Lena Astari : "Hapuskan Diskriminasi Usia saat Perekrutan!"

Layoff memang mengubah lanskap karier para profesional dan ritme dunia kerja. Meski begitu, bukan berarti langkah harus terhenti. Tetap berjalan, mencoba, dan mengupayakan adalah sesuatu yang semestinya dijalani. Sedih sudah pasti. Kecewa apa lagi. Itulah yang dirasakan Lena Astari, saat tahu kalau ia salah satu korban layoff.
"Sekarang ini memang susah mencari pekerjaan, ada banyak orang yang terdampak layoff, belum lagi diskriminasi soal usia dan status pernikahan dan punya anak," cerita Lena. Menanggapi kondisi yang dialaminya, Lena tidak berpangku tangan. Ia menjalani profesi freelance writer dan belakangan menjadi Virtual Assistant. Bagaimana adaptasi Lena terhadap perubahan path kariernya semenjak layoff? Gas penuturannya!
Bagaimana Anda pertama kali menerima kabar tentang layoff? Apa reaksi awal Anda?
Sebenarnya, layoff itu sudah terjadi dua kali sebelumnya dan kemudian ada gosip yang beredar di karyawan kalau akan terjadi layoff lagi. Jadi begitu saya mendapat e-mail untuk one-on-one dengan HRD, saya sudah tidak kaget lagi dan langsung berkabar dengan teman-teman lain yang mendapat e-mail dalam waktu bersamaan. Daripada kaget dan kecewa, saya lebih merasa sedih karena saya sudah berkarier bersama Grid Network Kompas Gramedia selama tujuh tahun dan sudah banyak hal yang saya lewati di sana.
Apa yang menjadi alasan utama perusahaan melakukan layoff pada posisi Anda?
Karena ini sudah layoff yang ketiga, nampaknya memang Grid Network mengalami kendala dalam mendapat profit, khususnya bagi website yang tidak memiliki kerjasama yang ‘menguntungkan’. Jadi mereka harus mengadakan efisiensi, baik dari SDM sampai menghilangkan banyak website.
Bagaimana proses transisi dari karyawan tetap menjadi pekerja lepas Anda alami?
Qadarullah semua seperti dimudahkan. Awalnya, saya mendapat tawaran dari kakak perempuan saya yang bekerja sebagai freelance desain grafis untuk membantu dia meng-input data untuk proyeknya bersama klien yang sudah lama bekerja dengannya. Setelah proyek itu selesai, 3 bulan kemudian klien tersebut menawari saya untuk jadi Virtual Assistant untuknya. Awalnya saya ragu karena tidak pernah ada basic jadi VA sebelumnya. Namun akhirnya saya terima dengan sedikit demi sedikit belajar tentang VA.
Bagaimana Anda membangun jaringan dan mencari klien sebagai seorang freelancer?
Saya sedang mencoba aktif di LinkedIn dan juga mendaftar diberbagai situs freelance seperti Upwork, Sribulancer, dan Fiverr. Jaringan dari rekan-rekan kerja sebelumnya dan juga klien-klien selama bekerja dulu juga cukup membantu dalam proses ini.
Tantangan apa yang Anda hadapi selama menjadi freelance writer?
Saat saya bekerja dengan tim di kantor, saya bisa mendapat banyak insight dari tim analis dan juga Editor. Namun saat jadi freelance writer, saya hanya bisa berkomunikasi dengan satu klien yang memberi brief dan kemudian harus bekerja sendiri dengan brief yang diberikan tersebut. Itu membuat saya harus melakukan analisis sendiri dan bisa jadi pekerjaan memakan waktu yang lama.

Apa yang membuat Anda memutuskan untuk beralih menjadi virtual assistant?
Saya suka belajar hal baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Ditambah, saya merasa butuh kesibukan lain di tengah kegiatan mengurus keluarga agar otak saya terus terasah dan tidak ketinggalan dengan berita-berita terkini.
Bagaimana Anda melihat perbedaan antara menjadi freelance writer dan virtual assistant?
Mungkin karena saya sudah lebih dari lima tahun menjadi content writer sehingga saya sudah menemukan ‘celah’ untuk menulis artikel dengan lebih santai dan mencari detailnya dengan mudah. Namun dengan VA, saya lumayan sering harus duduk terdiam dan mencoba untuk menganalisa tugas dan masalah yang datang dari klien. Ditambah perbedaan bahasa dan juga timezone cukup menantang sehingga beberapa kali saya melakukan kesalahan, namun bisa diatasi dengan baik.
Keterampilan apa saja yang Anda perlukan untuk menjadi seorang virtual assistant?
Kalau untuk pekerjaan saya, keterampilan seperti research harus cukup detail. Apalagi jika tidak banyak informasi soal bahan research, namun klien menuntut informasi harus selengkap-lengkapnya. Kemudian juga yang terpenting adalah soal komunikasi dengan klien, terutama jika berbeda bahasa. Kita bisa menyampaikan ketidakpahaman atau kekeliruan yang ada dengan baik dan jelas.
Menurut Anda, apa faktor utama yang menyebabkan semakin banyaknya kasus layoff di berbagai perusahaan?
Saya rasa karena semakin banyaknya sektor pekerjaan informal yang muncul membuat banyak perusahaan lebih memilih merekrut lewat cara tersebut, baik dengan intern atau freelance dengan bayaran yang pastinya lebih murah.
Bagaimana Anda melihat persaingan dalam mencari pekerjaan saat ini, terutama di bidang yang Anda geluti?
Yang pasti saya harus tetap memantau tren, khususnya soal bidang Content Writer atau SEO Writer. Saya juga terus mengasah kemampuan menulis dengan mengisi blog atau Medium.
Apa saja kesulitan yang Anda hadapi saat mencari pekerjaan setelah mengalami layoff?
Saya mencari pekerjaan saat badai layoff tengah terjadi dan saya rasa juga ada banyak orang yang kemudian juga mencari pekerjaan, baik itu yang sudah berpengalaman atau fresh graduate. Kemudian saya rasa soal umur dan status pernikahan hingga sudah memiliki anak juga jadi batu sandungan.
Keterampilan apa saja yang menurut Anda paling dibutuhkan oleh para pencari kerja saat ini?
Kemampuan yang berhubungan dengan bidang digital seperti media sosial, video editing, dan juga kreativitas sangat dibutuhkan oleh mereka karena bidang digital masih terus dibutuhkan saat ini.

Bagaimana Anda melihat peran media sosial dalam mencari pekerjaan?
Sangat membantu, apalagi banyak recruiter yang terjun langsung ke media sosial sehingga akan ada banyak jobseeker yang terbantu tanpa harus melewati proses screening panjang. Namun di sisi lain ada banyak scam yang bisa menjerat banyak orang, khususnya dengan iming-iming kerja ringan namun dengan bayaran tinggi.
Seberapa penting pendidikan formal dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja saat ini?
Saya selalu merasa pendidikan formal sangat lah penting dalam menghadapi dunia pekerjaan. Selain mendapat ilmu, sosialisasi selama bersekolah maupun kuliah sangat bisa membentuk perilaku dan sifat individu. Terutama saat bergabung dengan organisasi, maka cara berpikir kritis dan kreatif sangat diasah dan pastinya sangat berguna dalam menghadapi dunia kerja.
Apa yang perlu dilakukan oleh individu dan pemerintah untuk menghadapi perubahan dunia kerja?
Untuk individu, menurut saya harus terus belajar hal baru yang mungkin bisa jadi peluang baru untuk mendapat pekerjaan. Membangun koneksi dan portofolio juga mungkin bisa dilakukan untuk terus mengembangkan diri. Sedangkan untuk pemerintah, saya rasa harus tegas dalam membuat aturan di mana diskriminasi umur harus dihapuskan. Sektor informal pun harus dibuat aturan khusus agar pekerja tidak diperlakukan semena-mena oleh klien.
Kisah inspiratif dari para expert lainnya bisa Anda baca di Rubrik Profil Loker ID!