Juwita Situmorang: Temukan Citra Diri Sendiri untuk Menjadi Content Creator Sejati

Author
Ditulis olehTim Loker • Update 20 Maret 2025
Rubrik Profil

content-creator-juwita-situmorang-tahun-2024_edited-new

Content creator saat ini menjadi profesi yang menarik untuk dijajal, cukup menjanjikan, dan peluangnya cukup oke. Bisa dibilang modal gadget, akun medsos, sering posting, jadi deh content creator. Tapi sebenarnya enggak sesederhana itu. Apalagi kalau memang mau benar-benar total dan serius di bidang ini.

Salah satu content creator yang sempat FYP baru-baru ini adalah Juwita Situmorang. Kontennya mengenai penentuan calon menantu seorang ibu-ibu Batak yang mendapati pacar anaknya dari suku berbeda sempat viral dan mendapatkan engagement tinggi. Dalam video kreasi yang dibuatnya, content creator yang juga berprofesi sebagai guru ini membandingkan beberapa suku berdasarkan streotipe yang berkembang di masyarakat.

Karena sangat relate, dekat, dan dibahas dengan riset yang oke, membuat konten ini melejit. Pun Juwita akhirnya dikenal sebagai content creator yang membawa cerita atau pun tema perempuan Batak mau pun keseharian keluarga Batak. Mungkin, kalau kita lihat, ada banyak konten dengan latar belakang Batak beredar di media sosial, namun kalau untuk urusan imej yang melekat, tentunya bukan hanya tentang "cerita" dan "tema", melainkan bagaimana "cerita" tersebut dibawakan dan menjadi imej branding dari sosok tersebut.

Sebenarnya itulah yang membantu memuluskan jalannya seorang content creator. Ketika konten dan imej dirinya melekat dengan sempurna. Hal inilah yang menjadi topik bahasan Loker ID dan Juwita Situmorang. Selain tema dan imej diri, kami juga membahas mengenai peluang profesi content creator di era digital. Bagaimana profesi ini bisa menjadi peluang pekerjaan untuk bisnis digital. Yuk, ikuti obrolan kami langsung, gas!

Apa yang membuat Anda tertarik untuk menjadi content creator?

Suka aja sih aktualisasi diri.  Aku aslinya emang ekstrovert suka juga seni peran karena dulunya anak teater. Jadinya ya sekalian iseng-iseng, mempraktikkan ilmu masa lalu, diaplikasikan dengan tema-tema keseharian, jadinya keterusan sih.

Kalau pekerjaan formal sebagai guru ya? 

Iya bener. Aku ngajar mata pelajaran Geografi untuk semua tingkatan kelas.

Sebelum membuat konten dengan tema perbatakan, kalau enggak salah Anda  membuat konten mengenai kegiatan mengajar, apa yang memicu Anda untuk membuat konten demikian?

Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, tema-tema yang aku jadikan konten memang keseharian yang dekat denganku. Jadinya, aku bawaannya let it flow aja sih. Nah, kalau untuk di kelas, biasanya iseng doang sih, enggak ada yang konsep gimana banget. Sekadar canda-candaan, ice breaking. Tapi memang yang ada proses belajar mengajarnya sebenarnya itu keperluan buat video belajar bukan sengaja untuk jadi konten. Semacam dokumentasi untuk keperluan PMM (Platform Merdeka Mengajar), PTK (Penelitian Tindakan Kelas), dll.

Biasanya ide membuat konten seputar mengajar dari mana Anda? Apa pendapat murid-murid Anda mengenai konten kakak?

Siswa sekarang anak-anaknya suka dengan medsos dan sangat antusias ketika diajak ngonten terus divideokan. Tapi ya harus kita batasi, karena enggak terlalu baik juga untuk selalu membawa-bawa siswa untuk menjadi bagian dari konten video medsos. Walau ya, sebenarnya mereka senang-senang saja. Aku rasa selama enggak mengganggu proses belajar mengajar enggak masalah sih...

pengalaman-suka-duka-juwita-situmorang-sebagai-content-creator-tahun-2024

Tantangan ketika membuat konten di awal-awal itu gimana ya?

Enggak ada tantangan yang gimana banget sih karena memang awalnya let it flow. Tapi, di Facebook sering ada yang suka mengambil kontenku terus ditambahi dengan caption yang provokatif. Itu sih yang bikin sebal sejauh ini. Kalau TikTok dan IG aman-aman aja sih....

Kemudian, belakangan membuat konten dengan tema Batak, itu idenya dari mana ya?

Karena pada dasarnya kan aku hidup di lingkungan sosial Batak, jadi hal yang paling mudah diimitasi adalah kebiasaan-kebiasaan orang Batak.

Memang benar ya, kalau ibu Anda suku Dayak, seperti yang Anda buat di konten video FYP itu? Ada rencana mau buat part 3 enggak ? Hehehe…

Iya benar, untuk Part-2-nya let it flow aja, kalau mood ntar dibuat kalau enggak ide yang ada aja 😁

Bagaimana Anda memandang dunia perkontenan di medsos ini?

Selama konten itu menghibur, bermanfaat, tidak setting-setting-an, ribut-ribut, tidak ada pornografi/ketelanjangan sensual (beda ya kalau konteksnya budaya), tidak ada ujaran kebencian, atau pun hal-hal yang menimbulkan kericuhan, aku rasa dunia perkontenan ini akan menjadi salah satu bidang pekerjaan yang layak untuk generasi kita kelak dan bukan enggak mungkin bisa mengurangi angka pengangguran dan menjadi lapangan kerja baru yang pantas.

tantangan-sebagai-content-creator-dari-juwita-situmorang-tahun-2024

Ngomong-ngomong, pernah merasa stuck dan bingung saat membuat konten? Kalau dalam kondisi begitu, biasanya apa yang Anda lakukan?

Kalau stuck karena ide enggak ada malah enggak pernah ya, tapi kalau enggak mood untuk ngonten ya sering, karena memang capek kerja, mengurus rumah tangga atau kesibukan lain di kehidupan dunia nyata.

Seberapa menjanjikan pekerjaan sebagai content creator ke depannya dan bagaimana Anda memandang peluang profesi content creator saat ini?

Menjanjikan sih....tapi tentu enggak mudah ya. Bagi anak-anak muda yang pengin ngonten memang harus punya passion dulu, bukan sekadar ikut-ikutan atau mikir uangnya langsung 😁. Carilah dulu pengalaman nanti uang akan menyusul. Konten asal-asalan ya bisa-bisa aja, FYP itu bisa aja nasib-nasiban. Untuk jadi seorang influencer yang punya nama kita harus ada "pembeda".

Punya tips dan saran bagaimana membuat konten unik dan beda dari yang lain?

Intinya kenali diri kita, dan kalau boleh jujur memang harus jadi diri sendiri karena pribadi manusia itu sebenarnya udah unik dari sananya 😁 semua istimewa. Kalau pemalu tapi banyak ide, boleh menggunakan animasi atau cari pemeran. Sebenarnya seni peran di konten inilah titik terpentingnya 😁, jadi itulah kenapa ada content creator yang sudah identik dengan imej atau citra diri sendiri, karena kemampuan mereka memerankan tokoh tersebut. Misalnya "Mak Beti" dari Sumut.

Profesi content creator di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dilansir dari IDN Times, 1 dari 4 orang berprofesi sebagai kreator.  Seiring dengan meningkatnya penetrasi internet dan penggunaan media sosial, semakin banyak individu yang melihat peluang untuk mengekspresikan diri dan menghasilkan pendapatan melalui pembuatan konten.

Berbagai platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok menjadi wadah bagi para content creator untuk berbagi karya kreatif mereka. Perkembangan teknologi juga memudahkan proses pembuatan dan distribusi konten, sehingga semakin banyak orang yang dapat berpartisipasi dalam industri ini. Namun, persaingan di antara para content creator juga semakin ketat, menuntut mereka untuk terus berinovasi dan menghasilkan konten yang berkualitas dan menarik bagi audiens.

Menjadi seorang content creator di era digital ini memang menjanjikan, namun juga dihadapkan pada berbagai tantangan. Seperti yang Juwitsa sampaikan, persaingan yang semakin ketat membuat para content creator harus terus berinovasi untuk menghasilkan konten yang unik dan menarik perhatian audiens. Selain itu, menjaga konsistensi dalam memproduksi konten berkualitas tinggi juga menjadi tantangan tersendiri. Tantangan lainnya adalah memahami dan mengikuti perkembangan algoritma platform media sosial yang terus berubah, serta mengelola ekspektasi audiens yang semakin tinggi. Tidak hanya itu, menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sebagai content creator juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Yuk, intip keseharian dan proses kreatif content creator lainnya di artikel 101 Menjadi Content Creator ala Anggita Novria.