Kartika Sari Tarigan : Passion yang Bertumbuh

Buat Kartika Sari Tarigan tidak ada passion yang konstan. Passion sendiri adalah hal yang bisa kita tumbuhkan. Passion dan gairah terhadap sesuatu sebenarnya sangat bisa hadir saat kita memiliki keinginan untuk mengenal dan mempelajari satu hal. Tak kenal maka tak sayang. Dan manusia bisa berubah, begitu juga dengan kesenangannya.
Mengawali karier sebagai Jurnalis di media online, detik.com di tahun 2015, Kartika berpindah kerja beberapa kali. Dari website kesehatan, apliasi kesehatan, digital advertising agency, rumah sakit swasta, sampai akhirnya ke industri perbankan--tempatnya bekerja saat ini sebagai Internal Communication.
Profesi bisa berbeda; content writer, copywriter, social media specialist, tapi benang merahnya tetap komunikasi dan menulis. Makanya, menurut Kartika ia enggak switch career amat. Bagaimana perjalanan karier Kartika menjadi Internal Communication dan walaupun sama-sama menulis dan berkomunikasi, apa yang membedakan dengan jobdesk sebelumnya?
Boleh diceritakan perjalanan karier Anda dari awal bekerja sampai menjabat posisi yang sekarang ini?
Saat ini saya sedang menjadi bagian dari Corporate Communication di salah satu Bank Swasta. Jika ditarik ke belakang, perjalanan karir saya dimulai 9 tahun lalu, tepatnya di Agustus 2015. Setelah lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, saya memulai karir sebagai Jurnalis di salah satu media online, yaitu detik.com. Sebagai seorang jurnalis, saya bertugas untuk mendatangi langsung TKP, melakukan wawancara dan observasi, lalu menuliskannya menjadi sebuah artikel berita; hard news. 1 tahun 6 bulan berkarir di media, saya memutuskan berhenti.
Selesai menjadi jurnalis, saya mencoba peruntungan menjadi seorang Health Content Writer. 4 bulan pertama sebagai content writer, saya mulai di Klikdokter.com. Setelahnya, saya masih menjadi Health Content Writer, di salah satu Perusahaan start-up Bernama Halodoc. Di sini saya berkarir selama 4 tahun 6 bulan. Berbekal kemampuan menulis dan story-telling, saya berpikir untuk mencoba role pekerjaan baru, namun sebenarnya masih satu rumpun. Saya mencoba menjadi seorang Social Media Specialist di salah satu Digital Advertising Agency. 11 Bulan-hampir satu tahun, banyak hal baru yang didapat, ilmu baru, dan pengalaman bekerja dalam bidang yang berbeda.
Di agensi periklanan, saya sempat menghandle 5 klien, di mana 2 di antaranya masih berbau kesehatan. Karena merasa memiliki cukup portofolio di bidang kesehatan, terakhir saya berlabuh di salah satu (korporat) Rumah Sakit Swasta, Eka Hospital. Di sana saya menjadi bagian dari Marketing Communication dengan job desc sebagai Creative-Copywriter (Multimedia).
Boleh di-share jobdesk sehari-hari sebagai Internal Communication itu seperti apa?
Sebagai bagian dari Internal Communication, tugas dasarnya adalah membangun komunikasi internal dari dan untuk perusahaan. Implementasinya adalah mengisi konten pada beberapa channel yang dimiliki perusahaan dengan beragam informasi, kebijakan, dan hal-hal lainnya sesuai dengan kebutuhan karyawan dan sejalan dengan nilai-nilai perusahaan. Di tempat saya bekerja, Internal Communication memiliki beberapa channel, termasuk email blast, newletter, IG Internal, Majalah bulanan, serta TV-LED yang terpasang di Gedung-gedung kantor.
Nah, saya sendiri bertanggung jawab untuk mengurus IG dan website internal sekaligus bertugas membantu proses pengumpulan materi, pemotretan, dan penulisan majalah bulanan perusahaan. Sesekali, ikut membantu membuat kata-kata (copywriting) untuk judul email blast dan lainnya. Jadi, seperti yang saya sebutkan di awal, di setiap switch karir saya sebenarnya tidak switch-switch amat, karena basic skill-nya masih sama, yaitu menulis- dan berkomunikasi. Namun, tidak terbatas dengan channel- channel tersebut, karena terkadang hal lain juga turut dikerjakan, termasuk mengisi event, guna memastikan komunikasi internal berjalan dan karyawan bisa engage dengan perusahaan.
Apa yang paling menarik dari menjadi Internal Communication?
Kalau untuk saya pribadi, Internal Communication benar-benar hal baru dan sangat menarik. Sebagai orang yang sebelumnya beberapa kali menjadi “karyawan biasa” di luar tim komunikasi internal, saya kerap mengabaikan dan menganggap tidak penting email blast yang masuk ke email kantor. Tak jarang, saya langsung memindahkan email yang masuk ke archive. Namun setelah menjadi bagian di dalamnya, saya tahu bahwa ini bukan hal yang mudah. Dan saya jadi tahu bagaimana rasanya dicuekin karyawan lain.
Selain itu, Komunikasi internal di perusahaan sering kali diidentikkan dengan propaganda, hanya memihak pada sisi manajemen atau atasan-atasan. Padahal, peran komunikasi internal sebenarnya tidak sebatas itu dan tidak pernah seperti itu. Seorang Internal Communication Specialist harus bisa menjadi jembatan yang memastikan semua informasi tersampikan dengan baik, termasuk di dalamnya mengatur slot materi yang akan diblast, apa saja isinya, kapan waktunya.
Menurut saya, menjadi internal communication itu juga harus memiliki pola piker strategis, harus bisa mengirim informasi yang dibutuhkan karyawan sesuai di waktu yang tepat. Timing. Jika tidak, email blast hanya akan menjadi email blast.
Bagaimana Anda beradaptasi dengan profesi saat ini setelah sebelumnya bekerja sebagai jurnalis/content writer?
Tidak banyak perubahan yang terjadi, sehingga sejauh ini saya merasa masih bisa beradaptasi dengan baik. Pekerjaan yang sekarang masih mengizinkan saya untuk menggunakan passion saya di dunia tulis menulis, kegemaran saya berkomunikasi, dan skill saya di bidang copywriting, social media management, dan creative. Paling yang berbeda, jika sebelumnya saya berfikir eksternal, saat ini pola pikirnya menjadi internal. Jika sebelumnya saya menghasilkan kreatif untuk dikonsumsi oleh masyarakat banyak, saat ini harus bisa membuat
konten yang sesuai dengan kebutuhan karyawan, minat karyawan, dan memastikan karyawan tetap puas dengan service yang diberikan.
Skill apa yang diperlukan untuk bisa berkarier sebagai Internal Communication?
Kalau berkaca dari tempat saya berkerja sekarang, skill yang paling dibutuhkan adalah komunikasi dan negosiasi. Sebagai seorang Internal Communication, kita harus bisa berkomunikasi dengan hampir semua divisi yang membawa kepentingan masing-masing. See, masih mirip dengan hal yang saya lakukan saat menjadi wartawan, kan? Kita harus bisa menerima materi dari semua divisi dengan baik, lalu mengolahnya menjadi pesan yang mudah diterima karyawan dari divisi-divisi lain. Lalu, kita juga harus bisa bernegosiasi. Karena dari semua orang yang memiliki kepentingan, kita harus bisa melihat materi mana saja yang layak tayang. Buka sekadar menjadi messenger.
Boleh share tips berkarier sebagai Internal Communication?
Tipsnya adalah mau untuk belajar dan berpikir lebih luas tetapi di saat yang bersamaan juga harus memasang kacamata kuda bernama “komunikasi internal”. Untuk orang yang memiliki jiwa bebas dan mudah merasa bosan, pekerjaan ini mungkin akan terasa berat di awal. Namun, jika memiliki passion di dunia komunikasi dan suka dengan tantangan serta hal baru, internal communication bisa dicoba, lho!