Eka Dalanta Tarigan : Memanfaatkan Digitalisasi untuk Personal Branding dan Membangun Komunitas Ngobrol Buku

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 22 Agustus 2024
Rubrik Profil

profesi-content-creator-eka-dalanta-tahun-2024-800x600

Kebiasaan membaca buku yang dimulai sejak kecil membuat Eka Dalanta begitu mencintai buku sampai akhirnya memprakarsai komunitas @ngobrol.buku yang pertama kali menggelar diskusi buku 20 Mei 2020. Dan sejak saat itu, hingga 30 Agustus 2024, sudah ada 240 acara bahas buku yang diadakan Ngobrol Buku baik online maupun offline.  Ketika Loker ID menggali lebih jauh mengenai kecintaan dini membaca buku, alumni Sastra Indonesia USU ini bercerita kesenangannya akan buku diawali kebiasaan ayahnya yang sering membawakan buku dan mengajaknya membaca bersama di sore hari. Setelah merasa buku dari sang ayah tidak lagi cukup, Eka mulai mencari buku bacaan sendiri, membeli buku-buku bekas di toko buku (sangat) kecil dan emperan yang menjual buku bekas.

Kebiasaan ini ternyata berlanjut sampai dewasa. Saat kuliah di semester akhir, Eka sempat mendirikan dan mengelola taman bacaan dan toko buku kecil bernama Rumah Buku Medan bersama beberapa kawan, Saat bekerja kantoran (pernah bekerja sebagai Managing Editor di dua media berbeda dan pekerjaan lainnya sebagai penulis, editor, dan konsultan komunikasi) Eka masih tetap membaca meski dibatasi kesibukan kerja.

Menariknya pandemi membuat kebiasaan membaca itu kembali meningkat. Sampai akhirnya Eka mulai memilah jenis bacaannya. Khusus untuk sastra dibagikan di akun @ngobrol.buku, akun instagram pribadi (@ekadalanta) untuk membahas buku lainnya (selain sastra Indonesia) dan membuat dan membagikan catatan singkat pengalaman membaca melalui akun khusus yang dedikasikan untuk itu (@bukueka).

Seperti apa pengalaman Eka mengelola Ngobrol Buku dan bagaimana pendapatnya mengenai digitalisasi, personal branding, dan minat baca, dan passion itu sendiri? Baca obrolan seru Loker ID bersama Eka di sini!

Boleh diceritakan bagaimana Anda memprakarsai dibuatnya komunitas @ngobrol.buku, seperti apa ide awalnya dan perkembangannya saat ini sudah sejauh apa? Saat ini sudah mengadakan berapa diskusi offline dan online yang diadakan oleh @ngobrol.buku?

Ngobrol Buku pada dasarnya adalah cita-cita yang sudah lama ingin dilakukan namun baru bisa teralisasi pada tahun 2020. Bisa terealisasi karena menemukan momen dan menemukan teman-teman yang tepat, yang punya cita-cita yang sama dan dan bersedia diajakin mengeksekusinya. Waktu itu bertepatan dengan masa awal-awal pandemi. Setelah sekitar 3 bulan pembatasan sosial diberlakukan, kita ingin tetap melakukan aktivitas yang memungkinkan berinteraksi dengan orang lain. Ngobrol dengan beberapa kawan (waktu itu pertama kali membahas ide ini bersama Bang Juhendri Chaniago dan Alda Muhsi). Kita punya cita-cita yang sama, mendekatkan sastra Indonesia kepada orang banyak, ke masyarakat lebih luas. Ingin membuat sastra lebih akrab dengan orang banyak, khususnya anak-anak muda. Bahwa sastra itu untuk semua orang dan perlu dibaca. Apalagi Sumut kan pada masanya melahirkan banyak penulis. Kami berharap, hal itu bisa terjadi lagi. Jadilah kita ingin membuat kegiatan yang membincangkan sastra Indonesia. Itu hanya bisa dilakukan secara daring, pilihan itulah yang tersedia pada masa itu. Terbentuklah Ngobrol Buku bersama lima orang yang menjadi pendiri awalnya (Eka Dalanta, Alda Muhsi, Juhendri Chaniago, Titan Sadewo, dan Dian Nangin, di tahun 2023 tambah satu tim lagi Ahmad Hakiki).

Karena menyasar anak muda (usia produktif) maka sosial media yang kami pilih adalah instagram. Kami mulai melakukan diskusi sastra Indonesia Ngobrol Buku melalui akun @ngobrol.buku. Tagline kami: Mengenal Khasanah Sastra Indonesia. Diskusi perdana ini dilakukan pada 20 Mei 2020. Kegiatan Ngobrol Buku ini dilaksanakan secara rutin seminggu sekali setiap Jumat malam, pukul 20.00 - 21.00 WIB. 

Diskusi rutin ngobrol buku secara khusus membicarakan karya-karya sastra dari penulis  Indonesia (bercerita tentang Indonesia) yang menghadirkan narasumber dari berbagai  latar belakang pekerjaan dan profesi, terutama anak-anak muda. Sejak dimulai pertama sekali pada 20 Mei 2020, Ngobrol Buku sudah mengajak narasumber dengan latar belakang profesi sebagai dosen, guru, perawat, fotografer, travel vlogger, penulis, penggiat literasi, pegawai BUMN, Aparatur Sipil Negara, editor, hingga penulis karya sastra yang karyanya menjadi pembahasan. Narasumber ini juga berasal dari berbagai kota di Sumatera Utara dan bebagai provinsi di Indonesia (seperti NAD, Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, Papua, dll).

Ngobrol Buku juga sudah bekerja sama dengan berbagai komunitas sastra maupun literasi lainnya di Indonesia, termasuk bekerja sama dengan penerbitan seperti Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Pustaka Obor Indonesia, Obelia Publisher, Indonesia Tera, dan Penerbit Banana. Hingga kini Ngobrol Buku sudah membicarakan lebih dari 230 karya sastra, 240 kali pertemuan (28 kali diskusi luring -dilakukan sebulan sekali pasca pandemi-, 13 kali diskusi daring gmeet/zoom, sisanya melalui diskusi melalui siaran langsung/ live di instagram).  Seperti: Bukan Pasar Malam (Pramoedya Ananta Toer), Laut Bercerita (Leila S. Chudori), 86 (Okky Madasari), Berpacu Nasib di Kebun Karet (M.H. Szekely Lullofs), Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan), Rara Mendut (Y.B. Mangunwijaya), Orang-Orang Oetimu (Felix K. Nesi, Tidak Ada New York Hari Ini (Aan Mansur), Siti Nurbaya (Marah Rusli), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (Eka Kurniawan), Tempat Paling Sunyi (Arafat Nur), Senja dan Cinta yang Berdarah (Seno Gumira Ajidarma), Elegi Titi Gantung (Sartika Sari), untuk menyebut beberapa di antaranya.

Bagaimana Anda menjaga konsistensi dalam membuat konten dan acara ngobrol buku secara teratur?

Untuk Ngobrol Buku saya menanamkan prinsip, tidak boleh bolong karena sekali bolong itu akan keterusan. Sampai sekarang tidak pernah bolong, kami hanya akan libur saat libur hari besar keagamaan. Di Ngobrol Buku kami membagi jadwal bertugas dan membuat jadwal bulanan, terkadang dua bulanan. Kami juga mengkomunikasikan semisal ada kendala agar ada yang bisa langsung menggantikan/mengisi jadwal tugas tersebut. Kerjasama dan kekompakan tim tetap harus dijaga, tim NB sudah menjadi keluarga kecil bagi kami. Untuk konten lainnya meskipun tidak menetapkan target tapi saya menanamkan ke diri saya untuk membaca buku minimal 5 buku sebulan dan membagikan catatan singkat pengalaman membaca itu. Saya mengupayakan membangun disiplin seperti itu. Untuk akun pribadi @bukueka ini tujuan utamanya memang mendokumentasikan pengalaman membaca yang nanti sekali waktu bisa saya intip-intip kembali (jika perlu atau ingin mengingatkan kembali isi dari sebuah buku yang sudah saya baca).

 profesi-content-creator-ngobrol-buku-eka-dalanta-tahun-2024-800x600

Bagaimana Anda berinteraksi dengan audiens Anda? Dan seberapa besar peran interaksi untuk membangun engagement dengan audiens?

Karena memang berangkat dari hobi, saya memang tidak terlalu fokus memikirkan respon pembaca, yang paling penting adalah terus membagikan dan "mempengaruhi', meski dalam perjalanan tentu ada banyak interaksi. Dukungan/kiriman buku dari penerbit, audiens yang mengirimkan pesan ketertarikan pada buku yang saya ulas, atau bertanya seputar buku yang saya ulas. Interaksi ini tentu berperan besar untuk membangun engagement atau keterhubungan dengan audiens.

Bagaimana Anda memilih genre buku yang ingin Anda ulas?

Saya tidak punya cara khusus atau metode khusus. Saya hanya mengulas buku-buku yang saya pilih untuk saya baca, sesuai minat saat ingin membaca buku. Entah saya akhirnya suka atau merasa biasa saja setelah selesai membaca buku tersebut. Saya membaca berbagai buku dari berbagai genre (namun utama tetap sastra). Saya percaya semua buku dikerjakan dengan banyak kerja keras dan karena itu patut diapresiasi. Meskipun saya, secara pribadi mungkin tidak membaca buku tertentu karena ketetarikan atau minat saya tidak cocok dengan jenis buku itu.

Apa tantangan terbesar dalam berinteraksi dengan komunitas pembaca buku?

Membaca itu bukan sekadar kegiatan sambil lalu. Ketetarikan setiap orang pada buku juga berbeda-beda. Buku yang mana yang disukai juga berbeda-beda. Jika mengikutkan semua ini, pasti akan kesulitan mengikutinya. Jadi kami di Ngobrol Buku, dan yang juga saya lakukan adalah memilih buku yang kami sukai lalu membagikan pengalaman membaca kami, moga-moga mendorong orang lain untuk ingin tahu, ikut membaca, bahkan mungkin juga menyukainya. Apalagi Ngobrol Buku memilih secara spesifik membicarakan sastra Indonesia, yang mungkin dianggap sebagian pembaca terlalu berat. Kami getol membicarakannya dan melibatkan berbagai narasumber (secara teratur dan konsisten), sehingga terasa sangat antusias. Antusias membuat sesuatu menjadi menarik. Kami ingin antusiasme kami itu yang menular kepada pembaca (komunitas pembaca lainnya) lalu mencoba berkenalan dengan buku-buku yang kami rekomendasikan.

Menurut Anda, apa tren terbaru dalam dunia content creator buku?

Sebenarnya saya tidak terlalu ikuti perkembangan itu ya, tapi sepengamatan saya ketertarikan pada buku-buku fiksi kriminal, detektif, horor, dan thriller semakin besar (dari dulu juga sudah banyak pembacanya memang). Begitupun buku-buku pengembangan diri dan self help. Para content creator buku juga banyak membicarakan buku-buku ini. Para Content Creator buku juga makin kreatif dan memanfaatkan semua platform yang ada. Ulasan buku di tiktok juga semakin ramai. Dan itu bagus, bukan hanya untuk mewarnai, tapi benar-benar "menyusup", menebarkan pengaruh asyiknya membaca.

Dengan semakin berkembangnya digitalisasi dan maraknya konten-konten mengenai buku di media sosial, apakah menurut Anda ini bisa menarik minat baca khalayak umum?

Bisa. Sangat bisa. Lewat ulasan-ulasan yang terus-menerus, antusiasme yang terus-menerus, antusiasme itu akan menular kepada khalayak umum. Apa yang dilakukan oleh para content creator buku ini adalah membiasakan dan membuat audiensnya terpapar. Mereka menjadi terbiasa mendengarkan tentang buku hingga akhirnya, pasti ada yang tertarik membacanya. Di akun pribadi saya maupun Ngobrol Buku, tak sekali dua yang memberi respon menjadi tertarik membaca buku tertentu yang sudah diulas. Meskipun tidak langsung dalam skala besar sebab seperti halnya kerja-kerja kebudayaan lain, meningkatkan minat baca adalah sebuah kerja panjang. Yang perlu dilakukan adalah membangun kebiasaan baik, dan itu harus dilakukan terus-menerus. Digitaliasi memungkinkan itu. Upaya mempengaruhi itu menjadi tidak terbatas ruang.

Komunitas yang berkegiatan membaca buku juga semakin banyak. Membaca buku jadi kegiatan yang masuk ke ruang publik dan dianggap penting untuk aktualisasi diri. Ini bisa menjadi langkah yang bagus untuk menyebarkan semangat baca. Semakin banyak yang merasa "wah membaca buku itu keren." "wah membaca buku bikin tampak pintar". Ini sebuah pintu masuk yang musti dimanfaatkan. Sayang beberapa masih gerakan musiman (seperti halnya tren) yang perlahan memudar ketika masa tren itu berlalu. Gemilang dan ramai di awal tapi kemudian hilang sama sekali. Ini yang menjadi tantangan.

Tahun lalu Anda juga dikukuhkan sebagai Duta Baca Kabupaten Karo periode 2023 - 2027, boleh di-share seperti apa pengalaman menjadi duta baca dan bagaimana upaya yang dilakukan saat ini membantu meningkatkan minat baca masyarakat Karo?

Iya, saya dilantik akhir tahun lalu. Masih belum banyak dilakukan. Masih banyak PR. Sejauh ini yang sudah dilakukan adalah melakukan sosialisasi minat baca di beberapa kegiatan, sosialisasi minat baca ke beberapa sekolah, dan mendorong para pelajar untuk membentuk klub baca. Sinergi dilakukan bersama-sama dengan Disperpusip Kabupaten Karo (dinas yang menaungi dan menginisiasi perlunya Duta Baca di Kabupaten Karo).

Balik lagi ngomongin soal digitalisasi, menurut Anda selaku content creator, seperti apa peluang berkarier para content creator beberapa tahun ke depan, apakah semakin sulit karena persaingan yang meningkat--mengingat semua orang bisa menjadi content creator--atau seperti apa?

 Seperti halnya teknologi, para content creator juga terus berkembang dan mengikuti perkembangan yang terjadi. Meskipun semua orang bisa menjadi content creator (seperti halnya juga banyak pekerjaan lain), menjadi content creator memerlukan kesungguh-sungguhan. Itulah yang membuat pekerjaan ini tetap memberi peluang bagi yang sungguh-sungguh menekuninya dan mengambil manfaat dari apa yang sudah dibangun di sana.

profesi-content-creator-eka-dalanta-di-acara-diskusi-buku-tahun-2024-800x600

Punya tips bagaimana membuat konten yang menarik, terutama soal perbukuan di media sosial?

Penting membaca buku sampai tuntas agar bisa membagikan pengalaman membaca yang personal. Ini akan membuat ulasan Anda menjadi khas dan secara alami menjangkau audiens. Jika ingin serius menjadi content creator, perlu membuat variasi konten (baik dari segi tema maupun kemasan). Lakukan terus-menerus secara konsisten sehingga itu melekat dengan diri kita.

Sebenarnya apa sih passion terbesar Anda, dan apakah saat ini Anda sudah berada di jalur meniti passion? Mengingat Anda dulu pernah bekerja di bidang film dokumenter dan media lifestyle?

 Sampai sekarang saya masih menulis juga untuk film dokumenter dan beberapa pekerjaan menulis lainnya sebagai sumber nafkah. :p  Membaca buku dan membicarakan sastra bisa dibilang kegemaran saya, semacam hobi yang ingin terus saya lakukan dengan bersenang-senang. Dan tentu saja ada manfaat-manfaat turunan (seperti personal branding dan kepercayaan publik terhadap kapasitas diri) yang kemudian mengikuti.

Punya opini mengenai badai layoff yang melanda Indonesia semenjak pandemi COVID-19 dan bagaimana tips bertahan dan produktif dengan memanfaatkan digitalisasi?

 Pasca pandemi, situasi ekonomi dunia memang terus memburuk dan masih dalam posisi upaya bertahan. Setiap perusahaan juga sedang melakukan hal yang sama. Berusaha bertahan. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari layoff, rekrutmen tenaga magang atau tenaga baru yang dilakukan berulang-ulang demi penghematan cost (yang tak sekali dua justru memberi resiko kehilangan dana lebih besar karena tenaga baru yang belum ahli ini). Tapi namanya juga usaha, usaha bertahan yang terkadang benar, terkadang justru salah. Ya kan? Hehehe Seperti perusahaan-perusahaan itu, setiap tenaga kerja juga berusaha bertahan. Dengan digitalisasi, kita bisa manfaatkan interest dan kapasitas yang kita punya untuk tetap produktif melakukan apa yang kita suka. Jika dilakukan dengan terus-menerus dan konsisten itu akan membentuk personal branding, yang muaranya nanti bisa menjadi tambahan (bahkan sumber utama) pemasukan.

Penutup nih,  buku apa yang paling sering Anda rekomendasikan kepada pembaca pemula? 

Ini pertanyaan yang saya selalu sulit menjawabnya, sebab ketertarikan tiap-tiap orang berbeda. Saya selalu bilang, cari dan temukan buku yang kamu sukai, apapun itu. Mau itu buku cerita anak, komik, buku profil tokoh, sastra, fantasi, pengembangan diri, atau apapun itu. Mulailah dari sana sampai kemudian itu tidak lagi cukup sehingga kau akan mencari buku-buku yang lainnya.