Aisyah Khairunnisa: Pengalaman Berharga sebagai Ex Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri Pendidikan

Mengawali karier sebagai jurnalis baru kemudian akhirnya menjadi Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri Pendidikan adalah sebuah perjalanan dan pengalaman berharga buat Aisyah Khairunnisa. Ada begitu banyak tantangan--pastinya, namun kesemuanya membuahkan pengalaman manis. Apalagi ketika yang dikerjakan memang berdampak untuk masyarakat luas.
Salah satu skill yang menurutnya sangat terasah selama bekerja sebagai Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri Pendidikan adalah kemampuan merespons dengan cepat dan tepat. "Ini sangat penting terutama kita berada di era digital," papar Aisyah. Kemudian tentu saja empati. Karena berurusan dengan kepentingan khalayak banyak.
Posisi yang strategis, pengalaman yang luar biasa, tapi menurut Aisyah, kesempatan itu tidak akan menjadi nyata jika ia tidak ditempa dari pengalaman-pengalaman kerja sebelumnya. Satu hikmah yang ia peroleh dari perjalanan kariernya adalah untuk tidak pernah menyepelekan apa yang sedang dikerjakan di momen sekarang. Pasti, suatu saat akan bermanfaat di masa mendatang, dan membentuk diri menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting.
Seperti apa step by step perjalanan karier Aisyah? Langsung baca kisahnya di sini!
Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karier Anda hingga akhirnya menjadi Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri Pendidikan?
Saya mengawali karier saya di jalur yang lurus sesuai peminatan jurusan kuliah, jadi jurnalis! Walaupun cuma digeluti selama empat tahun, tapi itu jadi modal luar biasa buat saya beralih ke jalur karier lainnya. Saya kemudian pindah ke jalur yang masih sesuai passion saya, sebagai digital strategist untuk menyebarkan konten pembelajaran Universitas Indonesia. Lalu pindah jalur lagi ke public relations agency selama tiga tahun. Sampai akhirnya diajak untuk “mengabdi” ke negara sebagai Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri Pendidikan. Tenaga Ahli ini membantu Staf Khusus–yang langsung bertanggung jawab ke Menteri untuk segala hal terkait komunikasi dan media.
Bagaimana pengalaman sebagai jurnalis, digital strategist, dan project head membentuk cara pandang Anda terhadap dunia kerja, khususnya di sektor publik?
Dari setiap peran yang saya jalani, saya belajar pentingnya kolaborasi, ketekunan, kreativitas, dan integritas. Tapi satu hal yang saya selalu pegang kalau kerja kalau di bidang komunikasi--apapun itu posisinya, setiap langkah yang diambil harus selalu "user-oriented". Juga dilakukan dengan telaten dan hati-hati karena dampaknya besar buat orang banyak.
Apa saja tugas dan tanggung jawab utama Anda sebagai Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri Pendidikan?
Sebagai Tenaga Ahli Stafsus Menteri, saya kemarin punya dua tugas utama: membantu menterinya dan membantu kementerian. Apalagi di masa kepemimpinan Mas Nadiem, beliau mengeluarkan banyak sekali breakthrough kebijakan yang melingkupi hampir semua penerima manfaat mulai dari guru, murid, dosen, orang tua, pelaku budaya, sampai dinas pendidikan daerah.
Jadi tugas utama saya membantu humas kementerian untuk dapat mengkomunikasikan berbagai kebijakan ini bisa tepat sasaran, efektif, dan juga cepat dalam merespons publik. Selain itu, saya juga bertanggung jawab merekomendasikan publikasi mengenai kebijakan di akun media sosial pribadi Mas Nadiem.
Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi selama bekerja di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi? Bagaimana cara Anda mengatasinya?
Banyak pastinya, tapi hampir semua tantangan muncul karena hal di atas tadi--dalam lima tahun terakhir ada sangat banyak perubahan fundamental yang digagas Mas Nadiem, dan sebagaimana umumnya kebijakan publik, pasti tidak bisa memuaskan semua pihak. Salah satu tantangan terbesar, saya pikir ketika pandemi Covid-19. Masyarakat seperti terbelah, ada yang mendesak sekolah tetap masuk tatap muka karena berbagai hal, ada juga yang meminta tetap belajar dari rumah saja demi keselamatan. Itu dilema yang secara komunikasi perlu disampaikan secara konsisten ke publik, mengingat pemerintah juga punya aturan yang beberapa kali berubah soal pembatasan kegiatan masyarakat. Belum lagi soal zonasi yang selalu jadi kontroversi setiap tahun. Kuncinya mematangkan mitigasi, sosialisasi, juga memperbanyak bank cerita praktik baik di daerah-daerah yang oke dalam menjalankan kebijakan PPDB. Banyak juga publik yang tidak paham bahwa sekolah dan guru itu kewenangannya dimiliki pemerintah daerah. Ini biasanya bikin kementerian dan menterinya jadi sasaran tembak untuk semua permasalahan tentang pendidikan, apapun itu konteksnya, yang relevan maupun tidak. Hehe..

Proyek apa yang paling berkesan selama Anda menjadi tenaga ahli kementerian? Apa dampak dari proyek tersebut terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia?
Semuanya berkesan, mungkin karena saya senang dengan pekerjaan yang berdampak untuk banyak orang. Misalnya garapan komunikasi kami saat perilisan Kurikulum Merdeka jadi kurikulum nasional, kami mencoba menghadirkan guru-guru yang sudah merasa terbantu dengan Kurikulum Merdeka untuk tampil sebagai bintangnya. Mereka dipoles supaya bisa berbicara di panggung dengan durasi tertentu dan gesture yang apik. Ini cukup beda dengan kemasan acara kementerian biasanya, di mana pejabat sebagai bintang utamanya. Dengan cara ini, para guru (audiens) jadi punya referensi praktik baik juga semangat yang menular, yang bisa jadi inspirasi pembelajaran di sekolah. Lainnya, ketika ada 12 SMK dan politeknik yang bisa menembus kurasi panggung Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2024, bersanding dengan nama-nama desainer besar yang tampil di sana. Kami memprioritaskan mereka tampil di banyak kanal-kanal publikasi, demi melawan persepsi sebagian publik yang melihat vokasi hanya sebelah mata.
Bagaimana pengalaman bekerja di berbagai posisi, mulai dari jurnalis hingga tenaga ahli kementerian, membentuk skill-skill yang Anda miliki saat ini?
Saya bersyukur memulai karier saya sebagai jurnalis, karena jadi belajar melihat berbagai perspektif dan gimana membentuk narasi yang dapat dimengerti oleh semua lapisan masyarakat. Selain itu juga jadi banyak pengetahuan baru (meskipun hanya di permukaan) dan ketemu banyak kenalan baru juga (terutama narasumber kece). Dari pengalaman itu, saya belajar menyampaikan informasi yang akurat dengan penuh tanggung jawab. Pindah ke dunia digital strategy, saya menyadari pentingnya adaptasi teknologi dan cara menarik perhatian audiens di tengah derasnya informasi. Sementara ketika jadi project manager, saya belajar mengelola tim dengan beragam latar belakang sembari mengarahkan mereka menuju tujuan (terutama KPI) yang sama. Sampai akhirnya dipercaya menjadi Tenaga Ahli di Kementerian Pendidikan, semua prinsip di atas jadi membantu saya untuk membuat kebijakan publik lebih mudah dicerna masyarakat dan mempermudah jalur saya ngobrol sama media.
Dari pengalaman saya ini, yang alhamdulillah kerjaannya menyenangkan semua, saya jadinya selalu bilang ke mentee saya bahwa setiap pengalaman itu penting untuk membangun fondasi skill, kematangan emosi, dan wawasan. Karena di semua tempat kerja pasti tantangannya beda, meskipun di bidang dan role yang sama. Jadi, nikmatilah setiap kerjaan yang kamu punya sekarang karena Insya Allah bermanfaat untuk masa kini atau masa depan.
Skill apa yang menurut Anda paling penting untuk dimiliki oleh seorang Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri?
Kerja cerdas, empati, agility, dan berwawasan luas. Kemampuan untuk merespons dengan cepat dan tepat sangat krusial, apalagi di era digital. Empati, kalau kerja di sektor publik juga sangat penting mengingat banyak pihak yang menggantungkan nasibnya dari kebijakan lembaga kita. Empati ini bentuknya juga bisa selalu mendengar aspirasi dari lapangan/akar rumput, supaya kebijakannya semakin disempurnakan. Sementara yang enggak kalah penting, keterampilan komunikasi yang efektif untuk membantu membangun kepercayaan dan menghindari kesalahpahaman di publik. Yang terakhir, perlu agile supaya tetap fleksibel dan siap menghadapi perubahan dengan kepala dingin di saat situasi enggak berjalan sesuai rencana.
Bagaimana Anda melihat peran teknologi dalam transformasi pendidikan di Indonesia?
Teknologi menurutku bisa membuka banyak peluang untuk pendidikan yang lebih merata di Indonesia. Karena anak-anak dan guru di daerah jadi bisa punya akses ke materi yang sama dengan mereka yang di kota. Sebelum adanya Platform Merdeka Mengajar misalnya, banyak guru yang sulit dapat pelatihan karena menunggu penugasan. Sekarang, platform ini jadi bisa dimanfaatkan semua guru di Indonesia untuk belajar, pelatihan, cari komunitas, berbagi karya antar sesama guru. Saya pikir peran teknologi bukan hanya soal alat dan infrastrukturnya, tapi juga bagaimana kita bisa benar-benar memanfaatkannya.
Apa saja kendala yang dihadapi dalam menerapkan teknologi di sektor pendidikan?
Dua yang paling utama: aksesibiltas terhadap teknologi dan perubahan perilaku. Aksesibilitas ini bukan cuma internet dan listrik sudah masuk ke daerah itu atau belum, tapi juga soal apakah guru dan murid punya akses dan keterampilan untuk menggunakan teknologi. Sementara soal perubahan perilaku, ini pasti butuh waktu, enggak bisa beberapa bulan atau tahun langsung berubah. Dengan beragamnya kondisi geografis, usia guru, dan situasi sekolah sekarang, Indonesia masih punya kesenjangan teknologi di sektor pendidikan.
Tapi soal akses ini, dalam beberapa tahun terakhir, alhamdulillah hasil kajian Oliver Wyman menyebut sudah 40% guru di daerah 3T aktif memanfaatkan Platform Merdeka Mengajar, salah satu platform untuk peningkatan kapasitas guru yang bisa diakses semua guru Indonesia. Jadi pelan-pelan penetrasi teknologi di pendidikan sudah mulai semakin inklusif. Perlu keberlanjutan dan konsistensi kebijakan untuk bisa memastikan semua penerima manfaat bisa merasakannya secara adil.

Strategi apa yang menurut Anda efektif untuk mendorong transformasi digital di sektor pendidikan?
Pas banget, ini kemarin dibahas di kelas kuliahku. Salah satu strategi mungkin kita bisa belajar dari Cina. Mereka punya rencana pendidikan berbasis teknologi jangka penjang. Dimulai dari Education Informatization 1.0 sekitar tahun 2012 yang fokus ke infrastruktur dan akses teknologi buat sekolah-sekolah. Lalu di 2018 mereka upgrade plan-nya ke Education Informatization 2.0, yang sudah fokus ke inovasi seperti kecerdasan buatan (AI) dan big data, supaya pembelajarannya lebih pintar dan mendalam. Jadi agile sekali rencana pendidikan mereka untuk bidang teknologi. Menurutku rencana jangka panjang ini bisa terjadi juga karena sistem pemerintahan Cina yang dipegang satu partai. Jadi memungkinkan mereka menjalankan rencana jangka panjang tanpa banyak perubahan. Ada kestabilan dalam membuat kebijakan besar, termasuk transformasi pendidikan berbasis teknologi.
Sementara di Indonesia, dinamika politiknya sering menimbulkan disrupsi. Ganti menteri ganti kebijakan itu jadi sangat lumrah kita rasakan. Tapi sayangnya, pelajar dan pembelajar jadi pihak yang terkorbankan. Jadi pelajaran pentingnya, kalau Indonesia mau sukses dalam transformasi pendidikan digital, perlu ada master plan yang konsisten dan terarah, agar semua upaya benar-benar bisa berkelanjutan dan masyarakat enggak bingung. Didukung juga tentunya dengan peningkatan infrastruktur, aksesibilitas, dan gotong royong dari swasta untuk peningkatan literasi digital, terutama di sekolah.
Apa yang mendorong Anda untuk mengambil program Master of Arts in Digital Transformation And Competitiveness?
Sebenarnya sejak lulus S1 saya enggak pernah memikirkan mau kuliah lagi. Karena saya asyik kerja dan menikmati “kuliah” langsung dari pengalaman. Apalagi tempat kerja saya bisa jadi ladang belajar yang sungguh kaya. Dan karena punya anak juga, jadi rasanya belum punya load pikiran dan tenaga yang cukup untuk kuliah lagi.
Urgensi mengambil S2 baru datang ketika saya bergabung jadi Tenaga Ahli Stafsus Menteri di Kementerian Pendidikan. Karena kalau bekerja untuk membantu lembaga pemerintah, selain pengalaman, gelar itu masih menjadi elemen cukup penting. Selain itu, ketika kerja bareng di tim yang luar biasa, saya juga jadi berpikir lagi, oh kayaknya saya perlu deh untuk belajar lagi supaya bisa menyeimbangi ilmu mereka. Di samping saya juga mohon petunjuk ke Tuhan Yang Maha Tahu, yang ternyata jawabannya saya sebaiknya kuliah lagi. Setelah 10 tahun menjadi praktisi, saya pikir memang sudah saatnya perlu menajamkan lagi hal-hal yang secara fundamental dan teoritis belum saya miliki.
Awalnya saya berniat ambil jurusan linier di Magister Komunikasi, tapi karena saya belum berpikir untuk menjadi seorang dosen (yang butuh gelar linier), jadi saya tertantang untuk ambil jurusan lain. Karena saya bergelut dengan komunikasi digital dan membangun daya saing manusia belakangan ini, saya jadi berminat banget sama jurusan saya yang sekarang: Master of Arts in Digital Transformation And Competitiveness, kami nyebutnya MA DTC. Ini peminatan yang baru di Fisipol UGM, saya masuk jadi angkatan ketiga di tahun 2024 ini.
MA DTC ini kalau di Universitas Gadjah Mada ada di bawah jurusan Hubungan Internasional. Jadi selain belajar tentang transformasi digital dan daya saing, kami juga banyak menempatkan kedua hal tadi dalam framework HI. Enaknya di jurusan ini adalah, bisa dibilang ini satu-satunya peminatan yang memperbolehkan mahasiswanya kuliah full online di UGM. Jadi, buat saya yang sudah punya dua buntut dan susah untuk pindah ke Yogyakarta, juga saya yang gampang stres sama kemacetan kalau harus kuliah luring di kampus Jakarta, ini jurusan yang sudah sangat cocok. Alhamdulillah-nya diterima dan ternyata setelah dijalani tiga bulan ini kuliahnya seru banget.
Bagaimana program studi ini relevan dengan pengalaman kerja Anda sebelumnya, khususnya sebagai staf khusus?
Saya rasa program ini relevan dengan hampir semua lini pekerjaan, karena di sektor manapun, transformasi digital itu sudah jadi keniscayaan. Pasti akan dilalui dan dibutuhkan untuk masa kini dan masa depan industri tersebut. Di MA DTC kami tidak belajar keterampilan teknis seperti programming, tapi kami belajar di level kebijakan dan scope lebih luasnya. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang transformasi digital dan case-case study dari negara-negara lain, harapannya saya bisa merancang strategi yang lebih komprehensif dan kompetitif untuk sektor publik.
Harapan apa yang ingin Anda capai dengan menyelesaikan program studi ini?
Harapan saya sederhana--bisa membangun kemampuan yang lebih kuat untuk beradaptasi dan merespons tantangan transformasi digital di sektor manapun. Kalau saya berkesempatan membantu pemerintahan lagi, saya jadi punya amunisi dalam mengembangkan kebijakan yang inovatif tapi juga inklusif. Saya berharap masyarakat bisa merasakan manfaat nyata dari kebijakan yang dibuat dan saya yakin teknologi bisa menjadi bagian penting dari perubahan itu. Karena sayang banget potensi besar negara ini kalau tidak terakselerasi, apalagi di masa bonus demografi nanti. Tapi kalaupun nanti rezekinya membantu sektor swasta, ini akan jadi bekal luar biasa buat saya merancang strategi dari sisi komunikasi digital, kebijakan digital, maupun peningkatan daya saing brand tersebut di ranah digital.
Jangan lupa membaca kisah inspirasi perjalanan karier profesional lainnya di Rubrik Profil Loker ID!
Courtesy images: Aisyah Khairunnisa