Dunia Kerja

Rekan Kerja Berperilaku Toxic saat WFH? Lakukan Tips Ini!

Banyak orang yang terjebak dalam pemikiran bahwa bekerja jarak jauh berarti bekerja sendirian, tapi itu sesuatu yang mustahil. Meskipun Anda tidak berada satu meja dengan anggota tim, Anda masih perlu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dan itu menjadi semakin menantang ketika Anda berurusan dengan rekan kerja yang toxic.

Apa yang bisa Anda lakukan ketika salah satu kolega Anda bersikap toxic sedangkan Anda sedang tidak dapat melakukan percakapan secara langsung. Apa cara terbaik untuk mengatasi perilaku tersebut? Berikut adalah hal yang harus dan tidak boleh dilakukan ketika berurusan dengan rekan kerja toxic di beberapa situasi!

1. Rekan kerja Mencuri Pujian atas Pekerjaan Anda

Meskipun terlihat jelas bahwa Anda memikul seluruh beban untuk tugas atau proyek tertentu, mereka dengan senang hati menyerap setiap pujian terakhir yang ditawarkan secara tidak adil kepada mereka.

Jangan biarkan perilaku itu begitu saja. Mungkin terasa tidak nyaman mengakui kontribusi dari pekerjaan yang Anda lakukan. Tetapi ingat bahwa menerima penghargaan atas pekerjaan yang Anda selesaikan bukanlah komplimen, itu adalah sesuatu yang berhak Anda dapatkan.

Jika rekan kerja mulai mengambil alih kepemilikan keberhasilan, kumpulkan keberanian Anda dan tunjukkan kalau Andalah yang melakukan pekerjaan tersebut.  Jika perilakunya berlanjut, mungkin inilah saatnya untuk berbicara dengan rekan kerja Anda secara pribadi tentang bagaimana Anda merasa mereka memiliki kebiasaan mengklaim penghargaan atas pekerjaan Anda. Jika keadaan masih belum membaik setelah konfrontasi langsung tersebut, inilah saatnya untuk mendekati atasan Anda dan mengungkapkan kekhawatiran Anda.

2. Rekan Kerja yang Selalu Merendahkan

Jangan membalas dengan penghinaan. Meniru perilaku kolega Anda yang tidak pantas juga tidak akan membantu Anda. Coba ajukan pertanyaan klarifikasi tentang apa yang tidak mereka sukai. Jika mereka menilai pekerjaan Anda buruk, tanyakan apa yang menurut mereka dapat ditingkatkan.

Ini akan melibatkan percakapan yang lebih produktif di mana Anda dapat menentukan apakah mereka benar-benar memiliki kekhawatiran yang valid atau mereka hanya senang menjatuhkan Anda.

3. Rekan Kerja yang Selalu Bergosip

Jangan menjadi partisipan yang bersedia apalagi turut menyiram bensin dalam api. Ubah topik pembicaraan. WFH bisa membuat rekan kerja merasa terisolasi, jadi mungkin mereka beralih ke gosip sebagai cara untuk tetap terhubung dengan rekan kerja mereka.

Itu tidak berarti Anda harus menghibur mereka, tetapi ketahuilah bahwa ada cara untuk mengarahkan percakapan tanpa terlihat terlalu menolak. Lain kali ketika mereka mencoba melibatkan Anda dengan segala jenis desas-desus, cukup nyatakan, “Itu bukan urusan saya, jadi saya lebih suka tidak membicarakannya.”

Kemudian, untuk memuluskan segalanya, segera ubah topik pembicaraan menjadi fokus pada sesuatu yang berhubungan dengan rekan kerja tersebut. Jalan ini masih memberi kesempatan rekan kerja untuk mengobrol dan terhubung dengan Anda secara lebih pribadi tanpa harus diseret ke dalam pergosipan.

4. Rekan Kerja yang Selalu Mengeluh

Semua orang di tim Anda mengetahui seberapa besar energi negatif yang dibawa rekan kerja ini. Rapatnya terlalu lama. Hari ini terlalu sibuk. Volume terlalu keras. Sedang hujan. Mereka melewatkan makan siang. Kepala mereka sakit. Anda dapat menghitung jumlah hal positif yang dikatakan rekan kerja dan jumlahnya sedikit.

Jangan biarkan suasana hati Anda merosot. Lakukan yang terbaik untuk mempertahankan pandangan positif Anda dan jangan diseret oleh anggota tim yang toxic tersebut. Seimbangkan energi karena Hidup bisa menjadi sibuk dan stres, yang berarti rekan kerja Anda mungkin tidak menyadari betapa negatifnya mereka.

Lain kali jika mereka mengeluh, berikan komentar positif. Mudah-mudahan setelah hanya beberapa kali menarik perhatian mereka ke hal-hal positif, rekan kerja akan mulai mengenali pola negatif perilakunya dan mengubahnya!