Mengulik Rahasia Sukses Jadi Copywriter di Era AI ala Veronica Gabriella

Buat yang berkecimpung di dunia kreatif terutama copywriting, siapa yang tidak mengenal Veronica Gabriella? Sering mengajar di kelas copywriting baik online dan offline, ada begitu banyak profesional muda yang ingin "mencuri" ilmu Veronica. Ternyata nih, sebelum fulltime Copywriter, pernah mencoba dunia writer yang lain.
"Sebenarnya sepanjang kerja jadi copywriter, aku juga “nyoba” terjun ke profesi menulis lain seperti scriptwriter (pernah nulis skrip untuk drama musikal) dan pernah juga jadi UX Writer, tapi ketika “keliling-keliling” ke profesi menulis lain ini, ternyata memang setelah dijalani, dalam prosesnya aku lebih jatuh hati ke copywriter, hahaha," begitu pengakuan Senior Copywriter PT. Elektronik Distribusi Otomatisasi Terkemuka (eDOT) ini.
Yuk, simak perjalanan karier Veronica di sini!
Boleh diceritakan apa yang membuat Anda tertarik bekerja sebagai Copywriter dan bagaimana awal mulanya?
Long short story, awalnya aku nggak serta-merta mau jadi copywriter. Sebelum lulus kuliah, yang ada di pikiranku hanya satu: pengin punya pekerjaan dengan jobdesk utamanya adalah menulis. Motivasinya karena sejak SD, aku suka sekali menulis dan ingin menulis
bisa menghidupiku. Berangkat dari hal itu, aku mulai mencari profesi dengan tugas utama menulis. Yang ada di kepalaku adalah jurnalis.
Makanya aku magang pertamaku adalah jadi jurnalis di Gramedia Majalah, (KaWanku Magazine). Dan, ternyata jadi jurnalis itu melelahkan, haha, karena harus kerja lapangan yang bisa sampai tengah malam.
Aku pun mencari bidang pekerjaan lain dan saat itu platform digital lagi naik banget, ya. Ketemulah profesi content writer, khusus untuk menulis konten artikel web. Aku sempet magang lagi jadi SEO Content Writer di Gramedia Digital (Gramedia.com) dan bantu-bantu mengisi artikel di web bisnis punya dosenku, tapi ternyata per harinya ada target artikel bisa 3-7 konten yang membuatku “menyerah”.
Sempet mikir juga, apakah sebenarnya aku cocok buat kerja nulis? Hahaha. Lalu pas nyari- nyari lagi, kenalan sama profesi yang namanya copywriter. Belajar sendiri basic-nya di internet karena zamanku ngampus belum ada mata kuliah ini dan akhirnya dipercaya jadi Copywriter pertama kali di Harian Kompas. Setelah menjalaninya ternyata seru banget, karena copywriter “bermain” di banyak medium yang nggak bikin bosan. Jadi bisa dibilang itu awal mula aku akhirnya menekuni profesi copywriter sampai sekarang.
Hal fundamental apa yang membedakan antara Copywriter dengan profesi writer lainnya, misalnya Content Writer atau Scriptwriter?
Kupikir hal mendasar yang menjadi pembedanya terletak di tujuan penulisan. Fokus utama copywriter adalah untuk mempengaruhi perilaku pembaca, mendorong mereka untuk mengambil tindakan tertentu, seperti membeli produk, mendaftar layanan, atau mengunjungi situs web.
Sementara content writer fokus pada menciptakan konten informatif, menghibur, atau mendidik bagi audiens. Tujuannya lebih untuk membangun kesadaran merek, menarik perhatian pembaca, dan memberikan nilai kepada audiens. Berbeda lagi dengan scriptwriter yang fokus pada menulis naskah untuk film, televisi, radio, atau media lainnya dengan tujuan menceritakan sebuah cerita, menghibur penonton, dan menyampaikan pesan tertentu. Dan, biasanya ditulis untuk talent bukan direct ke audiens.
Apa yang paling Anda sukai dari copywriting? Apa yang membuat Anda tetap tertarik dan termotivasi dalam bidang ini?
Hahaha selain pasti cuan-nya, aku suka proses berpikir kreatif yang ada dalam copywriting. Bagaimana sebuah iklan itu bisa kita treat sebagai medium bercerita, bukan sekadar mempromosikan produk. Dan copywriting punya medium bermain yang beragam, mulai dari konvensional (cetak dan elektronik) hingga digital (media sosial, media CRM, AI) yang bikin nggak bosan karena luas dan perkembangannya sangat dinamis.
Bagaimana Anda mengembangkan passion Anda untuk copywriting? Apakah Anda mengikuti pelatihan, membaca buku, atau bergabung dengan komunitas tertentu?
Aku rutin ikut pelatihan di berbagai edutech dan gabung komunitas online juga. Lebih untuk memperbarui pengetahuan dan ketemu sama orang yang satu visi-misi. Tapi untuk ngembangin skills ini aku terkadang juga:
● Ngumpulin iklan-iklan yang lagi rame kayak billboard seru aku foto, push notifications lucu aku screenshoot, aku kumpulin di satu folder “Bank Ide”, lalu aku analisis sendiri.
● Baca-baca artikel soal copywriting di LinkedIn dari praktisi copywriter lain ataupun searching santai di Google buat tahu apa yang baru.
Bagaimana Anda menggambarkan gaya copywriting Anda? Apa yang membedakan Anda dari copywriter lain?
Copywriting berbeda dengan penulisan fiksi. Dalam fiksi, kita mungkin bisa menebak penulisnya dari gaya tulisannya. Sebaliknya, copywriter perlu fleksibel dan menyesuaikan gaya menulis tergantung pada merek dan target audiens. Jadi, jika ditanya tentang gaya copywriting-ku, mungkin jawabannya adalah palugada—apa yang dimau, pasti ada. Dan, yang membedakanku dari copywriter lain adalah kemampuan adaptasi terhadap berbagai industri. Aku pernah berpindah-pindah perusahaan dan harus belajar dari nol lagi mengenai industrinya, mulai dari media, kesehatan, edutech, hingga FMCG. Tapi sejauh ini, aku masih survive, hahaha!
Bisakah Anda ceritakan beberapa proyek copywriting paling menarik yang pernah Anda kerjakan? Apa yang membuat proyek tersebut istimewa bagi Anda?
Setiap proyek memang seru dan punya cerita masing-masing. Salah satu yang paling berkesan bagiku adalah ketika mendapat kesempatan menulis skrip dan storyline treatment untuk acara TV saat bekerja di Ruangguru. Kami, tim copywriter, tidak hanya menulis di balik layar dan bekerja sama dengan tim skrip, tetapi juga terjun langsung ke studio untuk mengawal proses syutingnya.
Apa saja tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai senior copywriter? Bagaimana Anda mengatasinya?
Tantangan besarnya, kupikir, nggak jauh beda dengan teman-teman di industri kreatif lainnya: bagaimana tetap bisa menghasilkan ide segar di tengah banyaknya tuntutan klien dan tenggat waktu terbatas. Apalagi, namanya ide kadang butuh diendapkan dan muncul di waktu tak terduga, sementara di dunia profesional, ada rentang waktu yang perlu dipenuhi. Sebagai Senior Copywriter, tantangan lainnya adalah kita dituntut nggak hanya jadi eksekutor yang tinggal menerima brief pekerjaan lalu mengolah dari sana, tapi juga sebagai inisiator. Benar-benar crafting from scratch: bagaimana big idea campaign-nya, inisiatif kreatif apa untuk Q1-Q2, dan sebagainya.
Biasanya, aku mengatasi hal ini dengan memperbanyak referensi periklanan. Bahkan, kami dalam 1-2 minggu sekali punya waktu khusus untuk mempresentasikan temuan iklan kreatif yang menurut kami bagus dan apa yang bisa diterapkan di pekerjaan. Sesi ini membuatku sebagai copywriter lebih segar dengan tren saat ini dan “menabung” ide yang sewaktu- waktu bisa dipakai.
Bagaimana Anda menghadapi kritik terhadap pekerjaan Anda? Apa yang Anda lakukan untuk terus belajar dan berkembang sebagai copywriter?
Kritik itu hal yang pasti terjadi di pekerjaan, apalagi jadi copywriter di industri kreatif yang cenderung “subjektif”. Beberapa hal yang kulakukan menghadapi kritik adalah:
● Dengerin aja dulu. Hahaha. Jadi, aku bisa tahu sudut pandang si pengkritik gimana, tanpa buru-buru defensif.
● Klarifikasi dan jelaskan. Ketika ada hal yang keliru dari kritik yang diberikan, biasanya aku akan klarifikasi dan menjelaskan. Aku sampaikan concern aku agar lebih tersampaikan maksudku.
● Terima jika logis. Kalau kritiknya memang logis, aku akan terima untuk memperbaiki diri. Di dunia kreatif, selain harus punya hardskill yang mumpuni, kita juga perlu easy going dan terbiasa dengan masukan. Nggak ngotot bangetlah, karena kreatif itu luwes.
Menurut Anda, apa saja tantangan terbesar yang dihadapi industri copywriting saat ini? Bagaimana Anda melihat industri ini berkembang di masa depan?
Ada beberapa poin umum yang sekarang jadi concern banyak orang:
● Meningkatnya persaingan
Pekerjaan copywriter makin tren, berarti tingkat persaingan makin tinggi. Tapi yang kulihat ini juga poin plus, karena ada demand terhadap profesi ini.
● Perubahan kebiasaan audiens
Audiens semakin sadar iklan, jadi kita perlu bermain lebih kreatif dalam menarik perhatian mereka. Bagian positifnya, kita jadi terdorong untuk berpikir kreatif dan terus belajar hal-hal baru, nggak terperangkap dalam bubble formula yang itu-itu saja.
● Peningkatan pemanfaatan data
Nggak bisa lagi tuh nulis hanya mengandalkan cerita bagus versi diri sendiri, tapi perlu blend juga sama data. Yup, ini saatnya kenalan sama data-driven copywriting, yang sangat membantu dalam membuat copy yang lebih personalized. Iklan-iklan e-commerce besar di Indonesia sudah pakai teknik ini.
● Munculnya AI
AI semakin banyak digunakan untuk menghasilkan copy, yang menimbulkan pertanyaan tentang masa depan profesi copywriter. Kita perlu memandang AI sebagai kawan, bukan lawan. Salah satu contohnya: AI dengan kecepatannya bisa digunakan untuk mengotomatisasi tugas-tugas copywriting yang berulang. Ini bisa membuat copywriter lebih fokus ngulik hal yang lebih kreatif dan strategis.
Intinya, jadikan tantangan ini batu loncatan, bukan sandungan. Lihat ini bukan sebagai beban, tapi tantangan dalam kemajuan profesi periklanan.
Apa saran Anda untuk copywriter muda yang baru memulai karir mereka? Bagaimana mereka dapat mengatasi tantangan dan mencapai kesuksesan dalam bidang ini?
Sedikit tips dariku untuk teman-teman yang mau merintis karier sebagai copywriter:
● Bangun portofolio yang kuat
Ini jadi pembeda kita dengan kandidat lain. Mulai kumpulkan portofolio dengan ikut kepanitiaan, organisasi, kompetisi, magang, volunteer, hingga jadi kontributor.
● Mulai personal branding
Sesederhana bikin akun LinkedIn, kelola dengan serius, dan berkoneksi dengan profesional di bidang copywriting.
● Banyak baca, banyak nulis!
Baca di sini nggak harus baca buku, bisa juga artikel, “baca” film, “baca” lagu, “baca” situasi alias up-to-date dengan tren. Lalu, terapkan dengan latihan copywriting: ambil satu iklan, lalu tulis ulang copy-nya dengan gaya sendiri setelah memperbanyak referensi tadi.
Terakhir dariku: jangan takut! Kita nggak pernah tahu kalau belum melangkah. Selalu ada langkah pertama untuk setiap hal. Jadi, mulai menulis saja dulu, langkah kecil tak apa, asal kita bergerak.