
Enggak bisa disangkal, saat ini dunia kepenulisan digital sudah terpapar dengan yang namanya teknologi AI. Kemudahan yang diberikan mesin ini membuat penulis lebih ringkas dan tangkas dalam menyelesaikan tulisan atau sekadar mencari ide inspirasi. Tapi, jangan keburu jumawa dulu dan seratus persen mengandalkan AI dalam bekerja.
Menurut Chrystina Yohana Limas atau biasa disapa Nana, sebagai content writer, copywriter, ux writer dan "writer-writer" lainnya, tetap perlu menggunakan sisi kemanusiaan kita dalam menulis. Teknologi tidak dapat menggantikan sentuhan emosi yang diberikan manusia dalam proses penciptaan produk kreatif.
Obrolan seputar teknologi dan perkembangan digitalisasi dalam menulis menjadi salah satu topik bahasan Loker ID dan Nana. Tentu saja, setelah sebelumnya Nana bercerita mengenai awal mula ia menceburkan diri ke dunia konten. Sempat mengisi konten yang berbau 18+, menulis sesuatu yang sama sekali bukan background-nya, lembur sampai jam 6 pagi, waah apalagi ya pengalaman seru Nana? Baca langsung ges!
Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karier Anda sebagai penulis, mulai dari content writer hingga copywriter di berbagai industri? Apa yang membuat Anda tertarik untuk terus berkecimpung di dunia penulisan?
Awal perjalanan karir aku dimulai waktu di Omeoo Digital Agency. Di masa probation, aku bekerja sebagai Web Administration. Jadi kurasi artikel dan upload ke berbagai blog yang dimiliki Omeoo. Omeoo ini agency yang berfokus pada guerilla campaign di blog, sosmed, forum, dan juga ketika ada project membuat game terkadang dibuat juga sekaligus dipromosikan.
Setelah 3 bulan probation, aku didapuk sebagai Guerilla Content Writer untuk berbagai brand. Mulai dar Teh Pucuk Harum, Brands Saripati Ayam, Prenagen, Mc Donald, hingga DBS Bank Indonesia. Karir aku sebagai guerilla content writer berlanjut sampai di-hijack oleh DBS Bank Indonesia.
Setelah setahun saya justru beralih ke bidang copywriter. Berawal sebagai freelance selama 3 bulan di Kraftig Advertising, menangani project script dan advertorial BNI Syariah camapaign Kebaikan Hasanah. Setelah itu saya pernah mendapat project script story untuk aplikasi mirip Webtoon hanya bungkusnya sedikit semidewasa, hanya bertahan sekitar 1 bulan karena enggak kuat kalau harus nulis berbau seminudis, memengaruhi pikiran jadi jorok.
Perjalanan aku menulis akhirnya sampai pada di perusahaan CPXi Indonesia - Consumed Media sebagai Commercial Copywriter (menulis artikel untuk brand dengan gaya soft selling). Mulai dari brand Nivea Micellair, Quaker Oat, 3 Indonesia, Cinema21, dan lain-lain. Artikel yang kubuat berdasarkan undangan press conference entah itu produk baru atau campaign baru.
2,5 tahun itu setelah dari CPXi, aku berlanjut ke Toolbar Digital Communication (part company of DMP Communication) sebagai Copywriter untuk social media Instagram, membuat storyline untuk hero video dan video commercial pitching-an. Mulai dari produk pasta gigi, vitamin anak, sampai kopi instan anak muda, suplemen penambah darah untuk wanita dewasa, dan minuman isotonik.
Setelah dari Toolbar, aku bekerja sebagai Content dan Copy di Krona Agency. Mulai dari buat content plan sampai eksekusi copy dan caption, plus kerjaan tambahan nulis artikel. Perjalanan aku sebagai sempat terhenti dan beralih ke social media specialist yang jauh lebih kompleks di Panenmaya Digital Consultant.
Tapi, selama aku kerja di Krona, aku sempat ambil berbagi job freelance editor di CPXi, di Loop Health Indonesia sebagai freelance writer dan editor, lalu di Rankpillar sebagai freelance writer. Baru sekarang aku mendapatkan pekerjaan lagi sebagai Copywriter di Sribu.com. Job-ku sekarang handle copy landing page dan copy ads untuk Meta (FB&IG).
Sebenarnya yang membuat aku tertarik itu awalnya karena menulis itu media curhat di blog. Dulu waktu sekolah aku suka buat cerpen, puisi. Makanya untuk pelajaran mengarang nilaiku lumayan ok. Aku suka ngarang dan berimajinasi, walau kadang sekarang sering malas dituangkan di laptop.
Apa perbedaan paling menonjol antara menjadi content writer, copywriter, dan content manager? Bagaimana Anda menyesuaikan gaya penulisan Anda untuk setiap peran tersebut?
Perbedaan paling menonjol itu pada tujuan penulisannya. Kalau copywriter itu tujuannya ke jumlah leads, angka penjualan, menarik audience untuk beli produk/jasa, langganan, mengikuti media sosialnya. Penulisannya tidak boleh bertele-tele, harus clear, dan menarik perhatian pembaca.
Kalau content writer tujuannya edukasi dan informatif namun tetap harus clear dan menarik minat pembaca untuk tetap stay di halaman website. Sedangkan content manager, berperan sebagai si paling ide, karena plan harus dari dia. Sekali ide campaign-nya enggak disukai klien, eksekusi copy, content semuanya akan gagal atau salah. Content Manager juga harus menjaga dan mengawasi apakah eksekusinya sesuai dengan ide content plan yang telah dibuat. Caraku menyesuaikan dengan research, membaca brief, dan job desc. Kalau enggak paham bisa minta bantuan ChatGPT.
Bagaimana pengalaman bekerja di perusahaan kesehatan memengaruhi gaya penulisan Anda? Apakah ada topik atau gaya penulisan tertentu yang Anda kuasai selama bekerja di sana?
Aku pernah kerja di Loop Health Indonesia. Sejauh yang aku alami sih, client ini cukup fun, walau sering sibuk ya jadi feedback-nya lama. Loop Health Indonesia itu aplikasi untuk diabetes, download aja.
Apakah ada proyek penulisan tertentu yang paling berkesan bagi Anda? Mengapa proyek tersebut begitu berkesan?
Semuanya sih berkesan ya tapi hal yang paling aku berkesan waktu buat script dan advertorial untuk BNI Syariah. Aku Kristen tapi diminta untuk nulis naskah iklan produk Wakaf dan Umroh. Research-nya lama dan bolak balik revisi sama client-nya, sampai lembur jam 6 pagi.
Tantangan apa yang Anda hadapi saat mengerjakan proyek tersebut, dan bagaimana Anda mengatasinya?
Tantangannya ya karena tentu aku gak paham soal produk berbau muslim. Jadi aku sampai harus baca Alquran, nanya temen-temen muslim. Untung, di kantornya mayoritas muslim jadi bisa membantu riset aku.
Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia kepenulisan, terutama dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi digital?
Adanya ChatGPT sih, itu sangat membantu dalam mencari data dan fakta bahkan gaya penulisan yang dibutuhkan berdasarkan target audience.
Apa saja tantangan terbesar yang dihadapi oleh penulis saat ini, baik dari segi kreativitas maupun bisnis?
Salah satu tantangan terbesarnya adalah mau terus belajar dan memanfaatkan teknologi seperti Canva, ChatGPT untuk membantu pekerjaan. Tapi terkadang ada yang malah copy paste dari Chat GPT. Mungkin untuk menyingkat waktu.
Menurut Anda, apa peran seorang penulis dalam masyarakat saat ini? Apakah peran tersebut semakin penting atau justru sebaliknya?
Peran penulis saat ini menurut aku penting karena dari tangan penulis lah, persepsi atau pandangan bisa berubah.
Bagaimana seorang penulis bisa tetap relevan di tengah persaingan yang semakin ketat?
Harus sering update dengan dunia digital, bahasa komunikasi anak kekinian, baca lebih banyak buku (ini harus) kalau mau dapat perbendaharaan kata lebih banyak. Ngaku penulis tapi enggak hobi baca? Ibarat ngaku koki tapi enggak hobi kulineran atau hobi makan, ke laut aja deh hahaha.
Apa saja peluang karier yang terbuka bagi seorang penulis di masa depan? Apakah ada bidang-bidang baru yang menarik untuk digeluti?
Sebenarnya banyak sih salah satunya UX Writer atau jadi tutor AI pernah liat tuh ada lowongannya. Nulis script atau naskah iklan juga masih terbuka di masa depan karena pasti butuh sentuhan emosional (sebagai pencerita).
Keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang penulis agar bisa sukses di masa depan?
Writing, creative skill, basic canva maybe, presentasi dan skill komunikasi lisan karena menyampaikan ide juga butuh strategi penyampaian yang jelas tapi tetap fun.
Platform digital mana yang paling Anda manfaatkan untuk mengembangkan karier sebagai penulis?
Sekarang sih udah mulai pake ChatGPT untuk bantu cari data atau mencari kata-kata yang cocok. Masih pakai LinkedIn, MySkill untuk belajar juga.
Bagaimana Anda melihat perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap industri kreatif, khususnya dalam bidang penulisan?
Bahasanya masih rada kaku belum kayak manusia jadi enggak bisa di copy paste hasilnya. Harus tetap ditulis ulang dengan bahasa manusia sesuai skill si penulis.
Apa saran Anda untuk penulis pemula yang ingin memulai karier di bidang ini?
Sekarang udah banyak platform buat belajar dari yang gratis sampai berbayar yang murah. Manfaatkan aja itu. Kalau perlu kursus pastikan sesuai budget dan lembaganya berkompeten.
Harapan Anda sendiri terkait karier sebagai penulis?
Tentu mau naik jabatan ya sebagai Senior atau Creative Group Head kalau di dunia iklan, atau Head of Content. Selain itu aku juga mau mengembangkan karir ke arah UX Writing.
Selain cerita Nana, Anda juga bisa mendapatkan cerita seru lain dari
expert-nya langsung di
Rubrik Profil Loker ID!