Kania Aisha Pasaman: Menjaga Autentisitas dan Relevansi Konten

Antara jurnalis dan PR beda tipis memang. Walaupun pekerjaannya sama-sama bergulat di komunikasi dan tulisan, kedua profesi ini memiliki tanggung jawab berbeda. Seorang PR atau pun Public Relations memiliki tanggung jawab ke eksternal dan internal perusahaan. Kerjanya lebih kompleks dan bisa dibilang dialah yang mengemas "suara" dari perusahaan.
Tidak berhenti di situ, "suara" perusahaan ini juga harus mencerminkan imej perusahaan dan pesan yang ingin disampaikan ke luar. Nah, akan lebih challenging lagi kalau target audiensnya adalah milennial dan gen Z. Seperti apa rasanya menjadi PR atau Head of Communications? Kita kulik langsung aja ke Kania Aisha Pasaman, Head of Communications IDN Media!
Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan karier Anda hingga akhirnya menjabat sebagai Head of Communications di IDN?
Sejak kecil, saya punya mimpi besar untuk bekerja di dunia media. Saya suka banget menulis, membaca, dan menggali cerita yang bisa menginspirasi banyak orang. Meski nggak pernah secara formal mengambil pendidikan di bidang PR, saya masuk ke dunia komunikasi dengan cara yang tidak direncanakan. Tahun 2016 menjadi titik balik saat saya harus menghadapi kondisi kesehatan retina ablasio yang memaksa saya berhenti dari pekerjaan. Masa pemulihan membawa saya mencoba berbagai hal, termasuk membangun usaha sendiri. Ketika pandemi melanda, datang tawaran bergabung dengan IDN—kesempatan yang langsung saya ambil karena bekerja di media adalah impian yang tidak pernah padam. Banyak yang bertanya, "Bukannya lebih asyik kerja sendiri?" Tapi bagi saya, dunia media adalah tempat di mana kreativitas dan komunikasi bisa benar-benar bersinar.
Apa yang menarik Anda untuk bekerja di industri media, khususnya media yang menargetkan Gen Z?
IDN bukan sekadar perusahaan media biasa. Kami adalah platform teknologi konsumen dengan ekosistem yang kaya—mulai dari digital media, livestreaming, ekonomi kreator, hingga entertainment. Bekerja di industri yang menyasar Gen Z berarti berinteraksi dengan generasi yang dinamis, penuh ide, dan ingin membuat perubahan besar. Gen Z sangat peduli terhadap isu sosial, lingkungan, dan keberagaman, dan menjadi bagian dari narasi yang relevan serta inspiratif bagi mereka adalah sebuah tantangan sekaligus kehormatan besar. Setiap hari adalah kesempatan untuk menyentuh kehidupan mereka dengan cara yang berarti dan berkesan.
Secara umum, apa saja tugas dan tanggung jawab utama Anda sebagai Head of Communications di IDN?
Tugas saya adalah memastikan semua aspek komunikasi—baik internal maupun eksternal—selaras dengan strategi IDN. Saya menjaga agar nilai-nilai IDN tercermin dengan baik dalam komunikasi, baik itu memo internal untuk Timmy (sebutan kami untuk karyawan) maupun pesan eksternal ke publik. Fokus utama saya adalah menjaga citra positif perusahaan melalui PR yang efektif dan memastikan setiap pesan yang kami sampaikan relevan dengan visi dan misi IDN.
Bagaimana Anda mengelola komunikasi internal dan eksternal perusahaan?
Di IDN, kami memanggil karyawan sebagai Timmy karena kami bangga akan budaya perusahaan yang sangat kuat dan inklusif. Dalam komunikasi internal, saya selalu mendorong transparansi dan keterbukaan. Setiap Timmy harus merasa punya ruang untuk berbicara, berkolaborasi, dan berkembang. Gaya komunikasi kami mencerminkan audiens utama kami, yaitu Millennial dan Gen Z, yang dinamis dan tidak kaku. Untuk komunikasi eksternal, saya memastikan bahwa setiap pesan tetap relevan, konsisten, dan menarik di berbagai platform seperti media sosial, siaran pers, dan acara khusus. Kalau ingin tahu lebih banyak tentang budaya kami, cek saja @idn.official di Instagram atau @idn_official di TikTok.

Menurut Anda, apa tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri media, khususnya media yang menargetkan Gen Z saat ini?
Gen Z adalah generasi yang tumbuh dengan kecepatan perubahan teknologi yang sangat tinggi dan mereka memiliki ekspektasi besar terhadap konten yang autentik. Jika mereka merasa konten tidak relevan atau terlihat tidak tulus, mereka akan dengan cepat beralih. Menjaga keseimbangan antara kualitas konten dan daya tarik visual di tengah persaingan yang ketat adalah tantangan besar, tetapi itu juga menjadi motivasi kami untuk terus berinovasi.
Bagaimana Anda melihat persaingan di antara berbagai platform media sosial dan digital?
Saya melihat persaingan ini sebagai arena yang penuh tantangan sekaligus peluang. Setiap platform memiliki keunikan, dari tempat konten viral hingga komunitas yang solid. Kuncinya adalah memahami kebutuhan audiens di setiap platform dan menciptakan pengalaman yang personal. Dengan begitu, persaingan justru menjadi pemicu inovasi dan kreativitas.
Tantangan apa yang paling sering Anda hadapi dalam menjalankan peran sebagai Head of Communications?
Mengelola ekspektasi dan membangun hubungan dengan berbagai stakeholder adalah tantangan utama, terutama di tengah perubahan cepat. Tetapi, saya percaya pada kekuatan tim solid yang bekerja sama dengan baik. Kami beradaptasi dengan cepat dan memastikan komunikasi tetap konsisten serta sesuai kebutuhan audiens.
Punya pendapat terkait karakteristik unik dari generasi Z yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi?
Gen Z menginginkan komunikasi yang jujur, transparan, dan to the point. Mereka terbiasa dengan informasi cepat dan langsung. Konten visual seperti video dan meme sangat efektif, tetapi yang paling penting adalah memberikan nilai dan membangun komunikasi yang autentik dan inklusif.
Strategi apa yang Anda gunakan untuk menjangkau dan melibatkan audiens Gen Z?
Kuncinya adalah komunikasi yang jujur dan relevan. Kami fokus pada konten visual yang menarik seperti video dan meme, menggunakan platform yang mereka gunakan sehari-hari, dan mencerminkan nilai-nilai sosial serta keberagaman yang mereka pedulikan. Intinya, kami menciptakan keterlibatan yang bermakna dan autentik.

Menurut Anda, bagaimana masa depan industri media akan terlihat dalam 5-10 tahun ke depan?
Platform mungkin akan terus berubah, tetapi konten yang autentik dan relevan akan selalu hidup. Fokus kami adalah pada pengembangan konten berkualitas, personalisasi, komunitas, dan pengalaman langsung yang mampu menyentuh generasi muda.
Keterampilan apa yang menurut Anda akan paling dibutuhkan oleh para profesional komunikasi di masa depan?
Adaptabilitas, pemahaman teknologi, kemampuan storytelling yang kuat, dan membangun koneksi autentik adalah kunci. Empati, kecerdasan emosional, dan berpikir strategis juga menjadi keterampilan yang tidak bisa diabaikan.
Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan Anda sebagai Head of Communications?
Saya menyukai tantangan, kreativitas, dan kesempatan menciptakan dampak positif melalui komunikasi. Bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda, menjadi pencerita, dan menciptakan narasi yang meaningful adalah hal yang selalu memotivasi saya.
Apa yang membuat Anda tetap bersemangat dalam bekerja?
Melihat dampak nyata dari apa yang saya dan tim lakukan memberikan kepuasan tersendiri. Saya juga seorang yang haus akan pembelajaran, jadi bekerja di industri yang dinamis ini seperti belajar di kelas yang tidak pernah berhenti—dengan cerita menarik di setiap langkahnya. Setiap tantangan adalah peluang untuk tumbuh, berinovasi, dan menciptakan sesuatu yang berarti.
Cerita dapur PR lainnya bisa Anda temukan di artikel Gita Hermanda: Dari Jurnalis ke PR, Kreativitas Tanpa Hard Selling.