Tanoko Prawiro Sulistio : Sudahkah Kita Melakukan Hal yang Benar-Benar Kita Senangi?

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 24 September 2024
Rubrik Profil

Tanoko-Prawiro-Sulistio

Layoff mengubah perencanaan karier yang terdampak, termasuk Tanoko Prawiro Sulistio. Walaupun sempat mematahkan semangat, namun pada akhirnya alumni Universitas Indonesia ini mendapatkan pencerahan untuk kembali menekuni musik yang sempat dikesampingkannya karena kesibukan bekerja formal.

Layoff juga menjadi momen perenungan untuk lebih "menikmati" hidup, mengenali diri dan menggali potensi, "Hidup ini singkat, sudahkah kita melakukan apa yang benar-benar kita senangi?"

Baca perjalanan karier Tanoko dan hal-hal yang membuatnya bersemangat di era penuh ketidakpastian saat ini!

Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang latar belakang Anda, pendidikan, dan bagaimana Anda memulai karir di bidang content?

Saya adalah lulusan program studi ilmu perpustakaan dan informasi Universitas Indonesia tahun 2018 silam, sedari kuliah karena pernah memiliki blog saat SMA dan saya juga pernah menjadi penulis zine kampus. Alhasil, ketertarikan saya untuk menjadi penulis berkembang, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk melakukan internship sebagai copywriter lalu content writer, yang pada akhirnya berlanjut menjadi pekerjaan tetap.

Apa yang membuat Anda sebelumnya memilih karir sebagai content writer dan copywriter?

Ketertarikan saya untuk menulis membuat saya berpikiran bahwa berprofesi sesuai dengan passion dapat memberikan kebahagiaan dan kepuasan secara batin.

Bagaimana Anda menggambarkan pengalaman Anda di bidang content? Apa yang paling Anda sukai dan tidak sukai?

Hal yang paling saya sukai dari profesi saya di bidang content adalah saya bisa bekerja sekaligus belajar banyak hal karena saya dituntut untuk membaca dan memahami terlebih dahulu konteks tema artikel yang dibutuhkan. Secara tidak langsung, hal ini membuat wawasan saya berkembang secara signifikan. Akan tetapi, hal yang paling saya tidak suka dari profesi ini adalah terkadang menjadi content writer terasa monoton sehingga menimbulkan writer’s block yang membuat motivasi saya untuk menulis dengan hati, menurun.

Ceritakan tentang momen paling berkesan dan paling menantang dalam karir Anda sebagai content writer?

Selama menjadi content writer, saya pernah bertanggung jawab atas artikel partnership dengan klien besar seperti Pfizer, hal ini menurut saya sangat menantang karena Pfizer menjadi salah satu raksasa dalam dunia farmasi. Meski begitu, saya berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.

Apa yang mendorong Anda untuk beralih dari karir content ke dunia musik?

Jika menjawab dengan jujur, sebenarnya saya ingin menjadikan musik sebagai mata pencaharian utama. Tetapi, berkarya sampai menghasilkan uang adalah jalur terjal yang cukup berat untuk dilewati. Karena itu, saya memutuskan untuk bekerja tetap terlebih dahulu demi meningkatkan kualitas karya yang akan saya sajikan. Untuk saat ini, musik masih menjadi profesi yang bersifat sampingan.

Bagaimana transisi Anda dari content writer menjadi musisi? Apa saja tantangan dan rintangan yang Anda hadapi?

Transisi saya bisa dibilang agak lancar, dikarenakan pekerjaan tetap saya dapat mengakomodir saya untuk bisa mencari inspirasi dalam membuat musik. Namun, Tantangan paling utama yang saya hadapi dalam transisi menjadi musisi paruh waktu adalah ketika pekerjaan dan jadwal latihan atau panggung tidak linear. Karena pekerjaan tetap saya lebih penting, maka saya sering membatalkan tawaran panggung akibat ketidakcocokan jadwal.

Apa yang menginspirasi musik Anda? Bagaimana Anda mengembangkan gaya dan identitas musik Anda?

Influence atau pengaruh paling utama dari musik saya adalah band-band rock yang “beken” di tahun 2000an. Misalnya seperti Stereophonics, The Strokes, Interpol, maupun Queens of The Stone Age. Dalam mengembangkannya, saya juga memasukan unsur musik lain seperti british pop, country, blues maupun punk ke dalam komposisi lagu yang saya buat. Baik dari aspek lirik maupun dari progresi chord. Mungkin saat ini di Indonesia, gaya musik rock era 2000an sudah tenggelam, tetapi saya percaya bahwa kebanyakan orang terutama yang seumuran saya, masih meminati genre musik tersebut.

Bagaimana Anda memandang dunia karir saat ini, terutama dalam hal stabilitas dan keamanan kerja?

Saya rasa dengan adanya tech winter, inflasi global dan lay off dimana-mana, inilah waktu yang tepat untuk terpaksa bersifat kreatif dalam bertahan hidup dan keluar dari zona nyaman. Tujuannya tentu saja agar kita dapat menjadi pemimpin terhadap diri sendiri, maupun membantu membuka lapangan kerja baru. Menurut saya, jika teman-teman pernah ada pikiran untuk membentuk bisnis sendiri, bekerja remote untuk perusahaan internasional atau bekerja di luar negeri, inilah saat paling tepat untuk melakukannya.

Bagaimana Anda menghadapi pengalaman layoff dan bagaimana Anda bangkit dari situasi tersebut?

Karena tahun 2023 menjadi pengalaman pertama saya terkena layoff sepanjang karir profesional saya, jujur saya sangat terpukul ketika mendapatkan kabar bahwa saya dinonaktifkan. Saya merasa down dan menjadi tidak percaya diri. Meski begitu, mengingat saya mendapatkan pesangon dalam jumlah yang cukup untuk bertahan hidup dalam satu tahun, pelan-pelan saya mencoba untuk menemukan kembali diri saya, melalui serangkaian perjalanan liburan dan bertemu kembali dengan kawan-kawan lama saya. Terutama mereka yang juga menggangur akibat terkena PHK. Tanpa disadari, pertemuan dengan orang baru dan lama memberikan saya banyak inspirasi untuk tetap bersyukur akan segala momen-momen kecil yang masih bisa kita rasakan. Selain itu, hal ini juga membuat saya memiliki banyak ide untuk dilakukan kedepannya.

Apa harapan Anda untuk karir Anda di masa depan, baik sebagai musisi maupun dalam bidang lain?

Harapan saya sebagai musisi paruh waktu, semoga band dan karya saya bisa semakin dikenal banyak orang sehingga saya bisa menjadi musisi penuh waktu sebagai mata pencaharian utama. Sementara itu, dalam aspek profesional, saya berharap saya dapat bekerja di posisi lain yang masih berhubungan dengan penulisan, seperti PR.

Apakah Anda memiliki rencana untuk merilis album atau tampil di suatu event?

Kebetulan saya merencanakan untuk merilis mini album di pertengahan 2025. Meski begitu, saya perlu benar-benar matang dalam menyiapkan karya yang akan disajikan, sehingga bisa saja mini album tersebut akan rilis lebih lambat dari prakiraan.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada orang lain tentang mengejar mimpi dan menjalani hidup yang meaningful?

Orang tua saya selalu berpesan bahwa uang memang dibutuhkan, tetapi tidak menjamin kebahagiaan. Karena itu, pastikan untuk memaksimalkan eksplorasi atas segala hal yang teman-teman tertarik. Terlebih lagi, mengingat hidup itu singkat, sangat disayangkan jika kita hanya sibuk mengumpulkan uang yang belum tentu bisa kita nikmati saat tua. Tanpa benar-benar melakukan hal yang kita sukai.

Dimana kami bisa mendengarkan musik Anda?

Saat ini musik saya tersedia di sejumlah platform streaming digital seperti apple music dan spotify. Teman-teman yang tertarik bisa mendengarkan lagu saya dengan melakukan pencarian Lokadipocere sebagai nama band saya.