Shabana Azzahra: Dari Copywriter Jadi AE, Why Not?

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 19 Desember 2024
Rubrik Profil

dari-copywriter-jadi-ae-shabana-tahun-2024

Berawal dari kekhawatiran akan perkembangan AI dan copywriting, akhirnya membuat Shabana Azzahra memutuskan untuk menjajal dan mengembangkan skill lain yang akan susah tergantikan oleh AI: negosiasi, komunikasi, dan manajemen. Itulah yang membuatnya pindah haluan--melipir sedikit--menjadi Account Executive. Profesi yang menurutnya dapat membantunya mengembangkan diri to the next level tanpa harus melepaskan skill menulisnya.

Banyak yang mempertanyakan, karena harus memulai dari nol lagi. "Menurutku, ga ada yang mustahil sih. Toh, semua pekerjaan bagiku itu hanya persoalan jam terbang. Semakin banyak jam terbang, maka semakin mengerti juga kamu di suatu bidang tersebut," demikian penuturan Shabana. Gas langsung ceritanya di sini yuk!

Seperti apa tanggung jawab utama Anda sebagai seorang account executive? Apa saja yang menjadi fokus utama dalam pekerjaan sehari-hari?

Sebenarnya account executive (yang akan aku singkat jadi AE) itu ada dua macam, pertama AE hunters dan kedua AE maintain. Nah, kebetulan aku memulai karirku menjadi AE saat ini di Tempo Media dan tanggung jawab menjadi AE di Tempo Media itu ya harus bisa keduanya, hunter dan maintain, artinya aku harus bisa deal project dengan klien baru atau biasa kita sebut NBD (New Business Development).

Sedangkan kalo maintain, aku harus bisa treatment dan menjaga hubungan baik dengan klien existing atau klien yang sudah bekerjasama sebelumnya, tujuannya agar bisa deal project lagi. Jadi, kalo bicara soal tanggung jawab utama, pastinya aku harus deal project dan kerjasama dengan klien.

Fokus utama dalam pekerjaaan sehari-hari itu aku harus bertemu atau mendatangkan klien baru, menjaga hubungan baik dengan klien, mengurus berbagai dokumen kerjasama dari mulai MOU, Kesepakatan Kerjasama dan lain-lain. Dan memastikan klien puas dengan hasil

kerjasama kita, kalopun ada komplain kita juga dengarkan.

Apa yang mendorong Anda untuk beralih dari peran sebagai copywriter dan content lead menjadi account executive?

Yang mendorongku sebenarnya hanya satu yaitu aku pengen tingkatin karir dan keahlianku lebih lagi. Aku senang menjadi copywriter, ga perlu waktu lama bagiku untuk beradaptasi bekerja sebagai copywriter. Dari mulai konten medsos, iklan cetak sampai tulisan SEO sudah

pernah aku kerjakan, dari mulai brand kecantikan, F&B, otomotif sampai kesehatan sudah pernah aku kerjakan. Sampai akhirnya aku menjadi content lead, dimana aku mulai membuat konsep kreatif untuk sebuah iklan dari mulai ide, segmentasi, brand persona, sampai tagline. Itu semua adalah pengalaman yang seru dan asyik banget.

Tapi pikiran aku mau beralih peran muncul ketika peran AI sudah cukup viral, dan beberapa tempat kerja sudah mulai menggunakan AI untuk membuat copywriting dan konsep kreatif. Ya, memang banyak juga yang berpendapat kalo AI ini ga akan bisa menggantikan manusia, ga akan bisa menggantikan copywriter. Tapi tetap aja, kekhawatiran itu ada. Artinya, aku harus bersiap diri, persaingan menjadi copywriter bukan hanya antar manusia tapi juga dengan teknologi. Aku harus mengembangkan keahlian lain yang teknologi ga bisa gantikan, yaitu

keahlian negosiasi, komunikasi dan manajemen. Ketiga keahlian itu aku dapatkan lebih dalam lagi ketika menjadi seorang AE, khususnya dalam hal negosiasi dan komunikasi.

Keterampilan apa yang Anda dapatkan sebagai copywriter dan content lead yang paling bermanfaat dalam peran Anda saat ini?

Kebetulan aku menjadi AE di media Indonesia yang terkenal dengan independen dan punya nilai sejarah menulis yang baik, yaitu Tempo Media, media yang selama ini kita kenal gayanya berbeda lah dengan media lain. Sehingga ketika klien bertemu dengan kita, sudah pasti

menganggap kita orang pintar (yang padahal ga juga haha). Nah, berbekal kreativitas copywriting yang aku tekuni saat ini, aku jadi bisa kasih saran angle konten, angle tulisan bahkan kasih saran tagline kampanye/advetorial klien. Biasanya klien tergugah sih kalo aku melakukan itu. Jadi, aku cukup senang aja dengan menjadi copywriter aku bisa kasih ide-ide kreatif yang disenangi klien. Dan diskusi soal konten juga enak, karena aku sudah terbiasa menangani konten-konten iklan.

Yang kedua, manajemen ya. Karena menjadi copywriter itu berkutat dengan deadline serta ngebuat tulisan dan konten yang cukup banyak, aku harus atur waktu dengan baik agar ga keteteran. Dan hal itu ngebantu banget ketika aku menjadi AE yang kerjaannya 2x lipat lebih

banyak daripada copywriter dan dituntut untuk fast response dan cepat kilat.

Yang ketiga, menulis dan detail. Selama aku menjadi AE aku juga berkutat dengan berbagai administrasi, dengan keahlian menulis yang selama ini kupunya, cukup membantu sih ketika harus menangani administrasi seperti surat-menyurat, MOU dan perjanjian kerjasama. Dan juga ketika membuat brief project melalui email harus ditulis secara detail agar ga miskom. Walaupun, gaya menulisnya agak beda antara tulisan copywriting dan administrasi, tapi keahlian menulisku cukup membantu.

Apa perbedaan paling mencolok antara bekerja sebagai copywriter dan account executive?

Wah ini cukup banyak sih, tapi mungkin yang paling mencolok adalah yang pertama dari segi penampilan. Waktu aku jadi copywriter, aku bener-bener bodo amat soal penampilan, pikirku lagian mau ketemu siapa. Nah, ketika jadi account executive, aku ga bisa bodo amat soal penampilan, karena harus ketemu klien terus.

Jadi sekarang yang dulunya tempat make-up ku dikit banget isinya, sekarang udah sedikit lebih banyak. Yang dulunya bajuku itu-itu aja, sekarang aku tambahin lagi baju-baju yang aku sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Terus yang kedua, dulu ketika aku jadi copywriter, aku yang dikejar kerjaan sama AE/project managernya. Sekarang aku jadi posisi yang mengejar kerjaan para copywriter dan designer.

Intinya, ketika aku jadi copywriter aku hanya fokus pada tulisan, konten dan konsep kreatif. Tapi ketika jadi AE aku harus fokus dengan target sales, administrasi, deadline kerjaan, dan maintain hubungan baik dengan klien.

tantangan-menjadi-ae-setelah-copywriter-tahun-2024

Apakah ada kesulitan atau tantangan khusus yang Anda hadapi saat beradaptasi dengan peran baru sebagai account executive? Bagaimana mengatasinya?

Banyak banget pastinya, kalo buat aku kesulitan dan tantangannya adalah di bagian detail, fokus dan ngobrol ya. Jadi AE itu harus ekstra detail dan fokus, karena akan ada banyak banget pekerjaan yang dateng ke kita, dari sekian banyak pekerjaan itu kita harus tetap bisa fokus. Aku ini orangnya susah banget fokus dan lupaan, jadi waktu di awal menjadi AE wah itu aku harus mencatat apapun brief yang masuk dari bosku. Beda kalo jadi copywriter aku bisa nanya brief berulang kali ke project manager/AEnya. Tapi karena sekarang aku yang jadi AE, aku ga bisa begitu lagi, aku dituntut untuk paham dan mengingat semua yang disampaikan dalam 1x brief aja. Biasanya aku selalu mencatat sih, atau kalo emang lagi ga ada catatan aku ingat poin-poin yang disampaikan, udah cukup terbantu dengan hal itu dan aku udah mulai terbiasa jadi udah agak enak ngebangun fokusnya walaupun masih dalam tahap adaptasi banget.

Terus kalo ada klien kita harus ngobrol ya. Aku ini orangnya bukannya yang sebawel itu kalo ngobrol. Jadi mesti maksain diri banget untuk terus ngajak ngobrol klien, sampe kadang kebingungan cari topik ngobrolnya apalagi ya haha. Tapi hal itu jarang terjadi sih, karena aku

pasti didampingi sama bos atau aku suka ngebawa senior/rekanku. Jadi ga ada obrolan mentok dan ngalir terus. Intinya untuk mengatasi kementokan ngobrol itu kita harus bawa topik apa aja dan pastikan kita paham dengan topik itu. Kalo mentok banget ya bawa orang haha.

pengalaman-banting-setir-shabana-dari-copywriter-jadi-ae-tahun-2024

Bagaimana Anda membangun hubungan yang kuat dengan klien? Strategi apa yang Anda gunakan untuk memahami kebutuhan dan harapan mereka?

Membangun hubungan kuat dengan klien itu sulit ya kalo kita ga terbuka. Artinya, kalo klien ngajak ketemu walaupun di weekend ya ketemuin aja, tapi harus ada tujuannya misalnya mau nge-deal kerjasama selanjutnya. Kita juga bisa kok kasih sesuatu ke mereka, artinya bukan korupsi ya. Ya kalo kita merasa klien kita ga suka diberi sesuatu, ya kita bisa sesuatu yang disukai oleh pasangan atau anak mereka.

Itu tanda kalo kita punya perhatian sama orang-orang disekitarnya. Bisa juga follow-follow-an di media sosial. Sesekali traktir mereka.

Pelajari juga karakter dari tiap klien kayak gimana dan pahami cara pendekatannya. Intinya selalu jaga komunikasi dan obrolan, anggap klien itu teman kita. Ya kayak kita lagi berteman aja deh.

Dalam negosiasi dengan klien, apa yang menurut Anda paling penting? Bagaimana Anda mengatasi situasi sulit dalam negosiasi?

Dalam negosiasi artinya harus ada tujuan yang sama-sama tercapai. Kalo tujuanku pastinya deal project dan di sisi klien mereka harus mendapat keuntungan juga. Artinya sama-sama diuntungkan. Yang paling penting adalah klien paham keuntungan apa aja yang mereka

dapatkan dengan bekerjasama dengan kita. Misal, kita menawarkan klien untuk pasang iklan, pastinya klien akan bertanya-tanya dong apakah dengan pasang iklan di kita itu worth it dan efektif? Apakah tepat sasaran dan lain-lain. Kita harus bisa jelaskan hal-hal itu ke klien, kita juga bisa bermain dengan potongan harga atau diskonan.

Kalo untuk situasi sulit, pastinya aku ga akan menghadapinya sendiri sih haha karena aku pasti akan panggil bosku untuk menjelaskan hal-hal yang diluar kendaliku. Tapi ya karena aku juga hitungannya AE junior, negosiasi pun aku juga masih dibantu kok sama senior dan bosku.

Apa yang Anda lakukan untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan keterampilan Anda sebagai account executive?

Pastinya harus update dengan perkembangan tren yang terjadi di sekitar kita, sering baca buku agar bahan obrolan kita juga luas. Dan pastinya aku juga lagi melatih negosiasi ya, dengan ikut-ikut seminar dan pastinya ngebiasain ngobrol lebih banyak lagi haha.

Apa saran Anda bagi seseorang yang ingin beralih dari peran kreatif seperti copywriter menjadi account executive?

Ada banyak orang yang heran sama aku, kenapa aku beralih jadi copywriter menjadi account executive. Padahal aku udah hampir 3 tahun lamanya menjadi copywriter, eh malah ngulang lagi dari nol jadi account executive, apalagi ini banting setir banget. Menurutku, ga ada yang mustahil sih. Toh, semua pekerjaan bagiku itu hanya persoalan jam terbang. Semakin banyak jam terbang, maka semakin mengerti juga kamu di suatu bidang tersebut.

Sama halnya aku yang gatau apa-apa menjadi account executive awalnya dan struggle banget jadi AE, sampe akhirnya aku yakin dan percaya aku udah mengerti sedikit demi sedikit mengenai pekerjaan AE ini, tinggal terus dijalani aja aku yakin aku pasti bisa jadi AE

yang mumpuni. Biarlah menjadi copywriter itu menjadi hobiku aja, tapi AE adalah pekerjaanku.

Aku sebenarnya juga ga tau ya kedepannya gimana, tapi menurutku kalo kamu copywriter pengen jadi AE ya why not? Tapi harus pertimbangkan matang-matang ya, jangan sampe nyesel hehe.

Baca terus Rubrik Profil di Loker ID untuk mendapatkan insight karier dari expert lainnya!