Panji Mukadis: Suka Duka Menjadi Dosen dan Tantangan Menjadi Pengajar di Era Masa Kini

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 11 Juni 2024
Rubrik Profil

Panji Mukadis

Menjadi dosen karena "kepepet", tapi akhirnya Panji Mukadis malah keterusan dan sampai sekarang begitu menikmati aktivitas mengajarnya. Sebelum menjadi dosen, founder  Infoscreening ini sempat bekerja di software house, pernah menjadi sosmed specialist, dan beberapa profesi pekerjaan lainnya. Bagaimana Panji Mukadis memaknai profesi sebagai dosen? Bagaimana dia beradaptasi dengan dinamika dunia pendidikan serta apa yang dipelajarinya selama menjadi staf pengajar? Yuk, simak kisah inspiratifnya di sini!

Halo, boleh perkenalkan diri nama lengkap, latar belakang pendidikan, dan profesi Anda saat ini?

Halo, saya Panji Mukadis, dulu S1 di IT Swiss German University, double degree sama FH Sudwesfalen, S2 Creative Marketing di Binus, lalu sekarang jadi dosen di Swiss German University Program Studi Business Management sejak 2023 lalu. Saat ini sedang menjalankan program doktoral juga di Doktor Sains Manajemen SBM ITB, mau masuk tahun kedua insya Allah

Sebelum berprofesi sebagai dosen, bagaimana perjalanan karier Anda?

Dulu sempat nyoba linear di software house sampai 2012, lalu ceritanya ngikutin passion kerja jadi socmed specialist di start up travel (udah almarhum). Dari start up ke lanjut corporate farmasi bidang PR Socmed. Nah, sebenarnya sambil kerja socmed itu ada beberapa hal yang dilakukan antara lain S2 lalu sambil S2 mulai bikin media seputar film namanya Infoscreening dan bikin websitenya. Terus bulan-bulan terakhir jadi banyak ngelakuin kegiatan film lalu kepikiran resign kerja.

Kemudian dapat info kalau almamater lagi butuh dosen internet marketing part time. Jadi sekalian resign, sekalian bangun usaha, terus ada ngajar juga. Tapi waktu itu ngajar di almamater sampai 2016 akhir karena kelasnya dirombak lagi, jadi ya lanjut semacam freelance aja di Infoscreening dan ngurus program pemutaran alternatif. Beberapa kali ada kerjaan kontrak juga ngurus media sosial dan distribusi film dan sempet kerja full time di sebuah jaringan bioskop.

Mengapa akhirnya Anda memilih bekerja full - time sebagai dosen?

Singkatnya usaha waktu itu enggak lancar-lancar banget hehehe... lalu ada kegiatan yang harus berhenti juga. Setelah selesai freelance dan bangun usaha, coba tanya-tanya teman tentang lowongan dosen akhirnya mulai jadi dosen part time, lanjut pas pandemi dosen LB di dua kampus. Sebenarnya kalau ditanya alasan, lebih ke kebutuhan untuk settle dan perlu "rumah" gitu kali ya. Waktu itu juga sudah beberapa tahun, walaupun bukan berarti enggak dapet apa-apa juga sih, karena jadi bisa berkecimpung di dunia film dan berkegiatan ini itu.

Ceritakan tentang pengalaman Anda mengajar di kelas. Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan ini?

Lebih senang berbagi ilmu dan berinteraksi. Bertukar pandangan, mencari sintesis akan sesuatu. Salah satu yang saya suka juga rasa-rasanya jadi dosen itu mengajarkan untuk menunduk. Bukan karena merasa gimana-gimana ya, karena saya rasa mau gimanapun kita di luar, kalau enggak delivered di kelas sepertinya percuma. Hal-hal lain yang disuka, kegiatan di luar itu bisa diakui kalau di wilayah akademik dan pada tingkatan tertentu ada fleksibilitasnya sendiri.

Apa saja tantangan yang Anda hadapi sebagai dosen? Bagaimana Anda mengatasinya?

Tantangannya antara lain membuat mahasiswa engage di dalam kelas. Terus juga gimana membawakan kuliah dengan menarik. Lama-lama sebenernya lebih ke jadi diri sendiri aja. Sewajarnya aja. Kalau sebagai dosen bisnis dulu-dulu sih sempat ada kekhawatiran kalau di zaman sekarang mungkin mahasiswa dengerinnya lebih influencer yang terkadang melecehkan dunia akademis. Tapi sekarang-sekarang sih enggak juga ya, dibiarin aja. Namanya mahasiswa juga bisa memilah sendiri dan tetep engage dengan kita apapun yang dia dengerin di luar sana.

Tantangan lainnya mungkin kalau di kampus-kampus yang rasio dosen mahasiswanya terlalu ekstrim. Memberi perhatian secara adil merata rasanya juga tidak mungkin padahal sih pengennya begitu.

Menurut Anda, apa saja keahlian dan kemampuan yang penting untuk dimiliki oleh seorang dosen?

Yang saya rasakan adalahkemampuan mendengarkan mahasiswa, terus terang rasanya ini tantangan waktu di awal-awal semester mengajar. Misalnya ada mahasiswa yang aktif atau tahu-tahu mengajak ngobrol dalam kelas gue masih kurang nyaman karena mungkin perlu latihan juga. Tapi kemudian semester-semester setelahnya sudah lebih nyaman untuk itu. Beberapa hal lain, yaitu kemampuan belajar dari berbagai arah seperti dari jurnal, buku dan media-media yang ada. Lalu juga gimana caranya memberi pemahaman kalau teori yang diajarkan itu relevan atau ada penjelasannya kenapa bisa keluar pemikiran seperti itu. Rasa-rasanya ini perlu kemampuan menjelaskan deduktif, lalu juga kemampuan untuk menyampaikan secara dekonstruktif: bagaimana teori-teori itu dipecah-pecah bareng lalu disusun ulang bareng juga. Jadi ya kalau misalnya hanya mengacu tok dari materi presentasi, akan kurang juga, harus punya wawasan dan gimana menjelaskan saat masuk ke materi yang bisa jadi lebih nyaman dan membuat mahasiswa berpikir kalau dijelaskan secara tidak urut.

Boleh diceritakan tentang pengalaman Anda dalam membimbing mahasiswa yang berprestasi atau memiliki kesulitan belajar?

Selama lima tahun ini relatif sama saja, apalagi yang secara khusus saya bimbing. Kalau yang berprestasi dibimbingnya lebih mudah kalau yang kesulitan berarti harus agak ekstra. Kalau untuk mengerjakan skripsi sebaiknya memang dididik sejak tahun-tahun sebelumnya dididik untuk tidak take it for granted karena suka kelihatan ketika mengerjakan hal-hal seperti ini. Kalau ada yang memiliki kesulitan belajar mulai diperhatikan sejak mulai kelihatan tanda-tanda, coba mulai sering ditanya dalam kelas. Beberapa ada yang terlihat demikian dan saya lumayan bikin berprasangka buruk, tapi lama-lama bisa catch up.

Apakah Anda aktif melakukan penelitian di bidang Anda? Jika ya, apa saja fokus penelitian Anda?

Saat ini di S3 dan di kampus, biasanya penelitiannya seputar industri film. Sebenarnya passion saya di bidang distribusi, tapi kalau saat ini lebih diarahkan di bidang perilaku konsumen. Tapi intinya ke depannya bakal tentang itu dan media secara lebih umum.

Punya pengalaman paling berkesan selama menjadi dosen?

Tiap semester sebenarnya terbilang berkesan ya. Ada hal yang mengubah kita lalu semester selanjutnya bikin sesuatu yang beda lagi. Tapi mungkin ambil beberapa saja, misalnya tahun 2019 semester pertama jadi dosen itu pengalaman yang berkesan karena ngajarnya juga di bidang yang belum terlalu didalami, jadi kemudian ada kesulitan di kelas termasuk dengan mahasiswa. Dari sana saya juga jadi punya pemahaman seperti di atas itu (kalau di dalam kelas, hal-hal di luar sudah tidak relevan) kemudian saya juga lanjut jadi dosen dan cari-cari tahu tentang S3.

Selain itu hal berkesan lainnya pas tahun 2022 ketemu banyak mahasiswa lagi di akhir-akhir pandemi. Setelah beberapa minggu, tiba-tiba jadi akrab, kalau dipikir-pikir, ternyata kuliah-kuliah online yang sebelumnya dilalui ternyata enggak lewat begitu saja dan ada bekasnya. Hal-hal lain, di S3 ini punya kesempatan jadi tutor untuk anak S1 SBM ITB yang notabenenya kampus favorit, sementara saya S1 dan S2 di swasta. Tapi tetap seru sih, anak-anaknya tetap open dan engage dengan perkuliahan

Apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan tentang profesi Anda sebagai dosen?

Mungkin karena ini untuk website loker ya, beberapa hal yang bisa diperhatikan selain kesejahteraan antara lain rasio dosen mahasiswa. Kebebasan akademisnya bisa dilihat kalau di luar sana banyak akademisi universitas tersebut cukup bebas atau tidak untuk beropini dengan kapasitas mereka sebagai intelektual publik. Lalu bisa lihat juga bagaimana kampus dijalankan, apakah dijalankan dengan sistem dan orang-orang yang mengerti dinamika akademis dan tridharma-nya atau tidak. Dengan begitu, paling tidak bisa mendukung kerja dosen sebagaimana wajarnya.