Alda Muhsi: Menghidupkan Ruang Baca dan Semangat Literasi Kota Medan Lewat Kede Buku Obelia

Keberadaan ruang kreatif seperti toko buku di kota besar sangat krusial. Toko buku tidak hanya sekadar tempat berbelanja, namun juga menjadi pusat literasi, inspirasi, dan komunitas. Di tengah gempuran teknologi digital, toko buku berperan sebagai oase bagi pecinta buku untuk menikmati sensasi membaca secara fisik. Selain itu, toko buku seringkali menjadi wadah untuk berbagai kegiatan literasi seperti diskusi buku, bedah buku, dan workshop menulis, yang dapat merangsang minat baca masyarakat serta menjadi tempat bertemunya para penulis dan pembaca.
Semangat inilah yang ingin dibawa oleh Alda Muhsi saat merintis dan menjalankan Kede Buku Obelia . Kecintaan pada sastra dan literasi tidak hanya menumbuhkan semangat untuk menulis, melainkan untuk menghidupkan sastra itu sendiri di dalam sendi-sendi kota tempat ia bernapas dan beraktivitas. Yuk, simak cerita Alda dan gerakannya dalam menyemangati literasi di Kota Medan!
Kapan Anda mulai tertarik pada dunia menulis? Apa yang menginspirasi Anda untuk menulis?
Siapa saja penulis yang menjadi inspirasi bagi karya-karya Anda?
Bagaimana biasanya proses kreatif Anda dalam menulis sebuah karya?
Proses penciptaan karya (dalam hal ini prosa) bisa dengan banyak cara, namun akhir-akhir ini saya senang dengan membuat peta gambar, semacam denah yang menampilkan latar tempat di mana cerita akan berlangsung. Di setiap latar itu akan ada adegan yang dilakukan tokoh untuk mengisi dan menuntaskan cerita. Tentu saja ini perlu riset supaya citraan latar itu bisa semakin hidup dan akurat.

Apakah ada kebiasaan atau ritual khusus yang Anda lakukan sebelum memulai menulis?
Apa tema yang paling sering Anda angkat dalam karya-karya Anda?
Bagaimana Anda mengembangkan gaya menulis yang khas?
Apa yang mendorong Anda untuk mendirikan penerbitan dan toko buku sendiri di Medan? Sudah berapa lama ya dan bagaimana perkembangannya sejauh ini?
Apa visi dan misi yang ingin Anda capai melalui usaha ini?
Visinya bisa memfasilitasi teman-teman penulis khususnya yang ada di Sumut untuk menerbitkan buku-bukunya. Kemudian memperkenalkan atau menyebarluaskan karya teman-teman Sumut ke khalayak yang lebih luas. Misinya ya supaya sastra tetap eksis dan dibaca banyak orang.
Tantangan apa saja yang Anda hadapi saat memulai bisnis ini, terutama di tengah persaingan industri penerbitan yang semakin ketat? Bagaimana Anda mengatasi tantangan-tantangan tersebut?
Tantangannya banyak, saya jabarkan dua saja. Pertama mencari naskah penulis Sumut itu susah, apalagi naskah yang layak jual atau layak terbit. Kedua, setelah naskah ada, ternyata ada yang lebih susah lagi, yaitu mencari pembaca yang mau beli bukunya. Untuk mengatasi dua hal itu rasanya perlu tindakan yang struktural. Karena kami tidak punya kekuatan struktural itu, ya kami nikmati dan santai ajalah ya.
Bagaimana keberadaan penerbitan dan toko buku Anda memberikan kontribusi bagi perkembangan sastra di Medan? Apakah ada perubahan yang Anda rasakan dalam ekosistem sastra lokal sejak Anda memulai usaha ini?
Jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, bagaimana menurut Anda posisi sastra Medan? Adakah perbedaan yang signifikan dalam hal preferensi pembaca, jenis karya yang populer, atau dukungan terhadap penulis?
Soal selera pembaca, umumnya pasti pembaca lebih memilih nama-nama beken, nama-nama penulis terkenal, entah itu memang suka karyanya atau hanya mengikuti tren saja, hal ini mengakibatkan minimnya pengetahuan pembaca terhadap penulis-penulis lokal.

Menurut Anda, bagaimana masa depan sastra Medan?
Apa yang perlu dilakukan untuk mengembangkan sastra Medan agar semakin maju dan dikenal secara luas?
Apa pesan Anda untuk penulis-penulis muda di Medan yang ingin berkarya Saran apa yang dapat Anda berikan agar mereka dapat terus berkarya dan mengembangkan diri?
Carilah rumah yang menerima kita, perbanyak diskusi, baca buku, belajar terus, semangat, jangan pernah menyerah. Jangan harapkan motivasi dari orang lain kalau motivasi dalam diri sendiri tidak pernah ada. Karena apabila kita sudah bulat bertekad, rintangan apa pun pasti bisa dilewati. Tidak ada kegagalan selama kita tidak berhenti.
Cerita inspirasi dari dunia penerbitan lainnya bisa Anda dapatkan lewat artikel Prihandini Nur Rahmah: Pentingnya Memastikan Suara dan Pesan Penulis Tersampaikan dengan Baik.