Widyawati : Rahasia HR Berdamai dengan Gen Z

Tak disangkal, posisi sebagai HR memiliki peran strategis dalam membangun hubungan antara perusahaan dan karyawan. Fokus pada Gen Z menjadi menarik karena bisa dibilang saat ini Gen Z mulai mendominasi dunia kerja. "Gen Z itu inovatif, cepat beradaptasi dengan teknologi, dan punya pandangan unik juga tentang keseimbangan kerja-hidup," demikian cerita Widyawati, seorang HR Leader dengan spesialisasi Gen Z workforce engagement and organizational growth.
Menurutnya tantangan tersebut membuat pekerjaannya menjadi lebih dinamis. Dan ia sangat menikmati bagaimana ia bisa menjadi jembatan untuk membantu perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan harapan Gen Z. Nah, buat Anda yang penasaran dengan cara merebut hati Gen Z dan tips bekerja dan berkolaborasi dengan generasi yang konon banyak maunya ini, langsung aja gas di sini ceritanya ya!
Bagaimana perjalanan karier Anda dari awal hingga saat ini? Apakah ada pengalaman yang paling berkesan dalam mengembangkan karier di bidang HR?
Mengapa Anda memilih untuk fokus pada perekrutan dan pengembangan karyawan Gen Z? Apa yang membuat generasi ini begitu menarik untuk dipelajari dan dikembangkan?
Menurut saya, karakter mereka yang unik, kreatif dan cenderung mencari makna dalam pekerjaan membuat mereka menarik untuk dipelajari. Gen Z membawa perspektif baru yang bisa mendorong inovasi dan perubahan positif di organisasi. Namun, mereka juga memiliki kebutuhan dan ekspektasi yang berbeda, seperti fleksibilitas kerja, transparansi dan budaya kerja yang inklusif. Inilah yang membuat saya tertarik untuk membantu perusahaan memahami cara terbaik merekrut, mengelola, dan mengembangkan talenta mereka.
Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat bekerja dengan kandidat atau karyawan Gen Z? Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?
Tantangan terbesar saat bekerja dengan Gen Z yaitu mengelola ekspektasi mereka yang sering kali berbeda dengan generasi sebelumnya. Gen Z cenderung lebih mengutamakan fleksibilitas, transparansi, dan makna dalam pekerjaan. Mereka juga lebih sering berpindah pekerjaan karena mereka mencari peluang yang bisa memberi mereka pengalaman lebih bermakna atau kesesuaian dengan nilai-nilai pribadi mereka.
Menurut Anda, apa karakteristik unik yang membedakan Gen Z dari generasi sebelumnya (seperti Millennial)?
Menurut saya, karakter Gen Z yang membedakan dengan karakter sebelumnya : Gen Z tumbuh dengan teknologi, lebih suka komunikasi visual kayak di platform-platform, lebih mengutamakan pekerjaan yang sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka jadi enggak hanya sekadar mencari gaji atau posisi tinggi aja. Meskipun terkenal gampang cemas tapi mereka lebih terbuka kalau bahas soal mental health dan cara mengatasinya.
Bagaimana teknologi telah membentuk cara Gen Z bekerja dan belajar?
Gen Z sudah terbiasa dengan akses informasi yang cepat dan mudah. Mereka suka pakai internet dan perangkat mobile buat akses apapun, lebih suka metode pembelajaran yang fleksibel kayak kursus online, webinar, dan tutorial video. Dan mereja juga terbiasa bekerja dalam tim yang terhubung secara digital dan lebih suka berkomunikasi dengan cara visual.
Banyak yang meragukan kompetensi Gen Z. Bagaimana pandangan Anda tentang hal ini? Apakah ada kesalahpahaman umum tentang generasi ini?
Memang benar banyak yang meragukan Gen Z, saya juga awalnya seperti itu. Karena me-manage Gen Z memang se-struggle itu. Saya jadi public enemy waktu awal-awal handle tim yang almost semua Gen Z haha. Saya rasa ada beberapa kesalahpahaman umum tentang generasi ini yang perlu diluruskan, example :
a. Gen Z Tidak Kompeten Tanpa Teknologi: Meskipun Gen Z tumbuh dengan teknologi, mereka sangat kompeten dalam menggunakan alat digital untuk berkolaborasi dan menyelesaikan tugas lho. Bahkan lebih cepat kerjaannya selesai dibanding yang lain.
b. Gen Z Mudah Bosan dan Tidak Fokus: Mereka lebih termotivasi jika kita memberikan peluang untuk berkembang dan belajar, bukan sekadar rutinitas yang monoton.
c. Gen Z Tidak Loyal pada Perusahaan: Bukan karena mereka tidak loyal, tetapi mereka ingin bekerja di tempat yang memberi ruang bagi pertumbuhan dan keseimbangan kerja-hidup.
d. Kurang Keterampilan Sosial dan Kerja Tim: Walaupun suka komunikasi digital, tapi over all mereka tetap bisa komunikasi dengan baik.
e. Gen Z Tidak Tahan terhadap Tantangan: Nah kayak tadi yang tak bilang, memang kesannya Gen Z itu gampang cemas dan menyerah, karena mereka dikit-dikit menyampaikan tentang mental health.

Apa saja harapan dan ekspektasi utama Gen Z terhadap dunia kerja?
Harapan dan ekspektasi utama Gen Z terkait saat ini : Work- Life Balance, Kesempatan Pengembangan Diri, Kesejahteraan, Teknologi dan Inovasi, Pengakuan dan Feedback.
Apa saja tantangan terbesar yang dihadapi Gen Z dalam memasuki dunia kerja saat ini? Bagaimana perusahaan dapat membantu Gen Z untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan mencapai potensi penuh mereka?
Based on pengalaman, tantangan terbesar yang dihadapi Gen Z dalam dunia kerja dan alternatif yang bisa dilakukan perusahaan:
a. Kekurangan Pengalaman Kerja
Solusi: Pelatihan, program magang, mentoring, atau bisa dikasih kesempatan buat nyelesaiin proyek kecil.
b. Keterampilan Interpersonal dan Komunikasi
Solusi: Pelatihan komunikasi profesional dan keterampilan sosial.
c. Kecemasan Terhadap Keamanan Pekerjaan
Solusi: Peluang pengembangan karir dan komunikasi terbuka.
d. Ekspektasi Terhadap Fleksibilitas dan Keseimbangan Kehidupan Kerja
Solusi: Opsi kerja fleksibel, budaya kerja mendukung keseimbangan.
e. Beban Mental dan Kesehatan Mental
Solusi: Program kesejahteraan mental, kayak art terapi, yoga, dll.
Apa peran HR dalam membantu perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan generasi di tempat kerja?
Yang saya rasakan tentunya peran HR sebenernya banyak bangeetttttt, example:
a. Membangun Budaya Kerja yang Inklusif
HR bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang menghargai keberagaman.
b. Pengembangan Program Pelatihan yang Fleksibel
Gen Z mungkin lebih suka pelatihan berbasis teknologi, sementara generasi yang lebih tua bisa lebih nyaman dengan cara tradisional, sehingga program pelatihan harus menawarkan berbagai metode.
c. Meningkatkan Komunikasi Antar Generasi
HR berperan untuk memfasilitasi komunikasi yang terbuka antar generasi melalui workshop, mentoring, atau kegiatan kolaborasi.
d. Menerapkan Kebijakan Kerja Fleksibel
Mengingat bahwa Gen Z dan Millennials cenderung lebih mengutamakan keseimbangan kehidupan kerja, HR perlu memperkenalkan kebijakan kerja fleksibel, seperti opsi kerja jarak jauh atau jam kerja yang fleksibel, untuk memenuhi kebutuhan karyawan.
e. Mengelola Konflik Antar Generasi
Perbedaan nilai, cara kerja, dan komunikasi dapat menyebabkan ketegangan. Peran HR menyediakan pelatihan atau fasilitasi untuk menyelesaikan konflik antar generasi dan menciptakan budaya yang mendukung kerja sama.
f. Menyusun Program Penghargaan yang Sesuai
Setiap generasi memiliki cara yang berbeda jadi perlu di susun sistem penghargaan yang relevan, seperti pengakuan berbasis teknologi atau penghargaan finansial.
g. Penyusunan Rencana Karier yang Fleksibel
Gen Z dan Millennials mungkin lebih tertarik pada jalur karier yang dinamis dan berkembang, sementara generasi yang lebih tua lebih cenderung menghargai stabilitas. HR bisa merancang jalur karier yang memungkinkan fleksibilitas dan pengembangan keterampilan secara terus-menerus.
h. Menerapkan Teknologi untuk Memfasilitasi Kolaborasi
Menggunakan alat teknologi terbaru untuk meningkatkan kolaborasi di antara berbagai generasi adalah penting. HR bisa memperkenalkan platform kolaborasi yang memudahkan komunikasi dan pengelolaan proyek antar generasi.
i. Fokus pada Kesejahteraan Karyawan
HR perlu memastikan bahwa program kesejahteraan karyawan, baik yang berfokus pada kesehatan mental, fisik, atau emosional, dapat diterima oleh semua generasi. Ini penting untuk mendukung keseimbangan kehidupan kerja dan meningkatkan produktivitas.
j. Menjaga Keterlibatan Karyawan (Employee Engagement)
HR harus merancang strategi yang meningkatkan keterlibatan karyawan dari berbagai generasi, seperti dengan menyediakan peluang untuk feedback yang sering, pengembangan karier yang relevan, dan proyek yang mendukung tujuan perusahaan. k. Mengembangkan Program Onboarding yang Efektif
Onboarding yang efektif sangat penting untuk membantu anggota baru dari berbagai generasi merasa diterima dan terintegrasi dengan budaya perusahaan. HR perlu memastikan bahwa proses ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan generasi yang berbeda.
Keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang HR untuk dapat bekerja secara efektif dengan Gen Z?
Beberapa ketrampilan yang harus dipunyai HR :
a. Komunikasi Digital – Mahir dalam menggunakan platform komunikasi digital.
b. Empati dan Mendengarkan Aktif – Mendukung kesejahteraan mental dan pribadi Gen Z.
c. Fleksibilitas dan Adaptabilitas – Menyediakan opsi kerja fleksibel dan adaptif.
d. Memfasilitasi Pengembangan Karier – Menyusun program pelatihan dan peluang pembelajaran.
e. Mengelola Keseimbangan Kehidupan Kerja – Mendukung kebijakan keseimbangan kehidupan
kerja.
f. Memahami Teknologi – Menggunakan alat digital untuk mendukung produktivitas.
g. Kolaborasi Antar Generasi – Memfasilitasi kerjasama antara berbagai generasi.
h. Umpan Balik Konstruktif – Memberikan umpan balik yang jelas dan membangun.
i. Kesehatan Mental dan Kesejahteraan – Menyusun program kesejahteraan mental.
j. Nilai dan Tujuan Perusahaan – Menyelaraskan tujuan perusahaan dengan aspirasi Gen Z.

Dapatkah Anda berbagi sebuah studi kasus tentang keberhasilan Anda dalam merekrut atau mengembangkan seorang karyawan Gen Z? Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kasus tersebut?
Saat saya bergabung dengan startup pada tahun 2023, tantangan terbesar yang saya hadapi adalah tidak adanya sistem HR yang terstruktur. Perusahaan berkembang pesat, tetapi karena kurangnya tim yang terorganisir, banyak aspek administrasi dan pengembangan SDM yang tidak tertangani dengan baik. Sebagai seorang HR yang diberi kepercayaan untuk membangun tim, saya tahu bahwa membangun fondasi yang kuat, termasuk aturan yang jelas dan sistem yang terstruktur, akan sangat penting untuk mendukung pertumbuhan perusahaan. Langkah awal yang tak ambil waktu itu:
a. Fokus pada Administrasi di 6 Bulan Pertama
Pada 6 bulan pertama, saya memfokuskan diri untuk membangun sistem administrasi yang terstruktur, mulai dari pengelolaan data karyawan, absensi, pengaturan cuti, hingga penggajian. Setelah itu, saya juga menyusun kebijakan dasar terkait jam kerja, kehadiran, dan aturan kedisiplinan, yang sebelumnya tidak ada. Hal ini memberikan kerangka kerja yang jelas dan memudahkan operasional sehari-hari.
b. Observasi Kebutuhan Tim dan Pemetaan Kekuatan Gen Z
Sambil menyelesaikan administrasi, saya juga melakukan observasi terhadap kebutuhan tim yang ada. Menariknya, tim yang saya tangani sebagian besar adalah karyawan Gen Z. Mereka sangat aktif, kreatif tetapi sering kali membutuhkan fleksibilitas dalam bekerja dan lebih mengutamakan keseimbangan hidup-kerja. Dengan pemahaman ini, saya mulai merancang program yang lebih sesuai dengan karakteristik mereka.
c. Pengembangan Tim (Developing the Team)
Setelah administrasi selesai, saya melanjutkan fokus saya ke pengembangan tim. Mengingat banyaknya Gen Z di dalam tim, saya memperkenalkan program pelatihan yang berfokus pada pengembangan keterampilan digital dan soft skills. Selain itu, saya juga menyusun jalur karier yang lebih jelas agar mereka merasa bahwa mereka memiliki kesempatan untuk berkembang dalam perusahaan. Program mentoring dengan karyawan senior juga diperkenalkan untuk membantu mereka beradaptasi dan berkembang lebih cepat.
d. Membangun Budaya yang Menyelaraskan Tujuan Tim dengan Perusahaan
Saya mengadakan sesi sharing dan workshop untuk memastikan bahwa setiap anggota tim merasa terhubung dengan visi dan misi perusahaan.
e. Menerapkan Fleksibilitas dan Penghargaan Berbasis Kinerja
Saya memperkenalkan kebijakan kerja yang lebih fleksibel, tidak pernah mempersulit ketika mereka mengajukan izin/cuti. Dan setiap bulan, banyak penghargaan yang mereka dapat, kayak reward dari hasil KPI, mini challenge, dan kegiatan team building lainnya.
Nah, dari poin-poin tersebut, pencapaian yang dicapai:
a. Peningkatan Kepuasan dan Keterlibatan Karyawan
Kalau administrasi jelas, program pengembangan sesuai dengan kebutuhan Gen Z, tingkat kepuasan dan keterlibatan karyawan pasti meningkat. Gen Z merasa lebih dihargai dan memiliki peluang untuk berkembang. Untuk survei rutin saya lakukan, minimal 3 bulan sekali.
b. Peningkatan Produktivitas dan Kolaborasi Tim
Kebetulan di tempat saya, peluang karier itu terbuka bangetttt, jadi tim lebih produktif.
c. Pengurangan Turnover
Alhamdulillah minim turn over hihihihihi. Saya tahu ini belum tentu bisa dilakukan di semua jenis perusahaan, tetapi di perusahaan yang
berkembang cepat seperti startup fondasi yang kuat menjadi kunci utama, pengembangan tim itu bertahap, tidak bisa instan. Fleksibilitas dan penghargaan itu kunci untuk Gen Z dan budaya yang terbuka dan transparan meningkatkan keterhubungan.
Baca terus Rubrik Profil di Loker ID untuk mendapatkan insight dari expert lainnya!