Irwan Syamsir: Mengapa Ambil S2? Mendapatkan Wawasan Lebih Luas tentang Ekspresi Hidup

Apa sebenarnya makna pendidikan? Apakah pendidikan sudah menjamin kita akan mendapatkan pekerjaan? Apakah perlu setelah menyelesaikan S1 lanjut S2? Pertanyaan-pertanyan ini akan kita diskusikan bersama Irwan Syamsir alumni Sastra Indonesia di salah satu universitas di Samarinda yang kemudian melanjutkan S2 di ISI Yogyakarta.
"Sewaktu S1 saya juga sering terlibat dalam pertunjukan, setidaknya pertunjukan pada acara-acara ulang tahun kampus. Saya senang menulis cerita dan tampaknya akan lebih menarik jika apa yang saya tulis dapat menjadi sebuah pertunjukan yang ditonton oleh banyak orang. Saya menyenangi teater dan dalam teaterlah saya bisa belajar ilmu peran dan mendapat wawasan lebih luas tentang ekspresi hidup dari berbagai kalangan.," begitu cerita Irwan ketika ditanyakan motivasinya mengambil S2.
Seperti apa pengalaman Irwan selengkapnya bergelut dan berkutat di dunia pendidikan dan bagaimana pendapatnya mengenai pendidikan alternatif? Baca ceritanya di sini!
Bisa Anda ceritakan tentang pengalaman kuliah S1 Sastra Indonesia di Samarinda? Apa yang paling berkesan dan apa yang menjadi motivasi Anda untuk melanjutkan studi ke jenjang S2?
Menjadi mahasiswa Sastra Indonesia yang tinggal di kota Samarinda, kota yang sebetulnya orientasi utamanya bukan pada sastra, budaya atau literasi pada umumnya, tentu banyak pahit manisnya. Ketika itu, geliat sastra di lingkungan sekitar masih amat minim. Fakultas saya di kampus bisa dibilang masih sangat muda dan harus diakui banyak teman-teman kelas yang terpaksa mengambil jurusan sastra karena mungkin lebih mudah keterima ketimbang prodi lain. Meski pelan-pelan akhirnya mereka jatuh cinta juga dengan sastra Indonesia.
Tinggal di pulau kelahiran Korrie Layun Rampan, sastrawan sepuh Indonesia yang bukunya sudah saya baca sejak sekolah, menghubungkan saya ke beberapa seniman atau penulis yang pernah terhubung juga ke Korrie. Mereka biasa mengadakan diskusi-diskusi santai yang kemudian menjadi tongkrongan rutin saya di Samarinda. Saat itulah saya mulai belajar menulis dari mereka.
Mungkin satu-satunya tempat selain kampus tentu saja. Pelan-pelan saya mulai mengoleksi bacaan, membeli buku dari tabungan tipis-tipis, dan membuat lapak baca sastra di kampus-kampus jurusan lain. Sewaktu-waktu ikut baca puisi atau cerpen di Aksi Kamisan. Di kota yang tiap hari lalu-lalang batu-bara melintas, banyak ruang-ruang perlawanan yang mengajak kita berekspresi dengan cara apapun. Mungkin satu yang berkesan tetapi tidak juga baik untuk dicontoh, saya pernah mengajak bolos adik-adik kelas saya untuk turun ke jalan dalam rangka merayakan hari ibu. Kami print puisi-puisi tentang ibu dari berbagai penyair dan membagikannya di jalan raya. Hanya ingin melihat di tengah macetnya jalan, ada jeda untuk tersenyum dan mengingat ibu saat puisi kami bagikan ke mereka.
Awalnya saya tak pernah berpikir untuk melanjutkan S2. Hanya ada satu momen ketika Universitas membuka seleksi untuk Pekan Seni Mahasiswa Nasional yang akan diadakan di Jogjakarta. Saya iseng mengirim beberapa cerita pendek saya meski saya berpikir saingannya banyak karena se-Kalimantan Timur. Selama beberapa hari, tidak ada kabar, saya menduga mungkin memang tidak lolos dan saya biasa-biasa saja. Tapi ternyata, nomer hape saya dalam berkas yang saya serahkan, kurang satu angka sehingga tak pernah tembus.
Saya lolos untuk ikut Peksiminas melalui kabar yang sampai ke kampus dan saya dipanggil ke Universitas untuk hal tersebut karena tak bisa dihubungi. Saya membayangkan Jogja meski saya sudah tahu Jogja dari berbagai media. Dulu saya berpikir saya akan ke Jogja untuk jalan-jalan saja kalau misalnya ada uang tetapi ternyata karena saya menulis saya bisa ke Jogja. Hanya satu minggu dan waktunya amat singkat. Saya hanya menghela napas dan bergumam suatu hari saya akan kembali untuk sekolah lagi di kota ini. Itulah yang mendasari spirit saya untuk lanjut sebetulnya awalnya.
Mengapa Anda memilih untuk fokus pada studi Sastra Indonesia selama S1? Apakah ada pengalaman atau peristiwa khusus yang mengarahkan Anda pada pilihan tersebut?
Sewaktu sekolah saya sudah senang membaca dan menulis. Terutama puisi. Saya berpikir jika saya mengambil jurusan sastra, saya mungkin akan lebih bisa menulis. Waktu itu sesungguhnya saya benar-benar tak memahami sastra Indonesia, hanya mendengar saja dan mengikuti kakak kakak yang sudah lebih awal. Saya hanya butuh ruang di mana saya bisa betul-betul belajar menulis puisi. Tetapi ternyata jurusan sastra Indonesia, tidak mengajari saya menulis puisi atau memenuhi ekspektasi yang saya inginkan. Semua orang bisa menulis puisi biar dari jurusan mana saja, kata kakak tingkat saya. Orang bisa menulis puisi yang bagus karena banyak membaca dan latihan. Jadi, saya akhirnya menjalani saja kuliah saya. Sastra Indonesia ternyata lebih ke banyak mengkaji bahkan membongkar karya sastra.
Bagaimana Anda melihat perbedaan antara mempelajari sastra di universitas umum dan di institut seni seperti ISI Yogyakarta?
Di ISI, tidak mempelajari sastra karena kampus ini memang orientasinya ke kesenian, tetapi bagaimana sastra ditafsir ke musik, ke rupa, ke tari, ke teater itu yang menarik saya rasa prosesnya. Untuk studi saya dalam bidang teater misalnya, saya bisa belajar bagaimana menghadirkan cerita di atas panggung dan penonton bisa merasa hadir dalam cerita.
Bisa Anda ceritakan lebih detail tentang keterlibatan Anda dalam pendidikan alternatif? Apa yang menginspirasi Anda untuk terlibat dalam bidang ini?
Di tempat asal saya di Polewali Mandar, saya bergabung di komunitas Armada Pustaka, itu adalah komunitas literasi bergerak yang memiliki moda transportasi seperti perahu, becak, dan motor untuk mengantar buku ke pelosok-pelosok. Saya terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Di pelosok, sekolah serba kekurangan, jadi bacaan yang kami bawa terhadap anak-anak di sana akan jadi pendidikan alternatif untuk mereka. Saya sendiri juga banyak belajar dari komunitas ini terutama dalam menulis, berbagi gagasan, juga mengelola acara tertentu yang tidak saya dapatkan secara spesifik di kampus.

Apa yang menjadi inspirasi di balik pembuatan film dokumenter "Rannu di Atas Laut"? Mengapa Anda memilih untuk mengangkat tema tentang daerah kelahiran Anda? Ada berencana untuk membuat film dokumenter lainnya?
Oh..."Rannu di Atas Laut" bukan dokumenter. Tetapi film fiksi. Meski saya juga sesekali bikin dokumenter. Saya rasa hal yang paling memungkinkan dan paling penting dalam sebuah karya harus berangkat dari hal yang paling personal. Terutama dari daerah. Mandar, daerah saya masih memiliki banyak kearifan lokal yang saya pikir butuh dibicarakan dalam lingkup yang lebih luas. Film adalah media paling digemari saat ini dan suara-suara dari kampung yang sebetulnya membawa nilai universal bisa tersampaikan ke publik. Rencana selalu ada. Saya juga sedang mengerjakan dokumenter yang sudah progress sejak tahun lalu.
Bagaimana Anda melihat hubungan antara pendidikan formal (universitas) dan pendidikan alternatif? Apakah ada saling melengkapi atau justru saling bertentangan?
Saya melihat bahwa pendidikan formal dan alternatif sebenarnya saling melengkapi. Pendidikan formal, seperti yang diperoleh di universitas, memberikan dasar teori dan sistematika yang kuat dalam bidang studi yang saya tempuh, sebutlah Sastra Indonesia atau Teater. Tentu ada teori dan sistematikanya.
Sementara itu, pendidikan alternatif cenderung memberikan ruang untuk eksplorasi yang lebih bebas, praktik langsung, dan pengembangan kreativitas di luar kurikulum yang sekadar teori. Kedua jenis pendidikan ini memiliki keunggulannya masing-masing. Pendidikan formal membantu membangun fondasi pengetahuan, sementara pendidikan alternatif menawarkan kebebasan untuk bereksperimen dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh secara lebih langsung. Dalam konteks ini, keduanya bukanlah hal yang saling bertentangan, tetapi saling mendukung untuk menciptakan keseimbangan antara teori dan praktik. Dua hal ini amat membantu saya.
Apa saja tantangan dan peluang yang Anda lihat dalam pengembangan pendidikan alternatif di Indonesia?
Wah..tantangan utama dalam pengembangan pendidikan alternatif di Indonesia adalah penerimaan dalam sistem pendidikan yang lebih besar. Banyak orang masih menganggap pendidikan formal sebagai standar utama dan memiliki pandangan terbatas terhadap pendidikan alternatif. Selain itu, kurangnya infrastruktur dan sumber daya yang memadai juga menjadi tantangan, terutama di daerah-daerah yang lebih terpencil, di daerah saya juga demikian.
Ide banyak tapi tempat kadang kita harus kreatif mencari tempat di alam bebas misal. Tapi saya rasa tidak juga jadi masalah. Hanya saja peluang besar ada pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis minat. Saya rasa banyak komunitas yang berhasil berangkat dari lingkup-lingkup kecil mandiri. Terutama, teknologi yang masif saat ini dan internet memberikan peluang untuk akses pendidikan alternatif yang lebih luas, mengakses banyak jaringan, dan sangat bisa memungkinkan pengembangan kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar dan perkembangan zaman.
Apa rencana Anda setelah menyelesaikan studi S2 di ISI Yogyakarta? Apakah Anda akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau langsung terjun ke dunia kerja?
Setelah menyelesaikan studi S2 di ISI Yogyakarta, saya berencana untuk mengeksplorasi lebih lanjut dunia kerja terlebih dahulu. Tetapi dunia kerja yang berbasis pendidikan. Misal kampus atau lembaga penelitian. Di samping itu, saya ingin memberdayakan komunitas di daerah saya terutama dalam bidang sastra dan kesenian. Tidak menutup kemungkinan, bila setidaknya sudah ada pondasi sementara dari apa yang saya rencanakan, saya tentu punya rencana juga untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, terutama karena saya merasa ada bidang tertentu yang masih ingin saya dalami lebih dalam. Saya percaya pengalaman langsung di lapangan juga penting untuk memperkaya pemahaman akademis saya.

Bidang apa yang ingin Anda tekuni setelah lulus? Apakah ada proyek atau ide yang ingin Anda wujudkan?
Setelah lulus, saya tertarik untuk tetap fokus pada bidang yang saya bidang yang saya jalani. Sastra, pertunjukan dan juga film. Bersamaan dengan itu pelan-pelan saya hendak membangun ruang ruang kecil untuk belajar bersama tentang bidang yang telah saya jalani itu. Saya ingin berkontribusi dalam menghubungkan dunia akademis dengan masyarakat sekitar saya dengan menciptakan ruang pemberdayaan, mengajak anak-anak, dan bekerjasama dalam berkarya.
Bagaimana Anda melihat peran seorang sarjana sastra dalam masyarakat? Kontribusi apa yang ingin Anda berikan?
Seorang sarjana sastra memiliki peran penting dalam memahami dan menyampaikan atau merespon dinamika sosial, budaya, dan sejarah melalui bahasa dan karya sastra. Itu yang paling general. Paling spesifiknya, saya bisa melakukan pembacaan ulang terhadap apa yang telah tumbuh di daerah saya, misalnya tradisi tertentu, narasi lokalitas, wujud kebudayaan yang bisa saya respon melalui tulisan yang bisa dibaca lebih luas.
Apakah ada pesan yang ingin Anda sampaikan kepada generasi muda, khususnya mereka yang tertarik pada bidang kesenian dan humaniora?
Pesan saya untuk generasi muda atau generasi saya tentunya, yang tertarik pada bidang kesenian dan humaniora adalah semakin percaya diri untuk mengeksplorasi dan mempertanyakan hal-hal yang dianggap umum. Dunia seni dan humaniora adalah ruang di mana kreativitas dan pemikiran kritis sangat dihargai. Jangan ragu untuk mencari suara dan identitas sendiri, dan selalu terbuka untuk belajar dari berbagai perspektif. Selain itu, jangan lupa bahwa meskipun seni sering dianggap sebagai bentuk ekspresi individual, justru karena hal yang berangkat dari individual itulah, satu persatu tersuarakan sebagai kekuatan untuk membawa perubahan sosial yang nyata.
Apa tantangan terbesar yang pernah Anda hadapi selama perjalanan akademik dan kreatif Anda? Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?
Tantangan banyak. Tetapi untuk konteks antara akademik dan kreatif, adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara teori dan praktik, terutama ketika banyak ide dan konsep yang terasa sangat menarik, tetapi sulit diterapkan dalam karya konkret. Saya mengatasi tantangan ini dengan terus berusaha mencari cara untuk menghubungkan kedua aspek tersebut dengan membaca, turun ke lapangan juga berdiskusi banyak kawan. Saya mulai dengan mencoba berbagai pendekatan kreatif dan bereksperimen dengan ide-ide baru, sambil terus memperdalam pemahaman saya tentang teori yang mendasarinya.
Peluang apa yang paling Anda nantikan di masa depan? Apa yang memotivasi Anda untuk terus berkarya?
Peluang yang paling saya nantikan adalah untuk dapat terlibat dalam proyek-proyek yang memungkinkan saya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik dari dunia seni, pendidikan, maupun komunitas. Saya merasa berutang terhadap tanah lahir dan pengetahuan masa silam dari kampung halaman yang baru saya pahami ketika saya sudah kuliah. Saya ingin kembali membicarakan itu semua sebagai motivasi untuk terus berkarya. Saya percaya bahwa karya seni memiliki potensi untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat, memperkaya perspektif, dan membuka ruang bagi dialog yang konstruktif. Selain itu, rasa penasaran dan keinginan untuk terus berkembang sebagai individu yang kreatif juga menjadi pendorong utama bagi saya untuk terus berkarya.
Baca pengalaman profesional muda lainnya dalam berdinamika di Rubrik Profil Loker ID!