Cerita VOT Ferdinand Louis: Asah Skill, Kembangkan Bakat, Membuka Peluang Baru

Berawal dari kebutuhan menjual produk digital yang kerap membutuhkan narasi suara, Ferdinand Louis akhirnya menjajal profesi sebagai voice over talent. Punya pengalaman di bidang tarik suara membuat Ferdinand cukup mulus memasuki industri voice over talent. Sampai akhirnya ia menyadari, untuk menyeriusi profesi ini ia harus benar-benar menguasai artikulasi suara, tone, aksen, karakter, serta delivery pesan. "Voice over tidak sama dengan menyanyi," demikian penjelasan Ferdinand.
Menurutnya lagi, pasar voice over talent cukup berkembang saat ini. Terutama dengan semakin pesatnya market digital. Menariknya lagi, keberadaan AI sebagai teknologi yang bisa meniru manusia kalau menurut Ferdinand belum bisa menggantikan penjiwaan emosi yang sangat manusiawi dari manusia itu sendiri. "Masih banyak diksi-diksi non formal dan frase-frase yang tidak bisa digantikan AI," tambahnya.
Yuk, kita simak perjalanan Ferdinand menemukan skill baru serta tantangan dan asyiknya menjadi VOT!
Apa yang mendorong Anda untuk beralih dari bidang digital marketing, produk digital, dan motion graphic menjadi voice over talent?
Sebenarnya kalau dibilang beralih, tidak 100% beralih. Tapi lebih tepatnya menambahkan skill baru sebagai pendukung bidang yang sudah ada dan dijalankan. Karena bidang digital seperti marketing, produk digital dan motion graphic seringkali membutuhkan isian suara seperti narasi sebagai pendukung iklan.
Bagaimana Anda pertama kali menemukan minat dan bakat di bidang voice over?
Saya menyukai seni musik dan menjadi musisi yang juga menyukai bidang audio recording. Awalnya hanya mencoba aja, iseng mengisi suara pada sebuah iklan sosmed pesanan klien, tapi ternyata dibilang bagus. Mungkin karena suara asli saya terbentuk dari bertahun-tahun menjadi penyanyi panggung, suara yang saya hasilkan ternyata memuaskan klien.
Apa yang menjadi tantangan terbesar saat memulai karir sebagai voice over talent, terutama dengan latar belakang yang berbeda?
Karena awalnya masih asal-asalan dan belum tahu kalau ternyata jadi seorang VOT itu juga enggak asal bicara di depan mik tapi juga butuh teknik, sempat menyulitkan saya ketika ada beberapa klien yang minta revisi karena artikulasi dan tone yang kurang tepat. Saya awalnya berpikir VO sama saja dengan bernyanyi, tapi ternyata ada perbedaan mendasar di delivery.
Bagaimana Anda membangun jaringan dan mendapatkan klien, terutama dari luar negeri?
Saya banyak mengandalkan media sosial, internet dan komunitas untuk membangun jaringan dan mendapatkan klien. Untuk klien luar negeri kebanyakan saya dapat dari website marketplace freelancer, personal branding dan portfolio memainkan peranan penting disini untuk meyakinkan klien kalau mereka bisa mendapatkan jasa VOT yang baik dari saya.
Strategi apa yang Anda gunakan untuk memasarkan layanan voice over Anda?
Personal branding dalam bentuk mini website, audiopost dan sosial media. Menawarkan jasa layanan juga lewat portal portal marketplace freelancer seperti Upwork, Fiverr, Voices dan lain lain.
Apa yang menurut Anda menjadi kunci keberhasilan Anda dalam bidang voice over?
Apa ya? Hehehe..sepertinya komitmen. Karena kebanykan VOT semangat di awal-awal, tapi ketika ditolak klien, dapat klien yang maunya banyak dan rewel seringkali jadi malas mengembangkan kemampuan dan jasanya lalu komitmennya menjadi kurang dan akhirnya mundur perlahan.
Bagaimana Anda mengelola waktu dan energi untuk menjalankan beberapa peran sekaligus (digital marketer, produk digital, motion graphic, dan voice over)?
Pandai-pandai saja membagi waktu dan memilah prioritas. Karena meskipun misalnya proyek masuk bersamaan pasti ada jeda waktu pengerjaan. Gunakan agenda pekerjaan, jadinya pekerjaan bisa tertata.
Apakah ada keterampilan dari bidang sebelumnya yang sangat membantu Anda dalam menjadi voice over talent?
Ada. Kesukaan saya di bidang musik dan seni suara jelas sangat membantu saya untuk mempelajari teknik teknik VOT. Dengan background tersebut saya tidak perlu mempelajari semuanya dari nol terutama di teknik mik dan power suara.

Bagaimana Anda melihat permintaan pasar untuk voice over talent, terutama di Indonesia?
Masih cukup tinggi dan diperlukan. Di Indonesia sendiri orang masih cenderung membutuhkan jasa VOT untuk menyampaikan emosi lewat suara dan ada banyak sekali gimmick yang hanya bisa dilakukan oleh VOT, terutama jika sudah berurusan dengan aksen dan karakter tertentu.
Apa saja jenis proyek voice over yang paling sering Anda kerjakan?
Kebanyakan adalah iklan sosmed dan narasi untuk Youtube.
Apakah ada tren terbaru dalam industri voice over yang perlu diperhatikan?
Saya melihat perubahan tren lebih mengarah ke kebutuhan pasar luar negeri. Ada banyak proyek iklan, dubbing dan narasi yang membutuhkan bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jepang dan lain lain.
Bagaimana Anda melihat persaingan di industri voice over?
Belakangan ini semakin kompetitif karena banyak orang yang sudah mulai melihat celah pasar untuk VOT, tapi pasarnya sendiri masih terbuka lebar terutama untuk VOT bahasa asing.
Menurut Anda, apa saja kriteria yang harus dimiliki oleh seorang voice over talent yang berkualitas?
Punya teknik yang sudah cukup baik. Artikulasi, jangkauan suara dan tone harus dikuasai dulu sebelum memutuskan menjual jasa VO. Juga harus bisa mengenali diri sendiri dengan baik. Kenali dulu jenis tipe suara dan sampai mana rentang suara yang bisa dilakukan
Bagaimana cara menjaga kualitas suara dan performa dalam jangka panjang?
Sebenarnya tidak terlalu sulit menjaga kualitas dan performa suara. Banyak minum air putih bersuhu normal, olahraga dan istirahat yang cukup sudah bisa menjaga kualitas suara tetap baik. Makanan berminyak dan pedas juga boleh saja selama ada batasan yang dijaga.
Apakah ada standar tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang voice over talent, misalnya sertifikasi?
Sertifikasi bisa iya bisa tidak. Kalau main di pasar luar negeri sebaiknya punya sertifikat yang membuktikan kita adalah seorang yang menguasai jasa tersebut.
Tantangan terbesar apa yang Anda hadapi sebagai voice over talent, terutama saat bekerja dengan klien luar negeri? Bagaimana Anda mengatasi perbedaan waktu dan budaya saat bekerja dengan klien internasional?
Sejauh ini masih baik dan belum ada kendala yang besar. Biasanya saya ada pembicaraan di awal mengenai waktu, apakah menggunakan waktu klien atau waktu saya dan apakah memungkinkan jika pekerjaan dilakukan secara fleksibel dalam artian tidak terikat waktu antara kedua belah pihak tapi tetap dalam batasan dateline proyek? Kendala kecil mungkin di komunikasi dua arah karena perbedaan waktu regional. Budaya untuk saat ini saya belum menemui kendala karena komunikasi masih bisa dilakukan dalam bahasa yang di pahami kedua belah pihak.

Bagaimana Anda menjaga konsistensi kualitas suara dalam berbagai proyek?
Harus paham dulu role atau peranan yang diminta klien, klien minta suara yang seperti bagaimana untuk skripnya. Saya sendiri lebih bermain di zona suara nyaman yang ada di rentang suara saya, di luar rentang saya biasanya saya diskusikan lagi dengan klien soal alternatif suara. Jika memang klien menolak biasanya saya refer ke orang lain yang sesuai. Sebab kalau memaksakan di luar rentang suara kualitas dan konsistensi suara akan beda, terutama untuk proyek proyek narasi panjang.
Peluang apa yang Anda lihat di masa depan untuk industri voice over di Indonesia dan bagaimana teknologi (misalnya AI) akan mempengaruhi industri voice over?
Proyek narasi di Indonesia terutama di bidang UMKM dan pemerintahan masih terbuka lebar untuk VOT masuk di dalamnya. Masih banyak peluang yang belum tergali secara dalam dan berpotensi untuk dijadikan ladang penawaran VOT. Terknologi AI memang merupakan saingan bagi banyak pelaku kerja digital tapi harusnya bukan menjadi ancaman karena masih banyak hal yang tidak bisa dilakukan AI.
Dari sisi VO saja, saat ini ada banyak website penyedia VO berbasis AI yang mengklaim bisa mengganti suara manusia dengan artikulasi dan tone yang bisa dibuat mendekati rentang suara manusia tapi teknologi itu masih sangat mahal jika dibanding menggunakan suara asli manusia. Lagipula belum ada AI yang benar benar menggantikan delivery emosi, mimik dan penjiwaan karakter manusia. Masih banyak diksi-diksi non formal dan frase-frase yang tidak bisa digantikan AI.
Apa saran Anda bagi orang yang ingin memulai karir sebagai voice over talent?
Mulai saja, jangan terlalu kebanyakan dipikir. Langkah awalnya harus belajar dari mereka yang sudah lebih dulu ada di dunia VO, mendaftarkan diri di kelas kelas VO baik online maupun offline dan harus mau berkomunitas dengan sesama VOT. Semakin besar komunitas yang dimiliki, semakin terbuka lebar peluang untuk berkarier di dunia VO.
Pekerjaan digital seperti VO itu unik karena bisa merangkul orang yang introvert sekalipun yang penting punya niatan kuat untuk berkomitmen dan memiliki mental kuat untuk berkomunikasi dengan orang lain terutama klien. Saya rasa bahasa seharusnya sudah tidak menjadi penghalang karena terknologi kamus seperti Google Translate sudah cukup membantu.
Pengalaman seru voice over talent lainnya bisa Anda temukan di artikel Dodo Harahap: Menjadi Voice Over Talent Bukan Hanya Modal Suara Bagus.