Dwi Adi Ningsih : Pentingnya Kombinasi Skill dan Networking Menghadapi Iklim Dunia Kerja Pasca COVID-19

COVID-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan kita, termasuk perputaran roda ekonomi dan pada akhirnya berdampak pada karier dan peluang kerja. Dwi Adi Ningsih adalah salah satu profesional muda yang ketika kuliah harus menjalani pembelajaran online. Sempat merasakan susahnya mencari kerja, sampai akhirnya lulusan sarjana Ilmu Komunikasi dengan fokus Public Relations ini merasakan manfaat magang sebagai persiapan menuju chapter baru kehidupannya; dunia kerja. Seperti apa perjalanan karier Marketing Communications Officer di salah satu start-up fintech P2P lending, Lahan Sikam ini? Bagaimana ia memaknai dunia kerja masa kini dan profesinya? Yuk, baca obrolan inspiratif Dwi bersama Loker.ID di sini!
Boleh diceritakan apa yang membuat Anda tertarik bekerja di bidang marcom?
Awalnya, aku sudah mengetahui kalau profesi Marcomm itu relevan dengan apa yang aku pelajari waktu kuliah. Dan kebetulan Ini juga jadi full-time job pertamaku setelah lulus, jadi begitu mendapat kesempatan ini, aku juga super excited karena sangat pas sama yang aku minati. Dari yang aku amati juga banyak banget di luar sana yang memang switch career atau bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan mereka, dan aku merasa beruntung bisa langsung menerapkan ilmu yang aku pelajari di dunia kerja. Aku juga punya interest yang besar di bidang kreatif seperti komunikasi dan media. Menurutku, menjadi Marcomm bisa menjadi salah satu opsi yang menarik buat eksplorasi semua minat itu dengan baik.
Boleh diceritakan, bagaimana industri tempat Anda bekerja dan dinamika bekerja sebagai marcom di industri tersebut?
Mungkin banyak dari kita yang udah cukup akrab dalam hal penggunaan teknologi buat berkegiatan, termasuk dalam finansialkita. Contohnya penggunaan digital payment system atau e-wallet dalam bertransaksi. Tapi, industri tempatku bekerja cukup jarang diketahui oleh orang awam yang gak berkecimpung langsung. Aku bekerja di industri fintech (financial technology), khususnya fintech P2P lending. Kami adalah platform pendanaan berizin OJK yang mempertemukan antara lender dan borrower untuk kemudian melakukan transaksi pemodalan khususnya untuk UMKM, petani, ataupun badan hukum.
Pada awalnya, memahami industri ini cukup sulit buatku, apalagi fintech P2P lending ini adalah konsep yang relatif baru bagi kebanyakan orang. Ini juga menjadi salah satu tantangan terutama di pasar yang kurang teredukasi layanan keuangan digital. Marcomm juga harus paham ini, dan menjadikan edukasi pasar sebagai hal yang cukup punya urgensi. Industri ini juga diatur ketat oleh hukum dan regulasi. Marcomm juga perlu memastikan bahwa semua campaign dan materi pemasaran mematuhi aturan yang ada. Ini cukup challenging buatku pribadi. Untungnya aku juga dapat bimbingan dan arahan langsung dari atasanku dan dengan modal enjoy aku akhirnya pelan-pelan bisa mempelajari semua ini.
Sejauh ini pengalaman menarik apa yang pernah Anda alami sebagai marcom?
Karena aku masih baru berada di profesi ini, mungkin aku belum begitu mengalami hal-hal besar. Sejauh ini, yang jadi highlight-nya adalah proses kreatif itu sendiri. Cari ide konten, eksekusi, dan evaluasi. Eksplorasi dan kolaborasi juga sama menariknya. Aku sempat ikut andil dalam perancangan dan eksekusi beberapa event edukasi baik di dalam dan di luar kota, dan itu cukup menarik. Kami mencoba menggunakan segala sumber daya yang ada untuk bisa menjangkau audiens selain dari media sosial. Sekarang, kita gak bisa mengandalkan sisi offline ataupun online aja, tapi harus mengkolaborasikan keduanya.
Apa tantangan bekerja sebagai marcom dan bagaimana kiat Anda menghadapinya?
Menurutku, tantangan seorang Marcomm sejauh ini terletak pada edukasi masyarakat itu sendiri. Sampai saat ini, aku jujur masih belajar untuk bisa membuat “rumus” yang tepat supaya awareness tentang industri ini bisa menyentuh masyarakat kelas menengah ke bawah dengan narasi yang tepat dan benar. Kami mencoba melakukan edukasi hingga sosialisasi ke berbagai kota untuk terjun langsung dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Selain karena memang tuntutan pekerjaan, tentu aja hal ini kami lakukan sebagai usaha kami demi menciptakan pasar yang lebih teredukasi terutama pada industri ini.
Bagaimana Anda memandang profesi sebagai marcom secara keseluruhan dan bagaimana perkembangan teknologi saat ini memengaruhi dinamika profesi ini?
Secara keseluruhan, menjadi Marcomm berarti kita harus bersedia punya tanggung jawab untuk mengelola banyak hal yang bertujuan buat menyampaikan pesan perusahaan ke target audiensnya. Dari mulai bikin strategi komunikasi, branding, nge-manage campaign, nge-create content yang bisa dilihat di layar kita masing-masing, hingga akhirnya menghasilkan conversion. Nah, dari situ kita bisa tarik nih kalo itu semua sangat amat terbantu jika ada teknologi. Ibarat teknologi itu sahabat para pekerja creative salah satunya profesi Marcomm. Penggunaan berbagai platform seperti media sosial itu sangat penting di Marcomm. Apalagi dengan perkembangan teknologi dan medsos, otomatis aku juga harus always stay in the loop supaya bisa selalu update informasi dan tren yang sangat dinamis.
Sebelum berprofesi sebagai marcom, Anda pernah bekerja lintas profesi, mulai dari Public Relations, Graphic Designer, Social Media Specialist, Radio Announcer, apa yang membuat Anda tertarik bekerja di lintas profesi ini dan bagaimana varian pekerjaan ini memengaruhi perkembangan karier Anda?
Menjadi Marcomm justru tidak lintas profesi sama sekali. Ini adalah kesempatan buatku untuk menggabungkan skills dan pengalaman itu. Semua itu pada intinya berguna dan memberikan aku perspektif yang luas terkait bagaimana “berkomunikasi” khususnya pada ranah-ranah digital. Kalo aku boleh beranalogi, sebenarnya sedikit pengalaman aku di atas itu ibarat titik-titik dan mengelaborasikan semuanyalah yang menjadikan titik itu sebuah garis, syukur-syukur kedepannya berharap untuk jadi gambar yang jelas. Dengan kata lain, itu semua sangat mendukung peranku sebagai Marcomm sekarang.
Aku melihat bahwa strategi komunikasi dari berbagai sudut pandang dan menggabungkan elemen terbaik dari setiap bidang itu tuh ngebantu aku dalam nge-create komunikasi yang efektif sambil ngulik dan belajar lagi, terus-menerus. Sedikit pengalaman dari hal di atas gak cuma memperkaya insight yang aku punya, tapi juga memberikan fondasi yang kuat buat adaptasi dan berkembang di era sekarang.
Apakah Anda punya pandangan sendiri mengenai magang ataupun internship? Dan bagaimana magang dapat berpengaruh terhadap karier seseorang?
Aku cukup percaya kalau pengalaman itu memang modal utama kita buat bangun karier di dunia kerja. Sepengalaman aku, memang banyak dari job opportunity yang butuh skills dan pengalaman kerja, sadly, bahkan beberapa diantaranya malah mencantumkan tahun bekerja yang relatif lama untuk seorang fresh graduate. Nah, sebetulnya untuk menjawab tantangan itu kita bisa akali dengan ikut banyak magang waktu kuliah, baik secara offline maupun online. di maganglah kita belajar dan langsung dapat pengalaman praktis dan bisa memperkaya skill yang dimiliki. Dari dulu aku memang punya rencana kalau kuliah, aku gak mau cuma kuliahnya aja tapi juga ikut banyak kegiatan mulai organisasi, part-time, sampai magang/internship. Sewaktu kuliah juga banyak ketemu orang dan ngobrol plus melihat langsung bahwa memang yang dibutuhkan industri sekarang bukan cuma pemahaman teoritis tapi juga pengalaman praktis yang gak bisa didapetin cuma dari buku atau dosen.
Menurutku, ada 3 hal yang cukup beneficial dan berpengaruh dari magang ke karier, yaitu aku bisa dapat pengalaman langsung, aku bisa bangun networking, dan aku bisa cantumin skills dan pengalaman yang aku dapat untuk memperkuat CV dan portfolio. Ikut magang memang gak menjamin seseorang bisa langsung otomatis punya career path yang mulus, tapi ini jadi tiket yang sangat penting di tengah persaingan kerja yang ketat. At least, recruiter akan lebih tertarik untuk menggali pengalaman itu hingga kita bisa dipanggil interview.
Ada yang berpendapat job seeker Indonesia pasca pandemi mengalami kesulitan dalam mencari kerja. Punya pandangan mengenai hal ini?
Aku banyak baca soal issue ini karena memang sudah dibahas oleh beberapa media terkait banyaknya pengangguran, yang utamanya memang didominasi oleh anak muda. Waktu itu baca juga di Narasi angkanya cukup besar yaitu hampir 10 juta Gen Z itu nganggur dan hopeless buat cari kerjaan, ini cukup concerning.
Kalau aku pribadi, saat pandemi Covid waktu itu aku kebetulan baru aja menginjak di semester 2 dan baru di awal semester 6 aku bisa masuk kuliah secara offline. Jadi, ada banyak hal yang aku lewatkan selama itu, untungnya aku joined organisasi sambil nunggu perkuliahan luring. Mungkin ini juga jadi salah satu faktor kenapa banyak mahasiswa waktu pandemi melewatkan banyak kesempatan untuk mendapat pengalaman. Apalagi ditambah waktu pandemi kan memang hampir semua industri selain teknologi itu collapse dan akhirnya PHK massal.
Kenyataan bahwa job seeker kesulitan mencari kerja juga aku alami. Apply kerja sana dan sini, hopeless, lalu nyoba lagi. Aku juga paham mungkin perusahaan sekarang lebih selektif untuk memilih kandidat. Tantangan job seeker Indonesia pasca pandemi itu memang nyata dan juga cukup berat. Hal yang aku bisa sharing itu mungkin kita juga harus pinter-pinter buat memadukan semuanya–mulai dari pengetahuan, pengalaman, skill, dan juga networking. Apalagi juga sejak pandemi, aku pribadi ngerasain kalau orang itu jauh lebih native menggunakan teknologi digital. Kita bisa manfaatin teknologi untuk selalu update informasi lewat banyak platform dan jangan lupa juga untuk upgrade skill sambil menunggu proses pencarian kerja kita.
Apa makna bekerja buat Anda?
Pertanyaan ini sebenarnya cukup simpel tapi bikin aku mikir, hahahha. Dulu, aku melihat bahwa bekerja itu cuma rutinitas membosankan untuk cari uang. Mungkin itu ada benarnya, tapi kalau dilihat lagi ternyata bekerja itu kayak chapter baru setelah dunia kampus buat kita belajar. Lingkungannya beda, kurikulumnya beda, karena levelnya juga berbeda. Ini step yang mungkin akan sulit dilewati apalagi tanpa pengalaman kerja sama sekali. Di dunia kerja, kita gak cuma kenal dan akrab dengan yang seumuran atau yang satu generasi aja.
Adaptasi di dunia kerja juga penting banget, kita harus belajar melihat banyak perspektif dan memahami kepribadian orang dengan latar belakang dan umur yang berbeda. Untungnya, lingkungan kerjaku cukup suportif, aku banyak belajar dan dapat arahan yang mendukung terkait dunia kerja. Ini adalah chapter yang baru dan aku juga gak sabar untuk bisa ekplorasi hal hal lainnya. Bekerja buatku bukan cuma tentang berangkat, pulang, dan menunggu tanggal gajian, tapi juga terkait pertumbuhan aku pribadi untuk menjadi seorang profesional.