Alda Muhsi: Menghidupkan Ruang Baca dan Semangat Literasi Kota Medan Lewat Kede Buku Obelia

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 21 Desember 2024
Rubrik Profil

alda-muhsi-pemilik-toko-buku-tahun-2024

Keberadaan ruang kreatif seperti toko buku di kota besar sangat krusial. Toko buku tidak hanya sekadar tempat berbelanja, namun juga menjadi pusat literasi, inspirasi, dan komunitas. Di tengah gempuran teknologi digital, toko buku berperan sebagai oase bagi pecinta buku untuk menikmati sensasi membaca secara fisik. Selain itu, toko buku seringkali menjadi wadah untuk berbagai kegiatan literasi seperti diskusi buku, bedah buku, dan workshop menulis, yang dapat merangsang minat baca masyarakat serta menjadi tempat bertemunya para penulis dan pembaca.

Semangat inilah yang ingin dibawa oleh Alda Muhsi saat merintis dan menjalankan Kede Buku Obelia . Kecintaan pada sastra dan literasi tidak hanya menumbuhkan semangat untuk menulis, melainkan untuk menghidupkan sastra itu sendiri di dalam sendi-sendi kota tempat ia bernapas dan beraktivitas. Yuk, simak cerita Alda dan gerakannya dalam menyemangati literasi di Kota Medan!

Kapan Anda mulai tertarik pada dunia menulis? Apa yang menginspirasi Anda untuk menulis?

Kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan menjadi pintu masuk bagi saya untuk menggeluti dunia tulis-menulis. Sekitar tahun 2011 awal saya mulai mengirimkan tulisan-tulisan saya ke koran, awalnya puisi, kemudian cerpen.

Siapa saja penulis yang menjadi inspirasi bagi karya-karya Anda?

Tentu saja ini tidak bisa disebutkan satu per satu, karena seiring berjalan waktu setiap bacaan kita sedikit banyak akan mempengaruhi --baik cara berpikir maupun gaya tulisan kita. Namun, jika ditarik dari awal "Pelajaran Mengarang" karya Seno Gumira Ajidarma adalah cerpen yang menjadi magnet bagi saya untuk mencintai dunia sastra ini.

Bagaimana biasanya proses kreatif Anda dalam menulis sebuah karya?

Proses penciptaan karya (dalam hal ini prosa) bisa dengan banyak cara, namun akhir-akhir ini saya senang dengan membuat peta gambar, semacam denah yang menampilkan latar tempat di mana cerita akan berlangsung. Di setiap latar itu akan ada adegan yang dilakukan tokoh untuk mengisi dan menuntaskan cerita. Tentu saja ini perlu riset supaya citraan latar itu bisa semakin hidup dan akurat.

alda-muhsi-dan-komunitas-literasi-obelia-tahun-2024

Apakah ada kebiasaan atau ritual khusus yang Anda lakukan sebelum memulai menulis?

Tidak ada. Tapi saya tipikal orang yang butuh ketenangan untuk bisa menulis.

Apa tema yang paling sering Anda angkat dalam karya-karya Anda?

Saya kerap berangkat dari fakta. Menulis yang dekat dengan pengamatan dan pengalaman saya.

Bagaimana Anda mengembangkan gaya menulis yang khas?

Tidak pernah mengkhususkan harus dengan gaya ini, gaya itu. Saya membiarkannya mengalir saja.

Apa yang mendorong Anda untuk mendirikan penerbitan dan toko buku sendiri di Medan? Sudah berapa lama ya dan bagaimana perkembangannya sejauh ini?

Faktor terbesar adalah "kebutuhan". Saat itu tahun 2016, saya sudah setahun lulus dari Sastra Indonesia Unimed, sudah bekerja, dan sudah punya tabungan dari hasil kerja, pingin nerbitkan buku sendiri, tapi tidak menemukan adanya penerbit buku di Medan (sependek pengetahuan saya) yang konsen untuk menerbitkan buku-buku fiksi. Jadinya saya menerbitkan buku itu melalui penerbit Jogja. Di tahun itu juga, bulan yang sama (Akhir Mei) tanpa janjian, teman satu kelas saya ketika kuliah di Sastra Unimed juga merasakan hal yang sama, ia menerbitkan buku puisi tunggalnya melalui penerbit yang ada di Jogja (beda penerbit dengan saya). Setelah buku kami terbit, kami tukaran dan saling berbagi pengalaman tentang menerbitkan buku tersebut. Kemudian singkat cerita kami berpikir untuk bekerja sama membuat penerbit di Medan. Kami mulai membagi peran, karena teman saya saat itu sedang melakoni kuliah S-2 di Bandung, makanya dia cukup mengurus hal-hal teknis, mulai dari pencarian naskah hingga soal percetakan, sementara saya mengurus soal legalitasnya. Secara persiapan penerbit yang kami namakan Obelia Publihser ini sudah ada sejak Agustus 2016, sedangkan legalitasnya (Akta Notarisnya) 24 September 2016 dengan pendiri dua orang, saya sendiri Alda Muhsi dan teman saya Sartika Sari.

Untuk toko bukunya lahir 4 tahun kemudian, tepatnya tahun 2020. Apa yang melatarbelakanginya juga adalah Kebutuhan. Kita butuh buku-buku bacaan yang bagus yang diterbitkan oleh penerbit indie yang tentu bukunya tidak beredar di toko buku konvensional (toko buku besar). Kita berusaha mengadakan buku-buku tersebut untuk para pembaca di Medan supaya tidak perlu repot menguras waktu dan biaya yang lebih banyak (bayar ongkos kirim dan menunggu waktu pengiriman).

Apa visi dan misi yang ingin Anda capai melalui usaha ini?

Visinya bisa memfasilitasi teman-teman penulis khususnya yang ada di Sumut untuk menerbitkan buku-bukunya. Kemudian memperkenalkan atau menyebarluaskan karya teman-teman Sumut ke khalayak yang lebih luas. Misinya ya supaya sastra tetap eksis dan dibaca banyak orang.

Tantangan apa saja yang Anda hadapi saat memulai bisnis ini, terutama di tengah persaingan industri penerbitan yang semakin ketat? Bagaimana Anda mengatasi tantangan-tantangan tersebut?

Tantangannya banyak, saya jabarkan dua saja. Pertama mencari naskah penulis Sumut itu susah, apalagi naskah yang layak jual atau layak terbit. Kedua, setelah naskah ada, ternyata ada yang lebih susah lagi, yaitu mencari pembaca yang mau beli bukunya. Untuk mengatasi dua hal itu rasanya perlu tindakan yang struktural. Karena kami tidak punya kekuatan struktural itu, ya kami nikmati dan santai ajalah ya.

Bagaimana keberadaan penerbitan dan toko buku Anda memberikan kontribusi bagi perkembangan sastra di Medan? Apakah ada perubahan yang Anda rasakan dalam ekosistem sastra lokal sejak Anda memulai usaha ini?

Pertanyaan ini berpotensi mengarahkan saya untuk memuji diri sendiri, dan itu hal yang tidak suka saya lakukan. Jadi biarlah teman-teman yang memberi keterangan.

Jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, bagaimana menurut Anda posisi sastra Medan? Adakah perbedaan yang signifikan dalam hal preferensi pembaca, jenis karya yang populer, atau dukungan terhadap penulis?

Soal selera pembaca, umumnya pasti pembaca lebih memilih nama-nama beken, nama-nama penulis terkenal, entah itu memang suka karyanya atau hanya mengikuti tren saja, hal ini mengakibatkan minimnya pengetahuan pembaca terhadap penulis-penulis lokal.

suka-duka-alda-muhsi-merintis-obelia-tahun-2024

Menurut Anda, bagaimana masa depan sastra Medan?

Aduh berat, saya tidak punya mata batin untuk melihat masa depan. Tapi mudah-mudahan ke depan semakin banyak masyarakat yang menyadari kebermanfaatan karya sastra sehingga sastra menjadi kebutuhan, bukan hanya sekadar hiburan atau pelarian.

Apa yang perlu dilakukan untuk mengembangkan sastra Medan agar semakin maju dan dikenal secara luas?

Tentu saja harus ada kerja-kerja kolektif dari berbagai pihak. Penerbit, toko buku, komunitas buku, sekolah, kampus, Taman Baca Masyarakat, dan lain-lain yang kompeten di bidang itu. Dan kita tidak boleh lupa atau anti terhadap pemerintah, karena pemerintah yang punya kendali penuh, yang bisa membangun sistem secara struktural.

Apa pesan Anda untuk penulis-penulis muda di Medan yang ingin berkarya Saran apa yang dapat Anda berikan agar mereka dapat terus berkarya dan mengembangkan diri?

Carilah rumah yang menerima kita, perbanyak diskusi, baca buku, belajar terus, semangat, jangan pernah menyerah. Jangan harapkan motivasi dari orang lain kalau motivasi dalam diri sendiri tidak pernah ada. Karena apabila kita sudah bulat bertekad, rintangan apa pun pasti bisa dilewati. Tidak ada kegagalan selama kita tidak berhenti.

Cerita inspirasi dari dunia penerbitan lainnya bisa Anda dapatkan lewat artikel Prihandini Nur Rahmah: Pentingnya Memastikan Suara dan Pesan Penulis Tersampaikan dengan Baik.