Prasetyo Aditya: Mengemas Isu Sensitif dan Membawakannya pada Konten Edukasi

Menjadi content creator untuk media sosial sebuah lembaga yang mengangkat isu sensitif seperti kekerasan seksual dan kesehatan reproduksi menjadi pengalaman tersendiri buat Prasetyo Aditya atau biasa disapa Bondit. Bukan hanya mengenai tema dan cara mengemas tema tersebut, melainkan juga bagaiamana pesan yang ingin disampaikan bisa tersampaikan dengan baik.
"Pesan tersampaikan dengan baik" juga bukan menjadi gol akhir, tetapi bagaimana orang-orang yang bercerita dan yang mendengarkan cerita mendapatkan ruang aman di konten yang dibuat Bondit dan tim. Seperti apa pengalaman, tantangan, dan perspektif Bondit terkait dunia konten kreator dan media, baca ceritanya di sini!
Bagaimana Anda memulai perjalanan sebagai content creator di bidang ini? Apa tantangan awal yang Anda hadapi?
Secara akademis, saya kuliah di jurusan Pendidikan Seni Rupa. Dari sekian banyak cabang seni rupa yang saya pelajari, saya tertarik untuk memperdalam DKV (Desain Komunikasi Visual).
Secara umum, salah satu tugas seorang desainer komunikasi visual adalah menyampaikan informasi kepada publik melalui medium gambar maupun video dengan semenarik mungkin agar informasi tersebut dapat dikonsumsi dengan baik oleh publik. Tidak asal menarik, tapi juga harus efektif; bisa dipahami.
Tantangan awal yang dihadapi ketika menjadi kreator konten adalah mempelajari khasanah keilmuan yang lebih kompleks: algoritma sosial media, tren desain, dan psikologi netizen. Sebagaimana yang kita ketahui, salah satu tolok ukur keberhasilan membuat konten di sosial media adalah seberapa banyak jumlah respons dari netizen, entah itu like, comment, dan share. Tentu saja, hal tersebut tidaklah mudah dilakukan. Kadang mendapat respons banyak, kadang pula sedikit. Tidak pasti.
Kemudian, apa akhirnya yang mendorong Anda untuk menjadi content creator di bidang kesehatan reproduksi dan anti-kekerasan terhadap perempuan? Apa yang membuat Anda tertarik dengan isu-isu ini?
Sebelum terjun menjadi kreator konten untuk bidang kesehatan reproduksi dan anti-kekerasan terhadap perempuan, saya lebih dulu berkecimpung di konten-konten sepak bola. Itu pun hanya instagram. Hingga akhirnya, saya ditawari untuk mengelola instagram dan kanal Youtube Umah Ramah yang notabene masih cukup asing di mata saya dari sisi isu. Meski demikian, kehendak untuk mempelajari hal-hal baru jauh lebih besar dari keragu-raguan yang sempat terlintas. Saya merasa tertantang.
Seiring waktu berjalan, rasa ketertarikan itu muncul dengan sendirinya. Satu hal yang menarik adalah karena isu kekerasan terhadap perempuan sangat relevan dengan realitas di sekitar kita, bahkan hampir terjadi setiap hari. Lagi-lagi, saya merasa tertantang untuk berkontribusi lebih jauh, dengan harapan agar bisa meminimalisir kekerasan dalam bentuk apa pun dengan melakukan proses berkesadaran melalui pembuatan konten di sosial media. Paling tidak, kerja-kerja semacam ini dapat mengerem diri saya untuk tidak melakukan kekerasan terhadap sesama, khususnya perempuan.

Menurut Anda, apa isu kesehatan reproduksi dan anti-kekerasan terhadap perempuan yang paling mendesak saat ini di Indonesia? Mengapa?
Mungkin perihal seksualitas yang masih dianggap tabu dan disalahpahami. Semakin dianggap tabu, semakin orang enggan untuk membahasnya di ruang publik secara terbuka. Alhasil, perkembangan pengetahuan terkait hal itu menjadi macet. Padahal, setiap kita adalah makhluk seksual yang saban detik bermanunggal bersama organ reproduksi, hasrat seksual, dan semacamnya. Jika seksualitas tidak dipelajari secara gamblang dan tepat, maka sebagaimana yang terjadi hari-hari ini, banyak orang yang pada akhirnya mengekspresikan hasrat seksual dengan kekerasan, karena tidak memahami cara lain untuk mengekspresikan hasratnya dengan lebih aman dan tidak merugikan diri maupun sesama. Mempelajari seksualitas adalah mempelajari diri.
Tantangan apa saja yang Anda hadapi dalam mengedukasi masyarakat tentang isu-isu ini melalui media sosial?
Bisa dibilang, netizen kita cenderung gandrung dengan informasi-informasi yang dibumbui oleh gimik kontroversial. Konten-konten “lurus” tanpa gimik cenderung sepi peminat. Hal ini menjadi dilema tersendiri. Pada akhirnya, mencari titik kompromi untuk mengemas substansi konten menggunakan gimik adalah tantangan yang harus dihadapi.
Mitos apa saja yang paling sering Anda temui terkait kesehatan reproduksi dan anti-kekerasan? Bagaimana Anda meluruskan mitos-mitos tersebut?
Perihal patrarki yang mengkonstruksi anggapan publik bahwa laki-laki selalu lebih utama ketimbang perempuan. Untuk mengurai hal tersebut, dalam banyak kesempatan, kami membuat konten diskusi di Youtube seputar kasus-kasus aktual agar selaras dengan pemahaman dan tren masyarakat.
Bagaimana peran media sosial dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu ini?
Hemat saya, untuk menjawab hal ini diperlukan riset yang lebih jauh. Saya tidak berani mengatakan bahwa media sosial berperan besar dalam peningkatan kesadaran masyarakat, sebab faktanya, kasus-kasus kekerasan seksual masih juga terjadi setiap hari. Tapi paling tidak, minimal, kerja-kerja semacam ini bisa merawat kesadaran bagi bagi kreator konten itu sendiri dan orang-orang di sekelilingnya.
Format konten seperti apa yang menurut Anda paling efektif dalam menyampaikan pesan tentang kesehatan reproduksi dan anti-kekerasan? Mengapa?
Sejauh ini yang paling efektif adalah konten-konten video pendek. Mungkin karena lebih praktis dikonsumsi dan lebih ramah visual ketimbang infografis yang dipenuhi banyak teks, atau video panjang yang tidak semua orang berminat menontonnya sampai habis.
Apakah Anda pernah berkolaborasi dengan pihak lain, seperti influencer atau organisasi lain? Bagaimana kolaborasi ini membantu meningkatkan dampak konten Anda?
Beberapa kali pernah melakukan kolaborasi dengan tokoh agama seperti Buya Husein Muhammad, penulis seperti Ester Pandiangan, maupun komunitas-komunitas literasi dan perempuan. Dampaknya sangat terasa. Pertama, jangkauan penyebaran konten menjadi lebih luas sehingga mendapat respons netizen lebih banyak. Kedua, keberadaan kami sebagai akun organisasi menjadi lebih dikenal. Ketiga, menambah jumlah pengikut yang tertarik dengan isu-isu sejenis sehingga jaringan relasi menjadi bertambah.
Bagaimana Anda menjaga keberlanjutan dalam menciptakan konten yang relevan dan menarik dalam jangka panjang?
Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan terus mengamati perkembangan tren dan informasi terkait isu-isu kesehatan reproduksi, kekerasan seksual, dan semacamnya, yang beredar di tengah masyarakat. Riding the wave, mengendarai ombak; mengikuti tren yang sedang berkembang.
Misalnya, ketika ketika Najwa Shihab mengalami pelecehan verbal di Jogja beberapa waktu lalu, kami lantas membuat konten untuk merespons hal tersebut. Hasilnya cukup mengagetkan. Kendati jumlah subscriber kami masih sedikit, tapi viewers-nya bisa tembus 30 ribu lebih.
Saya meyakini, pada prinsipnya, karya dan produk apa pun akan lebih mudah diterima publik ketika relevan dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat.
Anda juga aktif terlibat dalam diskusi kespro dan literasi dengan peran sebagai moderator, boleh diceritakan sejauh ini seperti apa pengalaman menarik yang Anda peroleh dari keterlibatan dengan diskusi-diskusi inspiratif tersebut?
Bagi saya, bisa memandu sebuah diskusi yang dipantik dan dihadiri oleh orang-orang hebat merupakan sebuah pengalaman menarik. Dengan menjadi moderator, saya bisa mendengar beragam pengetahuan baru, baik dari pembicara maupun responden yang hadir.
Bagaimana cara Anda melibatkan audiens dalam diskusi dan menciptakan ruang yang aman bagi mereka untuk berbagi pengalaman dan pertanyaan?
Biasanya, saya mulai dari diri sendiri dulu. Untuk memantik seseorang agar mau bertanya, saya akan memberikan contoh-contoh pertanyaan yang mungkin sebelumnya tidak terbesit di benak audiens. Atau jika ingin memantik respons, saya pun memberikan contohnya terlebih dahulu.
“Nah, barusan pemateri kita sudah menjelaskan tentang dampak kekerasan seksual, apakah ada yang mau bertanya atau bercerita? Semisal, ingin menceritakan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain. Mungkin ada temannya yang mengalami kekerasan seksual, tapi dampaknya seolah tidak terlihat dan tidak sesuai dengan yang disampaikan tadi. Nggak apa-apa. Nggak harus sama. Justru diskusi akan kita jadi lebih berwarna. Atau mungkin ada yang mau bertanya, kenapa dampak kekerasan seksual agak berbeda dengan kekerasan fisik? Atau, bagaimana dampak kekerasan seksual terhadap anak? Silakan...” kurang lebih seperti itu.

Tantangan apa saja yang Anda hadapi saat memoderasi diskusi-diskusi terkait isu-isu sensitif seperti ini? Bagaimana Anda mengatasinya?
Secara umum sih belum ada. Tapi mungkin tantangannya adalah ketika mendapat respons berupa cerita-cerita yang sarat emosional dari audiens. Praktis, saya harus berupaya ekstra untuk memahami emosi tersebut, sekaligus mengekspresikan empati melalui gestur dan sikap. Paling tidak, agar pencerita tersebut merasa didengarkan dan dihargai; agar ia merasa aman.
Untuk karier personal, apa harapan Anda ke depannya?
Paling tidak, ada tiga bidang yang menjadi minat saya sejauh ini: komunikasi visual, kepenulisan, dan seni pertunjukan. Saya ingin menghidupi ketiga hal tersebut agar ketiganya pun bisa menghidupi saya secara profesional sampai nanti.
Ikuti terus Rubrik Profil di Loker ID untuk mendapatkan kisah-kisah inspiratif perjalanan karier expert lainnya ya!