Zona HR

Tips Merekrut Generasi Y

employee-generationsSebagai generasi yang sedang in zaman sekarang dan memang dibutuhkan oleh perusahaan, mau tak mau Anda akan berurusan dengan generasi Y ini dalam soal perekrutan. Memang mereka masih muda, namun kemampuan teknologi yang oke, kemahiran berbahasa asing plus kreativitas tinggi menjadi poin plus plus mengapa perusahaan mau merekrut generasi Y bergabung dengan timnya.

Meski begitu, Anda harus punya kemampuan “membaca” generasi Y ini. Jangan sampai Anda mengira calon yang Anda akan rekrut tersebut sudah sesuai dengan DNA perusahaan ternyata tidak sama sekali. Berikut yang Anda harus lihat dari generasi Y sebelum berkata, “Ya, Anda kami terima.”

  1. Attitude

Generasi Y terkenal dan dikenal sebagai calon-calon karyawan yang terlalu santai dan terlalu supel. Supel dan santai memang baik dan perlu untuk mencairakan suasana, namun adakalanya sikap yang terlalu supel hanya akan membuyarkan fokus. Anda harus bisa menentukan apakah kesupelan karyawan tersebut masih bisa ditoleransi atau tidak.

  1. Kemampuan Adaptasi

Otak secemerlang apapun bila tinggi hati dan tidak memiliki kemampuan adaptasi adalan nol besar. Sering terjadi adalah, para generasi Y menganggap remeh dengan apa yang menjadi tugas dan tanggung-jawabnya dan menganggap jadul para senior. Ini yang harus dibaca sebagai HRD dan ditelisik apakah ke depannya calon karyawan ini bisa beradaptasi dengan peraturan-peraturan perusahaan atau tidak.

  1. Niat

Sering terjadi para generasi Y hanya bertahan beberapa bulan saja. Bisa jadi karena mereka tidak betah dan ingin mencoba tempat-tempat lain. Hal ini tentu ingin dihindari agar jangan sampai berulangkali melakukan proses perekrutan yang memakan waktu lama dan membuat pekerjaan terkendala juga.

  1. Pengalaman

Yang diminta perusahaan tentunya bukanlah seabrek pengalaman tetapi setidaknya si calon karyawan tersebut familiar dengan apa yang akan menjadi job desk-nya. Tentunya akan sedikit susah bila akan memulai dari awal. Susah buat kepala departemen yang membawahinya juga untuk produksi perusahaan. Tidak mungkin menunggu satu karyawan untuk belajar dari awal baru memulai produksi.