mulai saya sekolah, saya sudah mulai sering ikut lomba puisi, cerpen, sampai jualan karya buatan sendiri. Jajanan saya lebih banyak habis buat buku dan komik daripada makanan. Waktu kuliah pun saya sudah mulai suka dunia iklan dan lanjut magang di advertising agency. Pekerjaan saya pun enggak jauh dari social media dan advertising.

Soal menjadi kreatif dan strategis, itu yang terus ditempa sepanjang perjalanan karir, tetep ikut lomba, berkarya, dan berani nunjukkin kalo saya punya sesuatu yang lain dan alhamdulillah bisa sampai di titik ini. Pengalaman menjadi asisten dosen sebenernya yang agak berbeda, meskipun materinya tetep membahas periklanan, bagi saya menceritakan pengalaman di kelas itu experience yang berbeda, tapi tetap fun. Makanya, sampai sekarang saya masih suka menjadi dosen tamu atau sekadar menjadi speaker kelas offline atau online. Darah mengajar mungkin mengalirnya dari background orangtua saya yang sama-sama guru.

Keterampilan apa yang paling Anda dapatkan dari setiap peran tersebut, dan bagaimana keterampilan-keterampilan itu saling melengkapi?

Creative thinking, strategic thinking, leader skills, dan communication skills semuanya menjadi satu dalam menjalankan peran di tempat atau posisi yang berbeda. Enggak terpisah dan saling mendukung satu sama lain.

meningkatkan-skill-digital-faris-tahun-2024

Tantangan apa yang paling Anda ingat dari setiap peran tersebut, dan bagaimana Anda mengatasinya?

Tantangannya banyak dan pasti challenge-nya berbeda. Yang paling sulit mungkin gimana menjalankan peran yang berbeda di setiap tempat yang berbeda juga, meskipun skills-nya hampir sama, tapi ruang yang berbeda pasti punya rules yang berbeda juga. Misalnya beda penyampaian bicara di depan klien, tim, dan mahasiswa. Beda lagi gaya komunikasi di internal meeting yang cuma 5 orang dengan 30-100 orang peserta di kelas, dan lain-lain.

Menurut Anda, bagaimana perkembangan industri donasi sosial dan hiburan digital saat ini? Apa tren yang paling menarik dan apa yang perlu diwaspadai?

Tren terus berkembang cepat. PR-nya adalah gimana supaya brand kita bisa tetep jadi beda dengan yang lain, dengan bikin campaign yang keren, konten yang viral, warna yang baru, dan yang paling penting dampaknya luas, positif, dan sesuai objective company. Semuanya menarik dan kadang enggak bisa diantisipasi, kita sebagai pekerja kreatif harus terus balancing dengan terus update, belajar, dan asah skill baru dari berbagai macam perspektif orang dan lingkungan.

Bagaimana digitalisasi telah mengubah cara kita berkreasi dan berkolaborasi dalam industri kreatif?

Hampir semua aspek dalam pekerjaan kita berubah total semenjak era digital. Bisa jadi lebih mudah, bisa jadi lebih susah. Lebih mudah karena semua akses bisa terhubung, semua bisa dicari dengan cepat dan hampir tepat. Lebih susah karena too much information ini bikin kita harus lebih detail sama apa yang kita cari dan butuhkan buat bahan pekerjaan kita jadi lebih kreatif. Semua orang mungkin bisa dapat akses yang sama, tapi enggak semua orang bisa create something new, different, and out of the box.

Bagaimana Anda menemukan inspirasi untuk kampanye-kampanye kreatif, terutama di bidang sosial?

Inspirasi paling banyak didapat di media, semuanya ada, platform-nya banyak, offline atau online. Kita yang harus bergerak aktif, bukan cuma pasif nerima semua informasi yang terus berubah tiap detik. Dari mulai baca buku, lihat sosmed, ikut kelas, ngobrol sama orang dari segala background yang berbeda, dan lain-lain. Bisa jadi, hampir semua harus dilakukan kalau mau tetap stay update dan enggak ketinggalan zaman.

Bagaimana Anda mengukur keberhasilan sebuah kampanye kreatif?

Lihat insight dari data kuantitatif itu pasti, reach, impression, engagement, followers, dan lain-lain. Tapi yang lebih keren itu sebenarnya kualitatifnya. Seberapa banyak "orang beneran" yang suka dan terpengaruh sama konten kita. Apalagi sekarang gampang banget orang beli ads,followers, buzzer, dan lain-lain. Makanya, saya suka menghitung hasil itu dari kedua sisi. Yang banyak belum tentu berhasil, yang sedikit belum tentu jelek.

Menurut Anda, apakah ada hubungan antara kreativitas dan empati?

Kreatif dan empati itu harusnya satu paket, saling melengkapi bukan saling berdiri sendiri dan terpisah jauh. Banyak orang kreatif tapi mengesampingkan empati, jadinya konten yang dibikin kurang baik. Empati itu harusnya sensing kita waktu bikin sesuatu yang kreatif. Percuma kreatif kalau enggak empati.

proyek-proyek-freelance-faris-tahun-2024

Strategi apa yang Anda gunakan untuk tetap produktif dan menghindari burnout?

Disiplin waktu paling penting. Mulai memetakan pekerjaan tiap bangun subuh/pagi maksimal setengah jam buat to do list hari itu. Kerja, maksimal sampai kantor jam 10. Istirahat makan siang jam 12. Coffee break jam 15. Selesaikan pekerjaan maksimal jam 19. Jangan bawa pulang pekerjaan kecuali urgent.

Menurut Anda, apakah hidup di zaman sekarang ini memang membutuhkan double job untuk mencapai tujuan finansial dan kepuasan pribadi?

Bisa jadi iya, supaya enggak fokus pada satu sisi pekerjaan, tapi juga bisa versatile dan punya dua sisi perspektif yang berbeda. Finansial penting, kepuasan pribadi juga enggak kalah penting. Biar hidup enggak sekadar bekerja, tapi juga berkarya.

Apa saja keuntungan dan kerugian dari memiliki pekerjaan ganda?

Keuntungannya pasti aspek finansial dan kepuasan pribadi. Kerugiannya pasti waktu yang tergadaikan. Bagaimana pun, harus bisa punya batas dimana harus istirahat dan waktu luang buat keluarga juga.

Bagaimana Anda melihat masa depan pekerjaan dan fleksibilitas kerja di era digital?

Masa depan pekerjaan dan fleksibilitas kerja di era digital semakin beragam dan penuh tantangan. Kita dituntut bisa terus adaptif dan kreatif supaya bisa mengimbangi teknologi yang makin banyak dan canggih, kalo enggak ya kita bisa ketinggalan dan kalah saing dengan generasi yang bisa berkembang dan bisa mengimbanginya.

Tertarik membaca kisah inspiratif lainnya? Cek langsung Rubrik Profil di Loker ID. Anda juga bisa berbagi kisah inspirasi pengalaman dunia kerja versimu sendiri dengan mengirimkan DM di LinkedIn Loker ID.