Helena Yovita: Menyuarakan Suara Orang Biasa Lewat Opini "Berisi"

Apa yang biasanya menjadi inspirasi Anda dalam menulis opini? Apakah ada peristiwa atau isu tertentu yang sering menarik perhatian Anda?
Yang menjadi inspirasi saya saat menulis opini ialah saat saya sedang bersantai dengan teman-teman saya, saya mengajak diskusi padanya. Jika hasil diskusi kita menimbulkan perdebatan, itu akan layak menjadi tulisan. Selain itu juga dengan membaca berita di media nasional seperti Kompas, Tempo, detik.com, Jawapos, dan yang lainnya. Ketika membaca berita, inspirasi dalam menulis terkadang muncul. Harusnya seperti ini lho. Akhirnya tulisan menjadi informasi untuk meluruskan pendapat masyarakat. Isu atau pariwisata yang menarik perhatian saya ialah topik pariwisata. Pariwisata menjadi tulang punggung dalam negara, pendapatan negara sangat bergantung pada pariwisata.
Bagaimana proses kreatif Anda saat menulis opini? Apakah Anda memiliki rutinitas atau metode khusus?
Proses kreatif saya saat menulis karena saya suka jalan-jalan. Jalan-jalanlah saya untuk menjaga keseimbangan hidup. Namun saya tetap membawa buku kecil, nah ketika menemukan masalah, saya tuliskan dalam buku kecil tersebut. Saya memiliki rutinitas dimana setiap harinya minimal saya menulis tulisan 500 kata, dan minimal 2 jam dalam membuka laptop.
Bagaimana Anda memilih topik yang akan Anda tulis? Apakah ada kriteria tertentu yang Anda pertimbangkan?
Tidak ada kriteria khusus untuk memilih topik yang ditulis, karena ide itu mengalir. Menulis adalah hobi saya, ketika saya menemukan masalah dalam masyarakat saya langsung mencatat di buku kecil dan menuliskan dalam bentuk tulisan. Tidak ada kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam menulis.
Bagaimana Anda merespons kritik atau komentar negatif dari pembaca, terutama ketika isu yang Anda suarakan sangat sensitif?
Ketika ada kritik atau komentar negatif, saya akan membaca, jika kritik itu membangun akan saya terima tapi jika kritik tidak membangun ya akan saya biarkan saja, saya gubris saja. Kita tidak perlu tahu semua hal di dunia ini.
Apakah ada pengalaman menarik yang ingin Anda bagi terkait dengan menulis opini yang kontroversial?
Pengalaman menarik saya ialah saat saya menuliskan esai di Mojok mengenai “Malangnya Lulusan S2 UGM yang Sulit Bertahan Hidup di Jogja”. Saya tidak menyangka jika artikel tersebut sampai diperdebatkan banyak orang. Ternyata tiap-tiap orang memiliki interpretasi tersendiri dari artikel yang saya buat. Itulah yang menarik dari sang penulis. Ketika tulisan ditulis dengan konsep yang sama dari pemikiran namun berbeda analisis dari pembaca.

Bagaimana Anda menjaga keseimbangan antara menyampaikan pendapat pribadi dan tetap objektif dalam tulisan opini?
Untuk menjaga keseimbangan, saya menggunakan data dan menginterpretasi data. Data yang saya dapatkan dari data lapangan saat saya survei. Ketika saya mendapatkan data tersebut, saya olah dahulu dan kemudian ditulis dalam bentuk tulisan. Itu yang digunakan untuk menjaga keseimbangan supaya tidak tercampur dengan trauma penulis.
Bagaimana media sosial mempengaruhi cara Anda menulis opini dan menjangkau pembaca?
Media sosial seperti Instagram, Threads, Twitter, TikTok mempengaruhi saya dalam menulis opini. Saya setiap hari membuka platform tersebut, saya melihat apa yang menarik diperbincangkan. Lalu saya buat tulisan tersebut disertai dengan saran ke depannya.
Platform media sosial mana yang paling efektif untuk menyebarkan tulisan opini Anda?
Bagaimana Anda melihat perkembangan tren penulisan opini di era digital?
Saat ini perkembangan tren penulisan opini sudah sangat berkembang. Kalau dahulu, tahun 2000-an, yang bisa menulis hanya orang yang berpendidikan saja, namun saat ini bahkan orang biasa pun dapat menulis keresahan mereka. Sama halnya dengan Mojok, Mojok itu memiliki misi suara orang biasa, kita tidak perlu jadi orang terkenal dulu baru menulis. Tapi dengan tulisan dan karya kita dulu yang akhirnya menjadi terkenal.

Apa yang menjadi motivasi Anda untuk menjadi dosen di universitas terbuka?
Motivasi saya ingin menjadi dosen yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dari pendidikan. Pendidikan yang tinggi dan baik akan membuat SDM unggul di generasi emas tahun 2045. Dari kemampuan yang saya miliki, saya ingin berbagi pada mahasiswa, bahwa kalian lah tulang punggung generasi emas tahun 2045.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam mengajar mahasiswa jarak jauh?
Tantangan terbesar saat mengajar jarak jauh ialah tidak bisa bertatap muka langsung dengan mahasiswa. Tidak bisa melihat secara langsung perasaan dan emosi yang dirasakan oleh mahasiswa. Komunikasinya dibatasi oleh jarak dan waktu.
Bagaimana Anda menjaga interaksi yang efektif dengan mahasiswa meskipun pembelajaran dilakukan secara online?
Menjaga interaksi yang efektif dengan mahasiswa ya dengan cara chatting-an terus, mengingatkan pada mahasiswa untuk belajar dan mengumpulkan tugas. Selain itu juga sering untuk melakukan zoom meeting untuk bertanya langsung pada mahasiswa apa sih yang menjadi kendala mereka.
Bagaimana Anda melihat peran literasi dalam menghadapi tantangan di era informasi?
Literasi di Indonesia sudah banyak, pintar-pintar dan bijaknya masyarakat untuk menghadapi berita hoax. Ada yang perlu di-follow dan ada yang tidak perlu di-follow.
Itu tadi obrolan Loker ID bersama Helena. Baca terus Rubrik Profil untuk mendapatkan insight menarik dari expert lainnya ya! Salah satunya Ester Lianawati: Dari Serigala Betina sampai Rahim yang Berbicara.