Simpel
aja sih kalau mau buat karyawan nyaman, perusahaan harus bisa menciptakan lingkungan kerja yang membantu karyawan berkembang serta keseimbangan hak dan kewajiban. Bukannya malah kewajibannya lebih berat ketimbang haknya...eh.....Ini adalah salah satu hasil diskusi Loker ID bersama
Nasuha Ali Sobari, seorang Senior Copywriter di IDEKU.
Bukan cuma ngomongin tipu-tipu dunia kerja, Nasuha juga nyeritain core profesi copywriter yang kerap dianggap hanya menulis. Copywriter adalah seorang penulis yang memiliki fokus utama untuk membujuk pembaca agar mengambil tindakan tertentu, biasanya berupa pembelian produk atau layanan. Tulisan mereka dirancang secara strategis untuk memicu emosi, menciptakan keinginan, dan memberikan alasan yang kuat bagi pembaca untuk melakukan sesuatu. Setiap kata yang mereka tulis memiliki tujuan yang jelas: mendorong konversi. Karena itu, copywriter sangat memperhatikan aspek psikologi konsumen, teknik persuasi, dan juga kemampuan beradaptasi dengan berbagai gaya penulisan yang berbeda-beda, tergantung pada target audiens dan platform yang dituju.
Nah, kalau writer yang lain, seperti penulis konten atau penulis kreatif, memiliki tujuan yang lebih luas. Mereka bisa saja menulis untuk menginformasikan, menghibur, atau mendidik pembaca. Meskipun mereka juga menggunakan kata-kata untuk menyampaikan pesan, namun pendekatan mereka tidak sefokus pada persuasi seperti copywriter. Penulis konten misalnya, lebih fokus pada optimasi mesin pencari (SEO) dan penyampaian informasi yang relevan, sedangkan penulis kreatif bebas berekspresi dengan gaya bahasa yang unik dan imajinatif.
Perbedaan utama antara copywriter dan penulis lainnya terletak pada tujuan penulisan. Copywriter berorientasi pada hasil yang konkret, yaitu mendorong tindakan, sedangkan penulis lainnya memiliki tujuan yang lebih beragam. Meskipun demikian, kedua profesi ini membutuhkan keterampilan menulis yang baik, namun copywriter memiliki keahlian khusus dalam bidang persuasi dan pemasaran.
Jadi panjang deh jelasinnya hehe, langsung kita simak aja ya obrolan Loker ID bersama Nasuha berikut ini!
Apa yang membuat Anda tertarik dengan profesi copywriter?
Sebagai lulusan Ilmu Komunikasi, ternyata bidang ini membawa ke area pekerjaan yang ternyata bisa berkecimpung di dunia kreatif. Awalnya saya hanya tahu menulis blog saja, tetapi, jauh lebih luas lagi ada beberapa bidang pekerjaan tulis-menulis sesuai dengan tanggung jawabnya seperti Content Writer, UX Writer, Scriptwriter, bahkan Copywriter.
Setelah itu, saya membuka banyak peluang sebagai seorang Copywriter karena banyak insight yang dibahas karena awal mula melihat output-nya, "Kok bisa ya ada orang yang nulis dengan kata-kata yang singkat, tapi bisa membentuk kalimat yang indah?" Dari pertanyaan itu, saya mulai mengulik lebih jauh soal copywriting, dan gak cuma nulis doang.
Bagaimana Anda melihat perkembangan profesi copywriter dalam beberapa tahun terakhir?
Perkembangan Copywriter pasca Covid semakin berkembang. Mulai dari banyaknya course tentang copywriting, hingga posisi yang semakin diminati. Perusahaan juga makin aware kalo seorang Copywriter itu dibutuhkan untuk membantu menyempurnakan tim Creative Marketing.
Menurut Anda apa keterampilan paling penting yang harus dimiliki oleh seorang copywriter saat ini?
Sampai saat ini, saya selalu percaya kalau Copywriter itu gak cuma soal menulis. Tapi juga soal kebiasaan membaca. Baca apa aja, iklan di KRL, iklan di pinggir jalan tol, sampai ke iklan-iklan digital. Abis itu penasaran sama cara mereka crafting copy yang kayak gitu.
Bagaimana Anda melihat peran copywriter dalam sebuah tim, khususnya dalam hubungannya dengan tim desain dan marketing?
Peran Copywriter itu "Gak cuma nulis doang", soalnya kadang harus punya insight dan referensi visual juga. Jadi, emang beneran gak cuma nulis aja, kadang harus punya sense of art juga biar tau penempatan Headline, sub-headline, sampai Call to Action. Berperan banget, sih.
Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai seorang copywriter saat ini?
Tantangan terbesar yang dihadapi itu kadang ketika content harus naik tapi tetep sesuai sama tone of voice-nya. Ditambah lagi banyak rumus di copywriting yang gak semua orang tahu. Jangankan rumus copywriting, penulisan sesuai PUEBI aja kadang jadi penghambat, lho!
Bagaimana Anda mengatasi tantangan untuk selalu menghasilkan konten yang kreatif dan relevan di tengah persaingan yang semakin ketat?
Gak dapat dipungkiri, persaingan konten kreatif dan relevan itu mulai semakin terasa. Apalagi jika kita masuk ke perusahaan yang bener-bener baru, nyari formulanya, sampai lihat kebiasaan audiensnya. Saya sendiri biasanya mulai dengan memahami brand yang dipegang terlebih dahulu, gimana cara "ngomong" ke audiens dan jadi stand out lewat konten yang dibuat.
Hal ini gak bisa dihadapi sendiri, perlu kerjasama tim yang baik, sih. Kerjaannya Copywriter juga banyakan discuss sama tim lain biar makin dapet insight. Dan, sering ngobrol sama orang di luar kantor untuk gali insight yang lainnya.
Bagaimana menurut Anda proses perekrutan copywriter saat ini? Apa yang seringkali dicari oleh perusahaan saat merekrut copywriter?
Saya melihat beberapa posisi yang berkaitan dengan Copywriter juga meminta untuk kemampuan design. Ini harusnya tidak bisa dilakukan karena jika merujuk pada definisinya saja, seorang Copywriter itu menulis semua hal yang berkaitan dengan Jenama (iklan). Jadi, untuk apa Copywriter juga harus men-design? Kalau sebatas konsep sih gak apa-apa ya. Harusnya, seorang Copywriter itu bisa menggali insight, menyajikan key message yang kuat, hingga meminimalisir grammar error.
Mengapa menurut Anda jobdesk copywriter seringkali digabungkan dengan jobdesk designer atau digital marketer? Apa dampaknya bagi seorang copywriter?
Merujuk jawaban saya di pertanyaan sebelumnya, sistem PALUGADA ini harusnya diperhatikan juga oleh para pemangku jabatan saat sedang mencari kebutuhan karyawan. Jangan menjadikan 1 orang di posisi tertentu untuk memegang tanggung jawab yang seharusnya dilakukan 3 orang. Ada perbedaan keahlian dengan designer dan Copywriter.
Bagaimana Anda melihat fenomena "request palugada" dalam proses perekrutan copywriter?
Ini jangan terlalu sering dilakukan dan dinormalisasi, siapa pun berhak dapat tanggung jawab dan hak yang sesuai dengan beban bekerjanya. Jika 1 orang memikul tanggung jawab 3 orang, maka perusahaan harus membayar sesuai dengan kewajibannya. Karena dari segi skill-set saja sudah berbeda.
Apa yang dapat dilakukan oleh perusahaan atau klien untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat bagi copywriter dan menghasilkan konten yang berkualitas?
Dengan memahami scope of work, perusahaan akan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Bukan hanya untuk Copywriter saja, tetapi pada bidang lainnya juga. Pekerjaan yang berkualitas akan tercipta jika menyediakan ruang berkembang untuk karyawan, kesesuaian antara hak dan kewajiban, mendapatkan product knowledge yang baik agar bisa memahami brand, product, feature.
Itu tadi obrolan bersama Nasuha, cek
insight dunia kerja dari
expert lainnya di
Rubrik Profil Loker ID!