Sabda Armandio: Tentang Mengembangkan Kesenangan dan Lelah Secukupnya

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 2 Oktober 2024
Rubrik Profil

profesi-penulis-multimedia-sabda-armandio-tahun-2024

 

Pernah menonton film 24 Jam Bersama Gaspar (2023)? Film yang diperankan oleh Reza Rahadian, Sal Priadi, dan Shenina Cinnamon ini diangkat dari novel dengan judul yang sama. Penulisnya adalah teman ngobrol Loker ID kali ini, namanya Sabda Armandio atau biasa disapa Dio.

Sebelum akhirnya diangkat ke layar lebar, novel tersebut memenangkan beberapa penghargaan. Diantaranya adalah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (2016), Anugerah Pembaca Indonesia (2017) untuk kategori Buku Fiksi Terfavorit, dan PEN America Literary Grant (2021). Selain 24 Jam Bersama Gaspar (2023), Dio juga menulis Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya (2015) dan Dekat dan Nyaring (2019). Karya-karyanya sering menjadi rujukan dan inspirasi penelitian dalam penulisan jurnal ilmiah, baik dari sisi tema maupun teknis penulisan.

Tidak hanya menulis, sebenarnya Dio mengerjakan banyak hal. Bermain musik iya, web developing iya, web designing, dan search engine optimization. Lantas, kalau ditanya profesi dimana ia ingin disebut, ex Manager Multimedia Tirto.id ini menjawab, "Kalau profesi itu ada janji sumpahnya ya…kayak dokter. Aku enggak enggak punya nama untuk 'profesi' yang aku jalani sekarang. Ya udah gini ajalah ya..." katanya santai. Baca selengkapnya cerita inspiratif Dio di sini!

Apa yang membuat Anda senang menulis?

Aku suka nulis karena aku suka cerita. Dari kecil aku suka dapat cerita dari kakek. Dan sejak itu, jadi natural aja ada keinginan untuk menulis cerita dan membangun dunia. Aku sangat menikmati ketika aku bisa menentukan tempat itu seharusnya kayak apa sih dan gimana setting tempat dan waktunya. Basically, aku suka bikin alur dan karakter. Ketika dunia yang aku bangun selesai dan beralih ke cerita kemudian selesai perasaannya senang banget. Jadi, sebenarnya aku mengincar sensasi kepuasan itu sih..

Berarti ini enggak berlaku hanya di menulis saja ya?

Bener! Sama seperti ketika nge-develop jurno (Dio adalah co-founder-nya--red), aku senang ketika bisa bikin produk yang bermanfaat buat orang lain. Misalnya nih, mereka bisa baca jurnal dengan gaya bahasa yang bisa dimengerti. Aku selalu membayangkan hidupku itu seperti berada dalam misi. Ada task A, B, C, dan seterusnya. Satu misi selesai, masuk ke misi selanjutnya, kemudian selesai, ada kesenangan dan kepuasan.

proses-kreatif-sabda-armandio-tahun-2024

Apa yang Anda pelajari semua adalah otodidak, boleh diceritakan?

Bisa dibilang seperti itu.  Lulusan SMA…aku enggak kuliah. Dan memang soal pendidikan sepertinya aku enggak cocok dengan pendidikan formal.

Oh ya? Kenapa bisa begitu?

Karena aku kebingungan menentuan bakat dan minatku dimana waktu itu. Jadi keputusannya diambil karena situasi enggak memungkinkan dan dulu aku enggak tahu aku suka apa. Aku suka robotika, aku suka animasi, desain, suka musik juga, suka sculpture juga. Waktu SMA aku juga enggak punya cukup preferensi dan lingkar pertemanan yang bisa membantu aku untuk mendapatkan jawaban. Dari semuanya ini sebenarnya interest aku kemana sih. Itu kan jadi core ketika kita milih kita kuliah dimana..

Ketika menjadi Manager Multimedia di Tirto, itu ceritanya bagaimana ya?

Karena basic-nya aku suka ngulik dan suka teknoogi dan hal-hal yang berbau mesin komputer, internet, dan hal-hal yang bersinggungan dengan itu, kemudian ketemu dengan Tirto yang kebutuhannya mendesain sebuah produk. Ketika itu mereka sangat serius ya sama produk kebutuhannya, jadi sama-sama berusaha men-develop sebuah produk antara keseriusan dengan kebutuhan publik. Jadilah di-develop bareng dengan teman multimedia di ilustrasi, editing, mematangkan konsep infografis. Intinya kerja bareng, dan ketika itu aku bersyukur bisa ketemu dengan teman-teman yang sangat berbakat dan bisa saling men-deliver ide dengan sangat baik. 

Boleh diceritakan bagaimana proses belajar otodidak yang Dio jalani?

Setelah lulus SMA aku nongkrong di warnet. Setelah keluar dari rumah, hidup sendiri, aku bertahan hidup dengan cara bikin website dan produksi website. Terus ketika sempat bekerja di agency, kantor mengikutsertakan aku ke bootcamp programming. Waktu itu kantor butuh untuk pitching. 

Bagaimana pengalaman masa kecil membentuk proses kreativitas Anda?

Ini sebenarnya sesuatu yang tidak direncanakan atau dengan sengaja dibentuk. Ketika kecil enggak yang bisa aku lakukan. Aku enggak suka keluar rumah, aku agak cemen dan lemah. Di rumah aku senang nonton tivi, kartun, sinetron, dan suka nemanin nenek nonton telenovela. Dulu di metro tv ada acara keuangan..aku senang banget tuh jadi kayak tahu hari ini harga dollar sekian. Terus sore berebutan remote sama nenek..dia mau nonton telenovela dia mau nonton kuis, akhirnya jadi nonton telenovela hehehe...

Kalau sekarang seperti apa proses kreativitas seorang Dio?

Aku punya daftar karakter, aku suka catat orang kayak apa yang menarik kemudian menuliskan detailnya. Mulai dari karakteristiknya, makanan kesukaannya apa, zodiaknya. Ini membuatku punya banyak stok karakter yang lumayan untuk menempatkan karakter tersebut dalam cerita yang sesuai. Nah, sebagian karakter di novel 24 Jam Bersama Gaspar itu sudah ada di tabungan karakterku.

proses-kreatif-sabda-armandio-penulis-tahun-2024

Sejauh ini sudah ada berapa tabungan karakter?

Ga itungin sih. Pastinya ada banyak dan sudah aku pindahin ke spreadsheet. Aku tu selalu menulis ketika ada ide. Di buku catatan, notes, ketika ada kepikiran, misalnya melihat abang tukang parkir wah menarik nih, langsung aku tuliskan karakternya. 

Balik lagi ke film 24 Jam Bersama Gaspar, apa yang Anda rasakan setelah menonton filmnya?

Aku kan enggak terlibat dalam penulisan script. Ternyata menarik juga. Ada beberapa hal yang aku enggak kepikiran, ternyata bisa dibikin. Oh ternyata 24 Jam Bersama Gaspar bisa dibuat seperti ini. Ketika proses pembuatannya aku juga enggak ada nanyak-nanyak, karena memang aku ingin melihat juga bagaimana pekerja kreatif lain mendefiniskan 24 Jam Bersama Gaspar.

Punya opini terkait perkembangan industri kreatif di era digital dan profesi penulis?

Pastinya, kita punya opsi lebih banyak di era digital. Jumlah penulis itu sekarang banyak banget. Dan mediumnya juga udah banyak. Buatku itu menyenangkan. Internet memungkinkan kita untuk membuat fan fiction. Mengolah cerita yang disuka jadi cerita baru, kemudian dapat pembaca dari sana. Terus juga bagaimana internet memungkinkan interaksi yang terjadi antara kita dan manusia lain yang enggak pernah ketemu kemudian ketemu di satu forum tanpa tatap muka dan saling bercerita. 

Pertanyaan penutup, punya saran untuk orang-orang yang ingin menulis atau menerbitkan karyanya?

Kadang-kadang istirahat perlu sih. Kalau kamu merasa punya banyak keinginan dan merasa dunia enggak berpihak denganmu, enggak perlu rush in. Aku sering dapat cerita teman yang depresi karena mengalami penolakan. Dari situ aku belajar beberapa cerita enggak perlu diceritain, yang penting adalah hidupmu sendiri. Beberapa cerita enggak perlu diselesaikan.

Itu tadi sepenggal kisah pengalaman hidup, berkarier, dan proses kreatif Sabda Armandio. Baca cerita-cerita inspiratif dari profesional muda lainnya di Rubrik Profil Loker.ID ya!