Lulu Fahrullah: Menimbang, Mengkurasi, dan Menganalisis Tren Film

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana cara kerja distribusi film sehingga bisa ditonton di bioskop? Pertimbangan memilih film-film apa yang akan ditayangkan, bagaimana menangani film-film dengan audiens spesifik? Semua pertanyaan ini ada banget di obrolan Loker ID bersama Lulu Fahrullah, Head of Movie Programming di CGV Cinemas.
Buat Anda yang suka nonton film, pemerhati film, dan tertarik untuk bekerja di industri perfilman, wajib banget baca tulisan ini! Cekidot...
Bisakah Anda menceritakan latar belakang karir Anda? Bagaimana Anda memulai karir di industri film dan bioskop?
Ketertarikan saya di dunia film dimulai sejak SMA di Bandung, ketika saya mulai membuat film pendek. Ketertarikan ini semakin berkembang selama kuliah di Fikom Unpad, di mana saya aktif klub film, Cinematography Club. Alhamdulillah, saya dan teman-teman berhasil memenangkan beberapa lomba dan festival film pendek nasional, serta berkesempatan belajar langsung dari filmmaker ternama seperti Joko Anwar.
Setelah lulus, saya bekerja sebagai editor dan reporter di majalah film nasional, CINEMAGS. Selama hampir empat tahun di sana, saya membangun jaringan dengan orang-orang di belakang layar dan mulai memahami industri film di Indonesia. Pada tahun 2015, saya diterima sebagai Movie Programmer di CGV. Dari sinilah saya mulai mendalami aspek programming bioskop, belajar langsung dari para senior, serta menimba ilmu dari tim CGV Korea untuk semakin mengasah kemampuan saya di bidang ini.
Apa yang membuat Anda tertarik bekerja di bidang movie programming, khususnya di CGV?
Kesempatan untuk berkontribusi langsung di industri film, menganalisis tren market film di Indonesia dan menawarkan berbagai pilihan film berkualitas untuk para penonton. Bekerja CGV juga memotivasi saya untuk terus belajar dan berkembang karena CGV memiliki standar global.
Apa tantangan terbesar yang pernah Anda hadapi dalam peran Anda sebagai Head Movie Programming?
Memprediksi dan beradaptasi dengan perubahan tren penonton Indonesia yang sulit ditebak. Menjaga market share dengan kompetitor bioksop lain dan harus terus berinovasi menawarkan program yang menarik untuk menghadapi kompetisi dari platform streaming yang tumbuh pasca pandemi.
Bagaimana Anda menggambarkan tanggung jawab utama Anda dalam posisi ini?
Merancang program film yang menarik, mengkurasi dan memastikan ketersediaan konten berkualitas baik film feature atau alternative konten seperti konser K-Pop dan live streaming pertandingan bola, serta memaksimalkan pendapatan dari setiap lokasi bioskop.
Apa skill atau kualitas yang paling penting untuk bisa berkembang di bidang movie programming?
Analisis market yang kuat, kemampuan berkomunikasi dan negosiasi, pemahaman mendalam tentang film dan tren industri, dan kreativitas untuk menawarkan sesuatu yang fresh dan berbeda.
Bisakah Anda menjelaskan proses pemilihan film yang akan ditayangkan di CGV? Apa faktor-faktor utama yang dipertimbangkan?
Kami sebagai tim Movie programming akan mengkurasi dan menganalisis potensi pendapatan dari suatu film yang akan kami tayangkan. Kami mengkomparasi dengan data box office film-film sejenis, melihat preferensi customer di Indonesia melalui social media dan platform film. Melihat tren film tersebut di market internasional (jika film asing).
Bagaimana Anda menyeimbangkan antara film lokal (Indonesia) dan film internasional dalam program tayang CGV?
Dua tahun ke belakang film Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Dari 2023 sebanyak 55 Juta penonton menjadi 80 juta penonton pada 2024. Maka fokus kami memang lebih pada film lokal yang kontribusi tahun 2024 lebih dari 60% dari keseluruhan total penonton.
Namun kami juga tetap menayangkan film-film internasional dengan memaksimalkan di kota-kota besar (Jabodetabek, Bandung,
Surabaya, Yogya, dll) dan menawarkan di spesial Audi (gold class, velvet) juga spesial format (4DX, ScreenX).

Apakah ada perbedaan strategi dalam memprogram film untuk lokasi CGV yang berbeda (misalnya, di kota besar vs. kota kecil)?
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya film -film Hollywood/asing, kami fokuskan di kota besar dengan memaksimalkan di spesial audi dan spesial format, sedangkan di kota kecil, film-film lokal dengan genre horor dan komedi lebih efektif.
Bagaimana Anda menangani film-film yang memiliki target audiens yang spesifik atau niche?
Untuk film-film niche, kami tayangkan terbatas dan fokus di kota-kota besar. Seringkali kami juga bingkai dalam konsep mini festival atau tematik seperti Awards Movie Week.
Bagaimana Anda memprediksi keberhasilan suatu film sebelum dirilis? Apakah ada tools atau data khusus yang digunakan?
Kami membandingkan data historis film-film sejenis dari database internal, menganalisis reaksi terhadap trailer dan watchlist di media sosial, serta mempertimbangkan waktu rilis film (musim liburan – high season atau low season). Selain itu, kami juga memeriksa tingkat persaingan di waktu perilisan film tersebut.
Bagaimana peran data analytics dan riset pasar dalam pengambilan keputusan movie programming?
Sangat penting untuk membantu memahami tren penonton, genre apa yang diminati, dan lokasi atau kota apa yang sesuai untuk penempatan film-film tersebut.
Menurut Anda, apa peran bioskop dalam ekosistem industri film Indonesia?
Sebagai platform utama untuk menghubungkan pembuat film dengan audiens dan memberikan sebuah pengalaman sinematik yang tidak bisa digantikan dengan menonton di layar kecil atau smartphone.
Apakah Anda melihat pergeseran dalam kebiasaan menonton masyarakat, terutama dengan maraknya platform streaming? Punya opini mengenai hal ini?
Ada pergeseran kebiasaan menonton dengan maraknya streaming, terutama berdampak pada film-film drama atau yang kurang populer. Mereka memilih menunggu tayang di platform OTT. Namun, untuk film-film yang viral di sosial media, film-film horor, atau konten alternatif seperti konser, penonton tetap datang ke bioskop untuk menikmati pengalaman sinematik yang tidak bisa digantikan di rumah.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri film Indonesia dalam 5-10 tahun terakhir?
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dalam 2-3 tahun terakhir, film Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Salah satunya karena semakin banyak produser yang membuat film dengan bujet tinggi, penceritaan yang baik disertai promosi yang masif, ini membuat standar produksi film-film Indonesia naik kelas.
Apa tantangan terbesar dalam pendistribusian film di Indonesia, baik untuk film lokal maupun internasional?
Market penonton yang sulit diprediksi. Terkadang muncul film yang punya banyak potensi namun gagal di pasaran. Sebaliknya dari tracking tidak begitu kuat, tapi setelah tayang 2-3 hari mengalami kenaikan signifkan.
Bagaimana teknologi baru, seperti IMAX, 4DX, atau Dolby Atmos, mengubah pengalaman menonton di bioskop?
Teknologi ini meningkatkan pengalaman menonton di bioskop dengan menawarkan kualitas visual dan audio yang lebih imersif. 4DX menawarkan pengalaman multisensorik seperti kursi bergerak, efek angin, dan aroma. Sementara ScreenX, menghadirkan visual 270 derajat dengan layar di dinding samping, memberikan kedalaman dan sensasi seolah berada langsung dalam adegan.
Jika ada satu hal yang bisa Anda ubah atau tingkatkan dalam industri film Indonesia, apa itu?
Lebih meningkatkan kualitas produksinya dan tidak terpatok pada satu genre (terlalu banyak film horror).
Apa saran Anda untuk seseorang yang ingin berkarier di industri film, khususnya di bidang movie programming?
Tonton dan analisa semua jenis film. Tidak hanya film-film yang disukai. Belajar memahami tren pasar di kota-kota Indonesia, perkuat kemampuan analisis data, dan kreatif dalam mengelola program yang sesuai dengan selera penonton. Networking dan skill komunikasi dan negosasi juga penting untuk profesi ini.
Film apa yang paling berkesan bagi Anda secara pribadi, dan mengapa?
Film Indonesia favorit saya adalah Petualangan Sherina, karena itu adalah film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop saat masih SMP. Film ini juga menandai awal kebangkitan film Indonesia. Untuk film luar, saya memilih Cinema Paradiso, karena ceritanya sangat relate dengan saya sebagai seseorang yang mencintai dunia film sejak kecil.
Baca terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan insight menarik seputar dunia kerja langsung dari expert-nya!
Photos by: Cintya Adinda Putri @cintyadindaa