Hudzaifah Faris Humami: Hidup Tak Sekadar Bekerja Melainkan Berkarya

Bekerja freelance di era sekarang bukan hanya soal cuan dan cuan, melainkan kepuasan batin dan berkarya. Topik freelance vs pekerjaan utama menjadi salah satu obrolan Loker ID bersama Hudzaifah Faris Humami. Saat ini Faris bekerja full time sebagai Brand Campaign Manager di platform donasi sosial dan freelance Creative Lead di sebuah label produksi film dan hiburan. Tidak bisa dibandingkan, dua pekerjaan dengan brand berbeda ini ibarat playground yang menyenangkan buat Faris.
Nah, bener juga sih kata Faris. Sebaik-baiknya pekerjaan, adalah pekerjaan yang membuat kita berasa enggak kerja. Betul atau betul? Yuk, simak cerita lengkap Faris, pengalaman double job-nya, dan bagaimana ia memaknai fleksibilitas bekerja yang diberikan dunia digital saat ini! Check this out!
Apa yang paling menarik buat Anda dari pekerjaan sebagai Brand Campaign Manager di platform donasi sosial, dan apa yang menjadi tantangan terbesarnya?
Yang paling menarik dalam pekerjaan saya sekarang adalah "gimana caranya kita jualan" atau bagaimana memasarkan brand dan produknya dengan keren, out of the box, dan lain dari yang lain. Tantangan terbesarnya adalah kompetisi antar brand yang sama maupun beda, yang juga pastinya enggak mau kalah saing juga di era yang terus berubah cepat seperti sekarang.
Sebagai creative team lead freelance, bagaimana Anda mengelola proyek-proyek kreatif sambil menjalankan pekerjaan tetap?
Bagaimana Anda menyeimbangkan antara kebutuhan kreatif pribadi dengan tuntutan pekerjaan?
Bisa Anda ceritakan bagaimana pengalaman Anda sebagai staff kreatif, asisten dosen, copywriter, content writer, dan social media officer membentuk Anda menjadi seorang Brand Campaign Manager yang kreatif dan strategis?
Dari mulai saya sekolah, saya sudah mulai sering ikut lomba puisi, cerpen, sampai jualan karya buatan sendiri. Jajanan saya lebih banyak habis buat buku dan komik daripada makanan. Waktu kuliah pun saya sudah mulai suka dunia iklan dan lanjut magang di advertising agency. Pekerjaan saya pun enggak jauh dari social media dan advertising.
Soal menjadi kreatif dan strategis, itu yang terus ditempa sepanjang perjalanan karir, tetep ikut lomba, berkarya, dan berani nunjukkin kalo saya punya sesuatu yang lain dan alhamdulillah bisa sampai di titik ini. Pengalaman menjadi asisten dosen sebenernya yang agak berbeda, meskipun materinya tetep membahas periklanan, bagi saya menceritakan pengalaman di kelas itu experience yang berbeda, tapi tetap fun. Makanya, sampai sekarang saya masih suka menjadi dosen tamu atau sekadar menjadi speaker kelas offline atau online. Darah mengajar mungkin mengalirnya dari background orangtua saya yang sama-sama guru.
Keterampilan apa yang paling Anda dapatkan dari setiap peran tersebut, dan bagaimana keterampilan-keterampilan itu saling melengkapi?

Tantangan apa yang paling Anda ingat dari setiap peran tersebut, dan bagaimana Anda mengatasinya?
Menurut Anda, bagaimana perkembangan industri donasi sosial dan hiburan digital saat ini? Apa tren yang paling menarik dan apa yang perlu diwaspadai?
Bagaimana digitalisasi telah mengubah cara kita berkreasi dan berkolaborasi dalam industri kreatif?
Bagaimana Anda menemukan inspirasi untuk kampanye-kampanye kreatif, terutama di bidang sosial?
Bagaimana Anda mengukur keberhasilan sebuah kampanye kreatif?
Menurut Anda, apakah ada hubungan antara kreativitas dan empati?

Strategi apa yang Anda gunakan untuk tetap produktif dan menghindari burnout?
Menurut Anda, apakah hidup di zaman sekarang ini memang membutuhkan double job untuk mencapai tujuan finansial dan kepuasan pribadi?
Bisa jadi iya, supaya enggak fokus pada satu sisi pekerjaan, tapi juga bisa versatile dan punya dua sisi perspektif yang berbeda. Finansial penting, kepuasan pribadi juga enggak kalah penting. Biar hidup enggak sekadar bekerja, tapi juga berkarya.
Apa saja keuntungan dan kerugian dari memiliki pekerjaan ganda?
Keuntungannya pasti aspek finansial dan kepuasan pribadi. Kerugiannya pasti waktu yang tergadaikan. Bagaimana pun, harus bisa punya batas dimana harus istirahat dan waktu luang buat keluarga juga.
Bagaimana Anda melihat masa depan pekerjaan dan fleksibilitas kerja di era digital?
Masa depan pekerjaan dan fleksibilitas kerja di era digital semakin beragam dan penuh tantangan. Kita dituntut bisa terus adaptif dan kreatif supaya bisa mengimbangi teknologi yang makin banyak dan canggih, kalo enggak ya kita bisa ketinggalan dan kalah saing dengan generasi yang bisa berkembang dan bisa mengimbanginya.