
Di era penuh ketidakpastian seperti sekarang ini; layoff dimana-mana, susah cari kerja, kita tetap perlu membangun kepribadian yang adaptif di segala situasi. Namanya juga hidup, selalu penuh risiko, "Kita duduk diam di dalam rumah saja tidak 100% terhindar dari potensi risiko plafon runtuh, kebakaran karena arus pendek listrik," demikian penuturan Pandu Aditama, Sourcing Manager dari eFishery.
Menanggapi situasi demikian, kalau kata Pandu, perlu untuk terus improve, improve, dan improve. Belajar hal baru dan melihat peluang dari perubahan yang ada. Untuk fresh graduate juga selalu ada kesempatan, jangan cari kerja dengan mengandalkan IPK, "Sedari kuliah, mulailah aware tentang value apa saja yang akan dibutuhkan di dunia kerja," kata Pandu.
Bagaimana pengalaman belasan tahun berkecimpung di dunia karier membentuk perspektif seorang Pandu Aditama memandang dinamika dunia karier? Yuk, simak baik-baik obrolannya bersama Loker ID, di sini!
Apa yang mendorong Anda untuk beralih dari bidang marketing, strategic planning, dan business development menjadi seorang sourcing manager? Bagaimana pengalaman sebelumnya membantu Anda dalam peran saat ini?
Dalam kondisi yang penuh ketimpangan saat ini, dimana jumlah pencari kerja berkali-kali lipat jumlahnya dari peluang kerja, maka menjadi adaptif dan menurunkan preferensi itu penting. Seperti saat saya tertarik pada role Sourcing di eFishery, saya merasa ini challenge baru untuk bisa kuasai scope of work-nya. Meski dari pengalaman bekerja sebelumnya terdapat beberapa hal yang secara umum menjadi irisan pengalaman, seperti kemampuan negosiasi, komunikasi, dan memimpin tim, namun role pada Sourcing juga menuntut kemampuan spesifik relate dengan dunia perikanan.
Sebelum berlabuh di eFishery, saya pernah bekerja di empat industri yang berbeda, yang artinya akuakultur menjadi industri ke lima sepanjang 12 tahun saya berkarir, dan saya menilai akuakultur sangat unik ekosistemnya. Lesson learned yang saya dapatkan adalah harus mau belajar hal baru dan terus bekerja pada diri sendiri untuk improve.
Mengawali karier di korporasi multi-nasional, saya pernah berada dalam zona nyaman, dimana sistem dalam perusahaan sudah established, ibarat kata saya sebagai penumpang tinggal patuhi tata tertib dalam kendaraan yang saya tumpangi dan enak karena naik kapal pesiar, belok tidak terasa mual. Tapi dari situ saya move ke 4 perusahaan start up yang jauh berbeda dinamikanya, seperti naik kapal boat yang lebih sat-set akselerasi dan belok-beloknya.
Paling kentara adalah soal bagaimana kita menjadi bagian dari start up itu harus willing untuk terlibat membangun sebuah standar operasional bisnis. Kedalaman knowledge pada potensi, issue, dan kendala, hingga menyiapkan bagaimana mitigasi risikonya, itu kekhasan bekerja di start up. Jika kita silo, wasalam, tidak akan bertahan lama di perusahaan rintisan. Maka perlu menjadi pribadi yang punya can do attitude dan going the extra miles.
Selama belasan tahun berkarier, bagaimana Anda melihat dinamika perubahan peran seorang sourcing manager, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan lanskap bisnis?
12 tahun yang lalu, siapa sih yang pernah berpikir saat ini begitu tinggi ketergantungannya masyarakat kita pada ojek online? Mungkin Mas Nadiem yang udah mikirin ya, hehe. Tapi akhirnya semua sepakat bahwa perkembangan teknologi itu sebuah keniscayaan. Bahkan jika bisnis tidak adaptasi pada shifting offline to online, akan mengancam eksistensinya.
Beberapa nature bisnis tidak serta merta harus berubah online, tapi ketika bisnis tau pasar online sudah menguasai, sudah pasti akan beradaptasi. Di role saya saat ini, saya melihat tantangan perusahaan teknologi dalam mendisrupsi market masih menyoal hal yang sama, yaitu product market fit. Punya teknologi yang fancy tapi tidak menyelesaikan kendala di customer, tidak berfaedah juga. Sehingga tim saya turut berperan aktif untuk mengedukasi user dari teknologi yang kami punya, khususnya pada supplier, agar tidak hanya mampu menggunakan, tapi willing menggunakannya karena akan improve bisnis dan solving kendala yang tengah mereka hadapi.
Bagaimana menurut Anda fenomena layoff yang terjadi belakangan ini berdampak pada peran seorang sourcing manager? Apakah ada perubahan signifikan dalam strategi sourcing atau pengadaan yang perlu dilakukan perusahaan?
Layoff adalah opsi terakhir sebuah bisnis untuk memastikan operasional tetap berjalan dan perusahaan bisa berdikari. Sejujurnya kata layoff masih tabu buat saya, dan tentunya buat banyak rekan saya yang punya pengalaman buruk tentang ini. Namun jika kita pahami, sebetulnya semua hal yang kita kerjakan punya risiko.
Apa sih yang tidak berisiko? Ngepet aja risiko digrebek warga. Kita duduk diam di dalam rumah saja tidak 100% terhindar dari potensi risiko: plafon runtuh, kebakaran karena arus pendek listrik, dan hal lain yang bisa saja muncul sebagai risiko. Apalagi jika kita bekerja dan running sebuah bisnis yang bukan milik kita sendiri, layoff mungkin jadi salah satu risikonya. Sejauh ini tidak ada perubahan pada tim saya, masih menjalankan tugas dan kewajiban sebagaimana mestinya, dan memastikan keberadaan kami memberikan kontribusi positif bagi perusahaan.
Keterampilan apa yang menurut Anda paling penting bagi seorang sourcing manager di era yang penuh ketidakpastian seperti sekarang? Bagaimana cara fresh graduate dan profesional muda mengembangkan keterampilan tersebut?
Satu hal paling penting yang membuat kita mampu survive dalam bekerja adalah interpersonal skill, yaitu kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Jika mampu menguasai skill ini, 90% pekerjaan sudah bisa kita lihat akan terselesaikan dengan baik. Bagaimana tidak, bekerja dimanapun, kita akan berinteraksi dengan manusia. Jika tidak mampu mengelola cara dalam berkomunikasi, apa yang kita bisa harapkan selain pekerjaan jadi berantakan?
Banyak hal yang bisa kita solve dengan punya interpersonal skill yang baik, mulai dari menjaga ekspektasi pihak lain, memberikan arahan yang clear dengan tim, bahkan memenangkan negosiasi. Jadi saran buat teman-teman fresh graduate dan profesional muda, perluas networking, perbanyak interaksi dengan orang lain. Maka teman-teman secara simultan sekaligus mengasah kemampuan berkomunikasi dengan berbagai karakter dan interest orang. Belajar hard skill is one thing, ibarat kata secanggih apapun software engineer juga akan ngomong sama orang lain, tidak hanya ngobrol dengan coding.
Bagaimana tren rekrutmen di bidang sourcing telah berubah dalam beberapa tahun terakhir? Apakah perusahaan lebih mengutamakan kandidat dengan pengalaman spesifik atau keterampilan yang lebih soft skill?
Saya sendiri memiliki preferensi yang harus dimiliki tim saya secara skill set. Kombinasi baik secara experience maupun soft skill. Namun hal menonjol yang selalu saya berikan bobot besar adalah kemampuan berfikir strategis dan berkomunikasi. Seseorang yang strategic, tidak akan stuck dalam menghadapi kendala dan akan come up dengan ideasi karena mampu berpikir secara holistik. Seseorang yang baik komunikasinya, seperti saya jelaskan sebelumnya, dia akan winning the game karena dapat berkolaborasi dengan semua pihak.
Apa yang menurut Anda menjadi tantangan terbesar bagi seorang sourcing manager saat ini, terutama dalam hal menemukan dan mempertahankan pemasok yang berkualitas?
Prinsip yang kami jaga adalah "quality over volume". Angka akan menjadi impact baik ketika mitra yang kita ajak kerjasama memenuhi standar kualitas yang kita harapkan. Seorang supplier yang tidak lolos assessment namun kita force bekerja sama karena memiliki omzet besar, akan berpotensi risiko di kemudian hari dan dapat merugikan perusahaan, sekali terjadi fraud, hilang semuanya.
Namun jika di proses awal kita pastikan supplier telah comply memenuhi persyaratan sesuai standar perusahaan, angka akan terbangun. Satu hal yang menjadi tantangan adalah bagaimana memastikan supplier willing untuk conduct pada peraturan di internal perusahaan kita. Karena saya percaya, good governance yang dibangun adalah punya tujuan besar yang baik, namun in actual, pasti terdapat supplier yang tidak eligible untuk memenuhinya. Yang dapat kita lakukan adalah melakukan pendekatan untuk akhirnya tau, apa sebetulnya yang menjadi interest dan pain point mereka. Sering terjadi kita force mitra untuk patuh, tapi kita sendiri tidak mau tau kendala yang sebenarnya mereka hadapi selama ini.
Apa peluang karir yang menjanjikan bagi seorang sourcing manager di masa depan? Bagaimana mereka dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dan peluang tersebut?
Spesifik role Sourcing, saya melihat masih terbuka banyak peluang di posisi yang similar dengan skill set-nya. Seperti Partnership, Business Development, hingga Operation. Karena pada role ini kita work around dengan banyak lintas fungsi, dimana kita secara tidak langsung absorb knowledge dan game play dari sebuah field pekerjaan tertentu. Syaratnya satu, tidak silo, mau belajar lebih.
Berdasarkan pengalaman Anda, apa saran Anda bagi para fresh graduate yang ingin memulai karier di bidang sourcing atau bidang lainnya?
Saya kebetulan suka menulis dan saya menuangkan value apa saja yang harus dimiliki untuk teman-teman fresh graduate agar siap menghadapi hutan rimba, eh dunia kerja. Salah satu yang saya tekankan adalah jangan pernah mengandalkan pada IPK saja. Namun bagaimana sejak kuliah, mulai aware tentang value apa saja yang akan dibutuhkan di dunia kerja.
Memang benar IPK jadi salah satu yang dipersyaratkan, tapi angka-angka itu tidak menentukan ending-nya. Pada akhirnya perusahaan akan mencari value yang melekat pada diri kalian. Apakah itu tentang pengalaman selama kuliah seperti magang, menjalankan bisnis sendiri, atau mengikuti pelatihan-pelatihan yang mampu improve skill pada bidang masing-masing.
Pengalaman kerja pertama saja, saya adalah satu dari dua orang fresh graudates yang lolos interview dan diterima kerja kala itu. Padahal rival saya saat itu experienced semuanya. Tapi karena saya dilihat punya value yang membedakan dari kandidat lain, maka HR atau User mampu melihat X-factor-nya. Apa itu? Selama kuliah saya memutuskan untuk mau lebih sibuk dan capek menjalankan bisnis sendiri. Dari situ saya bisa cerita banyak saat interview, dari bagaimana tantangan membagi waktu, mengelola manusia, mengatur keuangan, hingga metode bisnis yang saya terapkan. Jangan jadi spesies Kupu-kupu ya! (baca: kuliah pulang - kuliah pulang).
Bagaimana teknologi seperti AI dan big data mengubah cara kerja seorang sourcing manager? Apa saja alat atau platform yang menurut Anda paling berguna dalam proses sourcing?
Bekerja di perusahaan berbasis teknologi, tentu harus ambil bagian dalam penggunaan teknologi itu sendiri. Sejauh ini kami di-provide oleh tim di internal perusahaan yang memiliki kapasitas untuk support pada data berupa tools atau dashboard. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu membaca dan menggunakan data itu sebagai support dalam pengambilan keputusan. Tidak sepenuhnya, tentu ada variabel lain seperti insight dari field yang menjadi balancer. Pada role saya saat ini tidak ada spesifik penggunaan AI, namun kami semua familiar dengan ini.
Apakah ada pengalaman menarik atau unik selama karier Anda sebagai sourcing manager yang ingin Anda bagi?
Meski masuk dan bekerja di level managerial, tidak lantas menjadikan saya paling tau, justru sebaliknya. Saya merasa, menghadapi proses probation di eFishery adalah yang paling berat selama saya berkarier. Dulu-dulu, kerja di start up itu metrics umumnya adalah GMV dan active user. Tapi di eFishery, sejak day-one masuk sudah langsung digas setiap hari buat mikirin margin/profit company.
Di sisi lain saya bersyukur, artinya company ini sudah on track menuju profitabilitas. Rasanya seperti tiga bulan saya hanya tau kulitnya saja. Banyaknya hal yang unik di ekosistem akuakultur, membuat saya merasa kekurangan waktu untuk belajar, meski selama masa probation ini saya banyak berinisiatif untuk diskusi kesana kemari mempelajari proses bisnisnya, tetap saja pengumuman kelulusan probation jadi sangat menegangkan.
Kalau flashback perasaan saya waktu itu, seperti sudah nothing to lose, kalau masih rezeki ya beryukur kalau tidak artinya perusahaan melihat saya belum mampu. Tapi Alhamdulillah saya dapatkan rezeki saya di sini. Barangkali perusahaan bisa melihat eager to learn saya selama tiga bulan tersebut yang bleeding ingin segera mahir menguasai bidang ini. Pesan moral, kita tidak akan pernah bisa jadi orang yang paliing tau. Tapi kita semua tau punya kesempatan yang sama untuk bisa belajar dari siapa pun.
Apa yang menjadi motivasi Anda menulis buku "Fresh Graduate Bukanlah Newbie" ? Pesan utama apa yang ingin Anda sampaikan kepada para fresh graduate?
Saya berangkat dari value yang ingin saya pegang teguh soal "kebermanfaatan". eBook ini saya tulis berdasarkan kisah nyata perjalanan semasa kuliah hingga memasuki kehidupan berkarier. 5 tahun kuliah + 12 tahun berkarir + 2 tahun membangun bisnis sendiri, saya rasa cukup bagi saya memutuskan untuk mulai membagikannya.
Isi eBook ini amat sangat dapat dipertanggungjawabkan ke-valid-annya karena tidak nyomot dari cerita hidup orang lain, seperti orang yang memasang status Human Resource, padahal tidak pernah punya pengalaman HR dalam kariernya. Saya resah dengan yang fake hanya demi membangun personal branding dan mendapatkan keuntungan. Saya garis bawahi, saya bukan orang HR ya, saya murni menulis ini dengan semangat kebermanfaatan. Tahun ini saya memulai untuk lebih istiqomah memberikan dampak positif buat orang lain. Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ahmad).
Semoga teman-teman yang berkenan membaca eBook ini bisa mendapatkan manfaatnya, mampu mempersiapkan diri dengan lebih baik demi menemukan jodoh kariernya, dan tentunya mampu berkarya. Berkarya ya, bukan hanya bekerja. Berkarya artinya teman-teman ingin mencapai prestasi yang lebih dari sekedar transferan gaji setiap bulan.
Baca terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan insight "berdaging" dari expert keren lainnya ya!