Reza Chen : Membentuk Pengalaman Positif Produk Digital Lewat UX Writing

Salah satu hal menyenangkan dari mengerjakan Rubrik Profil di Loker ID adalah bisa mendekatkan diri dengan para expert dan mendapatkan perspektif langsung dari ahlinya. Profil kali ini, kami mengobrol dengan pakar ux writing yang sudah cukup makan asam garam dunia per-ux-an. Menariknya lagi profil kita kali memiliki latar belakang profesi yang berbeda sebelum akhirnya berlabuh sebagai UX Writer.
Langsung gas aja yuk, ngobrol dengan Reza Chen!
Apa yang membuat Anda memutuskan untuk beralih dari peran Employer Branding Specialist dan Recruiter menjadi UX Writer? Apa yang menarik Anda pada bidang ini?
Alasanku banting setir jadi UX Writer adalah karena aku merasa kontribusiku bisa lebih kelihatan langsung. Aku kerja di perusahaan teknologi yang channel utama transaksinya adalah aplikasi, jadi apa yang aku kerjakan akan langsung kelihatan di aplikasi tersebut dan punya peran dalam membantu performa perusahaan. Ide bahwa apa yang kukerjakan punya dampak langsung ke perusahaan itu menarik buatku.
Bagaimana pengalaman Anda sebelumnya sebagai Employer Branding Specialist dan Recruiter membantu Anda dalam peran sebagai UX Writer? Keterampilan apa yang paling relevan dan bagaimana Anda menerapkannya?
Ada 2 hal: bertanya dan menulis. Sebagai Recruiter, bertanya adalah kegiatan sehari-hari, baik ke rekan kerja untuk memahami kualifikasi dari posisi yang dicari atau ke kandidat untuk memahami latar belakang mereka.
Sebagai Employer Branding Specialist, aku bertanggung jawab untuk memasarkan tempat kerjaku ke talent di luar sana, dan salah satu caranya adalah dengan menulis konten.
Di pekerjaanku sekarang, 2 hal ini penting banget. Aku harus rajin bertanya untuk memahami apa masalah yang mau diselesaikan, tujuan dari sebuah proyek atau desain, siapa yang ditargetkan, dan lain-lain. Dari jawaban-jawaban yang kukumpulkan, baru aku bikin strategi tentang apa yang harus dikomunikasikan dan bagaimana penyampaiannya lewat tulisan.
Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat beradaptasi dengan peran baru sebagai UX Writer? Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?
Salah satu tantangannya adalah menyampaikan pesan yang tepat dengan tulisan sesingkat mungkin. Aku harus belajar untuk memahami konteks, tujuan yang ingin dicapai oleh tulisanku, dan memprioritaskan apa yang perlu disampaikan. Orang-orang yang terbiasa menulis dalam format yang panjang mungkin akan menghadapi tantangan yang sama.

Apa yang membedakan UX Writer dengan seorang copywriter atau content writer pada umumnya?
Yang paling berbeda menurutku adalah tujuan dari tulisan yang dibuat. Copywriter biasanya menulis untuk tujuan marketing atau sales, harapannya pembaca tergerak untuk membeli produk.
Content Writer menulis untuk meng-engage pembaca dengan konten-konten yang relevan dengan kebutuhan pembaca, harapannya pembaca menjadikan bisnis yang diwakili Content Writer tersebut go-to person untuk topik-topik yang ditulis.
UX Writer menulis untuk memandu pembaca dalam menyelesaikan apa yang mereka lakukan ketika mengakses produk digital seperti aplikasi di ponsel atau website, dengan harapan pembaca bisa mendapatkan apa yang diinginkan dari produk digital tersebut tanpa banyak halangan.
Bagaimana Anda melihat hubungan antara UX Writing dengan bidang desain UX/UI?
UX itu payungnya, UX Writing adalah salah satu disiplin di bawahnya. UX Writing jelas tidak bisa dipisahkan dari UX secara umum karena tulisan masih jadi salah satu cara utama bisnis untuk berkomunikasi dengan pengguna produk digitalnya. Apa yang dirasakan atau dilakukan oleh pengguna setelah membaca tulisan di produk digital adalah bagian dari pengalaman menggunakan produk digital itu.
Menurut Anda, keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang UX Writer?
Walaupun hasil dari apa yang dikerjakan UX Writer adalah tulisan, ada banyak hal yang harus dilakukan sebelum menulis. UX Writer harus memahami masalah yang dihadapi bisnis, tujuan dari sebuah proyek, siapa target pembacanya, dan lain-lain. Untuk melakukan hal-hal tersebut, UX Writer sebaiknya punya keterampilan untuk menanyakan hal yang tepat, memahami konteks, menganalisis data, meramu strategi, dan menulis berdasarkan strategi tersebut.
Bagaimana Anda melihat perkembangan profesi UX Writer dalam beberapa tahun terakhir?
UX Writer bukan profesi yang membutuhkan latar belakang pendidikan khusus. Siapa pun bisa jadi UX Writer asal mau belajar. Oleh karena itu, profesi ini lumayan diminati dalam beberapa tahun terakhir. Semakin hari, persaingan akan semakin ketat karena UX Writer baru akan selalu bermunculan.
Keterampilan apa yang menurut Anda akan semakin penting bagi seorang UX Writer di masa depan?
Mungkin bukan keterampilan ya, tapi lebih ke kepekaan terhadap kebutuhan bisnis. Walaupun UX Writing semakin populer, kondisi industri teknologi yang masih belum pulih karena tech winter membuat lowongan di bidang ini juga makin sedikit.
Di tech winter ini, UX Writer harus bisa menunjukkan kalau apa yang dikerjakan berdampak ke bisnis. Suka tidak suka, bisnis hidup untuk mencari profit. Jadi, siapa pun yang dirasa tidak berkontribusi ke keuntungan bisnis bisa saja diputus hubungan kerjanya.
Membantu memenuhi kebutuhan pelanggan memang masih jadi tujuan utama UX Writer, tapi jangan lupa untuk mulai mengakomodasi kebutuhan bisnis juga.
Apa tren terbaru dalam UX Writing yang perlu diperhatikan?
Mungkin tentang penggunaan AI itu sendiri. Buatku, AI masih sebatas alat yang membantu pekerjaanku. Tapi di luar sana bisa jadi ada yang mau menggantikan UX Writer dengan AI sepenuhnya.
Seperti yang kubilang sebelumnya, kepekaan terhadap kebutuhan bisnis jadi sangat penting. Jangan sampai peran UX Writer digantikan oleh AI karena pemilik bisnis merasa UX Writer tidak berkontribusi ke keuntungan bisnisnya.
Bagaimana teknologi AI dan machine learning akan mempengaruhi pekerjaan seorang UX Writer?
Aku kurang mengikuti isu AI, jadi aku jawab berdasarkan pengalaman pribadi saja ya. Alih-alih menggantikan pekerjaanku, fungsi AI sejauh ini lebih ke membantuku. Salah satu contoh di mana AI membantuku adalah saat aku butuh menerjemahkan tulisanku ke bahasa lain. Aku bisa meminta AI untuk memberikan beberapa alternatif terjemahan dengan sudut pandang berbeda dan juga panjang kalimat yang kuinginkan.
Tapi, AI tetap lah sebuah alat. Apa yang dihasilkan oleh AI pada akhirnya tetap harus diperiksa oleh manusia juga untuk memastikan bahwa terjemahannya sesuai konteks atau tidak.

Industri mana yang menurut Anda paling banyak membutuhkan UX Writer saat ini?
Industri apa pun yang menggunakan channel digital untuk berhubungan dengan pengguna produk atau jasanya. Ini tidak terbatas ke hubungan transaksional saja ya. Contoh lembaga nonbisnis yang butuh UX Writer adalah GovTech.
Bagaimana Anda melihat peran UX Writer dalam meningkatkan pengalaman pengguna suatu produk atau layanan?
Seperti yang aku bilang sebelumnya, tulisan masih jadi salah satu cara utama untuk berkomunikasi di produk digital. Apa yang UX Writer tulis bisa jadi memengaruhi apa yang pengguna rasakan dan lakukan. Jadi, UX Writer punya peran penting dalam membentuk pengalaman positif untuk pengguna produk digital.