Peksi Cahyo: Dinamika Profesi Fotografer dari Era Cetak ke Digital

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 21 Desember 2024
Rubrik Profil

peksi-cahyo-fotografer-yang-sudah-makan-asam-garam-kehidupan-tahun-2024

Mungkin Anda sudah bosan mendengar bagaimana digitalisasi membawa perubahan pada setiap lini kehidupan termasuk skill dan jobdesk dari suatu profesi. Salah satu profesi yang mengalami perubahan besar adalah profesi fotografer. Bagaimana kamera analog menjadi kamera digital, serta perubahan teknologi kamera profesional yang bisa diadaptasi ke kamera handphone, seperti apa peluang dan kemungkinan yang bisa terjadi dengan kondisi demikian?

Dinamika fotografi dulu dan sekarang ini akan diuraikan Peksi Cahyo--seorang fotografer yang sudah berkecimpung di dunia fotografer sejak zaman era media cetak hingga sekarang. Seperti apa perubahan dan update yang terjadi? Gas langsung pengalaman dan perspektif daging Peksi ini gaes!

Bagaimana Anda memulai karier sebagai fotografer di era cetak? Apa yang menjadi motivasi utama Anda saat itu?

2001-2003 adalah masa saat saya pertama kali memulai karier menjadi seorang fotografer dengan bekerja di media cetak bernama Harian Sore Sinar Harapan. Lalu kemudian,  pada 2003-2015 saya pindah bekerja di Tabloid BOLA, milik Kompas Gramedia Grup. Sebenarnya saat itu saya ingin menekuni dunia fotografi komersial namun karena latar belakang orang tua saya hanyalah pegawai PNS biasa saja, maka bekerja di media cetak menurut  saya menjadi pilihan paling sesuai dengan keadaan saya setelah saya lulus kuliah. Motivasi utamanya tentu bekerja, bisa mandiri dan bisa mulai belajar bekerja sebagai seorang fotografer yang sesungguhnya.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi saat bekerja dengan media cetak?

Dibandingkan bekerja di media digital yang saya kenal di kemudian hari, satu hal yang menjadi pelajaran terbesar dan menjadi salah satu etos saya dalam bekerja yang saya peroleh dari bekerja di media cetak dan saya pertahankan hingga kini adalah prinsip ZERO MISTAKES.

Kesalahan seperti salah menulis caption, salah memasang foto it's ZERO TOLLERANCE di media cetak. Kenapa? Karena saat senua materi terkirim untuk dicetak, bayangkan berapa besar kerugian perusahaan yang harus ditanggung bila harus menghentikan proses produksi mesin cetak atau yang lebih tak bernilai adalah sebuah KREDIBILITAS dan REPUTASI dari sebuah perjalanan panjang media bila sampai hal tersebut terjadi. Terkesan kaku dan kejam ya tapi di industri media cetak segala sesuatunya memang harus cermat dan teliti.

Bagaimana Anda pertama kali mengenal teknologi digital dalam fotografi? Apa yang membuat Anda tertarik untuk beralih?

Sejak bekerja di media cetak, saya sudah mengenal teknologi digital dalam fotografi. Perubahan sejatinya mestinya diadaptasi karena hal tersebut cepat atau lamban akan jadi sebuah keseharian bagi siapapun yang berkecimpung di situ. Digital mengubah hampir semua yang ada di industri media. Saya amat tertarik dengan fleksibilitas, akurasi dan kecepatan yang diberikan oleh kamera digital.

pengalaman-peksi-cahyo-sebagai-fotografer-profesiona-tahun-2024

Apa perubahan paling signifikan yang Anda rasakan saat beralih dari era cetak ke digital?

Perubahan baik yang signifikan tentunya adalah kecepatan penyajian informasi ke pembaca. Namun di sisi lainnya, tidak ada lagi penyajian berita yang memiliki kedalaman (in-depth). Karena semua ingin cepat hingga yang disajikan pun hanya informasi yang sifatnya ringan dan di permukaan saja.

Bagaimana Anda belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru tersebut?

Membaca dan mempraktekkan secara trial and error. Terkadang masuk ke forum-forum diskusi yang ada di internet.

Mana yang lebih Anda sukai proses kerja antara fotografi cetak dan digital dan mengapa?

Kedua proses tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saya masih menikmati memotret dengan kamera analog di mana saya bisa menguji pemahaman fotografi saya (bedanya dengan digital yang hasil fotonya langsung bisa  kita cek dan lihat). Tapi bisa juga saya memadukan keduanya, saya memotret dengan kamera digital. Lalu hasilnya saya cetak.

Saya masih berpendapat hasil cetakan foto akan memperlihatkan seberapa jauh pemahaman seorang fotografer terhadap fotografi dari hulu ke hilir. Foto bukan hanya  berakhir di layar screen gawai (HP) atau laptop saja. Fotografi cetak mengajarkan kita untuk menikmati setiap detail dalam berproses fotografi itu sendiri.

pengalaman-sebagai-fotografer-peksi-cahyo-tahun-2024

Bagaimana teknologi digital telah memperluas cakrawala kreativitas Anda sebagai seorang fotografer?

Bagi saya, teknologi digital sangat memperluas cakrawala kreativitas kerja seorang fotografer. Beberapa hal yang bisa dijadikan contoh karena hadirnya teknologi digital adalah:

1. Platform digital seperti media sosial dan website bisa jadi mempermudah sarana promosi seorang fotografer dalam memasarkan karyanya.

2. Platform digital seperti media sosial membuat jangkauan seorang fotografer mendapatkan job-job dari perusahaan luar negeri menjadi lebih memungkinkan dan dipermudah.

3. Beberapa hal teknis di fotografi digital membuat segala sesuatunya menjadi lebih praktis misal yang paling sederhana adalah set up ISO disesuaikan dengan kebutuhan kondisi pencahyaan hingga ISO 32.000 atau lebih. Sementara di era sebelumnya, enggak kebayang fotografer mesti beberapa jenis rol film dengan beragam jenis ISO.

Bagaimana Anda melihat persaingan di dunia fotografi saat ini?  Bagaimana menurut Anda perkembangan dunia kreatif fotografi saat ini?

Persaingan dari dulu hingga sekarang relatif sama sama aja. Dulu, fotografer enggak sebanyak sekarang tapi kebutuhan fotografi juga enggak sebanyak sekarang. Perkembangan dunia kreatif fotografi Indonesia cukup baik. Ada beberapa genre fotografi yang berhasil melahirkan fotografer-fotografer muda yang enggak kalah hebatnya dibanding era pendahulunya (genre photojournalism sebagai contohnya). Hanya saja perlu ada aturan main yang lebih jelas terutama dalam mengatur kebijakan mekanisme pasar.

Teknologi apa yang menurut Anda akan paling berdampak pada dunia fotografi di masa depan?

Setelah teknologi digital merevolusi semua hal dalam kehidupan manusia. Di masa depan, mungkin nanoteknologi sebagai ilmu dan rekayasa yang berfokus pada manipulasi dan penggunaan material dalam skala nanometer. Contoh terakhir adalah CMOS Sensor yang ada pada kamera digital berhasil direkayasa dan digunakan ke dalam handphone. Di mana sekarang banyak merk handphone menjual fitur-fitur fotografi sebagai nilai jual untuk menarik calon pembeli.

Menurut Anda, apa peran seorang fotografer di era digital ini? Apakah masih relevan dengan apa yang Anda jalani/ketahui sebelumnya di era cetak?

Justru makin relevan karena dunia makin visual. Cara pandang kita sebagai fotografer atau fotografi yang perlu bergeser. Bila dulu fotografer hanya cukup "take picture" maka sekarang kemampuan "making picturesnya" yang harus kian diperdalam.

Making pictures ini bentuknya beragam bisa dengan lebih mengasah kemampuan sebagai pencerita "Visual Storyteller" sehingga fotografer juga memiliki kemampuan untuk terlibat dalam segala jenis dan tingkatan produk komunikasi. Mulai dari dokumentasi hingga narasi.

Apa saran Anda untuk para fotografer muda yang ingin berkarier di bidang ini?

Saat saya memulai dulu sekitar 1999, referensi foto untuk belajar amatlah terbatas beda dengan sekarang. Kebalikan dengan era sekarang di mana terjadi tsunami informasi hingga audiens tidak mampu memilah atau mengkurasi hal yang dia butuhkan. Saran saya: Segera mulai Just Do It,   perkuat fundamental dari sisi teknis, perluas wawasan dengan banyak membaca dan belajar tentang hal lainnya serta yang terakhir pintar-pintar membawa diri.

Jangan lupa untuk terus membaca Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan perspektif menarik lainnya dari para expert!