Mufidz At-thoriq S: Tentang Hidup Mati Dunia Penerbitan dan Kepenulisan Indonesia

Digitalisasi telah mengubah wajah penerbitan Indonesia lebih beragam, "hidup", dan menggeliat. Kalau kita tengok ke belakang, penerbitan buku hanya didominasi oleh penerbit-penerbit besar. Sekarang ini, selain makin banyak penerbit indie, penerbitan alternatif dengan cara self publishing juga menyemarakkan industri kreatif perbukuan. Kesempatan semakin luas, tinggal siapa yang mau konsisten dan setia mencoba.
Obrolan Rubrik Profil kali ini, Loker ID akan membahas mengenai perkembangan industri penerbitan buku bersama Mufidz At-thoriq S. founder Langgam Pustaka, sebuah penerbitan buku di Tasikmalaya. Seperti apa pendapatnya mengenai perkembangan dan perubahan industri perbukuan di Indonesia? Baca penurutannya di sini!
Menurut Anda, bagaimana perkembangan industri penerbitan buku di Indonesia saat ini? Apakah ada tren atau perubahan signifikan yang Anda amati?
Perkembangan industri buku saat ini, menurutku mulai ada pergeseran kecil. Misalnya penerbit mayor harus berbagi ruang dengan penerbit-penerbit indie yang karyanya mulai dikenal pasar yang meluas. Saya tidak mau menyebutkan merek, ya. Namun orang-orang di industri buku, sudah jelas menyaksikan pergeseran ini terjadi.
Bagaimana persaingan antara penerbitan buku konvensional dengan self-publishing? Apakah self-publishing menjadi ancaman atau justru peluang baru bagi industri penerbitan?
Self publishing atau saya arahkan saja sebagai penerbit alternatif, menurutku tidak menjadi ancaman untuk industri perbukuan. Penerbit alternatif membuka ruang, bagi para penulis yang naskahnya ingin dibaca siapa pun. Tak jarang, beberapa tahun ke belakang ini, ada buku-buku terbitan penerbit alternatif mejeng menjadi nominator atau juara di ajang perbukuan Indonesia. Itu menunjukkan bahwa terbitan penerbit alternatif tidak bisa dipandang sebelah mata dari kualitas para penulisnya. Dan ini, malah lebih meningkatkan industri penerbitan.
Bagaimana peran toko buku fisik dalam era digital saat ini? Apakah toko buku fisik masih relevan atau akan tergantikan oleh toko buku online?
Dalam industri apa pun, gulung tikar atau kebangkrutan bukan lagi hal yang mengejutkan. Meski beberapa toko buku besar di Indonesia tutup, tidak menutup kemungkinan juga tumbuh benih-benih toko buku lain. Toko buku fisik masih menjadi primadona bagi pecinta buku. Relevan tidak relevannya tergantung strategi, hari ini bisa kita lihat toko buku-toko buku keren yang adaftif dan berbaur menjadi toko buku dan kedai kopi. Kerelevanan harus dikejar juga oleh toko-toko buku dengan era dan zaman ini.
Bagaimana teknologi digital telah mengubah cara kita membaca dan menerbitkan buku?
Era digital memang bukan untuk dihindari, malah kita mesti berjalan bersama dengan era tersebut. Era digital banyak membawa dampak positif bagi industri perbukuan, salah satunya para penulis akhirnya bisa dengan mudah menerbitkan buku mereka karena kemudahan mereka menghubungi penerbit, seakan tak ada jarak bagi siapa pun. Industri buku juga meningkat dalam segi penjualan. Banyak sekali orang yang berbelanja buku melalu marketplace atau website resmi penerbitnya. Itu sebuah anugerah digitalisasi yang bisa kita rasakan saat ini, selain kemudahan akses kita dengan luar negeri untuk menemukan buku-buku yang bagus di sana.
Apa dampak dari maraknya e-book dan audiobook terhadap penjualan buku fisik?
Sampai saat ini, buku fisik masih menjadi prioritas utama untuk para pecinta buku. Ebook dan audiobook bukan sesuatu hal yang buruk, itu hanya cara lain untuk menikmati naskah yang biasanya kita temukan dalam bentuk buku. Semakin banyak teks dan naskah yang dikonsumsi masyarakat, bahkan lebih baik ketimbang tidak sama sekali.
Bagaimana Anda melihat perkembangan platform bacaan digital seperti Kindle dan aplikasi baca buku online lainnya?
Aplikasi baca saat ini cukup banyak juga, ada yang berbayar, bahkan ada yang digratiskan. Untuk meningkatkan minat baca, aplikasi-aplikasi ini sangat membantu. Tentu saja, untuk gerbang bagi para pemula, dan media bagi para penggunanya. Saya sangat berharap, ke depannya semakin banyak yang membuat aplikasi baca buku di Indonesia, agar bisa menjangkau siapa saja.
Sebagai pelaku industri penerbitan, bagaimana Anda melihat fenomena self-publishing? Apakah ini memberikan kesempatan yang lebih luas bagi penulis pemula atau justru menciptakan persaingan yang tidak sehat?
Seperti yang saya bahas sebelumnya, saya tetap mengatakan bahwa penerbit alternatif dan para penulisnya tidak bisa dipandang sebelah mata dalam segi kekaryaan. Jika berbicara persaingan, maka kita sedang membicarakan untung rugi. Untung rugi dalam sebuah industri bisa ditentukan—salah satunya—dengan strategi. Saya yakin betul, buku-buku yang terbit di penerbit mayor pasti menggunakan analis dan strategi yang baik, ketimbang para penulis di penerbit alternatif yang bahkan mereka tidak tahu cara berjualan.
Dari segi kekaryaan ini menjadi persaingan yang semakin asyik dan mendebarkan. Kita bisa menemukan kekayaan intelektual lain, yang tidak diembel-embeli target pasar atau apa pun untuk menunjang penjualan.
Apa saja kelebihan dan kekurangan self-publishing menurut Anda?
Secara singkat, kelebihannya mereka tidak memandang bulu untuk segala jenis buku dan potensinya. Kekurangannya adalah filterisasi untuk naskah yang diterbitkan.
Bagaimana penerbit tradisional dapat beradaptasi dengan munculnya self-publishing?
Para penerbit yang lebih dulu hadir, PR besarnya adalah harus semakin terbuka untuk tema-tema yang kurang komersil di dunia perbukuan, meski saya tahu, mereka harus tetap berpenghasilan untuk tetap bertahan. Namun ada sentuhan lain, yang para pembaca rasakan, ketika sebuah penerbit berani membuka diri untuk tema-tema yang memiliki potensi untuk orang-orang baca.

Apa yang mendorong Anda untuk membuka kelas menulis?
Kelas menulis di Langgam Institut adalah salah satu cara kami untuk melahirkan para penerus, regenerasi penulis, terutama di Tasikmalaya. Dalam waktu dekat, kami juga akan meluncurkan kelas menulis online, yang bisa diakses oleh siapa pun dengan harga yang sangat terjangkau.
Topik apa saja yang paling diminati oleh peserta kelas menulis Anda?
Sangat beragam, tergantung latar belakang mereka. Sesekali kami juga arahkan untuk menyikapi realita sosial yang terjadi di sekitar Tasikmalaya.
Bagaimana Anda melihat minat masyarakat terhadap kegiatan menulis kreatif saat ini?
Masyarakat hari ini mulai terbuka dengan industri menulis kreatif, karena lapangan pekerjaannya semakin banyak terbuka, misalnya, copywriter, scriptwriter, dll, yang berhubungan dengan dunia perkontenan media sosial.
Bahkan, semakin banyak juga orang yang melek dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar, karena banyaknya konten kreator yang memerhatikan itu di media sosial.
Bagaimana Anda memandang menulis sebagai sebuah profesi?
Sejak zaman dulu, penulis itu adalah sebuah profesi. Karena itu adalah kerja kreatif yang tidak semua orang bisa lakukan. Masalahnya adalah, beberapa dekade lalu, industri menulis memiliki keterbatasan “lapangan pekerjaan”, tetapi saat ini sangat luar untuk para penulis bisa masuk di industri kreatif yang sedang marak ini.
Apakah menulis dapat menjadi sumber penghasilan yang stabil?
Kesetabilan pendapatan hanya di miliki ASN/PNS, di luar itu tidak ada. Para pengusaha selalu berusaha menyetabilkan pendapatannya agar tidak gulung tikar, para pedagang terus berjualan untuk menyetabilkan kehidupannya, kenapa para penulis harus khawatir dengan sumber penghasilan yang stabil? Tak ada jaminan dalam pekerjaan apa pun yang menjanjikan kekayaan, yang dijanjikan adalah konsisten menjalaninya, maka kau akan mendapatkannya.
Apa saran Anda bagi mereka yang ingin menjadikan menulis sebagai karier?
Jalanilah apa yang kau yakini, apa pun itu. Karena para pemenang adalah mereka yang bisa menahan sedikit lebih lama rasa sakitnya ketimbang yang lain.
Baca terus kisah-kisah inspiratif di Rubrik Profil Loker ID, untuk mendapatkan insight dan perspektif menarik dari para expert!