Annisa Octavi Sheren: "Pengetahuan Itu Privilese yang Harus Diteruskan ke Orang Lain"

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 18 Desember 2024
Rubrik Profil

aktivis-perempuan-sheren-tahun-2024

Keresahan berkepanjangan yang dialami sejak remaja dan mahasiswi, membuat Annisa Octavi Sheren atau biasa dipanggil Sheren ini bergabung dengan organisasi Perempuan Hari Ini (PHI). Belum lama ini Sheren didaulat sebagai Ketua BPH (Badan Pengurus Harian) PHI 2024 - 2027. Selain beraktivitas di PHI, Sheren juga bekerja di Ombudsman di bagian staf sekretariat.

Satu hal yang menarik dari pernyataan Sheren adalah bagaimana pengetahuan merupakan sebuah privilese yang semestinya harus diteruskan ke orang-orang lain. Seperti apa aktivitas feminisme Sheren dan bagaimana tanggapannya terkait isu feminisme dan humanisme yang berkembang saat ini? Yuk, baca obrolannya dengan Loker ID, di sini!

Kapan pertama kali Anda mulai tertarik pada isu perempuan dan kemanusiaan? Apakah ada peristiwa atau pengalaman pribadi yang sangat memengaruhi?

Kalau tertariknya sudah sejak lama ya. Bisa dibilang sejak remaja menuju dewasa selalu ada fase munculnya keresahan serta pengalaman buruk sebagai perempuan yang tumbuh di lingkungan yang masih menjunjung patriarki. Lalu, ketertarikan itu mulai tersalurkan saat mulai menjadi mahasiswa. Akses pengetahuan, diskusi dengan banyak orang, serta kesempatan belajar isu kesetaraan gender secara lebih mendalam itu turut membentuk kesadaran saya bahwa ternyata persoalan gender ini lebih kompleks dari yang saya kira.

Kemudian apa yang menjadi motivasi utama untuk terjun ke dunia aktivisme?

Kesadaran akan pentingnya isu ini memunculkan keinginan melakukan sesuatu yang bermakna untuk perubahan di masyarakat kita. Saya meyakini, peran sesederhana apapun pasti ada dampaknya. Dampak yang besar bisa kita hasilkan dengan berkumpul dan melakukan kerja-kerja bersama untuk menyuarakan tuntutan kita.

Selain itu, saya merasa pengetahuan yang kita dapatkan merupakan privilese yang harus kita teruskan kepada orang lain dengan cara atau media yang kita pilih, serta kemampuan yang kita miliki.

Menurut Anda, apa isu paling mendesak yang dihadapi perempuan saat ini, baik di tingkat nasional maupun global?

Salah satu yang sangat mendesak adalah persoalan kekerasan berbasis gender (KBG) yang terus menghantui semua perempuan dan anak perempuan di Indonesia. Kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam pacaran, kekerasan berbasis gender online, kekerasan dalam hal ekonomi dan psikososial, serta segala bentuk kekerasan lainnya. Tak hanya itu, femisida yang beruntun menelan korban pun harus menjadi perhatian kita bersama.

Isu ini mendesak karena kekerasan yang dialami perempuan itu sangat berdampak buruk pada kualitas hidupnya secara fisik, mental, fungsi reproduksi hingga hilangnya nyawa perempuan. Selain itu, di Indonesia, persoalan KBG masih dianggap sepele oleh sebagian masyarakat, pemerintah dan penegak hukum. Kita lihat sendiri deh fenomena "no viral, no justice" lalu budaya victim blaming, serta stigma

dan pembatasan ruang bagi perempuan untuk menyuarakan perlawanan terhadap kekerasan.

Secara global, isu yang menjadi perhatian adalah perubahan iklim yang nyatanya sangat berdampak bagi perempuan. Selain itu, kemiskinan perempuan juga sangat penting karena kerentanan terhadap kekerasan, minimnya akses secara ekonomi serta diskriminasi yang dialami perempuan itu menjadi jurang kemiskinan bagi perempuan. Serta, isu penyerangan di Palestina harusnya membuka mata kita tentang persoalan perempuan di wilayah dengan situasi konflik bersenjata. Perempuan menjadi korban dengan penderitaan berlapis, dimana perempuan menjadi korban pemerkosaan, praktik perdagangan orang, serta tidak terpenuhinya hak-hak dasar sebagai perempuan.

pengalaman-sheren-sebagai-aktivis-tahun-2024

Bagaimana pandangan Anda tentang perkembangan isu feminisme di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir?

Perkembangan isu feminisme di Indonesia sendiri tampaknya semakin positif dari tahun ke tahun. Mulai banyak inisiasi dari anak muda untuk menghadirkan ruang aman dan nyaman bagi perempuan. Lalu juga pemahaman akan isu ini juga semakin meluas. Selain itu, kesadaran akan pentingnya isu ini juga semakin terbangun.

Hanya saja, perkembangan ini juga diiringi dengan tantangan yang juga kian berkembang seperti misinformasi dan disinformasi dan pandangan yang bias. Selain itu, juga stigma yang dilekatkan pada feminis serta pembatasan ruang gerak bagi kita yang menggiati isu ini.

Tantangan apa yang paling sering dihadapi oleh para aktivis perempuan dalam memperjuangkan hak- hak perempuan?

Menjadi aktivis perempuan atau perempuan pembela HAM banyak sekali menghadapi tantangan. Stigma dan stereotipe selalu dilekatkan pada perempuan yang berani speak up di publik. Lalu kerentanan terhadap berbagai bentuk kekerasan seksual, verbal/ non verbal serta penyerangan pada mental aktivis perempuan dan keluarganya.

Selain itu, kekerasan siber dimana aktivis perempuan rentan difitnah, disebar identitasnya, menjadi korban stalker, dan lainnya. Pelakunya yang bukan hanya dari masyarakat penganut patriarki, tetapi bahkan dari negara melalui para aparatnya. Tantangan lainnya adalah perlindungan yang minim terhadap aktivis perempuan secara kebijakan, penegakan hukum serta psikososial.

Bisa Anda jelaskan secara singkat visi dan misi dari organisasi Perempuan Hari Ini? Apa yang membedakan organisasi Perempuan Hari Ini dengan organisasi perempuan lainnya?

Visi PHI adalah terwujudnya peradaban yang setara dan inklusif melalui ruang partisipatif perempuan berperspektif feminisme. Misi kita yaitu meningkatkan pemahaman mengenai kesetaraan gender, menjadi ruang aman bagi perempuan, membangun sisterhood yang sehat, aktif mengadvokasi perempuan korban kekerasan seksual serta turut mengadvokasi kebijakan terkait isu perempuan.

Istimewanya, PHI berfokus pada menjunjung tinggi nilai-nilai yang krusial, diantaranya kesetaraan dan inklusivitas, nir kekerasan serta memperhatikan interseksionalitas dalam seluruh aktivitasnya. PHI juga menjadi rumah belajar bagi perempuan yang aman, suportif, serta memberikan kemerdekaan untuk berekspresi di dalamnya.

Program kerja apa saja yang akan Anda prioritaskan selama menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus Harian?

Kami bersama saat ini sedang dalam proses menjadikan PHI sebagai organisasi berbentuk Perkumpulan, dalam artian berbadan hukum. Mohon doanya yaa hehe.. Selain itu, rekrutmen terbuka, penguatan kapasitas organisasi dan anggota serta kampanye di media sosial menjadi aktivitas yang akan diprioritaskan.

PHI juga dipercaya YIFoS Indonesia dan AIDSFOND untuk mengelola program Indonesia Healthy City with Pride yang berfokus pada upaya menghapus stigma terhadap ODHIV di Kota Medan.

kegiatan-sheren-sebagai-aktivis-perempuan-tahun-2024

Bagaimana peran media sosial dalam memperjuangkan isu-isu perempuan?

Era masa kini membuat media sosial itu menjadi salah atau alat bagi kita untuk berjuang. Media sosial sangat bermanfaat dalam penyebaran informasi kegiatan dan aktivitas kita, juga menjadi sarana untuk mengedukasi banyak orang karena jangkauannya yang luas dan aksesnya yang terbuka.

Upaya membangun kesadaran publik juga bisa kita lakukan melalui konten yang kita produksi di media sosial, terlebih kita bisa mudah terkoneksi di dalamnya. Adanya media sosial membuat jarak dan waktu bukan lagi hambatan besar dalam berjuang. Energi baik dan support system juga bisa terbangun menggunakan media sosial.

Apa pesan Anda untuk para perempuan muda yang ingin menjadi aktivis?

Pesan saya adalah ingat selalu nilai-nilai dan prinsip yang baik, serta integritas dalam setiap langkah perjuangan kita, karena semua itulah yang akan membuat kita terus bertumbuh, kuat, bertahan dan maju.

cerita-anisa-sebagai-aktivis-feminis-tahun-2024

Bagaimana pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil, dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi perempuan? Dan seperti apa bentuk kerja sama yang bisa dilakukan?

Kolaborasi sangat penting untuk mempermudah dan mempercepat kita sampai pada tujuan kita bersama. Persoalan perempuan yang struktural dan kompleks ini membutuhkan semua pihak mengentaskannya beriringan. Kerja sama ini dibentuk tentunya dengan komitmen, kemudian turun menjadi program atau aktivitas bersama misalnya kolaborasi bersama pemerintah untuk merancang dan mengadvokasi kebijakan atau peraturan yang adil gender, dalam artian semua pihak dilibatkan sejak awal dan seterusnya.

Lalu, kita bisa merancang ruang dialog lintas sektor yang memiliki rencana tindak lanjut. Kita masyarakat sipil, pemerintah dan swasta dapat mengupayakan bersama penyediaan akses layanan kesehatan yang ramah gender, pendidikan yang inklusif dan serta pemberdayaan ekonomi perempuan, semuanya dengan memadukan kewenangan, kekuatan serta sumber daya yang dimiliki masing-masing pihak.

Perspektif feminisme lainnya bisa Anda baca di artikel Ester Lianawati: Dari Serigala Betina sampai Rahim yang Berbicara.