Saddam Husein: Panggilan Hati Menjadi Fotografer Konservasi Alam

Setiap pekerjaan atau profesi memiliki tantangannya sendiri. Namun ada beberapa profesi yang bukan hanya dari internal saja yang menantang melainkan juga kondisi eksternalnya. Salah satunya adalah fotografer konservasi, seperti yang dijalani Saddam Husein, fotografer asal Julok, Aceh Timur ini.
Tertarik dengan dunia fotografi sejak usia 10 tahun, dan menemukan makna dan manfaat fotografi saat bersinggungan dengan alam, akhirnya membuat Sadddam memutuskan menjadi fotografer konservasi. Seperti apa perjalanan dan pengalamannya memainkan kamera di alam liar yang terlindungi? Baca cerita menariknya di sini!
Sejak kapan Anda pertama kali tertarik dengan fotografi, dan apa yang membuat Anda jatuh cinta pada dunia ini?
Saya tertarik dengan fotografi sejak usia sekitar 10 tahun, saat itu saya menemukan sebuah kamera poket (film) dikamar sudara laki-laki saya. Namun sayangnya saat itu saya hanya mendapati kamera tidak beserta filmnya. Lalu saya mulai menyisihkan sedikit demi sedikit uang jajan saya, bahkan saya harus menunggu berbulan-bulan untuk membeli satu rol film saja. Tapi karena ada ketertarikan saya tetap bersabar.
Bagaimana Anda pertama kali mulai memfokuskan fotografi pada konservasi alam? Apa yang menginspirasi Anda untuk memilih bidang ini?
Awalnya saya diajak oleh rekan saya untuk bergabung di sebuah forum jurnalis yang berfokus pada isu lingkungan yang bernama Sumatera Tropical Forest Journalism (STFJ), di sana saya banyak belajar bagaimana dunia konservasi ini bekerja dalam sunyi. Lalu karena ada beberapa perbedaan pendapat didalam forum tersebut saya beserta 5 rekan yang tergabung didalam forum itu memutuskan untuk mendirikan sebuah yayasan yang kami sepakati dengan nama Voice Of Forest (VOF).
Nah… disinilah saya benar-benar memfokuskan diri untuk mendalami fotografi konservasi alam. Saya tidak tahu apakah ini bisa disebut sebagai inspirasi, namun saya hanya ingin menunjukkan kepada khalayak banyak memulihkan apa yang terlanjur rusak itu lebih sulit daripada menjaganya. Apalagi mengembalikan apa yang telah punah, manusia tidak akan mampu.
Apakah ada pengalaman pribadi yang sangat berkesan yang mendorong Anda untuk menjadi fotografer konservasi alam?
Pengalaman pribadi sih tidak ada, namun saya hanya ingin merekam setiap detail sejarah bagaimana manusia menghancurkan tempat mereka berpijak dan ada juga yang berusaha sekuat tenaga untuk mencoba memperbaikinya, dengan harapan semakin banyak orang yang tersadar akan bahayanya kerusakan alam dengan melihat foto-foto saya.

Bagaimana Anda memulai karier sebagai fotografer konservasi alam? Apakah ada tantangan khusus yang Anda hadapi saat memulai?
Ibarat katanya berdarah-darah, karena tidak jarang saya harus mencari pinjaman sana sini hanya untuk mengerjakan sesuatu yang belum tentu mendapatkan pundi-pundi rupiah, namun karena kecintaan saya pada alam semesta saya tidak peduli dengan itu. Belum lagi profesi yang saya pilih ini sangat spesifik dan pasarnya juga kecil, jadi kita harus siap dengan itu. Misalnya orderan sepi, bahkan bisa nanti kerja seminggu nganggurnya setahun. Tantangannya kita akan dimusuhi oleh orang-orang yang menggaruk keuntungan dengan merusak alam dan perusahaan-perusahaan besar yang melakukan deforestasi.
Apa saja tantangan terbesar yang pernah Anda hadapi sebagai fotografer konservasi alam? Dan Bagaimana Anda mengatasinya?
Butuh peralatan yang harganya tidak murah untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Seperti lensa yang harganya puluhan juta bahkan bisa mencapai ratusan juta. Bersyukurnya di kota tempat saya tinggal sekarang semua peralatan yang saya butuhkan ada disewakan, jadi saya hanya perlu menyewa kalau saya belum mampu membelinya.
Apa momen paling membanggakan yang pernah Anda alami sebagai fotografer konservasi?
Saya mendapatkan amanah untuk mendokumentasikan dua Harimau Sumatra yang lahir dan besar di sanctuary dan dilepasliarkan ke hutan. Dan ini merupakan yang pertama kali dilakukan di dunia.
Bagaimana Anda melihat peran fotografi dalam upaya konservasi alam?
Fotografi berperan penting di dunia konservasi, salah satunya adalah sebagai median kampanye. Dengan melihat foto-foto konservasi orang akan mengerti bagaimana keadaan misalnya hutan kita atau laut kita dan satwa-satwa yang hidup didalamnya.
Apakah ada pengalaman yang paling berkesan yang pernah Anda alami saat berada di alam bebas untuk mengambil gambar?
Ya…saya pernah mendapatkan tugas untuk mendokumentasikan sebuah program restorasi hutan di wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), namun ketika saya dan tim sampai ke lokasi restorasi kami melihat lokasi tersebut baru saja terbakar. Dan kami memperkirakan kebakaran itu terjadi bukan faktor alam, tapi karena ada masyarakat yang sengaja membakar hutan untuk membuka lahan mengingat kawasan tersebut memang sedang banyak aktivitas ilegal.
Bagaimana Anda menjaga agar peralatan fotografi Anda tetap berfungsi dengan baik dalam kondisi alam yang seringkali ekstrem?
Sebelum menuju ke lokasi, kita pasti melakukan persiapan, hal yang wajib dibawakan oleh fotografer baik wild life ataupun konservasi adalah dry bag dan mantel.

Penghargaan apa saja yang pernah Anda terima atas karya fotografi Anda?
Pernah beberapa kali menjuarai foto tingkat lokal dan nasional,dari juara 1 sampai juara harapan. Pernah mendapatkan juara 3 Anugerah Subroto yang diselenggarakan oleh Kementrian ESDM. Pernah menjadi finalis BarTur Photo Awards (internasional), dan sepuluh besar lomba foto yang diselenggarakan oleh Natgeo Asia dan Temasek dengan tema lingkungan (se-Asia Tenggara).
Oh ya, apakah sudah pernah berpameran atau ada karya yang dipublikasikan? Boleh diceritakankah?
Untuk pameran pernah beberapa kali tapi tidak pameran tunggal, karena belum punya cukup uang untuk membuat pameran tunggal.
Untuk publikasi sendiri banyak karya saya di publikasi oleh media asing dan nasional, karena saya juga berprofesi sebagai fotografer jurnalis lepas. Selain publikasi di media beberapa kali juga saya ditugaskan memotret untuk kebutuhan buku.
Apakah Anda pernah terlibat dalam proyek kolaborasi dengan organisasi konservasi atau lembaga lainnya? Boleh diceritakan lembaga apakah dan bagaimana pengalaman selama berkolaborasi bersama?
Pastinya pernah, terutama saya beberapa kali terlibat kerjasama dengan yayasan Kehati, TFCA (Tropical Forest Conservation Action for Sumatera) Sumatra, Penabulu Foundation dan beberapa NGO lainnya. Tentu banyak pengalaman-pengalaman menarik baik itu yang membuat hati senang, gembira maupun yang membuat hati hancur dan sedih.
Seperti di saat saya melakukan tugas untuk TFCA Sumatra dalam pemotretan untuk pembuatan buku Restorasi mitra TFCA Sumatera di Suaka Margasatwa Rawa Singkil, dimana teman-teman dari NGO sedang melakukan pemulihan atau merestorasi hutan yang terlanjur dirambah oleh sebuah perusahaan sawit, namun di sisi yang lain kami melihat ada alat berat yang sedang bekerja untuk menghancurkan hutan gambut yang menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna tersebut.
Apa yang memotivasi Anda untuk terus berkarya sebagai fotografer konservasi alam?
Saya hanya memiliki kemampuan dibidang fotografi, jadi saya ingin memberikan dampak baik bagi bumi pertiwi lewat karya-karya foto saya.
Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada generasi muda yang tertarik dengan fotografi konservasi?
Segera mulai, karena di Indonesia tidak banyak fotografer yang fokus di bidang ini. Selain bisa mendapatkan uang,yakinlah kita juga akan mendapatkan balasan baik dari Tuhan.
Pengalaman hidup dan perjalanan karier para expert lainnya bisa Anda baca di artikel yang termuat di Rubrik Profil!