Ronald Arnold: Semua Orang Bisa Jadi Seniman Tato Tapi Enggak Semua Orang Mau Belajar dan Berusaha

Tahukah Anda kalau tato berasal dari kata "tatu" yang berarti "menandakan sesuatu". Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tato artinya gambar atau lukisan pada bagian anggota tubuh. Tato mengalami penyempitan dan perluasan makna dalam kehidupan masyarakat urban Indonesia. Dilansir dari pemberitaan di liputan6.com, disebutkan kalau di rentang 1980 - 1990-an tato identik dengan kriminalitas. Namun, setelahnya--terutama setelah pergeseran rezim pemerintahan, tato tidak lagi identik dengan sesuatu yang buruk, justru malah dianggap sebagai bentuk seni.
Tidak hanya karyanya yang dianggap sebagai seni, profesinya juga lebih dihargai dan cukup menjanjikan. Di luar Indonesia, gaji seniman tato bervariasi namun cukup kompetitif. Di negara-negara dengan biaya hidup yang lebih tinggi, seperti Australia dan Selandia Baru, para seniman tato pemula bisa mendapatkan sekitar AUD/NZD 30.000 hingga 40.000 per tahun (Rp 311.719.950,00 - Rp 415.638.894,00). Di negara-negara dengan biaya hidup yang lebih rendah, seperti India atau Thailand, gajinya mungkin lebih rendah, berkisar antara INR 200.000 (Rp 36.670.563,16) hingga 400.000 (73.345.676,48) atau THB 200.000 (Rp 92.123.880,00) hingga 300.000 (Rp 138.061.599,48) per tahun. *nilai tukar 18 September 2024.
Lantas bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Menurut laman worldsalaries.com gaji seniman tato di Indonesia bisa berada pada rentang Rp 25.440.400 - Rp 88.081.100 per tahun. Semakin punya skill, jam terbang, dan portofolio yang bagus, maka kemungkinan untuk mendapatkan gaji lebih tinggi juga bisa terjadi.
Pekerjaan yang tidak terikat dengan waktu, kebebasan berkreasi, menjadi sesuatu yang dijanjikan dalam profesi ini. Kali ini, Loker ID berkesempatan mengobrol dengan Ronald Arnold atau biasa disapa Onal yang memulai karier tatonya sejak 2007 hingga sekarang. Seperti apa suka duka Onal menekuni profesinya dan apa yang membuatnya tetap bertahan di industri ini? Baca kisahnya di sini!
Bagaimana tanggapan Anda mengenai perkembangan profesi seniman tato saat ini di Indonesia?
Kalau menurut saya, industri saat ini sudah mendukung profesi seniman tato ini. Kalau mau belajar otodidak bisa banget! Sederhananya sih, semua orang bisa jadi seniman tato tapi enggak semua orang mau belajar dan kerja keras kan?
Bagaimana dengan porsi bakat? Kira-kira ada enggak ya orang yang bisa dibilang berbakat jadi seniman tato? Atau kalau orang dengan skill ini bisa lebih mudah menjadi seniman tato?
Orang yang suka menggambar atau punya background pengalaman sebagai ilustrator bakalan oke banget untuk menjadi seniman tato. Kenapa saya bilang oke banget, karena dia sudah punya feeel menggambar, jadi lebih gampang diasahnya.

Kalau Anda sendiri bagaimana? Apakah punya latar belakang seni?
Hahaha...kalau saya sih, saya sekali enggak punya background melukis. Saya memulai dari rasa suka, penasaran, dan senang ditato juga. Kemudian kepikiran, kalau badan saya sudah full ditato, terus saya nato dimana lagi ya? Nah..dari situlah saya kepikiran untuk mencoba menjadi seniman tato, sampai sekarang akhirnya keterusan.
Bagaimana Anda membangun skill dan portofolio?
Portofolio seorang seniman tato itu adalah tubuh kliennya. Jadi sebagai seniman tato kita harus benar-benar serius menggarap karya kita. Karena kemana pun klien pergi, dia akan membawa hasil karya kita yang kemungkinan besar akan ditanya oleh siapa pun yang melihat tato di badannya. "Eh ini tato siapa yang bikin?" Itu sudah jadi promosi sendiri kan...
Boleh diceritakan pengalaman real Anda terkait hal ini?
Saya pernah menato magician Demian Aditya. Awal mula dia tertarik untuk saya tato karena dia melihat hasil karya tato saya di orang lain kemudian melihat media sosial saya. Baru tertarik untuk mengontak saya dan berdiskusi mengenai rencana desain tatonya. Media sosial itu penting tapi the power of mouth dan bagaimana kita nge-treat klien juga sangat penting.
Selain Demian Aditya, siapa lagi public figure yang pernah Anda tato?
Fandy Christian, Chris Laurent, dan Rendy Kjaernett.
Ada enggak hal paling ngenes yang Anda alami saat merintis karier sebagai seniman tato?
Apa ya...mungkin ini ya, di tahun-tahun pertama berkarir sebagai seniman tato, saya enggak mendapatkan bayaran uang sama sekali. Kadang dibayar dengan makanan atau rokok. Tapi sebenarnya itu enggak ngenes juga ya, karena itu adalah momen dimana saya sedang belajar dan lagi semangat-semangatnya mencoba. Malah bersyukur sih, ada yang percaya badannya saya jadikan media untuk latihan hehehe. Kalau sekarang lebih enak dan gampang, ada kulit sintesis untuk latihan. Kalau dulu mah kudu beneran tato di kulit.

Selain berlatih secara otodidak hal apa lagi yang Anda lakukan untuk melatih dan mengasah skill?
Paling bener itu berdiskusi sih. Diskusi dengan teman, atau main ke studio seniman tato yang sudah senior, biar bisa lihat langsung proses kreatif para suhu. Ada banyak insight yang bisa kita dapat dari melihat teman-teman seniman lain menato. Gimana skill mereka, cara mereka mixing tinta, teknik nato mereka, ada banyak pembelajaran sih...
Di momen apa Anda merasa mengalami peningkatan skill yang signifikan?
Di tahun 2012, saya pernah ditawari teman untuk bekerja di studio tato di Belanda. Itu adalah kali pertama saya ke Belanda untuk menato. Tapi, lucunya pas pertama kali kesana, saya merasa stuck dan enggak dapat peningkatan skill gitu. Justru saya merasa skill saya meningkat ketika menjadi guest artist di studio-studio tato Bali saya merasa skill saya meningkat drastis. Menurut saya Bali adalah tempat yang pas banget buat seniman tato mengasah skill.
Kenapa begitu, karena sebagai destinasi turis yang rame, banyak turis suka buat tato di sana. Turisnya juga dari negara yang berbeda-beda kan, jadinya yah kita bisa banyak belajar. Latar belakang budaya dan tempat tinggal bisa memberikan perbedaan besar dari sisi style, ilustrasi yang disenangi, tekniknya, dari situ kita bisa belajar maunya klien itu seperti apa. Terus kan kita nge-treat banyak klien nih jadinya, akhirnya ya balik lagi ke kita sih ilmunya. Pengalaman-pengalaman ini bisa jadi menambah keahlian kita. Kita bisa berkembang, tahu update dan kesenangan klien dari berbagai negara. Itu sih yang bikin kualitas karya kita juga bisa meningkat.
Sekarang ini kan seniman tato sudah banyak, begitu juga studio tato, apakah profesi seniman tato ini masih menjadi pekerjaan yang menjanjikan?
Sebenarnya menjanjikan atau tidak tergantung orangnya. Mau belajar dan berusaha atau enggak. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, di zaman sekarang ini semua orang bisa menjadi seniman tato. Ilmunya itu semua orang bisa akses. Hanya saja kan, enggak semua orang mau berusaha. Dan hasilnya juga sudah pasti tidak sama, tergantung seberapa besar usaha dan faktor-faktor lainnya. Saya rasa di semua profesi akan seperti itu, bukan hanya seniman tato saja.
Itu tadi cerita dari Onal mengenai pengalamannya merintis sebagai seniman tato. Cerita inspiratif dari profesional muda lainnya bisa Anda baca di Rubrik Profil ini ya!