Kukuh Indrasmara: Profesi Dalang di Era Digital, Adaptasi Tanpa Mengganggu Tradisi

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 29 November 2024
Rubrik Profil

pengalaman-dalang-kukuh-indrasmara-tahun-2024

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai profesi dalang di era digital saat ini? Apakah pertunjukan wayang kulit masih ditonton? Jawabnya tentu saja masih. Walaupun tidak semasif kakek nenek kita era dulu, wayang sebagai bagian dari tradisi dan budaya Indonesia masih diminati hingga saat ini. Sayangnya, minat tersebut masih terbatas pada tujuan wisata bukan dalam kehidupan sehari-hari. Coba bayangkan kalau seandainya minat akan tradisi budaya pewayangan semain menurun, wah bisa-bisa warisan tradisi ini enggak akan sampai pada generasi-generasi selanjutnya.

Kukuh Indrasmara memilih jalan sebagai penerus tradisi yang bukan hanya karena panggilan meneruskan warisan keluarga melainkan lebih kepada pelestarian wayang sebagai bagian dari budaya Indonesia. Ketika budaya punah, identitas diri kita juga musnah. Terkadang, profesi-profesi tertentu tidak hanya tentang passion, jenjang karier, dan gaji, melainkan mengabadikan dan mewariskan warisan.

Yuk, simak obrolan deep berseni Loker ID bersama Kukuh, di sini!

Bagaimana Anda pertama kali tertarik pada dunia pewayangan? Apakah ada cerita khusus atau sosok yang menginspirasi Anda?

Pertama, karena saya lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga dalang wayang kulit Jawa; eyang, kakek, dan bapak saya semuanya seorang dalang. Secara tidak langsung dan natural saya mempunyai darah seni itu sedari lahir. Bapak juga berprofesi sebagai dalang dan dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI). Saya dari kecil sudah sangat akrab dengan dunia pewayangan. Lantas sosok yang menginspirasi saya ya bapak, karena beliau yang pertama kali mengenalkan saya di dunia wayang dan kesenian Jawa pada umumnya. Secara tidak langsungpun lingkungan keluarga dan lingkungan hidup di kota Solo yang masih kental dengan kesenian Jawa dan komunitas budaya Jawanya, membuat saya semakin tertarik dengan kesenian jawa khususnya Wayang.

Apa yang membuat Anda memutuskan untuk menjadi seorang dalang? Apa yang Anda lihat sebagai daya tarik dari profesi ini?

Karena menurut kedua orang tua saya dan saya merasa mempunyai bakat menjadi dalang, ditunjang dengan  lingkungan yang sudah saya utarakan diatas saya menjadi semakin yakin untuk menjadi dalang. Kalau sebagai profesi tentu sangat menjanjikan dan peluangnya sangat banyak, karena di era sekarang jarang ada orang yang memutuskan berprofesi sebagai dalang.

Sejak kapan Anda mulai mendalami dunia pewayangan dan menjadi seorang dalang?

Sedari SMP saya sudah masuk di sanggar seni Pedalangan Sawojajar di Solo, kemudian menginjak SMK saya mengambil jurusan Kesenian Karawitan untuk menujang saya dalam memasuki kuliah di Insitut Seni Indonesia Surakarta jurusan Pedalangan.

Bisa ceritakan tentang pengalaman pertama Anda tampil sebagai dalang? Apa yang Anda rasakan saat itu?

Pengalaman pertama saya tampil itu saat masih SMP sekitar 2005 mengikuti Festival Dalang Bocah Nasional di Taman Budaya Jawa Tengah, ya saat itu saya merasa gugup pastinya dan karena pengalaman pertama, dan saya bisa melewatinya dengan baik.

Apa cerita paling berkesan selama perjalanan Anda sebagai dalang? Baik itu pengalaman yang menyenangkan atau menantang.

Yang paling berkesan pada waktu mendalang durasi 45 menit di acara International Awards Summit on Javanese Culture yang digelar di auditorium Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2017.

Bagaimana cara Anda menjaga agar cerita pewayangan tetap relevan dengan generasi muda saat ini?

Sesungguhnya lakon dalam pewayangan sudah sangat kompleks dan permasalahan yang terkandung d idalamnya sangat relate dengan kehidupan sehari – hari, hanya saja sebagai dalang perlu selalu update perihal perkembangan zaman, teknologi, dan budaya masa kini.

dalang-mengabadikan-warisan-budaya-tahun-2024

Menurut Anda, apa saja keterampilan penting yang harus dimiliki oleh seorang dalang? Selain kemampuan memainkan wayang, keterampilan apa lagi yang perlu diasah?

Keterampilan apa pun, karena dalang adalah merupakan aktor, juga merupakan musisi (harus bisa memainkan dan paham ilmu musik Gamelan Jawa), juga penulis naskah, sastrawan, seni rupa wayang, ilmu tentang falsafah hidup, psikologi manusia, seni sosial dan perpolitikan, sampai pada ilmu komedi karena seorang dalang juga harus bisa berkomedi, dll.  Makanya keterampilan apa pun memang harus dimiliki dan diasah oleh seorang dalang

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi sebagai seorang dalang di era modern ini?

Tantangan terbesar adalah semakin sedikitnya minat orang untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit. Dan kendala bahasa Jawa yang semakin tidak dimengerti oleh generasi sekarang. Serta minat seseorang untuk melihat pertunjukan wayang kulit .

Bagaimana Anda melihat perkembangan seni pewayangan saat ini? Apakah semakin diminati atau justru semakin ditinggalkan?

Menurut saya masih banyak juga yang suka dan minat untuk menjadi Seniman Dalang Wayang Kulit, tetapi memang untuk saat ini di sisi penonton dan “penanggap wayang” (orang yang mengadakan pertunjukan wayang kulit) yang semakin berkurang.

Apakah ada perubahan signifikan dalam gaya atau teknik pementasan wayang dari generasi ke generasi? Jika ada, apa yang menjadi penyebabnya?

Kesenian memang selalu berkembang dan berubah dari zaman dahulu, mulai dari hanya berbentuk sederhana hingga ekslusif, dari yang berbahasa sansekerta hingga berubah menjadi berbahasa Jawa Baru, yang dahulu memakai penerangan api obor hingga sekarang menggunakan lampu listrik dll. Semua lini waktu zaman membawa dampak dan perubahan tersendiri, mungkin di masa yang akan datang bisa saja kita sudah tidak menemukan pertunjukan wayang kulit berbahasa Jawa Baru melainkan berbahasa Indonesia bahkan bahasa asing. Selain bahasa juga bentuk pertunjukan juga berubah. Mungkin penyebabnya adalah gagalnya kita merawat dan melestarikan atau memang ada banyak faktor lain yang memaksa hal ini berubah.

Bagaimana menurut Anda teknologi telah mempengaruhi seni pewayangan? Apakah teknologi memberikan dampak positif atau negatif?

Saya pribadi suka dengan perkembangan teknologi, karena di dalam ujian Tugas Akhir pendidikan S1 saya, saya mengangkat pewayangan dengan konsep kontemporer modern, wayang kolaborasi dengan animasi dan berbahasa Indonesia, dengan menggunakan layar lebar, Menurut saya, teknologi sangat berdampak positif ketika kita tempatkan pada porsi yang pas, dalam artian tidak ditempatkan pada konsep seni tradisi, melainkan ditempatkan pada garapan-garapan baru dalam pertunjukan seni wayang. Seperti halnya wayang animasi, seni 3D mapping, serta kesenian kontemporer lainnya.

Apakah Anda memanfaatkan teknologi dalam pertunjukan wayang Anda? Jika ya, teknologi apa saja yang Anda gunakan?

Saya menggunakan teknologi animasi pada karya saya berjudul “RIMBAWANA” karya Tugas Akhir pendidikan S1 Seni Pedalangan saya, Konsep karya kontemporer dengan menggabungkan berbagai teknologi animasi dan visual.

Bagaimana Anda melihat masa depan seni pewayangan di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat?

Sebetulnya saya masih percaya bahwa teknologi tidak merusak, justru dengan adanya teknologi seni pewayangan kita bisa berkembang dan terus eksis ditengah pesatnya perkembangan zaman.  Tentunya dengan syarat esensi wayang harus tetap dipertahankan dan perlu juga adanya pendidikan seni untuk generasi di masa depan. Supaya apa, supaya mempunyai bekal dalam merawat, menghargai, dan mengapresiasi seni pewayangan itu sendiri.

Bagaimana Anda terus mengembangkan diri sebagai seorang dalang? Apakah Anda mengikuti workshop, membaca buku, atau mencari inspirasi dari sumber lain?

Ya, sebagai praktisi, saya harus selalu mengaktualisasikan diri untuk mencapai capaian. Salah satunya latihan rutin, mengikuti seminar-seminar dan workshop, membaca buku dan mencari inspirasi dengan datang dan melihat pertunjukan-pertunjukan seni di mana pun.

tantangan-menjadi-dalang-kukuh-indrasmara-tahun-2024

Apa harapan Anda untuk masa depan seni pewayangan di Indonesia?

Semoga di masa depan esensi pertunjukan seni pewayangan masih tetap terjaga, semakin diapresiasi, dicintai, dihargai, dan dikembangkan.

Apa pesan Anda untuk generasi muda yang tertarik untuk menjadi seorang dalang?

Terus belajar, dan perdalam ilmunya, karena suatu saat seni pewayangan berada pada pundak generasi muda.

Ikui terus Rubrik Profil Loker ID untuk mendapatkan kisah inspiratif para expert lainnya!