Lestari : Dari Tour Community ke Alternatif Lain Mengenal Ruang dan Waktu bersama Walk The Past

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 18 Juli 2024
Rubrik Profil

Lestari

Industri pariwisata terutama walking tour semakin diminati saat ini. Terbukti dengan banyaknya tour organizer yang menawarkan rute jalan sambil menikmati tempat-tempat bersejarah di seputaran kawasan yang sebenarnya sering dilewati di keseharian. Salah satu walking tour yang saat ini diminati--terutama buat yang sedang berada di Yogyakarta--adalah Walk The Past.

Adalah Lestari sebagai salah satu pendiri dan pemrakarsa Walk The Past (WTP) berbagi pengalamannya secara personal dan tim ke Loker.ID. Bagaimana dari kesenangan mengulik sejarah bisa menjadi profesi yang juga menginspirasi dan edukatif juga buat yang lain. Kalau Anda kebetulan tertarik dengan industri pariwisata terutama walking tour dan bagaimana profesi tour community dimulai, yuk baca cerita Lestari di sini!

Halo salam kenal, boleh memperkenalkan diri, nama lengkap, latar belakang pendidikan, serta profesi yang dijalani saat ini?

Namaku sebetulnya hanya ‘Lestari’, hehe. Tapi orang biasa manggil aku Les atau Tarii. Aku sendiri udah lama tinggal di Yogyakarta. Sekitar 11 tahun. Tapi, aku kuliah di Depok (UI). Ambil jurusan Sastra Prancis. Profesi yang dijalani saat ini sebetulnya ya merintis Walk The Past itu sendiri. Lalu juga aku juga pegiat seni di mana aku kritikus seni pertunjukan dan koreografer.

Apa yang memotivasi Anda untuk mendirikan Walk The Past?

Motivasi ini sebetulnya enggak lepas dari motivasi secara kolektif juga, di mana aku dan kolektif seni dan sejarah yang aktif kuorganisir memiliki keresahan: gimana yaa untuk bisa me-diseminasi hasil-hasil riset kami untuk lebih ramah untuk didengar dan dipercakapkan banyak orang. Dan kami menemukan bahwa walking tour itu jadi cara yang ramah karena asyik (menggunakan metode bercerita dan mengalami ruang bersama). Dan juga bisa diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.

Bagaimana Anda memperoleh pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk menjadi seorang Tour Community/Organizer Tour?

Pengetahuan ini sebenarnya diperoleh secara organik, tapi konsisten dilakukan. Di kolektif Arungkala; tempat aku belajar mengarsip dam meriset bersama kawan-kawanku yang lulusan S1 Sejarah.

Apa yang membedakan Walk The Past dari tur jalan kaki lain di Yogyakarta?

Walk The Past berpijak dari sejarah dan cerita-cerita tentang orang biasa. Dalam pembentukan narasi pun, kami mengambil sumber berupa arsip-arsip koran 80-100 tahun lalu. Dan saat walking tour, kami senantiasa membagikan zine (semacam buletin) berisi kliping arsip-arsip serta rangkuman narasi yang dibuat.

Apa filosofi atau nilai-nilai yang mendasari Walk The Past?

Walk The Past ingin jadi ruang untuk saling berbagi, agar kita mengenali sekitar dari sudut pandang sejarah sehari-hari. Ketika bicara tentang pasar, sudut-sudut kampung, jalanan, monumen, dan bangunan

Sejarah yang kami pikirkan bukan hafalan dan nama-nama tokoh, tapi cerita sehari-hari. Kami memakai banyak sekali arsip berita, koran-koran zaman kolonial, dan brosur iklan yang usianya ratusan tahun. Kami percaya kisah sehari-hari yang terjadi di masa lalu lebih penting dibicarakan, dibanding kisah heroik dari nama-nama besar. koran dan brosur iklan yang usianya lebih dari 100 tahun lalu.

Bagaimana Anda memastikan bahwa tur yang Anda bawa selalu memberikan pengalaman yang berkesan bagi para peserta?

Aku selalu mencoba untuk bisa memberi selingan pertanyaan kepada peserta supaya percakapan yang terjadi itu dua arah. Sesimpel menanyakan apa yang mereka ingat dan rasakan.

Lalu, aku juga suka membuat ‘aktivasi’ dengan arsip. Contohnya, mengajak teman teman peserta membaca arsip hingga membuat permainan kecil di mana mereka mencoba menemukan berita yang isunya masih relevan hingga saat ini.

Apa saja tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam mengelola Walk The Past ?

Interaksi dengan peserta yang senantiasa inklusif dan setara, yaitu tentang bagaimana tur WTP selalu bisa diikuti berbagai kalangan serta melibatkan mereka juga dalam tur-tur kami.

Apa harapan Anda untuk Walk The Past di masa depan?

Aku dan teman-teman berharap semoga WTP ini bisa diikuti semakin banyak kalangan, mulai dari segi umur, kelas, etnis, dan gender. Kami juga ingin keikutsertaan dari banyak kalangan ini tidak hanya satu arah sebagai peserta saja, tapi juga bisa menuturkan cerita dan sejarah baru dari mereka atau orang-orang di sekeliling mereka.

Bagaimana Anda ingin mengembangkan bisnis ini dan menjangkau lebih banyak wisatawan?

Saya dan kawan-kawan WTP yang hanya ada 3 orang ini berpikir bahwa kami perlu melebarkan sayap mulai daerah-daerah lain terdekat (masih di Pulau Jawa). Kami juga ingin melibatkan lebih banyak sarana prasarana seperti adanya transportasi untuk berkeliling kota bersama yang cukup unik (misal angkot, bus mini, pick up) untuk memberi pengalaman meruang yang berbeda.

Apa kontribusi yang ingin Anda berikan bagi industri pariwisata di Yogyakarta?

Saya dan kawan-kawan WTP sebetulnya tidak pernah berfokus untuk mengembangkan sebuah program dalam satu ranah saja, apalagi untuk menjadi sebuah platform yang bersaing untuk mendapatkam kapital lebih. Kami dari awal ingin menjadi alternatif, baik itu di ranah pariwisata, sejarah, bahkan seni.

Spirit untuk menjadi alternatif ini tidak terlepas dari keinginan kami untuk bisa membuat khalayak dari kelompok apapun bisa belajar sekaligus menikmati jalan-jalan dengan cara yang asyik, terjangkau, dan egaliter.

Bagaimana Anda melihat prospek tur jalan kaki di Yogyakarta dalam beberapa tahun ke depan?

Saya melihat tur jalan kaki akan selalu memiliki peminat karena pengalaman meruang dan cerita-cerita baru itu yang sulit tergantikan

Hal itu tidak terlepas juga karena koreografi kota yang selalu dinamis. Kedinamisan kota itu menjadikan banyak peristiwa dan tempat begitu ephemeral sehingga akan selalu ada cerita baru dan berbeda dari tiap tempat.

Apa saran Anda bagi orang yang ingin menjadi tour organizer?

Saran saya hanya jangan pernah berhenti bertanya dan membaca. Karena dari pertanyaan-pertanyaan dan bacaan baru itu akan muncul narasi-narasi baru dan ide-ide bentuk tur yang unik dan menyenangkan.

Apakah ada cerita menarik atau pengalaman berkesan yang ingin Anda bagikan selama memimpin tur?

Cerita menarik yang tersimpul rupanya justru datang dari peristiwa peristiwa-peristiwa kecil. Salah satunya adalah ketika para peserta yang datang dalam satu sesi tur justru saling berkenalan, bercerita, dan berjejaring hingga mereka membentuk suatu perkawanan. Bagi saya itu hal yang menarik karena walking tour ternyata bisa menjadi medium perjumpaan serta perkumpulan yang hangat.

Selain itu, saya juga senang ketika para peserta merasakan betul spirit yang ingin kami bawa dalam walking tour, yaitu spirit untuk membentang lintasan sejarah dari akar rumput juga.