Sarah Pradana : Menginspirasi Perubahan Lewat Profesi Scriptwriter di Industri Perfilman

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 20 Januari 2025
Rubrik Profil

scriptwriter-sarah-pradana-tahun-2025

"Film memiliki kekuatan untuk menciptakan dampak emosional yang mendalam dan abadi, yang sering kali tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga menginspirasi perubahan," begitu kata Sarah Pradana ketika ditanyakan mengapa akhirnya ia beralih dari menulis untuk media alternatif dan platform pendidikan ke industri perfilman.

Lebih lanjut Sarah bercerita ke Loker ID, kalau perpindahan industri profesi scriptwrter yang ia jalani ini juga sebenarnya berakar dari rasa ingin terus berkembang sebagai storyteller. Di media alternatif khususnya, ia belajar banyak tentang cara menyampaikan pesan yang bermakna lewat cerita dokumenter—membawa isu-isu penting kepada audiens dengan cara yang mendalam dan relatable. "Tapi saya merasa ada keinginan untuk menjelajahi medium yang lebih luas, seperti film, yang mampu menjangkau emosi dan imajinasi penonton secara lebih intens," tambahnya lagi.

Saat ini Sarah berkarya di Visinema. Dan di Visinema ia melihat peluang untuk memperluas jangkauan saya sebagai storyteller dengan bekerja dalam tim yang sangat kreatif dan proyek-proyek yang berbicara tentang kehidupan, budaya, dan nilai-nilai yang relevan. Seperti apa perjalanan Sarah? Yuk simak cerita inspiratifnya di sini!

Bagaimana Anda melihat perbedaan signifikan dalam hal proses kreatif, ekspektasi, dan tekanan antara bekerja di media alternatif/pendidikan dan rumah produksi film?

Perbedaan paling signifikan terlihat dari skala dan intensitas proses kreatifnya. Bekerja di media alternatif, bisa dikatakan tidak melalui banyak proses kreatif karena terfokus pada menyampaikan informasi yang cepat karena ada batasan waktu produksi yang relatif cepat.

Di rumah produksi film seperti Visinema, skalanya jauh lebih besar, dan cerita yang diciptakan harus bisa menyentuh audiens yang lebih luas. Proses kreatifnya melibatkan banyak kolaborasi antar divisi, yang membutuhkan perhatian pada detail, struktur cerita, dan

emosi karakter. Ekspektasi juga lebih tinggi karena ada investasi besar, baik secara finansial maupun emosional, dari semua pihak yang terlibat.

Tekanan tentu lebih besar di dunia perfilman, terutama karena karya yang dihasilkan memiliki dampak jangka panjang dan harus memuaskan berbagai pihak—dari tim internal hingga penonton. Tapi di sisi lain, tekanan ini juga menjadi motivasi untuk menghasilkan

karya yang lebih kuat dan lebih mendalam. Prosesnya menantang, tapi sangat memuaskan.

Bisa Anda ceritakan sedikit tentang proyek apa saja yang pernah Anda garap di Visinema? Apa peran Anda dalam proyek tersebut?

Beberapa proyek yang saya kerjakan antara lain "Pemandi Jenazah", "Heartbreak Motel", "Home Sweet Loan", "Hutang Nyawa", "Ambyar Mak Byar". Saya berperan sebagai pengembang cerita dari film-film yang saya sebutkan tersebut.

Tantangan terbesar apa yang Anda hadapi saat bekerja di lingkungan produksi film yang besar seperti Visinema? Bagaimana Anda mengatasinya?

Tantangan terbesar adalah menjaga keaslian visi kreatif sambil menyesuaikannya dengan banyaknya masukan dan ekspektasi dari berbagai pihak—mulai dari produser, sutradara, hingga kebutuhan pasar. Di Visinema, setiap proyek melibatkan banyak orang dengan ide-ide dan perspektif yang beragam, dan terkadang sulit untuk menyeimbangkan semuanya tanpa kehilangan inti cerita yang ingin disampaikan.

Cara saya mengatasinya adalah dengan selalu kembali pada 'why' atau alasan mendasar atau visi mengapa cerita itu penting untuk dibuat. Saya juga belajar untuk berkomunikasi secara efektif dan terbuka—mendengarkan masukan dengan hati-hati sambil memastikan argumen kreatif saya tetap jelas dan terstruktur. Selain itu, saya mencoba membangun fleksibilitas tanpa kompromi terhadap nilai-nilai inti cerita.

Tantangan lainnya adalah mengelola tekanan waktu dan ekspektasi tinggi. Saya juga berusaha tetap terbuka pada pembelajaran baru dari rekan-rekan yang lebih berpengalaman, karena lingkungan ini adalah kesempatan besar untuk terus berkembang sebagai seorang storyteller.

Bagaimana proses kolaborasi dengan sutradara, produser, dan tim kreatif lainnya di Visinema? Apa yang membuat proses kolaborasi di Visinema unik?

Proses kolaborasi di Visinema sangat dinamis dan berbasis diskusi. Biasanya, semuanya dimulai dari sesi brainstorming untuk memastikan bahwa visi kreatif setiap orang—sutradara, produser, dan tim lainnya—selaras dengan tujuan cerita.. Yang membuat kolaborasi di Visinema unik adalah budaya kerja yang sangat suportif dan fokus pada storytelling yang autentik. Semua pihak benar-benar peduli pada detail emosi

dan pesan cerita, bukan hanya aspek teknis atau komersial.

Setiap masukan diberikan dengan niat untuk membuat cerita lebih relevan dan menyentuh audiens. Selain itu, saya merasa ada kepercayaan yang tinggi antar anggota tim. Meski ada banyak diskusi dan revisi, selalu ada ruang untuk bereksperimen dan membela ide kreatif selama

idenya bisa dipertanggungjawabkan. Proses ini menciptakan lingkungan yang mendorong inovasi sekaligus menghasilkan karya yang benar-benar 'punya jiwa.'

Menurut Anda, apa peran paling krusial seorang scriptwriter dalam sebuah produksi film?

Peran paling krusial seorang scriptwriter adalah menjadi fondasi dari seluruh proses kreatif. Scriptwriter adalah orang pertama yang merangkai cerita, menciptakan karakter, dan membangun dunia yang menjadi dasar bagi semua elemen lain dalam produksi film. Tanpa

naskah yang solid, sulit bagi sutradara, aktor, atau tim kreatif lainnya untuk menghidupkan cerita tersebut dengan maksimal.

Selain itu, scriptwriter juga berperan sebagai 'penjaga visi cerita.' Ketika ide cerita mulai diolah oleh banyak pihak, scriptwriter harus memastikan esensi dan tujuan cerita tetap terjaga, sambil tetap terbuka terhadap masukan untuk menyempurnakannya. Scriptwriter juga harus mampu berpikir strategis—memastikan cerita memiliki ritme yang tepat, dialog yang relevan, dan emosi yang bisa terhubung dengan audiens. Ini bukan hanya soal menulis, tapi juga soal memahami bagaimana setiap elemen cerita akan diterjemahkan ke layar. Jadi, peran scriptwriter sangat fundamental dalam menciptakan pengalaman sinematik yang berkesan.

pengalaman-sarah-sebagai-scriptwriter-tahun-2025

Bagaimana Anda melihat evolusi peran scriptwriter dalam industri film Indonesia saat ini? Apakah ada perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir?

Peran scriptwriter di industri film Indonesia saat ini mengalami evolusi yang cukup signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perhatian diberikan pada kualitas cerita. Penonton Indonesia sekarang jauh lebih kritis dan menghargai naskah yang memiliki

kedalaman, relevansi, dan otentik. Hal ini mendorong scriptwriter untuk tidak hanya menjadi 'penulis cerita,' tetapi juga storyteller strategis yang mampu menciptakan karya dengan daya tarik lokal dan global.

Perubahan lain yang saya lihat adalah meningkatnya kolaborasi antara scriptwriter dan tim kreatif lainnya sejak tahap awal. Kini, scriptwriter lebih sering dilibatkan dalam pengembangan cerita jangka panjang, bukan hanya sebagai 'penerjemah ide.' Selain itu, platform digital seperti OTT (over-the-top) memberikan ruang lebih luas untuk eksplorasi genre dan format cerita, dari film layar lebar hingga serial, yang membuat peran scriptwriter menjadi lebih fleksibel dan beragam.

Bagaimana Anda menilai perkembangan industri perfilman Indonesia saat ini? Apa saja kekuatan dan kelemahannya?

Industri perfilman Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan yang sangat menggembirakan. Salah satu kekuatannya adalah keberagaman cerita yang semakin diapresiasi. Film-film dengan pendekatan lokal yang autentik, seperti "Kucumbu Tubuh Indahku" atau "Before, Now & Then (Nana)", berhasil mendapat pengakuan internasional, menunjukkan bahwa Indonesia punya daya tarik global tanpa harus kehilangan identitas budayanya.

Selain itu, teknologi dan kualitas produksi terus meningkat, sehingga film Indonesia mampu bersaing secara teknis dengan produksi internasional. Kekuatan lainnya adalah pertumbuhan platform digital seperti OTT, yang membuka ruang bagi eksplorasi cerita yang lebih beragam, terutama untuk genre yang mungkin kurang terwakili di layar lebar, seperti thriller, sci-fi, atau drama eksperimental. Ini juga memberikan peluang bagi penulis, sutradara, dan sineas muda untuk berkarya dengan lebih bebas.

Namun, masih ada beberapa kelemahan yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah, tantangan distribusi dan akses ke penonton di luar kota-kota besar masih menjadi hambatan, sehingga banyak film berkualitas tidak sampai ke audiens yang lebih luas. Ke depan, penting bagi industri untuk terus mendukung regenerasi talenta, memperkuat ekosistem pendanaan yang mendukung film independen, dan menciptakan kebijakan distribusi yang lebih inklusif. Dengan potensi yang ada, saya optimis bahwa industri perfilman Indonesia bisa terus berkembang menjadi lebih solid dan beragam.

Apa yang menurut Anda menjadi tren terbaru dalam perfilman Indonesia? Bagaimana tren ini memengaruhi pekerjaan seorang scriptwriter?

Salah satu tren terbaru dalam perfilman Indonesia adalah meningkatnya apresiasi terhadap cerita-cerita yang autentik dan berakar pada budaya lokal, namun dikemas dengan pendekatan yang lebih universal. Film seperti "Before, Now & Then (Nana)" dan "Autobiography" menunjukkan bagaimana elemen lokal dapat diramu menjadi cerita yang relevan di tingkat global. Tren ini mendorong scriptwriter untuk lebih mendalami riset dan memahami konteks sosial-budaya dalam menciptakan cerita.

Selain itu, genre yang dulu kurang populer, seperti thriller psikologis dan horor dengan elemen sosial ("Perempuan Tanah Jahanam", "Pengabdi Setan"), kini semakin diminati. Hal ini membuka peluang bagi scriptwriter untuk mengeksplorasi gaya bercerita yang lebih

kompleks, baik dari segi struktur cerita maupun pengembangan karakter.

Platform OTT juga membawa tren cerita berseri dengan format episodik, yang membutuhkan pendekatan penulisan yang berbeda. Scriptwriter harus lebih strategis dalam membangun plot jangka panjang sambil tetap menjaga ketegangan di setiap episode. Tren ini memengaruhi pekerjaan scriptwriter dengan mendorong mereka untuk lebih fleksibel, adaptif, dan berani bereksperimen. Tidak cukup hanya menulis cerita yang menarik, tapi juga memastikan bahwa cerita tersebut relevan dengan perkembangan selera penonton yang semakin kritis dan beragam.

Bagaimana Anda melihat peran penonton dalam membentuk industri film Indonesia saat ini?

Peran penonton dalam membentuk industri film Indonesia saat ini sangat signifikan. Penonton bukan lagi sekadar konsumen pasif, tetapi kini menjadi bagian penting dari ekosistem perfilman. Mereka memiliki pengaruh besar terhadap tren cerita, genre, bahkan gaya bercerita yang berkembang di industri.

Dengan meningkatnya akses ke media sosial dan platform ulasan seperti Letterboxd, penonton punya suara yang langsung didengar oleh para sineas. Mereka tidak hanya memberi apresiasi, tetapi juga kritik yang mendorong industri untuk terus berinovasi dan

memberikan karya yang lebih berkualitas. Kesuksesan beberapa film, seperti "Pengabdi Setan" atau "NKCTHI", menunjukkan bahwa ketika cerita mampu menyentuh emosi dan relevansi penonton, dampaknya bisa sangat besar, baik dari segi komersial maupun budaya.

Selain itu, penonton Indonesia semakin kritis dan memiliki preferensi yang beragam. Hal ini memaksa para pembuat film, termasuk scriptwriter, untuk lebih peka terhadap apa yang sedang berkembang di masyarakat. Penonton tidak lagi hanya mencari hiburan; mereka

juga menginginkan cerita yang bisa memicu diskusi, memberikan representasi, atau bahkan memengaruhi pandangan mereka.

Menurut Anda, bagaimana prospek karier seorang scriptwriter di Indonesia? Apakah ada peluang yang semakin terbuka atau justru tantangan yang semakin besar?

Prospek karier seorang scriptwriter di Indonesia saat ini cukup menjanjikan, terutama dengan perkembangan industri yang terus bergerak maju. Peluang semakin terbuka berkat meningkatnya kebutuhan akan konten berkualitas di berbagai platform, baik film layar lebar,

serial OTT, maupun proyek-proyek independen.

Pertumbuhan platform digital seperti Netflix, Prime Video, dan lokal seperti Vidio atau KlikFilm juga menciptakan ruang baru bagi scriptwriter untuk mengeksplorasi genre dan format yang lebih beragam. Selain itu, industri semakin menghargai peran scriptwriter sebagai inti dari sebuah karya.

Pengakuan terhadap pentingnya cerita yang kuat mendorong lebih banyak investasi dalam proses pengembangan naskah, termasuk program mentorship, workshop, dan kolaborasi lintas negara yang mulai bermunculan. Namun, tantangannya juga semakin besar. Penonton Indonesia kini lebih kritis dan memiliki ekspektasi tinggi terhadap kualitas cerita. Seorang scriptwriter dituntut untuk terus berinovasi, memahami dinamika pasar, dan tetap relevan di tengah perubahan tren.

Kompetisi juga semakin ketat, mengingat semakin banyak talenta baru yang bermunculan. Untuk menghadapi tantangan ini, scriptwriter perlu terus mengasah keterampilan teknis, memperluas jaringan, dan mengikuti perkembangan industri. Dengan dedikasi dan adaptasi,

saya percaya prospek karier scriptwriter di Indonesia akan terus berkembang, terutama di tengah antusiasme terhadap cerita-cerita lokal yang mendunia.

suka-duka-menjadi-scriptwriter-film-tahun-2025

Keterampilan apa saja yang menurut Anda paling penting bagi seorang scriptwriter untuk sukses di industri ini?

1. Kemampuan Bercerita yang Kuat: Di atas segalanya, seorang scriptwriter harus bisa menyusun cerita yang menarik dan memikat. Kemampuan untuk membangun karakter yang kompleks, alur yang solid, dan menciptakan konflik yang menarik adalah dasar dari semua naskah yang sukses.

2. Kemampuan Adaptasi dan Fleksibilitas: Industri film sangat dinamis, dan selera penonton terus berkembang. Seorang scriptwriter harus mampu beradaptasi dengan tren baru, memahami kebutuhan pasar, dan tetap relevan, baik dalam penulisan film layar lebar, serial TV, atau proyek digital lainnya.

3. Kemampuan Berkolaborasi: Dalam lingkungan produksi film, naskah tidak hanya menjadi karya penulisnya saja, tetapi juga bagian dari kolaborasi tim yang lebih besar. Kemampuan untuk bekerja dengan sutradara, produser, dan tim kreatif lainnya untuk mewujudkan visi bersama sangat penting.

4. Riset: Seorang scriptwriter harus mampu melakukan riset untuk memastikan cerita yang ditulis akurat dan kredibel, terutama jika mengangkat tema-tema tertentu yang membutuhkan pemahaman mendalam, seperti sejarah, budaya, atau isu sosial.

5. Ketahanan Terhadap Kritik dan Revisi: Proses penulisan naskah sering melibatkan banyak revisi dan kritik. Kemampuan untuk menerima masukan konstruktif dan memperbaiki naskah tanpa kehilangan semangat kreatif adalah keterampilan penting.

Bagaimana menurut Anda perkembangan teknologi AI dan digitalisasi akan memengaruhi pekerjaan seorang scriptwriter?

Perkembangan teknologi AI dan digitalisasi akan memengaruhi pekerjaan seorang scriptwriter dengan cara yang kompleks, baik positif maupun tantangan. Di satu sisi, teknologi dapat menjadi alat yang sangat membantu. Misalnya, AI bisa digunakan untuk membantu brainstorming ide, menyusun outline, atau bahkan menghasilkan draf awal naskah yang bisa diolah lebih lanjut.

Aplikasi dan perangkat lunak penulisan naskah seperti Final Draft atau Celtx semakin terintegrasi dengan fitur-fitur cerdas, yang bisa mempercepat proses penulisan dan mempermudah revisi. Selain itu, digitalisasi membuka peluang lebih besar bagi scriptwriter untuk mendistribusikan karya mereka.

Platform OTT (seperti Netflix, Amazon Prime, atau Disney+) memungkinkan karya lokal menjangkau audiens lebih luas. Dengan meningkatnya konsumsi konten digital, ada permintaan yang lebih tinggi akan berbagai jenis cerita, yang memberikan peluang lebih

banyak untuk scriptwriter dalam menciptakan berbagai format dan genre baru.

AI dapat menghasilkan teks dengan cepat, tetapi mungkin masih kesulitan dalam menangkap elemen emosional, nuansa, atau keaslian dalam sebuah cerita yang membuat film benar-benar menyentuh penonton. Ini menuntut scriptwriter untuk tetap menjaga keunikan dan sentuhan manusiawi dalam setiap naskahnya.

Secara keseluruhan, AI dan digitalisasi akan menjadi alat yang membantu, tetapi peran scriptwriter sebagai pengarah cerita, pembangun karakter, dan penyampai emosi yang mendalam tetap tidak tergantikan. Pekerjaan ini akan terus berkembang, tetapi kreativitas

manusia dan kemampuan bercerita yang otentik akan tetap menjadi kunci dari film yang sukses.

Jika diberi kesempatan, cerita seperti apa yang ingin Anda tuliskan di masa depan?

Jika diberi kesempatan, saya ingin menulis cerita yang menggabungkan elemen-elemen lokal dengan narasi universal yang dapat menyentuh banyak orang. Mungkin sebuah cerita tentang perjalanan hidup seseorang yang diwarnai oleh tantangan sosial, budaya, dan keluarga, tetapi tetap berfokus pada pencarian makna hidup yang lebih dalam. Saya ingin menggali tema-tema tentang identitas, cinta, dan perjuangan dalam konteks budaya Indonesia yang kaya, namun tetap menyampaikan pesan yang bisa diterima secara global.

Selain itu, saya tertarik untuk mengeksplorasi genre yang lebih gelap atau eksperimental, seperti thriller psikologis atau drama horor, yang mengangkat isu sosial atau psikologis yang relevan dengan kehidupan modern. Saya ingin menulis cerita yang tidak hanya menghibur,

tapi juga menggugah emosi dan pemikiran penonton—yang bisa membuat mereka merefleksikan diri mereka sendiri setelah menonton.

Akhirnya, saya berharap bisa menciptakan karya yang memberi ruang bagi dialog antar budaya dan bisa menjadi titik temu bagi penonton dengan berbagai latar belakang.

Baca terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan insight menarik dari expert lainnya!